Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Situasi Darurat
Hanin masih ragu Satya menganggapnya kekasih, dia merasa Hanin tidak pernah mengungkapkan sesuatu yang membuat mereka jadian sebagai kekasih. Hanin merasa Satya hanya bicara omong kosong sebelum ada pembuktian darinya.
“Kekasih? Bilang suka saja tidak pernah,” gumam Hanin meragukan pernyataan Satya. Dia makan, tapi membuang pandangannya ke arah lain.
Satya tersenyum diam-diam di antara makannya. Sesekali melihat Hanin yang masih terlihat kesal.
“Kakak pernah mengungkapkannya, kau saja tidak menyadarinya,” balas Satya dengan sikapnya yang tenang.
Hanin seketika menjatuhkan pandangannya pada Satya dengan tatapan serius penuh pertanyaan. ‘Pernah mengungkapkan?’
“Kapan?” tanya Hanin.
“Pikir saja sendiri.”
Dalam sekejap Satya telah menghabiskan makanan di atas piringnya. Mendorong makanan di tenggorokannya dengan segelas air mineral, setelah itu beranjak berjalan menuju meja kasir.
Hanin masih sibuk memikirkan perkataan Satya, ia berusaha mengingat-ingat kapan Satya mengungkapkan perasaan padanya. Sampai mereka meninggalkan kantin pun, Hanin masih tak menemukan jawabannya.
“Aku tahu kakak sedang berbohong, kapan dia pernah mengatakan suka?” Hanin berbicara sendirian, tak sadar sudah tertinggal langkahnya dari Satya.
Saat mereka tiba di persimpangan koridor rumah sakit, Hanin menghentikan langkah Satya. Dia melupakan pikirannya tentang Satya, kembali teringat dengan ayahnya.
“Hani harus kembali bekerja, Kak, bisa tolong tunggu ayah sampai ada kabar dari dokter?” ujar Hanin.
“Berhenti bekerja mulai sekarang!” pinta Satya memutuskan begitu saja.
“Tidak bisa, meskipun sudah mendapatkan biaya operasi ayah, tapi kami nantinya juga butuh makan, tempat tinggal baru dan biaya menyelesaikan kuliah. Kalau tidak mulai sekarang lalu kapan lagi.”
Ding!
Bunyi pesan di ponsel Hanin. Hanin lekas membukanya.
_Biaya rumah sakit sudah lunas, kapan bisa bertemu untuk menikah?_
Hanin membungkam mulutnya khawatir suaranya yang kaget terdengar Satya. CEO baru itu mengirimkan pesan telah selesai dengan kewajibannya sesuai perjanjian, pria itu ingin bertemu dengan Hanin. Hanin lantas membalasnya.
“Belum bisa, aku masih sibuk,” pesanannya.
“Baiklah,” balasan pesan untuk Hanin.
Hanin tersenyum senang, CEO itu sepertinya penurut dan mudah diatur, jadi Hanin tidak merasa khawatir ke depannya.
Hanin sudah mau pergi, Satya masih menghadang langkahnya.
“Barusan siapa?” tanya Satya penuh selidik.
“Bukan siapa-siapa.”
“Jadi kau sudah mulai berani berbohong dengan kakak dan menyembunyikan sesuatu?”
“Kak, barusan hanya anak buah ayah, seperti Daniyal itu, tapi dia ini orang yang berbeda lagi.”
“Ingat, Hani, kakak mengawasimu, kalau ketahuan berbohong kakak akan menghukummu.”
“Awas saja kalau sembarangan menghukum seseorang, Hani ini sudah dewasa bukan anak SMA lagi, kalau kakak berani melakukannya Hanin laporkan pada calon suami ...,”
Hanin akhirnya keceplosan juga, dia buru-buru menutup mulutnya dan berlari pergi sebelum Satya bertanya banyak hal lainnya.
“Hanin kau mau ke mana? Kakak belum selesai bertanya!” teriak Satya.
Sayangnya Hanin tak memedulikan panggilan Satya, dan menghilang dengan cepat di jalan koridor seolah benar-benar ingin menghindar dari pertanyaan Satya.
Hanin tiba di ruang ganti cleaning servis, dengan nafas ngos-ngosan seperti dikejar hantu dan mengganti pakaian dengan pakaian dinasnya, tak lupa menutup wajahnya dengan masker. Setelah siap dia keluar lagi dengan peralatan kebersihan dalam satu troli khusus, mendorongnya di sepanjang koridor.
••
Satya duduk dengan tenang menunggu di ruang tunggu. Entah apa yang telah membuatnya senyum-senyum sendiri di tempat itu, tak menyadari beberapa orang yang juga duduk tak jauh darinya menatapnya heran.
‘Kau sekarang tidak akan bisa lari dariku, Hani,’ batin Satya.
Sembari menunggu operasi selesai dua jam lagi, Satya berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Dia masih dibuat penasaran dengan pendonor itu. Perawat bilang dia adalah seorang perempuan yang memiliki tanda lahir di dadanya. ‘Kenapa dia tidak memberikan clue yang bisa aku lihat keberadaannya. Kalau seperti ini tidak akan pernah aku bisa menemukannya.’
Satya berpapasan dengan dua perawat, mereka memperhatikan Satya sampai ketika Satya melalui mereka, dan berbisik-bisik.
“Dia pemuda yang terkena leukimia itu, dia tampan untung saja ada yang bisa menjadi pendonornya, kalau tidak dia mungkin masih terbaring lemah diruang perawatan.”
“Kau pernah cerita soal itu, jadi dia ini orangnya?” tanggapan temannya
“Ya, pendonornya juga seorang perempuan yang masih muda dan cantik. Kalau saja mereka bertemu mungkin saja pria itu juga tertarik dengannya.”
Satya mendengar apa yang dua perawat itu bicarakan. bergosip sambil tertawa cekikikan. Satya lekas berbalik dan menghampiri mereka.
Dua perawat itu kaget ketika orang yang sedang mereka perbincangkan ternyata sudah berdiri di hadapan mereka.
“Kau mengetahui pendonor itu, apa kau juga tahu identitasnya?” tanya Satya tiba-tiba. Perawat seketika berubah pucat.
“Maaf, aku tidak tahu,” jawaban ketakutan perawat itu dan berniat pergi, tapi Satya mencegahnya.
“Aku tahu kalian dilarang membocorkan identitasnya, aku hanya ingin tahu, aku janji tidak akan membawamu dalam masalah.”
“Aku tidak bisa.” Perawat itu masih menolak memberitahu.
“Kalau kau melarangku mengetahui siapa dia, itu artinya kau juga menghalangiku berbuat kebaikan, aku hanya ingin membalas budi padanya, tapi kau menghalanginya, itu sama saja kau menghalangiku berbuat kebaikan.
“Apa Anda sedang mengancam?” balas perawat.
“Tidak, Sus, aku mengatakan kenyataan yang tidak kau sadari. Selagi tidak mencelakai seseorang seharusnya tidak ada masalah kau memberitahuku. Kau memberitahuku kau sudah menjadi penolongku.”
Terus saja ditatap dan dibujuk pria tampan, perawat itu akhirnya luluh juga. Dua perawat itu saling berjanji akan menjaga rahasia itu.
“Baiklah, akan aku beritahu, tapi hanya ingat namanya saja, dia ...,”
Perawat menghentikan kata-katanya, ketika tiba-tiba beberapa petugas medis tampak berlarian dengan wajah tegang. Satya yang penasaran pun menghentikan salah satu petugas.
“Maaf, ada apa ini?”
“Pasien di ruang operasi sedang kritis, dia kehilangan banyak darah,” jawab petugas.
“Siapa?” tanya Satya.
“Pak Aariz Zayan Malik, dia butuh transfusi darah sekarang.”
“Pak Aariz, tapi persediaan di rumah sakit ini ada, kan? ‘kenapa kalian begitu panik?’
“Maaf, Pak, saat ini kami sedang terburu-buru.”
“Tapi saya keluarganya, saya juga butuh penjelasan.”
“Kalau begitu persiapkan saja golongan darah yang cocok dengannya, di sini golongan darah Pak Aariz agak langka.”
“Golongan darahnya apa?”
“Golongan darahnya Rh Negatif, hanya bisa mendapatkan dari pendonor yang sama, dan itu sangat langka di sini.”
Setelah mendapatkan penjelasan dari petugas, Satya terpikirkan untuk segera mencari Hanin, cuma dia yang memiliki golongan darah itu.
Satya sampai melupakan perawat yang hampir memberikan jawaban tentang siapa pendonor sumsum tulang.
Setelah banyak bertanya Dan mencarinya ke sana kemarin akhirnya Satya menemukan Hanin masih di lantai yang sama. Ia menemukan Hanin tengah mengepel lantai koridor.
“Hani!” Panggil Satya sembari berlari ke arah Hanin.
Hanin menoleh ke arah panggilan itu.
“Kakak?”
“Ikut aku sekarang!” tanpa memberikan penjelasan, Satya menarik tangan Hanin meninggalkan tempat itu, meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
“Kakak ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Ayah?” Hanin seketika berpikir demikian, karena tidak ada hal yang membuatnya cemas saat ini selain keadaan ayahnya dan hasil operasinya.
Satya langsung menghentikan langkahnya dan menoleh pada Hanin.
“Mereka bilang keadaan ayahmu kritis dan kehilangan banyak darah, cuma kamu yang bisa mendonorkan darah untuk ayahmu, jadi kau harus siap di sana.”
“Ayah kritis?” Hanin kaget dan seketika menjadi lemas.
“Jangan lemah, Hani, ini bukan saatnya untuk bersedih, ayahmu tidak akan apa-apa.” Satya mendekat dan memeluknya beberapa saat.
Setelah membuat Hanin lebih tenang mereka melanjutkan menuju ruang tunggu. Hanin segera dipersiapkan untuk menjalani proses transfusi darah. Selama itu Satya terus menemaninya di sisinya.
Satu jam dari proses operasi itu, tapi belum satu pun petugas memberikan kabar tentang hasil operasi. Hal itu semakin membuat Hanin cemas tidak tenang.
“Dia itu, Pak, Hanin!” suara seseorang memecah keheningan suasana ruang tunggu yang hanya ada Hanin dan Satya.
Dua orang pria dan wanita datang menghampiri Hanin dan Satya. Ekspresi Hanin ketika menyadari siapa pria itu seketika bertambah cemas. Pria itu berpenampilan rapi, tapi raut wajahnya agak suram, dia langsung mendekati Hanin dengan tatapan kesal.