Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Perbedaan prinsip
Darrel menatap kepergian Nancy dengan tatapan hampa. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ingin mengejar dan memohonnya untuk kembali, tetapi itu tidak lah mungkin. Pengadilan telah memutuskan bahwa dia dan Nancy sudah bukan lagi suami istri. Ikatan mereka telah putus, meskipun wanita itu tetaplah ibu dari kedua anaknya.
Darrel menghela napas dalam-dalam lalu bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang sidang. Dia merasa seperti orang asing di tengah keramaian. Sendirian dan tersesat.
Di luar gedung pengadilan, Nancy langsung diserbu oleh para pemburu berita baik media cetak maupun elektronik terkait perceraiannya begitu ia keluar dari ruangan sidang. Selama ini publik mengira bahwa rumahtangga Nancy baik-baik saja mengingat tidak pernah adanya berita miring tentang mereka.
"Nancy, apa alasan Anda menggugat cerai?"
"Benarkah ada orang ketiga dalam rumah tangga Anda?"
"Bagaimana dengan nasib anak-anak setelah ini?"
"Apakah benar Anda akan segera pindah ke Paris dan melanjutkan karier Anda sebagai model internasional?"
"Apakah Anda menyesali keputusan ini?"
"Nancy, tolong berikan komentar!"
"Nancy, apakah Anda masih mencintai Darrel?"
Blitz kamera menyala tanpa henti, suara teriakan wartawan saling bersahutan. Nancy dikepung, seolah-olah ia adalah buronan yang paling dicari. Namun, Nancy tetap diam, hanya memasang senyum tipis yang sulit diartikan.
Seorang pria berjas rapi, yang diketahui sebagai pengacara Nancy, maju ke depan. "Mohon maaf, rekan-rekan wartawan semua," ucapnya dengan tenang, " Saudari Nancy tidak akan memberikan komentar apapun untuk saat ini. Perceraian ini adalah keputusan yang sulit dan sangat pribadi. Kami berharap publik dapat menghormati privasi Nancy dan keluarganya."
"Tolong, bisa dijelaskan apa penyebab perceraian ini, Pak?" desak seorang wartawan.
"Seperti yang sudah disampaikan di pengadilan, perceraian ini disebabkan oleh perbedaan prinsip dan ketidakcocokan yang sudah tidak bisa lagi diatasi," jawab pengacara itu dengan tegas.
Kemudian pria paruh baya itu memberi isyarat pada Nancy agar segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya. Mobil itu lantas melaju meninggalkan gedung pengadilan, meninggalkan Darrel yang tampak berdiri terpaku di kejauhan.
Darrel menatap mobil yang membawa Nancy pergi hingga menghilang dari pandangan. "Perbedaan prinsip?" gumamnya sinis. Kata-kata itu terasa hambar dan tidak berarti. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perbedaan prinsip. Ada luka, amarah, dan mungkin pengkhianatan yang tidak terucapkan.
Dengan langkah cepat, Darrel berbelok ke arah yang berlawanan dengan kerumunan wartawan. Instingnya sebagai seseorang yang terbiasa menghindari sorotan publik langsung bekerja. Dia sadar bahwa tinggal lebih lama di tempat tersebut hanya akan mengundang masalah.
Darrel tidak ingin dikenali, dia tidak ingin ada yang tahu bahwa dirinya adalah mantan suami Nancy. Wartawan pasti akan mencari tahu siapa dia, dan perceraian ini bisa berdampak buruk pada reputasi keluarganya.
Darrel menyusuri lorong di samping gedung dan mencari jalan keluar terdekat. Dia menarik napas lega ketika berhasil keluar dari gedung pengadilan tanpa diketahui oleh siapapun.
Pria itu sejenak menengadah ke atas, menatap langit yang tampak mendung. Seolah ikut berduka atas apa yang telah dialaminya. Namun, di balik kesedihannya, Darrel juga merasakan secercah harapan. Meski dirinya menyadari bahwa hidupnya tidak akan mudah ke depannya, tetapi dia yakin akan bisa melewati semua ini.
Kemudian Darrel berjalan menuju tempat parkir di seberang jalan, di mana motor maticnya terparkir. Motor itu adalah satu-satunya kendaraan yang dia punya sejak memutuskan untuk hidup mandiri dan menikahi Nancy.
Darrel memakai helmnya lalu duduk di atas jok dan menyalakan mesin motornya. Dia menarik gas kemudian melaju meninggalkan gedung pengadilan. Dia sudah tidak sabar untuk segera pulang dan bertemu dengan kedua buah hatinya.
Sesampainya di rumah dia melihat Zoey dan Zayn menunggunya di depan rumah bersama tetangga yang dia percaya untuk mengasuh mereka sementara. Darrel tersenyum getir, dirinya harus tetap kuat demi anak-anaknya.
"Papa...!" seru Zayn dan Zoey serentak sembari berlari menghampirinya.
Darrel segera turun dari motornya, lalu berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya. Zayn dan Zoey langsung menghambur ke pelukannya, memeluknya dengan erat.
"Papa... Papa dari mana aja?" tanya Zoey dengan manja.
"Papa habis kerja, Sayang," jawab Darrel, mencium kepala keduanya. Dia tidak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi agar tidak membuat mereka sedih dan khawatir.
"Mama mana, Pa?" tanya Zayn matanya mengerjap mencari-cari sosok Nancy.
Darrel terdiam sejenak, mencoba untuk tetap tegar. "Kan, papa sudah bilang, kalau Mama sedang bekerja di tempat yang jauh, Sayang," jawabnya dengan suara bergetar. "Nanti kalau Mama sudah selesai bekerja, Mama pasti akan pulang. Apa Zayn lupa?"
Zayn dan Zoey serentak melepaskan pelukan. Keduanya menatap Darrel dengan tatapan matanya yang polos lalu mengangguk. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami masalah yang dihadapi orangtuanya.
Darrel kembali memeluk keduanya erat-erat, menyalurkan semua cinta dan kasih sayangnya. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan apa saja untuk melindungi mereka, memberikan kebahagiaan semampunya, dan menggantikan peran ibu yang telah hilang.
Namun, di lubuk hatinya yang terdalam, Darrel merasa ragu. "Mampukah aku melakukan itu semua? Menjadi ibu sekaligus ayah bagi mereka? Mampukah aku memberikan mereka kebahagiaan yang utuh tanpa kehadiran Nancy di sisi mereka?"
Keraguan itu semakin menghantui Darrel saat dia menatap wajah polos Zayn dan Zoey. Kedua anaknya itu sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Mereka membutuhkan pelukan hangat, ciuman lembut, dan perhatian yang tulus dari seorang wanita yang menyayangi mereka tanpa syarat.
Batin Darrel berkecamuk, dia merasa bersalah. "Mungkinkah sebagai seorang lelaki, aku telah gagal karena tidak mampu mempertahankan rumahtangga dan membiarkan Nancy pergi?"
"Maafkan papa, Sayang," bisiknya dalam hati, sambil terus memeluk putra-putrinya dengan erat. "Papa janji, akan melakukan yang terbaik dan akan selalu ada buat kalian."
Darrel kemudian berdiri seraya mengangkat keduanya dan membawa mereka masuk ke dalam rumah.
"Yeeeaah... Zayn tinggi sama kayak Papa!" seru Zayn girang sambil bertepuk tangan.
"Zoey juga... Zoey juga...!" Zoey tak mau kalah.
Darrel tersenyum ceria, meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak ingin kedua anaknya melihat kesedihannya, memastikan bahwa mereka tetap bahagia dan merasa aman bersamanya.
"Mau makan apa kalian hari ini?" tanya Darrel, mencoba untuk mengalihkan perhatian putra-putrinya.
"Zoey mau makan ayam goreng, Papa!" jawab Zoey dengan semangat.
"Zayn juga!" timpal Zayn dengan antusias.
Darrel tersenyum. "Oke, hari ini kita makan ayam goreng!" ucapnya, lalu mencium pipi kedua anaknya. Baginya Zayn dan Zoey adalah segalanya. Alasannya untuk tetap bertahan, dan menjadi sumber kebahagiaan yang sejati.