NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Romansa
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: blueberrys

Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.

Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal yang sama kembali terulang

Malam di Desa Harapan yang seharusnya tenang kini berubah menjadi ladang kesedihan. Bau anyir darah bercampur dengan aroma kayu terbakar menyengat di udara. Di tengah lapangan desa, di bawah cahaya bulan yang tertutup mendung, Ling'er memangku kepala Zhou Yu. Tangan gadis itu sudah berlumuran darah merah pekat yang terus merembes dari sela-sela jemarinya yang gemetar saat berusaha menekan luka di dada pemuda itu.

"Kak Yu... buka matamu... kumohon," bisik Ling'er, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. Air matanya jatuh menetes di pipi Zhou Yu yang dingin dan pucat pasi.

Nyonya Liu berlutut di samping mereka, wajahnya yang keriput tampak sangat tegang. Ia memeriksa denyut nadi di leher Zhou Yu, lalu beralih menatap luka menganga akibat kapak perompak itu. Ia menggeleng lemah, sebuah isyarat yang membuat jantung Ling'er seolah berhenti berdetak.

"Luka ini terlalu dalam, Ling'er. Kapak itu membawa energi hitam yang merusak aliran darahnya. Obat-obatan biasa tidak akan cukup," suara Nyonya Liu bergetar.

"Pasti ada cara, Nyonya! Anda tahu segala jenis tanaman di hutan ini!" seru Ling'er dengan nada putus asa.

Nyonya Liu menatap ke arah puncak Gunung Langit yang menjulang tinggi di balik kabut tebal. "Hanya ada satu harapan. Bunga Embun Salju. Ia hanya tumbuh di puncak tertinggi, di celah bebatuan yang selalu diselimuti es. Bunga itu memiliki kemampuan untuk menetralkan racun energi dan menyambung meridian yang putus. Tapi..."

"Tapi apa?" tanya Ling'er cepat.

"Puncaknya sangat jauh, medannya curam, dan badai salju di atas sana bisa membekukan darahmu dalam hitungan menit. Belum lagi, bunga itu hanya mekar saat fajar menyingsing. Jika terlambat, bunga itu akan layu dan Zhou Yu tidak akan bertahan melewati matahari terbit esok hari."

Ling'er menatap wajah Zhou Yu yang tenang dalam ketidaksadarannya. Ia teringat janji Zhou Yu untuk menjaganya, teringat bagaimana pemuda ini rela berdiri di depan maut demi memberikan mereka rumah. Tanpa ragu sedikit pun, Ling'er berdiri. Ia menyeka air matanya dengan lengan baju yang kotor.

"Jaga dia, Nyonya. Berikan dia ramuan apa pun untuk bertahan beberapa jam lagi. Aku akan kembali membawa bunga itu," ucap Ling'er dengan keteguhan yang mengejutkan semua orang.

Ling'er berlari menembus hutan di kaki gunung. Ia hanya membawa sebuah lampu minyak kecil dan pisau pendek untuk membuka jalan. Kakinya yang biasanya hanya melangkah di jalanan desa yang rata, kini harus mendaki bebatuan tajam yang licin karena embun malam.

Setiap kali ia terjatuh dan lututnya terbentur batu, ia hanya meringis pelan lalu segera bangkit kembali. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal wajah pucat Zhou Yu. Bayangan saat Zhou Yu tersenyum di bawah air terjun menjadi bahan bakar bagi kakinya yang mulai mati rasa karena kelelahan.

"Tunggu aku, Kak Yu... kumohon, bertahanlah sedikit lagi," gumamnya di tengah napas yang tersengal-sengal.

Semakin tinggi ia mendaki, udara semakin menipis dan suhu merosot tajam. Angin gunung mulai menderu, menusuk jubah tipis yang ia kenakan. Tangannya membiru karena kedinginan, namun ia terus merangkak mendaki tebing-tebing curam. Di satu titik, kakinya terpeleset. Ia hampir jatuh ke dalam jurang gelap jika tangannya tidak sempat mencengkeram akar pohon tua yang kuat. Rasa sakit menjalar di bahunya, namun ia tidak berteriak. Ia hanya menggigit bibirnya hingga berdarah, menarik tubuhnya kembali ke atas dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Di tengah kesunyian gunung yang mematikan itu, Ling'er merasa sangat kecil. Namun, cintanya pada Zhou Yu memberinya kekuatan yang melampaui logika manusia biasa. Ia terus mendaki, melewati batas kemampuan fisiknya, hingga akhirnya ia mencapai wilayah yang tertutup salju abadi.

Langit di ufuk timur mulai berubah menjadi abu-abu keunguan. Fajar sudah dekat. Ling'er sampai di puncak yang datar, namun matanya liar mencari keberadaan bunga itu. Di antara hamparan salju dan bebatuan hitam yang membeku, ia melihatnya.

Sebuah bunga kecil berwarna putih kristal dengan kelopak yang tampak transparan, tumbuh di sela-sela batu yang paling menjorok ke jurang. Bunga itu tampak bersinar redup, seolah-olah menyimpan cahaya bulan di dalamnya.

"Itu dia..." bisik Ling'er dengan suara parau.

Namun, rintangannya belum berakhir. Tanah di sekitar bunga itu sangat licin dan miring. Dengan sangat hati-hati, Ling'er merangkak. Angin kencang berusaha mengempaskannya, salju yang turun mengaburkan pandangannya. Ia harus menjangkau bunga itu dengan ujung jarinya. Tepat saat sinar matahari pertama menyentuh puncak gunung, bunga itu mekar sepenuhnya, mengeluarkan aroma harum yang menenangkan.

Dengan tangan gemetar karena kedinginan dan ketakutan, Ling'er memetik bunga itu. Ia segera memasukkannya ke dalam bungkusan kain sutra di dadanya, mencoba menjaga suhu bunga itu dengan panas tubuhnya sendiri.

"Aku mendapatkannya, kak Yu! Aku mendapatkannya!" teriaknya pelan ke arah langit, sebelum akhirnya ia bergegas turun dengan cara merosot dan berlari tanpa peduli pada luka-luka baru di tubuhnya.

Kembali di desa, suasana semakin mencekam. Zhou Yu sudah tidak lagi merintih napasnya begitu tipis hingga Nyonya Liu harus mendekatkan telinganya ke dada pemuda itu setiap beberapa menit. Da Ge berdiri di pintu gubuk dengan wajah penuh duka, memegang senjata dengan tangan lemas.

"Matahari sudah terbit sepenuhnya. Ling'er belum kembali," bisik Da Ge dengan suara berat.

Tepat saat harapan mulai padam, sesosok bayangan muncul dari arah hutan. Ling'er datang dengan pakaian yang compang-camping, wajahnya penuh luka goresan, dan rambutnya berantakan tertutup salju yang mulai mencair. Ia terjatuh di depan pintu gubuk, kehabisan napas.

"Bunga... ini bunganya..." ia menyodorkan kain sutra itu dengan tangan yang gemetar hebat.

Nyonya Liu segera mengambilnya dengan sigap. Ia menumbuk bunga itu bersama beberapa herbal rahasia dan meneteskan sarinya ke dalam mulut Zhou Yu yang terkatup rapat. Ia juga menempelkan ampas bunga itu tepat di atas luka terbuka di dada Zhou Yu.

Seketika, sebuah reaksi ajaib terjadi. Luka yang tadinya berwarna hitam keunguan mulai berubah merah segar. Asap tipis berbau busuk sisa energi hitam perompak terangkat keluar dari tubuh Zhou Yu. Kulitnya yang pucat perlahan mulai mendapatkan kembali rona kehidupannya.

Beberapa jam berlalu dengan penuh kecemasan. Ling'er menolak untuk diobati sendiri sampai ia melihat Zhou Yu membuka matanya. Ia duduk bersandar di samping tempat tidur kayu Zhou Yu, memegang tangan pemuda itu yang kini mulai terasa hangat.

Jari-jari Zhou Yu bergerak sedikit. Matanya perlahan terbuka, tampak kabur sesaat sebelum akhirnya fokus pada wajah Ling'er yang berantakan namun cantik di matanya.

"Ling... er..." suaranya sangat lemah, hampir seperti bisikan angin.

"Aku di sini, Kak Yu. Aku di sini," jawab Ling'er, air mata kebahagiaan kini mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi.

Zhou Yu melihat luka-luka di wajah Ling'er dan tangan gadis itu yang dibalut kain karena lecet parah. Ia mengerti apa yang telah terjadi. Dengan sisa tenaganya, ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Ling'er.

"Kau... bodoh... kenapa mempertaruhkan nyawamu..." ucap Zhou Yu dengan senyum getir namun penuh arti.

"Karena kau adalah segalanya bagiku, kak Yu. Jika kau pergi, tempat indah ini hanyalah hutan mati bagiku," jawab Ling'er sambil mencium telapak tangan Zhou Yu.

Di luar gubuk, matahari sudah tinggi. Warga desa mulai bekerja kembali, memperbaiki apa yang rusak dengan semangat yang baru. Mereka tahu bahwa pemimpin mereka telah kembali dari gerbang maut, dan itu memberi mereka harapan bahwa Desa Harapan akan benar-benar menjadi tempat yang tak terkalahkan.

Zhou Yu menarik napas panjang, merasakan energi Qi di dalam tubuhnya mulai mengalir kembali, kali ini terasa lebih murni dan tenang berkat sari bunga embun salju. Ia tahu, masa depan masih penuh dengan ancaman terutama mata-mata misterius yang menginginkan pedangnya. Namun, saat ia menatap mata Ling'er, ia tahu bahwa selama mereka bersama, tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki, dan tidak ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan.

"Terima kasih, Ling'er," bisik Zhou Yu sebelum akhirnya jatuh ke dalam tidur yang lelap dan damai, sementara Ling'er tetap setia menjaga di sisinya, memastikan bahwa tidak ada lagi bayangan yang bisa menyentuh kekasihnya.

...Bersambung.... ...

1
Ada badaknya
baru 1 bab udah cerita sedih/Sweat/
pinguin: author kejam👍
total 1 replies
Butet Kon77
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!