Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga Es Hitam
Serangan kejutan dari Tim Naga Es berhasil mengguncang formasi lawan. Si kembar pengguna cambuk petir terhuyung mundur, jubah mereka robek terkena serpihan jarum es Su Yan.
Namun, Lei Zhen tidak jatuh.
Dia berdiri di tengah panggung, tubuhnya diselimuti aura listrik yang semakin liar dan tidak stabil. Wajahnya yang tampan kini terdistorsi oleh amarah murni.
"Kalian..." Lei Zhen menggeram, matanya menyala putih menyilaukan. "Kalian pikir trik murahan seperti itu bisa mengalahkan Sekte Guntur Ungu?! KAMI ADALAH PENGUASA HUKUMAN LANGIT!"
Lei Zhen merobek kalung di lehernya. Sebuah jimat kertas berwarna ungu tua melayang ke udara.
"Jimat Pemanggil Petir Surgawi!"
Langit di atas arena seketika berubah gelap gulita. Awan badai berkumpul dengan kecepatan tidak wajar, berputar membentuk pusaran raksasa tepat di atas kepala Lei Zhen.
Penonton menjerit ketakutan.
"Itu jimat Tingkat 3!" seru Tetua Guntur dari kursi wasit. "Lei Zhen berniat membunuh mereka semua! Pasang perisai pelindung arena ke tingkat maksimal!"
Para Tetua panik memperkuat dinding energi di sekeliling panggung.
Di arena, tekanan udara menjadi begitu berat hingga Han Gemuk jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi.
"Mati kalian!" teriak Lei Zhen.
KABOOM!
Bukan satu, tapi puluhan sambaran petir raksasa turun dari langit, mengincar Li Tian, Su Yan, dan Han Gemuk sekaligus. Ini bukan serangan yang bisa dibelokkan oleh gravitasi sederhana. Ini adalah bencana alam.
"Han! Su Yan! Berlindung di belakangku!" teriak Li Tian. Dia mencoba mengangkat Pedang Hitamnya untuk membuat kubah gravitasi.
Tapi serangan itu terlalu luas.
Satu sambaran petir lolos dari jangkauan Li Tian, meluncur lurus ke arah Su Yan yang sedang merapal mantra. Su Yan tidak bisa bergerak; jika dia membatalkan mantranya sekarang, dia akan terkena serangan balik energi.
"Awas!"
Sebuah bayangan bulat melompat ke depan Su Yan.
Han Gemuk.
Dengan wajah berlinang air mata ketakutan namun mata yang nekat, Han mengangkat perisai tanahnya tinggi-tinggi.
"PERISAI BENTENG BUMI: PERTAHANAN MUTLAK!"
DUAR!
Petir itu menghantam perisai Han. Perisai tanah itu hancur berkeping-keping dalam sekejap.
"ARGHHH!" Han menjerit saat arus listrik ribuan volt menyengat tubuhnya. Kulitnya hangus, asap mengepul dari jubahnya.
Tapi dia tidak mundur. Dia menggunakan tubuh gemuknya sebagai tameng daging terakhir.
Serangan petir itu habis.
Han Gemuk ambruk ke tanah, tubuhnya kejang-kejang, tak sadarkan diri.
"Han!" teriak Li Tian.
Su Yan membuka matanya. Dia melihat punggung Han yang hangus di depannya. Dingin di mata Su Yan menghilang, digantikan oleh badai salju kemarahan yang mengerikan.
"Kau... menyakiti temanku," bisik Su Yan.
Suhu di arena turun hingga titik nol mutlak. Lantai batu retak karena beku.
"Li Tian!" panggil Su Yan tanpa menoleh. "Tahan dia selama sepuluh detik. Aku akan menyiapkan sesuatu yang besar."
Li Tian menatap Han yang terluka, lalu menatap Lei Zhen yang sedang tertawa gila di seberang sana. Darah Li Tian mendidih.
"Sepuluh detik?" Li Tian menggenggam Pedang Hitamnya erat-erat. "Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kau mau."
Li Tian maju selangkah. Aura hitam pekat meledak dari tubuhnya, bercampur dengan aura hijau zamrud dari Cakar Naga.
"Zu-Long," panggil Li Tian dalam hati. "Buka kuncinya."
"Apa kau yakin, Bocah?" tanya Zu-Long serius. "Tubuhmu baru saja sembuh. Gandakan x8 bisa merobek ototmu lagi, bahkan mungkin meretakkan tulang emasmu."
"Aku tidak peduli," jawab Li Tian. "Temanku terbakar demi melindungiku. Jika aku tidak membalasnya seribu kali lipat, aku tidak pantas hidup!"
"Baiklah! Tunjukkan pada mereka amarah Naga!"
Jantung Li Tian berdegup kencang seperti drum perang.
"Gandakan... Dua Kali." "Gandakan... Empat Kali."
Otot lengan Li Tian membesar, urat-uratnya menonjol berwarna ungu. Darah mulai merembes dari pori-pori kulitnya.
"GANDAKAN... DELAPAN KALI!"
[Gandakan x8!]
ROAAAR!
Aura Li Tian meledak setinggi langit, membentuk bayangan naga hijau raksasa di belakangnya. Tekanan energi fisiknya begitu besar hingga membuat Lei Zhen berhenti tertawa.
"Apa... monster apa itu?!" Lei Zhen mundur selangkah.
Li Tian menghilang dari tempatnya.
Tanah tempat dia berdiri hancur lebur.
Dalam sekejap mata, Li Tian sudah berada di depan Lei Zhen. Pedang Hitam Tanpa Mata di tangannya diayunkan.
Berat pedang itu, ditambah manipulasi gravitasi, ditambah kekuatan fisik yang dilipatgandakan delapan kali...
Ini bukan tebasan pedang. Ini adalah hantaman meteor.
"Tebasan Naga Jatuh: Kiamat Kecil!"
Lei Zhen panik. Dia dan si kembar menyatukan kekuatan untuk membuat dinding petir terakhir.
BLARRRR!
Pedang Li Tian menghantam dinding petir itu. Dinding itu hancur seperti kaca. Si kembar terpental keluar arena, muntah darah. Lei Zhen menahan pedang Li Tian dengan palu perangnya.
Krak!
Gagang palu Lei Zhen retak. Kakinya ambles ke dalam lantai panggung hingga lutut.
"Li Tian! Menyingkir!" teriak Su Yan.
Li Tian melompat mundur ke udara.
Di belakangnya, Su Yan telah menyelesaikan mantranya. Pedang es di tangannya telah berubah menjadi naga kristal es sepanjang sepuluh meter yang melayang di sekelilingnya.
"Seni Pedang Teratai Es: Nafas Naga Salju!"
Su Yan mengarahkan pedangnya ke depan. Naga es itu meluncur menerjang Lei Zhen.
"Belum cukup!" teriak Li Tian di udara. "Biar kutambahkan bumbunya!"
Li Tian, yang masih dalam mode Gandakan x8, mengarahkan tangan kirinya ke arah naga es milik Su Yan.
"Gravitasi... KOMPRESI!"
Li Tian menggunakan kekuatan Cakar Naga untuk memadatkan naga es Su Yan. Naga yang tadinya besar dan transparan, tiba-tiba menyusut menjadi ukuran tombak, warnanya berubah menjadi hitam pekat karena kepadatan yang ekstrem.
Itu bukan lagi es biasa. Itu adalah Es Hitam yang beratnya ribuan ton.
Serangan Gabungan: TUSUKAN NAGA ES HITAM!
Tombak naga hitam itu melesat, menembus ruang dan waktu, menghantam Lei Zhen yang tak berdaya.
DUAAAAARRRRRR!
Ledakan dingin dan gravitasi menyapu arena. Dinding pelindung yang dibuat para Tetua retak seribu.
Saat debu es dan uap menghilang, pemandangan di panggung membuat semua orang ternganga.
Setengah panggung arena telah hilang—hancur menjadi debu beku.
Lei Zhen terbaring di dasar kawah, baju zirahnya hancur lebur, tubuhnya membeku setengah bagian, pingsan total.
Li Tian mendarat dengan satu lutut. Lengan kanannya terkulai lemas, darah segar menetes deras dari ujung jarinya. Napasnya berat dan menyakitkan. Mode Gandakan x8 telah mengambil bayarannya.
Su Yan berjalan mendekat, wajahnya pucat karena kehabisan Qi, tapi matanya bersinar bangga. Dia mengulurkan tangan untuk membantu Li Tian berdiri.
Wasit, dengan suara gemetar, mengangkat benderanya.
"Pemenang... TIM NAGA ES!"
Gemuruh sorak-sorai meledak, lebih keras dari guntur mana pun. Hari ini, legenda baru telah lahir di Sekte Pedang Langit.