Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Sepuluh hari Meta menjalani perawatan di rumah sakit, dokter telah mengijinkannya pulang dan melakukan perawatan di rumah saja. Peter menyewa seorang perawat untuk menemani istrinya di rumah karena ia harus bekerja, Hana juga sesering mungkin datang menjenguk Meta di rumahnya.
Sari telah melahirkan anak pertamanya di rumah sakit beberapa hari yang lalu yang berjenis kelamin perempuan, ia belum tahu kondisi anaknya yang terlahir cacat karena anak itu masih bayi dan baru berusia 5 hari. Sari juga menyewa seorang baby sitter untuk membantunya mengurus anak pertamanya, baby sitter itu bernama Siska. Aldo belum memberitahu Sari tentang kondisi bayi mereka karena ia tidak ingin membuat Sari tertekan dan menyalahkan dirinya ataupun Hana, Aldo juga telah berpesan pada suster Siska agar tetap diam, namun Sari adalah wanita yang cukup pintar untuk mengetahui semuanya. Sore itu, Sari sedang membantu baby sitternya untuk menggantikan popok bayi mereka yang bernama Anita. Sari memperhatikan salah satu kaki kiri bayinya bengkok dan tidak sama panjang dengan kaki kanan Anita.
Sari: "Apakah kamu merasa ada yang aneh dengan kaki Anita, suster?" tanyanya sambil menatap salah satu kaki Anita yang bengkok.
Suster Siska: "Apa yang aneh, bu?" tanyanya dengan heran.
Sari: "Perhatikan baik-baik kaki bayi saya, suster." ucapnya sambil menatap kaki Anita dalam-dalam. Suster Siska menatap kaki Anita secara bergantian dan ia sudah tahu sejak awal namun Aldo telah berpesan kepadanya untuk tetap diam dan tidak memberitahukan pada Sari.
Suster Siska: "Aku tidak melihat ada yang aneh, bu. Anita masih bayi dan akan ada perubahan saat ia dewasa nanti." ucapnya pelan. Hati Sari terhibur saat mendengar perkataan Siska, Sari berpikir mungkin hanya hayalannya saja.
Sari: "Semoga perkataanmu benar, suster Siska." ucapnya penuh harap. Walaupun suster Siska sudah menjelaskan pada Sari tentang kaki bayinya, Sari tetap saja merasakan ada kejanggalan pada kaki bayinya.
Suster Siska: "Aku akan menidurkan Anita dulu, ya, bu." ucapnya sambil menggendong bayi Anita dengan lembut.
Sari: "Iya, Siska. Kelihatannya Anita sudah mengantuk." ucapnya sambil tersenyum kecil menatap bayinya.
Siska: "Bayi seusia Anita memang begitu, bu. Kerjanya hanya tidur dan minum susu." ucapnya sambil tersenyum lebar.
Sari: "Aku baru pertama kali memiliki bayi." ucapnya pelan.
Siska: "Aku mengerti, bu." ucapnya sambil tersenyum kecil. Sari melangkah pelan keluar dari dalam kamar bayinya dan membiarkan suster Siska menidurkan Anita dengan tenang. Setelah Sari keluar, suster Siska memegang kaki kiri bayi Anita dengan hati-hati, ia menatap kaki Anita dalam-dalam dan berkata pelan: "Kasihan kamu, nak. Saat dewasa nanti kamu akan cacat. Ibumu tidak mengetahuinya, karena jika ibumu tahu pasti ia sangat terpukul." gumannya. "Tuan Aldo telah memberitahuku lebih awal saat ia memanggilku menjadi pengasuhmu. Hanya bu Anita yang tidak mengetahuinya, karena tuan Aldo sudah berpesan padaku." ucapnya lirih.
Aldo tiba di rumahnya saat malam telah tiba, Sari menatap Aldo dengan wajah cemberut.
Aldo: "Ada apa denganmu, Sari? Mengapa wajahmu terlihat murung?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Sari: "Kamu selalu pulang telat, mas. Sekarang kita telah memiliki bayi, pulanglah tepat waktu." ucapnya dengan kesal.
Aldo: "Jangan memulai pertengkaran lagi, Sari. Akhir-akhir ini pekerjaanku banyak di kantor. Aku tidak bisa memastikan jam pulangku." ucapnya pelan.
Sari: "Itu hanya alasanmu, mas." sahutnya dengan suara yang agak keras.
Aldo: "Aku akan mandi, setelah itu aku akan melihat Anita." ucapnya tanpa memperdulikan hati Sari yang sedang kesal terhadapnya. Aldo melangkah dengan terburu-buru menuju ke kamarnya, saat itu Aldo meletakkan tas kerjanya di atas kursi panjang. Sari mengangkat tas kerja Aldo dan hendak meletakkannya di meja kerja Aldo, namun tas kerja Aldo terbuka dan Sari mencoba menguncinya dengan rapat, namun saat hendak mengunci tas itu dompet Aldo terjatuh ke lantai. Sari mengambil dompet kecil itu dan melihat foto Hana dan Aldo ada di dalam dompet itu. Raut wajah Sari seketika berubah, hatinya gusar melihat foto Aldo dan Hana yang sedang berpelukan. Sari melangkah masuk ke dalam kamarnya sambil memegang dompet Aldo, ia duduk di tepi ranjang dan menunggu sampai Aldo selesai mandi. Beberapa menit kemudian, Aldo keluar dari dalam kamar mandi sambil memakai handuk di pinggangnya. Sari menatapnya dengan tatapan tajam, raut wajahnya menunjukkan kekesalan yang mendalam.
Aldo: "Ada apa lagi, Sari? Mengapa kamu menatapku seperti itu?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Sari: "Sampai kapan harus ada Hana di antara kita, mas?" tanyanya dengan suara yang agak keras.
Aldo: "Apa maksudmu, Sari? Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanyanya sambil menatap wajah Sari dengan heran. Sari membuka dompet Aldo dan menunjukkan foto Hana di hadapan Aldo.
Sari: "Mengapa kamu masih menyimpan foto Hana di dompetmu?" tanyanya dengan gusar. Aldo tertegun, ia menatap foto Hana yang berada di tangan Sari.
Aldo: "Apakah kamu memeriksa dompetku? Mengapa kamu lancang, Sari?" tanyanya dengan nada tinggi. Raut wajah Aldo terlihat kesal, foto Hana adalah satu-satunya yang ia miliki sejak mereka berpisah. Foto yang sejak lama berada di dalam dompetnya sejak ia dan Hana masih sama-sama kuliah.
Sari: "Wajar jika aku memeriksanya, mas. Aku adalah istrimu yang sah sekarang." ucapnya dengan kesal. "Kamu masih belum bisa melupakan Hana." ucapnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
Aldo: "Aku sudah jujur padamu sejak awal, Sari. Hana adalah cinta pertamaku dan tidak mudah bagiku untuk melupakannya." ucapnya dengan pelan dan penuh perasaan. "Kenzo adalah buah cinta kami berdua." ucapnya lagi.
Sari: "Cukuuup, mas. Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya." teriaknya. Pertengkaran Aldo dan Sari terdengar sampai ke telinga suster Siska dan mbok Surti. Suster Siska keluar dari dalam kamar Anita dan menghampiri mbok Surti yang sedang berada di dapur.
Siska: "Apakah mereka setiap hari seperti ini, mbok?" tanyanya dengan rasa ingin tahu. Suster Siska baru 5 hari bekerja sebagai baby sitter Anita, pertengkaran antara Aldo dan Hana membuatnya heran dan banyak bertanya pada mbok Surti.
Mbok Surti: "iya, suster. Tuan dan nyonya sering bertengkar seperti ini. Saya sudah terbiasa mendengarnya." ucapnya sambil tersenyum sinis.
Siska: "Apa yang membuat mereka bertengkar, mbok?" tanyanya lagi dengan rasa ingin tahu.
Mbok Surti: "Nyonya sering cemburu pada tuan. Nyonya adalah istri kedua tuan Aldo." ucapnya. "Istri pertama tuan Aldo adalah sahabat nyonya, namanya Hana." ucapnya lagi.
Siska: "Maksud mbok, bu Sari telah merebut bapak dari Hana, ya?" tanyanya dengan rasa penasaran.
************************************