Mengapa harus Likta yang mengandung calon penerus keluarganya?
Seumur hidup, Tiarnan tidak pernah terlena oleh sentuhan wanita. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama dengan Likta, benteng pertahanannya goyah. Hancur lebur oleh tutur laku wanita yang menyebabkan adik perempuan Tiarnan mengakhiri nyawa. Alih-alih membalaskan dendam, Tiarnan dan Likta malah tidur seranjang.
Akankah rumah tangga Tiarnan dan Likta bahagia setelah buah hatinya lahir ke dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 024: Dama benar
Bahkan dalam kondisi saat ini, Likta kebingungan, harus bahagia atau terusik oleh perhatian yang diberikan Tiarnan mengenai kram perutnya. Apalagi sekarang pria itu merepotkan diri mengantre di apotek untuk menebus resep dari dokter.
Sesaat, Likta menatap kosong ke kejauhan, tetapi segera mengenali dua orang remaja yang berjalan ke arahnya. Si gadis sedang duduk di atas kursi roda sambil makan roti, sedangkan sang pemuda humoris kebagian mendorong.
Wanita ayu berparas belia itu dibuat terkejut lantaran ulah keduanya, bagaimana tidak, siapa yang terluka dan mengapa justru si gadis yang jelas-jelas sehat duduk di sana. Dasar pasangan aneh, pikir Likta.
“Kak Likta?”
“Hai!” sambut Likta dengan seulas senyum, “Itu kenapa sama tangan dan kakimu?” Perban membebat anggota badan yang dimaksudkan.
“Biasa, dia terlalu mencintai tanah air Indonesia,” serobot Dama, lantas mengulurkan lengan ke belakang untuk menyuapi Lucky tanpa melihat.
“Dan, kamu, sakit apa?” Alis Likta mengernyit, berpikir mungkin gadis manis itu mengalami luka dalam.
“Ah, ini,” sahut Dama sedikit kikuk, “Habis, Lucky enggak mau pakai kursi rodanya, ha-ha-ha, jadi yaaa ....”
“Bisa aja lu kalau ngeles,” ujar Lucky sembari mengacak-acak rambut Dama. “Katanya aku terlalu berat, nih, Kak.”
Lucky mendudukkan diri di kursi tunggu. “Kak Likta sendiri?”
“Check up.”
“Kakak sakit?” Lucky menoleh secepat kilat, mata pemuda itu meneliti dari ujung kaki sampai ubun-ubun Likta.
“Periksa kandungan,” ralat Likta, naluri keibuan mendorongnya untuk memegang perut.
“Oh~” sahut keduanya sudah seperti paduan suara di acara wisuda. Dan, “Kandungan?” berseru kompak sekali lagi.
“Kakak enggak keliatan seperti ibu-ibu hamil.” Dama menyuarakan isi hati. “Sama siapa?”
Baik Dama maupun Lucky toleh kanan-kiri, raut wajah mereka tampak lucu ketika cemas.
“Sama suami, tuh, lagi antre.” Tunjuk Likta, seolah-olah terikat secara batin Tiarnan menoleh. Alis pria itu saling bertautan, tampak tidak bersahabat sama sekali.
Lucky meneleng, seakan-akan dapat menemukan sesuatu dalam diri Tiarnan. Keduanya sama-sama memiliki alis tebal dan sehitam arang, tatapan matanya sama tajam. Ada kemiripan yang signifikan, pantas saja saat pertama kali berjumpa Likta merasakan deja'vu.
“Kenalkan, ini Lucky dan Dama,” ucap Likta, begitu Tiarnan mendekat.
Dama lebih dahulu mengulurkan tangan. “Dama.”
“Tiarnan.”
Lucky berdiri saat menerima uluran tangan, sedikit mendesis ketika merasakan nyeri di kaki kala bergerak spontan. “Lucky.” Bukannya duduk kembali, dia memilih berdiri di belakang kursi roda Dama.
“Sebentar, sepertinya aku pernah melihat Kakak, deh.” Dama tampak berpikir sembari mengetuk-ngetukkan telunjuk ke bibir. “Uh, ya, bocah miliuner! Yang bertunang sama model narsis itu, kan?”
Dahi Tiarnan makin mengerut dalam, berani betul menyebutnya bocah, padahal jelas-jelas kedua kenalan Likta yang memiliki usia jauh di bawahnya.
Gadis manis itu mengamati Likta, hampir yakin kalau yang ada di depan mata bukanlah model terkenal itu. “Berarti Kak Likta—” Telapak tangan Lucky membekap mulut Dama, hingga matanya membulat.
Mereka terkejut akan penyataan Dama, sampai Tiarnan mengumamkan makian dalam bahasa asing. Jauh di dalam hati pria itu merapalkan sumpah serapah, bagaimana tidak kesal, dia sudah meminta salah satu orang kepercayaannya agar menekan isu yang beredar. Akan tetapi, bocah ingusan ini masih mengetahui gosip sampah itu.
“Hai, Lucky, lepaskan!” seru Likta. Dia menyambar jemari pemuda itu agar tidak membuat temannya kehabisan napas. “Dama benar,” tuturnya, pelan, hawa panas di tubuhnya naik ke pipi hingga bersemu merah. Malu setengah mati karena reputasi yang disandang kini buruk sekali.
“Maaf, Kak, aku enggak bermaksud—” Dama menatap sedih ke arah Lucky, berharap mendapatkan pertolongan.
“Kak Likta, tolong jangan di masukan ke hati, ya, cewek satu ini terkadang asal aja kalau omong,” terang Lucky seraya meraih jemari Likta, mengabaikan tatapan garang suaminya.
“Tidak seharusnya kalian mencampuri urusan orang lain, karena dampaknya tidak baik bagi yang bersangkutan.” Tiarnan menekankan seraya menarik paksa tangan Lucky dari jemari istrinya. “Sebaiknya selesaikan urusan kalian, anggap saja tidak pernah bertemu.”
Likta yang sedari tadi tertunduk, menengadah ke arah Tiarnan. Dia berpendapat ucapan sang suami terlalu dingin dan kasar terhadap kedua remaja yang telah menolongnya. “Gimana bisa gitu, aku baik-baik aja, kok, sama sekali gak memengaruhi—”
“Kamu lupa apa yang dikatakan Riza? Aku tidak mau terjadi apa-apa sama anak kita karena kamu terlalu stres,” ungkap Tiarnan syarat kecemasan.
“Terima kasih, tapi itu enggak bisa dijadikan alasan untuk bersikap kurang baik kepada seseorang, kan?”
Tiarnan menopang sebelah tangan ke pinggang. “Baik kalau maumu begitu.” Dia berlalu dari sana.
Likta menatap nanar punggung lebar Tiarnan yang makin menjauh, napas tertahan sebentar sebelum berembus perlahan. “Tolong maafkan sikap suamiku.”
“Justru kita yang minta maaf, Kak,” ucap Lucky, lantas menepuk pundak Dama.
“Aku yang salah, Kak, harusnya lebih pandai menjaga ucapan,” sesal gadis manis itu. “Jangan terlalu dipikirkan ya, Kak, kata-kataku tadi.”
“He'eh, yaudah aku duluan, ya. Semoga lekas sembuh, Lucky.” Likta bergegas menyusul Tiarnan sebelum ditinggal dan berakhir dengan jalan kaki, sebetulnya tidak masalah. Kalau tersesat tinggal tanya di sistem pencarian melalui ponsel.
Namun, itu tentu tidak menyenangkan, Likta mengambil jalan yang sama dengan waktu datang tadi. Dia melangkah ringan seperti wanita normal tanpa ada bayi di dalam perut, laksana gadis remaja yang mengantarkan kerabat ke fasilitas kesehatan.
Kalau diamati dengan seksama, entah Likta yang awet muda, ataukah para remaja zaman sekarang boros-boros. Dari postur tubuh dan wajah, jelas sebagian orang mengira dia gadis belasan tahun. Polos, lugu, dan setiap tindakan begitu natural. Contoh nyata hari ini, dia memakai gaun hamil pas badan, di mana menegaskan pinggulnya yang masih berlekuk. Dengan rambut panjang dikepang longgar melewati bahu.
Ketika keluar dari lobi, Likta menelisik setiap penjuru parkiran. Dia tertegun sejenak di tempatnya berpijak. Berusaha mengenali sosok yang belum lama ini menjadi suami sedang duduk bersama wanita.
Dari kejauhan Likta dapat melihat rahang Tiarnan yang menegas, matanya menatap lurus ke depan. Mengabaikan wanita yang saat ini sedang memegang erat-erat bahunya.
Jarak yang terbentang menyamarkan pembicaraan keduanya, Likta hanya menunggu. Mengamati dari jauh interaksi suami dan wanita itu, rasa penasaran merongrong di batin. Apa sebaiknya dia menghampiri mereka? Sungguh aneh, sejak kapan dirinya menjelma pribadi tidak sabaran? Dan, seingatnya dulu, menunggu tidak semembosankan ini.
Sebentar, Likta mengucek mata, mungkin dia mulai berhalusinasi, bagaimana bisa orang yang dilihat hari ini menyerupai Tiarnan semua. Pasti ada yang tidak beres dengan otaknya.
“Ayo, dong, berpikir yang realistis!” perintah Likta, lebih kepada diri sendiri. Kakinya mulai pegal sedari tadi berdiri, dia butuh kursi untuk duduk atau kakinya akan kesemutan. “Nah, itu ia!” Berseru sambil berjalan ke sebuah kursi taman bercat hijau gelap.
Likta tampak menegakkan punggung ketika menyaksikan tangan ramping wanita itu memaksa agar Tiarnan menatap wajahnya. Namun, bukannya menurut, justru melempar pandangan ke arah sang istri.
“Loh, Mbak Likta, kok, duduk di sini?” tanya Pak Muhin yang entah dari mana datangnya.
“Nunggu Mas Tiarnan, Pak,” jawab Likta, melihat sang sopir sekilas, kemudian kembali ke objek awal—Tiarnan. “Oiya, Pak Muh tau, wanita itu siapa?”
Sopir pribadi ayah mertuanya itu mengikuti arah pandang Likta dan seketika tercenung.
ramainya moga nular juga di karya aku. bantu dukung ya di 'aku akan mencintaimu suamiku'