Namaku Tiara. Aku hidup di sebuah pulau terpencil jauh dari Ibu Kota. Tidak ada listrik, mobil, atau gedung bertingkat di tempat aku tinggal.
Memiliki wajah cantik tak selamanya baik, karena hal itulah aku dibunuh teman-temanku yang lain karena para pria di suku kami menyukaiku.
Aku sempat berpikir bahwa aku sudah mati dan aku bisa bertemu dengan ibu ku yang sudah meninggal. Namun, aku malah terbangun di sebuah tempat asing, dan yang terburuk adalah aku terbangun dengan kondisi tubuh yang berbeda.
Ternyata aku mengalami reinkarnasi di tubuh seorang wanita yang sudah bersuami dan memiliki seorang anak. Hal terparahnya adalah, pemilik tubuh ini sepertinya wanita jahat. Karena orang-orang yang hidup dengannya tampak membencinya.
Aku memutuskan untuk merubah segalanya. Tapi bagaimana caraku melakukannya dengan tubuh yang berbeda dan juga di tempat yang asing bagiku ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Jelek
Melihat Papanya hanya berpikir dan tidak mengatakan apa-apa, Alvin memindahkan tubuhnya ke arah dada Julian karena dia tidak ingin diabaikan. Tangan kecilnya menyentuh janggut yang ada di dagu Julian dan berTanya padanya.
"Berapa hari Papa akan tinggal di rumah?" Tanya Alvin.
Julian menahan tubuh Alvin agar tidak jatuh.
"Papa akan tinggal selama 5 hari kali ini." Balas Julian.
"5 hari?" Ucap Alvin dengan mata yang berbinar.
Bagi Julian 5 hari dianggapnya sebagai istirahat yang panjang. Alvin tidak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama Papanya. Jadi Alvin merasa sangat senang.
"Papa akan mengajakku bermain bukan?" Tanya Alvin.
Julian tertawa ringan. Ekspresi di wajahnya begitu lembut dan jarang sekali dilihat orang lain.
"Baiklah, Papa akan mengajakmu bermain. Bukankah sebentar lagi libur sekolah? Jadi Papa akan mengajakmu keluar selama liburan ini." Ucap Julian.
"Wah asyik. Aku ingin pergi ke taman hiburan dan akuarium. Banyak teman sekelas ku yang sudah pergi ke sana sebelumnya." Ucap Alvin.
Alvin benar-benar ingin pergi ke tempat-tempat itu bersama Mama dan Papanya.
"Baiklah, kita akan pergi." Ucap Julian.
Julian tidak pernah punya waktu dan juga Tiara tidak pernah peduli kepada mereka di masa lalu. Jadi Alvin tidak pernah pergi ke tempat yang disukai semua anak-anak untuk bermain. Karena kali ini Julian bebas dari pekerjaannya, bagaimana mungkin dia tidak menyetujui permintaan putranya itu.
Alvin yang merasa sangat senang langsung berguling-guling seperti ulat kecil. Dia berguling-guling sambil bicara kepada Papanya.
"Kalau begitu, apakah Papa akan mengantarku pergi ke sekolah besok?" Tanya Alvin.
"Tentu saja Papa akan mengantarmu ke sekolah besok." Balas Julian.
Alvin berhenti berguling. Dia lalu duduk dan menghadap Papanya.
"Mama juga ya. Aku ingin Papa dan Mama mengantarku ke sekolah besok. Aku juga ingin kalian berdua menjemput ku. Kita tidak bisa meninggalkan Mama sendirian. Mama akan menangis jika dia tidak bisa melihatku." Ucap Alvin yang berpikir bahwa Mamanya tidak bisa berpisah darinya.
"Baiklah." Balas Julian.
Alvin menjadi sangat bersemangat saat memikirkan hari esok karena kedua orang tuanya akan mengantarnya ke sekolah bersama.
Julian melihat bahwa Alvin kali ini jauh lebih bahagia dibandingkan saat dia kembali sebelumnya. Meskipun Alvin selalu jauh lebih bahagia di depannya dibandingkan dengan berada di depan orang lain, tapi Alvin tidak pernah sebahagia ini.
'Apakah ini karena Tiara?' ucap Julian dalam hati.
Julian tiba-tiba berpikir bahwa mungkin dia membuat keputusan yang tepat ketika dia tidak jadi menceraikan Tiara beberapa tahun yang lalu. Alvin akhirnya menerima cinta dari seorang ibu yang selalu diharapkan.
...****************...
Keesokan harinya Julian bangun jam 06.00 seperti biasanya. Dia melirik Alvin yang masih tidur terlentang dengan perut membuncit saat dia tidur dengan nyenyak. Julian menutup perut Alvin dengan selimut sebelum dia diam-diam pergi ke kamar mandi untuk menggosok giginya.
Tiara terkejut saat melihat Julian keluar dari kamarnya.
"Ka... kau Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?" Ucap Tiara gugup.
Julian juga tidak menyangka bahwa Tiara akan bangun sepagi itu.
"Aku akan keluar untuk lari pagi." Ucap Julian.
"Oh baiklah. Aku akan membuat sarapan. Apakah ada sesuatu yang kau sukai secara khusus? Aku bisa membuatkannya untukmu." Ucap Tiara.
Awalnya Julian ingin mengatakan bahwa dia bisa membeli sarapan di luar. Tapi dia memutuskan untuk tidak mengatakan hal itu.
"Apapun itu terserah kau saja. Alvin dan aku tidak pilih-pilih makanan." Ucap Julian.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan membuat nasi goreng, telur dadar dan ayam goreng tepung. Alvin sangat menyukai ayam goreng tepung." Ucap Tiara.
Julian mengangguk. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Jadi dia membuka pintu depan dan keluar untuk lari pagi.
"Fyuuuhhh..."
Tiara akhirnya bisa melepaskan nafas lega dan menepuk dadanya saat pintu depan tertutup. Sejujurnya sikap tenang yang dia tunjukkan saat bicara dengan Julian adalah sebuah kepura-puraan. Tiara masih gugup berada di dekat Julian. Tapi dia tidak ingin Julian menyadarinya. Jadi dia hanya bisa berpura-pura tenang.
'Ah entah kenapa aku selalu merasa sedikit malu setiap kali Julian berada di depanku.' ucap Tiara dalam hati.
Tiara menyentuh wajahnya sebelum kembali ke kamarnya. Kemudian dia menatap pantulan dirinya di cermin, meskipun dia tahu penampilannya saat ini jelek. Dia tiba-tiba merasa bahwa dirinya terlihat lebih buruk sekarang dibandingkan ketika dia melihat dirinya untuk pertama kali.
Memar keunguan di wajahnya belum menghilang. Memar di kulitnya yang kuning kering membuat penampilannya terlihat menakutkan. Meskipun dia sudah makan begitu banyak selama berhari-hari, tapi dia masih terlihat seperti kerangka. Dan yang lebih buruk lagi adalah rambut panjangnya yang kering. Itu tampak seperti rumput yang akan langsung terbakar begitu dinyalakan.
Penampilan Tiara memang sangat mengerikan. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana pemilik asli dari tubuhnya itu telah membuat tubuhnya sendiri menjadi buruk seperti itu.
Selain itu Tiara juga telah membasuh wajahnya dengan baik untuk melembabkan kulitnya. Tapi dia merasa heran karena tidak ada perubahan sama sekali. Setiap kali dia memikirkan tentang Papa Alvin yang melihat wajah dan tubuhnya yang buruk, Tiara ingin menutupi wajahnya.
Dia merasa begitu takjub saat melihat Papa Alvin dapat bicara dengannya tanpa mengubah ekspresi di wajahnya. Tiara mendesah berpikir bahwa dirinya sebagai seorang istri sangat jelek dan hal itu sangat disayangkan olehnya.
'Apakah ada cara bagiku untuk menjadi lebih cantik atau setidaknya membuat diriku tidak terlihat terlalu jelek lagi.' ucap Tiara dalam hati.
Setelah beberapa saat, Tiara menghela nafas dengan muram. Dia tidak bisa memikirkan apapun lagi. Dia pun pergi dari kamar dan kembali ke dapur untuk memasak. Karena dia tidak memiliki kecantikan, jadi dia hanya berpikir bahwa dia bisa bersikap baik dan membuktikan dirinya bahwa dia bisa menjadi Ibu yang baik untuk Alvin.
Julian memang memiliki nafsu makan yang cukup besar dan Tiara bisa menebak hal itu dengan melihat jumlah makanan yang bisa dia makan semalam. Jadi untuk sarapan, Tiara membuat dua kali lebih banyak dari biasanya.
Waktu yang sangat tepat saat Tiara selesai memasak. Pintu depan terbuka dan dia melirik keluar dan melihat Julian yang penuh keringat masuk. Keringat Julian tampak menetes dari rambutnya dan kemeja yang menempel padanya itu memperlihatkan dada dan ototnya yang memperlihatkan kekuatan dalam tubuhnya.
Untuk beberapa alasan Julian bisa membuat orang lain tersipu melihat dirinya yang seperti itu.
Tiara mengalihkan wajahnya dengan sangat cepat. Dia tidak berani terus menatap Julian. Dia mencoba untuk mengendalikan detak jantungnya saat dia bicara kepada Julian.
"Kau telah kembali. Aku baru saja selesai masak. Kita bisa sarapan sekarang." Ucap Tiara.
Julian menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju salah satu kamar.
"Aku akan mandi dan membangunkan Alvin." Ucapnya.
"Baiklah." Ucap Tiara lalu menepuk pipinya yang terasa hangat dan menjadi tenang.
Tiara lalu membawa sarapan ke meja makan. Tiara pertama-tama menyajikan 3 piring nasi goreng sebelum menaruh sendok dan garpu di atasnya. Setelah semuanya diatur diatas meja, dia duduk dan menunggu Papa dan anak itu keluar dari kamar.
Bersambung...
mnarik
tapi aku rasa akhirnya terlalu di paksakan dan buru2
banyak hal yg sepertinya masih menjadi misteri