NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Rumah Ribut

“Jadi laki jangan cuma modal kelamin, dengar gak itu listrik bunyi tat tit tat tit, pusing dengernya” keluh Sundari saat melihat Wira masuk dapur.

Wira sempat menoleh, jelas tersinggung tapi ia kembali fokus membuat kopi, seolah tak terjadi apa-apa. Wira melangkah keluar dan duduk di teras rumah bersama kopi yang selesai dibuat. 

Dongkol karena diabaikan, dengan cepat Sundari menyelesaikan cucian piringnya. Setiap piring beradu dengan bak cuci terdengar nyaring, lebih keras dari biasanya.  Sementara bunyi peringatan pulsa listrik semakin rapat memenuhi seisi rumah. Tepat baskom terakhir yang dia cuci tak langsung ditaruh di rak, justru berjalan ke depan melewati ruang makan. Pandangan Parama dan Athaya yang sedang sarapan mengikuti langkah ibunya, membawa baskom sampai teras. Tepat di depan Wira lalu dilemparnya baskom itu.

Brak…

“Ngopi! masih bisa nyantai pagi-pagi? wahh nikmat banget hidup kamu ya!” sarkas Sundari ditujukan  kepada Wira yang belum juga menanggapi keluh nya.

Wira masih saja tak bergeming, Sundari makin mendidih “Saya yang masak, saya yang nyuci,  saya yang belanja dari duit yang saya cari sendiri pulak. Guna kamu apa?”

Kebutuhan hidup terus naik mengharuskan Sundari yang seorang sarjana berdagang es di rumah. Tugas mulia menjadi ibu rumah tangga, itu yang digaungkan ibu mertuanya setelah menikahi Wira. Melihat suaminya santai di pagi hari tentu saja membuatnya naik darah. Pasalnya Wira terkesan tidak peduli padahal kebutuhan hidup masih kurang.

“Saya tiap hari juga kerja” jawab Wira tenang

“Kamu kebanyakan ikutan arisan, uang bulanan yang tadinya cukup jadi kurang“ lanjut Wira santai seperti sudah sangat terbiasa dengan sikap istrinya.

“Arisan tuh nabung, bukan buang duit! Coba tiru itu sikap Pak Sutar, sangat memuliakan istri nya. Nafkah nya dipenuhi dan tidak perlu capek ikut cari uang” ucap Sundari dengan nada tinggi.

Athaya yang tadinya mencerna sarapanya dengan lahap terhenyak. Sedikit pusing dan berdenging telinganya saat suara sahut-sahutan penuh emosi itu terdengar keras, dia justru berjalan depan teras ingin menghentikan mereka agar denging di kepalanya berhenti. Tapi dengan mulut penuh makanan Athaya berhenti mengunyah, tubuhnya membeku, wajahnya pucat melihat wajah orang tuanya penuh kerutan, rahangnya mengeras, dengan matanya memancarkan kemarahan dan mulut tak berhenti saling menunjuk. Ah, bahkan tak sepatah katapun bisa keluar dari nya. Semua tertahan, dadanya begitu bergemuruh, tapi mulutnya membeku. 

“Ya kamu tiru itu adab Bu Dewi juga, gak pernah ribut depan anak” suara Wira ikut meninggi setelah menoleh sekilas ke Athaya

“Stop Mah, Pah, adik-adik Nareya butuh pikiran yang jernih buat sekolah, ributnya nanti setelah kita berangkat” ucap Nareya sambil menggenggam tangan Athaya dan membawa ke dalam rumah.

Keduanya tersadar dan akhirnya berhenti, meski sorot emosi keduanya belum padam. Napas keduanya masih saling memburu, hingga dadanya naik turun dengan tempo yang cepat. 

Tak jarang Nareya harus menjadi penengah orang tuanya. Tapi ribut soal uang yang paling membuatnya gelisah. Dia benar-benar pernah berada di kondisi ekonomi terendah kedua orang tuanya. Sejak mendengar suara pertama dari Sundari dari dapur, dia sudah tahu pagi ini akan kacau. Jadi langsung ke kamarnya dan melihat isi dompetnya. Tapi hanya tinggal satu lembar lima puluh ribu, jika digunakan untuk membayar pulsa listrik besok dia tidak punya ongkos untuk berangkat kerja.

Soal listrik masih bisa dia pikirkan nanti, ntah meminjam atau apapun, tapi yang pasti dia harus bekerja dan segera membawa adik-adiknya berangkat sekolah.

“Kalau mati listriknya ya udah relain aja dua hari gak pake listrik dulu. Tunggu lusa Nareya gajian” ucap Nareya bergegas menyiapkan tasnya

“Anak gak tau diuntung kamu ya” sentak Sundari

“Sudah dilahirkan, disekolahkan tinggi-tinggi cuma bikin berani nyerocos ke orang tua”

“Nareya juga nggak bisa milih dilahirkan dari orang tua seperti apa!” teriak Nareya ikut terbawa emosi. 

Begitu kecewa dengan keduanya, akhirnya meluap juga. Bahkan kalau bisa memilih dia tidak mau dilahirkan ke dunia. Keduanya sama saja menurut Nareya. Tidak salah satupun yang bisa dia jadikan sandaran menghadapi kerasnya kehidupan. Harus menjadi waras di antara manusia dewasa yang sama sekali belum dewasa sungguh menguras energi Nareya. Setidaknya ia harus lebih kuat lagi demi adiknya, itulah yang Nareya utamakan sekarang. 

“Yaudah Pah, Mah, Nareya berangkat dulu ya sama adik-adik.” pamit Nareya sambil mengulurkan tangan ke Wira, bersalaman.

Athaya dan Parama tak bersuara sedikitpun hanya mengikuti Nareya ikut bersalaman. Sementara Sundari malah melenggang masuk ke dalam kamar. Karena sudah waktunya berangkat, Nareya langsung jalan bersama keluar gang sampai halte. Mereka menunggu bus datang. 

“Kak Eya, napa ti mama uka mayah-mayah kaya tadi?” ucap Athaya terbata-bata.

Athaya adik Nareya paling kecil, kemampuan bicaranya memang agak terlambat dibanding anak seusianya. Dia sudah kelas satu SD tapi kemampuan bicaranya mungkin setara dengan anak umur tiga tahun. Beberapa huruf belum bisa terucap. Tapi dia anak yang cerdas sehingga tetap bisa mengikuti sekolah umum. Pembicaraan tentang terapi untuk kemampuan bicara Athaya sudah Nareya utarakan ke Wira dan Sundari. Namun memang belum juga dilaksanakan karena terkendala biaya

“Hemm… Aya gak perlu pikirin itu ya, Mama Papa emang begitu lah. Tapi pokoknya Aya harus pinter supaya bisa jadi orang sukses, biar hidupnya lebih baik.”

“Hem… Kak Eya kesel banget yah ama Mama Papa. Tapi Aya yakin tebenelnya meweka baik”

Belum sempat menjawab Bus mereka datang, Nareya langsung berdiri dan menggandeng Athaya dan Parama naik.

Mereka berdiri berdesakan dengan penumpang lain, hening, sibuk dengan pikiran masing-masing. Terutama Parama, dia anggota rumah yang paling diam. Nareya menatap Parama, baru menyadari adik nya yang satu ini bahkan tak keluar suara sekalipun sejak tadi. Sempat saling tatap, Nareya menyadari wajahnya menyiratkan banyak hal yang membebani pikiranya. Tidak senyum, tidak muram, datar seperti sedang berfikir keras. Nareya langsung mengingatkan dirinya sendiri untuk bicara dengan dia saat di rumah.

Parama dan Athaya sudah turun lebih dulu, sekolah mereka bersebelahan. Sedangkan Nareya saking sibuk isi kepalanya hingga baru menyadari lima menit lagi hampir telat. Turun dari Bus, Nareya langsung lari secepatnya, sampai di lift dia baru ingat ada rapat penting dengan salah satu pimpinan. Satu-satunya jajaran atas yang sudah berusia matang tapi belum berpasangan, bahkan sampai muncul rumor dia gay. Tapi ada juga yang membelanya dengan pendapat dia belum berpasangan cuma karena terlalu galak saja.

“Shhhh ya tuhan tolong…” bisik Nareya sambil merapikan rambutnya sambil melihat dari pantulan pintu lift, kemudian menyeka peluh di pelipisnya.

Saat membuka pintu ruangan rapat, semua mata langsung tertuju ke Nareya.

“Selamat Pagi” sapa laki-laki yang berdiri di depan dengan proyektor yang sudah siap, menatap lekat.

“P…Pagi” jawab Nareya dengan wajah pias mendapat tatapan tajam semua orang.

“Baiklah karena satu-satunya orang penting yang kita semua tunggu sudah datang, dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan tepat, jadi mari kita mulai saja rapat ini” ucapnya dengan penuh penekanan di setiap kata.

Kala, seorang yang begitu menjunjung tinggi kedisiplinan, malah dibuat menunggu oleh Nareya. Sudah pasti kalimat sarkasnya itu hanya pembuka yang tidak akan selesai dengan mudah di rapat ini.

“Sebelumnya, beberapa karyawan baru mungkin belum mengenal saya, saya Kala” ucap Kala memperkenalkan diri singkat. 

Nareya terus fokus mendengarkan arahan dari atasanya itu. Cara bicaranya membuatnya tak sempat mencatat hal penting di rapat tersebut. Entah karena terlalu fokus atau penjelasanya membuat semuanya mudah dimengerti tanpa perlu dia catat. Sampai lupa kalau dia baru saja mendapat kalimat yang membuatnya tersudutkan

Nareya dengan cepat mengalihkan pandangannya saat mata mereka bertemu. Sial, baru sadar dia menatap terlalu lama. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!