"Seiman, aku ingin seperti Mama yang cium tangan Papa di sepertiga malam sambil pakai mukena ... belajar ngaji selepas Isya dan berdiri berdampingan di Jabal Rahmah." - Zavia
Menjadi pasangan seorang Azkayra Zavia Qirany adalah impian seorang Renaga Anderson. Namun di sisi lain, sepasang mata yang selalu menatapnya penuh cinta justru menjadikan Renaga sebagai cita-cita, Giska Anamary.
Mampukah mereka merajut benang kusut itu? Hati mana yang harus berkorban? Dongeng siapa yang akan menjadi kenyataan? Giska yang terang-terangan atau Zavia yang mencintai dalam diam.
Follow ig : Desh_puspita
Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama konten penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Rosalin
Cinta sendirian itu bagaikan komedi putar. Seperti berjalan, tapi faktanya di situ-situ saja.
Giska menghela napas panjang kala dia mengingat ucapan Fabian sebelum pamit pulang. Sebenarnya dia sudah katakan baik-baik saja, akan tetapi tampaknya di mata Fabian seorang Giska belum sembuh sepenuhnya.
"Hanya sebatas ini ternyata."
Sudah dua jam Giska menghabiskan waktu di sini. Dia yang meminta izin pergi beli minuman, nyatanya justru menetap dan betah menyaksikan lalu lalang kendaraan di hadapannya. Melelahkan, dunia mereka tampak ramai, kenapa Giska kesepian.
Lamunannya kian menjadi, mata Giska berhalusinasi. Sepertinya dia masih belum rela, karena kini Renaga semakin nyata dalam lamunannya. Bahkan, dia menarik cola dingin yang sedang Giska nikmati saat ini.
"Sadar ini jam berapa? Kenapa masih di luar? Kemarin kamu janji tidak akan diulangi. Sekarang apa, Giska?"
Lihat, dalam halusinasinya saja Renaga bahkan marah. Benar kata Zavia, dia galak dan tidak ada yang bisa mengalahkan caranya marah, sekalipun itu Justin. Giska masih terdiam, pria itu tidak berhenti mengomel sampai akhirnya kening Giska terasa sakit akibat Renaga jitak seenaknya.
"Aaaawww!! Sakit!!"
"Pulang, kamu sedang tebar pesona di hadapan mereka atau bagaimana?" tanya Renaga menunjuk segerombolan anak motor yang sepertinya masih remaja di depan sana.
"Sewot, Kakak ngapain kesini? Aku sudah pamit sama Papa, dia tidak marah aku pergi kok."
"Kebetulan lewat, kamu di sini jadi ayo kita pulang."
Renaga memasukkan tangannya ke saku celana. Semakin membuat Giska kesal dengan ketampanan yang sedang berusaha dia lupakan itu. Akan tetapi, jika dia melihat pergelangan tangan kiri memang sudah seharusnya dia kembali, Keny mungkin belum marah karena memang dia sengaja tidak membawa ponsel ketika pergi.
"Oh kirain disuruh Papa."
Giska tersenyum simpul, entah untuk alasan apa yang jelas dia merasa sedikit bahagia lantaran Renaga masih peduli usai penolakan tadi pagi. Dia mendongak, menatap wajah Renaga yang kini mengerutkan dahi. Dia lelah, dengan tingkah Giska tentu saja.
"Cepat pulang, sebentar lagi tengah malam, Giska ... kalau sampai kamu diculik bagaimana? Biaya om Keny untuk menghidupimu tidak kecil, ingat itu."
"Ih, nyebelin banget sih!! Iya pulang."
Giska berdiri dan melangkah dengan hanya membawa minuman yang sudah dia minum setengah itu. Belum juga lima langkah, suara Renaga tiba-tiba membuat telinganya sakit.
"Kenapa?"
"Ini milikmu?" tanya Renaga menunjukkan kantong plastik dengan beberapa cemilan dan keperluan sehari-hari Giska di dalam sana.
Dia sampai lupa jika tadi belanja sebanyak itu. Hanya karena ingin menikmati waktu sendiri, dia bahkan membeli tanpa lihat harga dan berhasil mengumpulkan barang belanjaan sebanyak itu.
"Iya, aduh kok bisa lupa."
Giska kembali berlari hendak mengambil barang belanjaannya. Namun, Renaga sudah lebih dulu berlalu dan membawanya tanpa protes. Terpaksa, Giska mengekor di belakang punggung Renaga. Persis seorang anak yang dijemput paksa usai menghabiskan uang ayahnya.
Giska mencintai pria ini sejak lama, sungguh. Jelas saja tidak semudah itu dia menepis semua itu, bohong jika dia benar-benar lupa dalam sekejab. Hatinya kembali berdebar malam ini, dia tersenyum tanpa sepengetahuan Renaga.
Namun, senyum itu sejenak sirna kala beberapa meter dari mobil jendela depan terbuka dan memperlihatkan wajah Zavia yang kini memanggil namanya.
Salah, Giska kembali bersalah dan mengira jika Renaga mengajaknya pulang karena keinginan sendiri. Tentu semua ini karena Zavia, sungguh dia lupa jika Zavia adalah orang yang bisa membuat Renaga sedikit lebih tenang.
"Zavia? Kakak sama Zavia?"
"Hm, naiklah," jawab Renaga kemudian membukakan pintu mobil untuk Giska yang sejak tadi terlihat bingung di situasi ini.
"Ehm, a-aku pulang sendiri saj_"
"Giska naiklah, jangan membantah ya," ucap Renaga dengan penuh penekanan lantaran sedikit gemas dengan keputusan Giska yang seakan tidak takut dengan pelaku kejahatan di saat-saat seperti sekarang.
Mereka kini bertiga, Zavia yang khawatir jelas saja bertanya seperti biasa, keduanya terlihat baik-baik saja. Tapi Renaga tidak begitu, dia hanya menjadi pendengar tanpa ikut bicara.
Hingga salah satunya diam, Renaga menatap Giska yang kini menghadap keluar entah tengah memikirkan apa. Giska memilih untuk diam setelah menjawab kekhawatiran Zavia, malam ini dia merasa berbeda dan enggan melihat ke depan.
Hingga ketika dia tiba di depan rumahnya, Giska keluar dengan perasaan yang tidak bisa dia utarakan sebenarnya. Tidak lupa melakukan kecup kedua pipi bersama sahabatnya sebagai salam perpisahan, itu adalah hal yang menjadi kebiasaan dan asing di mata Renaga.
"See you, Via ... hati-hati, jangan lupa istirahat yang cukup, kesehatanmu lebih penting."
"Kamu juga, jangan keluar malam seperti tadi," balas Zavia sebelum kemudian Giska tinggalkan masuk ke dalam rumahnya.
Bibirnya bisa berucap sesantai itu, tapi hati Giska nyeri ketika melihat mobil Renaga menjauh dari pandangan matanya.
"Renaga Anderson sedang menunjukkan bahagianya di depanku secara terang-terangan. Giska, kamu bukan pemeran utama, kamu tidak lebih dari Rosalin yang kehilangan cinta Romeo karena hadirnya Juliet ... eh, Rosalin atau Rosalinda ya?"
"Giska masuk!!"
"Iy-iya, Pa!! Ini Giska mau masuk," teriak Giska menjawab panggilan sang papa. Bisa dipastikan, omelannya tidak jauh seperti Renaga.
.
.
- To Be Continue -