Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Jari Manis yang Bersinar
Sore itu turun terlalu cepat di lereng Menoreh.
Langit yang sejak pagi kelabu kini berubah menjadi abu-abu pekat, seolah ikut menekan dada Sekar.
Perutnya melilit sejak siang.
Bukan lapar biasa—ini nyeri kosong yang membuat pandangan berkunang dan langkahnya goyah.
Ia duduk di lantai tanah gubuk, punggung bersandar pada dinding bambu yang dinginnya merembes sampai tulang.
Atap bocor meneteskan air hujan tepat di dekat kakinya, ritmenya pelan tapi konsisten, seperti jam yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan… sementara hidup mereka stagnan.
Di sudut ruangan, Rahayu terbaring lemah.
Napas ibunya pendek-pendek, batuk kecil sesekali menyayat keheningan.
Sekar menelan ludah.
Tenggorokannya kering, pahit.
Glukosa darah menurun drastis. Tubuh ini berada di ambang hipoglikemia.
Analisis internalnya muncul refleks, dingin dan presisi—kebiasaan yang belum sempat mati bersama tubuh lamanya.
Ia menggeser pandangan ke tungku tanah liat.
Kosong.
Tak ada beras.
Tak ada singkong.
Tak ada apa pun selain panci hitam berkerak dan sendok kayu yang ujungnya sudah retak.
Sekar memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia merasa… benar-benar terpojok.
Di kehidupan sebelumnya, lapar adalah konsep abstrak.
Sesuatu yang bisa ditunda, dinegosiasikan dengan kopi atau pil nutrisi.
Di sini, lapar adalah binatang buas yang menggerogoti dari dalam.
“Ibu…,” panggilnya pelan.
Rahayu membuka mata dengan susah payah.
Senyumnya muncul, tipis dan rapuh.
“Sekar… sudah makan, Nduk?”
Pertanyaan itu seperti pisau.
Sekar menggeleng kecil.
“Ampun, Bu. Sekar belum nemu apa-apa.”
Rahayu berusaha bangkit, tapi tubuhnya tak menurut.
Ia terbatuk, wajahnya semakin pucat.
“Maaf… Ibu ini… ora guna,” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri.
Kata itu menghantam lebih keras daripada makian Mirna tadi siang.
Sekar menunduk, jemarinya mengepal.
Ini tidak efisien. Sistem keluarga ini disfungsional. Ada variabel kekuasaan yang menekan sumber daya hingga nol.
Pikiran profesor itu berputar cepat, mencari celah.
Namun, data apa pun tak bisa mengubah fakta paling mendasar:
mereka kehabisan makanan.
Sekar berdiri, lalu membuka pintu gubuk.
Hujan turun rintik, membasahi tanah merah yang langsung berubah licin.
Aroma tanah basah naik, bercampur bau daun busuk dan kayu lapuk.
Biasanya menenangkan.
Hari ini, justru membuat mual.
Ia melangkah keluar, tanpa tujuan jelas.
Mungkin berharap menemukan sesuatu—apa pun—yang bisa dimakan.
Daun singkong liar.
Umbi hutan.
Atau sekadar keajaiban yang tidak masuk akal.
Langkahnya terhenti di dekat pohon nangka tua di belakang gubuk.
Tanah di sana keras, berbatu.
Sekar berjongkok, menekan perutnya yang kembali melilit.
Keringat dingin muncul di pelipis.
Kortisol meningkat. Sistem saraf simpatik aktif berlebihan.
Tubuh ini berada di titik krisis.
“Tenang… tarik napas,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia menutup mata, mencoba teknik grounding yang biasa ia ajarkan pada mahasiswa stres berat.
Tarik.
Tahan.
Hembuskan.
Namun rasa lapar itu tidak peduli pada metode ilmiah.
Sekar membuka mata.
Pandangan sedikit kabur.
Saat itulah ia merasakan sesuatu yang aneh.
Hangat.
Bukan dari luar.
Dari dalam.
Dari… jari manis tangan kirinya. Sekar mengerutkan kening.
Perlahan, ia mengangkat tangannya ke depan mata.
Tanda lahir berbentuk bulir padi itu, yang sejak kecil dianggap kutukan,
sedang berdenyut pelan.
Bukan imajinasinya.
Kulit di sekitarnya terasa hangat, seperti didekatkan pada sumber panas rendah.
“Apa ini…?” gumamnya.
Ia menyentuh tanda lahir itu dengan ibu jari tangan kanan.
Begitu kulitnya bersentuhan.
Denyutannya menguat.
Cahaya tipis, keemasan, muncul dari garis-garis halus tanda lahir tersebut.
Bukan menyilaukan.
Lebih seperti kilau matahari senja yang terjebak di kulit.
Sekar membeku.
Fenomena bioluminesensi pada jaringan manusia? Tidak mungkin. Tidak ada organisme endogen yang mampu memproduksi cahaya stabil tanpa reaksi kimia ekstrem.
Napasnya memburu.
Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, melainkan kewaspadaan intelektual.
“Ini… anomali,” bisiknya.
Cahaya itu makin terang, mengikuti irama denyut nadinya. Sekar bisa merasakan sensasi halus, seperti aliran energi mikro yang bergerak dari jari menuju pergelangan tangan.
Hangat.
Nyaman.
Aneh, dan menenangkan.
Hujan di sekitarnya seolah meredam. Suara alam menjauh, seperti disaring oleh lapisan tak terlihat.
Sekar berdiri sempoyongan.
Pandangan di depannya mulai bergetar.
Tanah.
Pohon.
Gubuk.
Semuanya tampak… tidak stabil. “Ada distorsi visual,” gumamnya refleks.
“Seperti… efek lensa.”
Cahaya keemasan itu kini menyelimuti seluruh jari manisnya. Sekar merasakan tarikan lembut, bukan paksaan, lebih seperti undangan.
Perutnya kembali melilit hebat.
Rasa lapar itu memuncak, bercampur putus asa yang selama ini ia tekan rapat.
“Apa pun ini…” napasnya tersengal.
“…kalau ini halusinasi akibat hipoglikemia, otakku sudah sangat kreatif.”
Ia tertawa kecil, hambar.
Namun, tawa itu terputus saat tanah di bawah kakinya terasa… hilang.
Bukan amblas.
Bukan runtuh.
Menghilang.
Sekar terhuyung.
Refleksnya mencoba mencari pijakan, tapi yang ia rasakan hanyalah sensasi melayang, seperti jatuh dalam air tanpa basah.
Cahaya keemasan meledak lembut, membungkus tubuhnya.
Dingin dan hangat bersamaan.
“Apa—”
Suaranya lenyap di tengah tarikan kuat yang menarik tubuhnya ke depan.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada benturan.
Hanya sensasi terhisap, seperti partikel yang ditarik ke dalam medan magnet raksasa.
Sekar menutup mata.
Dalam gelap itu, kesadarannya tetap utuh.
Ia bisa merasakan setiap detail: detak jantung, aliran darah, kontraksi otot.
Jika ini kematian kedua… maka otakku bekerja jauh lebih lama dari yang seharusnya. Namun, detik berikutnya, sunyi.
Bukan sunyi kosong yang menakutkan.
Sunyi yang… bersih.
Sekar membuka mata.
Cahaya lembut menyambutnya.
Bukan cahaya matahari langsung, melainkan terang yang merata, seolah datang dari segala arah.
Ia berdiri, atau lebih tepatnya, menyadari bahwa ia sedang berdiri.
Tanah di bawah kakinya terasa padat, stabil, tidak basah.
Sekar menunduk.
Tangannya masih utuh.
Tubuhnya terasa… ringan.
Rasa lapar yang tadi menusuk perlahan mereda.
Bukan hilang sepenuhnya, tapi tidak lagi menyiksa.
Ia menarik napas.
Udara masuk ke paru-parunya dengan mudah.
Segar.
Tidak ada bau apek, tidak ada lembap busuk seperti di gubuk. “Apa… ini?” suaranya terdengar lebih jernih.
Sekar menoleh ke sekeliling.
Pandangan matanya masih beradaptasi, tapi satu hal ia sadari dengan sangat jelas—
Ini bukan lereng Menoreh.
Bukan gubuk.
Bukan hutan.
Ini… tempat lain.
Jari manisnya masih bersinar, kini cahayanya mulai meredup perlahan, seolah telah menyelesaikan tugasnya.
Saat kilau itu padam sepenuhnya, sensasi hangat ikut menghilang. Sekar mengangkat tangannya ke dada, napasnya sedikit gemetar. Translokasi spasial tanpa kerusakan jaringan. Kesadaran utuh. Tidak ada disorientasi berat.
Pikirannya bekerja cepat, nyaris bersemangat.
Jika ini mimpi, maka ini mimpi paling koheren yang pernah ia alami.
Jika ini nyata…
Sekar menelan ludah.
Ada getaran halus di dadanya, campuran takut dan antisipasi.
“Baik,” gumamnya pelan, lebih pada diri sendiri.
“Kita akan observasi pelan-pelan.” Ia melangkah satu langkah ke depan.