NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 18

Sehabis makan malam, sesuai ucapannya, Fadi dan Bunga benar-benar pergi berkeliling kota dengan motor kesayangan Fadi yang baru beberapa waktu ini kembali aktif dipakai jalan berdua. Katanya, ingin mengulang masa-masa pacaran dulu, saat Fadi baru mulai bekerja dan belum punya apa-apa selain mimpi dan keberanian.

Tangan Bunga melingkar di pinggang Fadi dengan erat. Posisi yang sama seperti puluhan tahun lalu. Sesekali mereka berbincang ringan sepertu tentang bangunan yang baru berdiri, warung lama yang masih bertahan, atau sekadar mengomentari lampu jalan yang kini terasa lebih terang dibanding masa muda mereka.

Cuaca malam itu awalnya begitu bersahabat. Langit cerah, bulan menggantung malu-malu, dan bintang bertebaran seperti pamer keindahan. Motor melaju santai, dan angin malam menyentuh wajah mereka dengan lembut.

Sampai akhirnya, sesuatu yang tidak diundang datang begitu saja.

Angin berembus lebih kencang, membuat dedaunan berjatuhan dari pohon-pohon di tepi jalan. Langit yang tadinya cerah perlahan tertutup awan gelap.

“Mas… mau hujan,” teriak Bunga dari belakang, suaranya sedikit tertelan angin.

“Semoga hujannya nunggu kita sampai rumah,” jawab Fadi, setengah berharap, setengah berdoa.

Sayangnya, doa itu sepertinya belum masuk antrean langit.

Awalnya hanya rintik kecil. Namun tak sampai beberapa menit, hujan turun dengan deras dan disertai angin yang menusuk. Fadi yang lupa total membawa jas hujan akhirnya menepikan motor di depan sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam.

Bukan hanya mereka. Beberapa pengendara lain juga bernasib sama, berjejer di teras minimarket dengan ekspresi pasrah.

Hujan yang disertai angin membuat air tetap menyambar tubuh mereka meski sudah berteduh.

“Persiapan dulu kek sebelum berangkat,” gerutu Bunga sambil merapatkan jaketnya.

“Ya maaf, Sayang. Kamu juga lihat sendiri tadi, langitnya cerah banget,” bela Fadi.

“Makanya, lihat ramalan cuaca.”

“Ramalan itu nggak selalu benar.”

“Ramalan cuaca boleh dipercaya. Ramalan si Gumay keras yang nggak boleh!” balas Bunga cepat.

Fadi langsung memilih diam. Pengalaman hidup mengajarkannya satu hal penting, yaitu melawan hujan masih mungkin, melawan istri yang mulai kedinginan, itu misi bunuh diri.

Setengah jam berlalu. Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam, namun hujan justru semakin niat.

“Suruh Zaidan jemput aja deh, Mas. Kalau ditunggu bisa sampai tengah malam kita disini,” usul Bunga yang mulai merasakan kedinginan akibat angin yang semakin kuat.

“Terus motor kita?” tanya Fadi.

“Titip aja. Rantaiin di situ. Itu kan ada pembatas besi,” jawab Bunga sambil menunjuk beberapa motor yang sudah tergembok rapi.

“Ya sudah, Papa telepon anaknya dulu.”

Fadi merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel. Baru menyalakan layar, ia langsung menghela napas panjang.

“Habis baterai, Flo.”

Bunga menatapnya datar. “Tahu gitu tadi aku lanjut tidur.”

“Kamu nggak bawa hp?” tanya Fadi, pura-pura tenang.

“Nggak. Dompet juga nggak. Saku jaket ini kecil, Mas. Hp aja nggak muat, apalagi harapan,” keluh Bunga sambil menunjukkan saku jaketnya.

Mereka berdua menghela napas bersamaan.

Pandangan Bunga lalu tertuju ke arah dalam minimarket. Seorang perempuan muda tampak berdiri di balik meja kasir.

“Pinjam charger sama mbak itu aja, Mas. Biar bisa hubungi Zaidan.”

Wajah Fadi langsung cerah, seolah baru menemukan harta karun. “Ide kamu memang selalu jenius kalau lagi kepepet, Flo.”

Mereka pun masuk ke dalam minimarket.

“Selamat datang di Happy Mart, selamat berbelanja,” sapa sang kasir dengan suara ramah.

Fadi langsung menuju kasir, sementara Bunga berbelok ke rak roti. Sebuah kebiasaan yang bahkan hujan badai pun tak mampu menghentikannya.

“Mbak, maaf, bisa pinjam charger handphone?” tanya Fadi sopan.

“Untuk hp apa, Pak?”

“Yang ini.” Fadi menunjukkan ponselnya.

“Oh, bisa, Pak. Tapi kabelnya pendek.”

“Nggak apa-apa, Mbak. Yang penting bisa nyala, bukan buat lomba,” jawab Fadi ringan.

Kasir itu tersenyum, lalu menghubungkan ponsel Fadi ke charger. Tak lama kemudian, Bunga datang membawa sebungkus roti.

“Bisa, Mas?” tanyanya.

“Bisa,” jawab Fadi, lalu melirik roti di tangan istrinya. “Itu apa lagi?”

“Roti. Nunggu kamu kelamaan, aku lapar. Bayarin ya. Kamu bawa dompet, kan?”

Fadi hanya bisa menghela napas panjang. Sudah kepala enam, sudah punya anak dewasa, tapi urusan jajan istrinya itu tetap konsisten sejak muda.

Kasir memindai barcode roti itu, Fadi membayar, lalu kembali ke urusan utama.

“Mbak, bisa dilepas sebentar? Baterainya sudah cukup buat nelpon anak saya,” pinta Fadi.

“Oh iya, Pak.”

Ponsel itu dikembalikan. Layar menyala menunjukkan angka 6%.

“Cukup buat satu panggilan dan satu doa,” gumam Fadi.

Ia segera mencari nomor Zaidan.

“Udah tidur belum ya itu anak?” tanya Bunga.

“Nggak tahu. Katanya mau mandi. Kalau tidur sekarang, semoga jangan tidur kebo,” jawab Fadi sambil menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar, bersaing dengan suara hujan di luar.

Tak lama telepon itu pun diangkat oleh Zaidan.

“Dan, jemput Papa sama Mama di minimarket Happy Mart yang di jalan Kemuning, depannya kafe itu, ya. Cepat!”

Fadi langsung mematikan ponselnya itu setelah menyampaikan maksudnya.

“Kenapa langsung dimatiin, Mas? Itu dia dengar atau nggak?” protes Bunga.

Tak lama suara dentuman kencang mengejutkan mereka semua.

Duar.

Petir kuat menyambar.

“Makanya aku langsung matikan. Nggak boleh nelpon kalau lagi petir,” bela Fadi.

Bunga hanya bisa menghela napasnya. Rasanya ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menjawab sang suami. Ia hanya bisa berharap putranya bisa mendengar dengan cukup jelas ucapan sang suami.

“Pak, Bu, duduk aja dulu.” Kasir wanita tadi memberikan dua buah kursi plastik untuk pasangan lanjut usia itu.

“Wah, terima kasih banyak, Mbak,” ungkap Fadi dengan wajah cerah. Jujur saja kakinya memang sudah terasa sakit karena berdiri sejak tadi.

“Terima kasih banyak ya, Mbak.” Bunga pun tak kalah mengucapkan terima kasihnya dengan tulus pada wanita itu.

“Iya Bu, sama-sama.” Gadis itu tersenyum lembut pada keduanya.

Fadi dan Bunga duduk di sebelah meja kasir, tepat di depan rak yang berisikan obat-obatan.

“Masuk malam, Mbak? Atau lembur?” tanya Bunga sebagai pembuka percakapan mereka.

“Masuk malam, Bu,” jawab gadis itu sopan.

“Ini sendirian” tanya Bunga lagi.

“Nggak, Bu. Teman-teman lagi di belakang, makan. Yang satu belum sampai antar delivery. Sepertinya juga terkurung hujan,” jawabnya.

“Saya kagum kalau lihat perempuan muda gini yang pekerja keras,” puji Bunga tulus, namun gadis itu hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Berapa bersaudara, Mbak?” tanya Bunga lagi yang sepertinya sudah mulai ‘kepo’ khas ibu-ibu pada umumnya.

“Saya anak tunggal, Bu,” jawab gadis itu lagi.

“Orang tua masih lengkap?”

“Ma, kenapa jadi banyak sih pertanyaannya? Kayak mau sensus penduduk aja,” tegur Fadi yang merasa takut jika wanita muda di depan mereka ini merasa tidak nyaman dengan pertanyaan sang istri.

Bunga hanya mendelikkan pandangannya ke arah sang suami, namun pandangannya kembali ke arah wanita muda itu yang masih menampilkan senyuman hangat di bibirnya.

“Saya cuma punya ibu untuk saat ini, Bu,” jawabnya pelan. Senyuman kecil masih tergambar jelas disana, namun Bunga bisa melihat kegetiran di wajah ayu dan lembutnya.

“Kamu anak yang hebat, Mbak. Anak yang kuat,” ucap Bunga lembut. Tatapannya hangat, penuh ketulusan. “Pasti besar sekali keinginan kamu untuk membahagiakan ibu kamu. Tetap semangat, ya.”

Kasir itu terdiam sejenak. Senyum kecil tersungging di bibirnya, meski matanya tampak sedikit berkaca-kaca.

Entah mengapa, Bunga bisa merasakan ada perjuangan panjang di balik wajah tenang perempuan muda itu. Perjuangan yang tidak perlu ditanyakan, apalagi diusik. Ada luka yang cukup dihormati dengan diam, dan ada lelah yang hanya perlu diakui keberadaannya.

Bunga tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum, memberi anggukan kecil menandakan sebuah dukungan sederhana, namun tulus.

Keheningan kemudian melanda mereka. Tak lama perempuan muda itu harus melayani pembeli yang ingin membayar belanjaan mereka.

“Kok lama ya, Mas?” tanya Bunga yang sudah mulai kelelahan menunggu datangnya sang putra.

“Sebentar lagi, Ma. Tunggu aja,” jawab Fadi yang juga sudah mulai mengantuk.

Dan pucuk dicinta ulam tiba. Zaidan masuk ke dalam toko dengan menggunakan jaket hitam kesayangannya dan celana pendek. Rambutnya sedikit basah, mungkin kena hujan saat turun dari mobil.

Namun bukan karena penampilan Zaidan yang membuat kedua orang tuanya bingung, namun sang kasir yang tiba-tiba mematung melihat ke arah putra mereka.

“Mereka kenapa, Mas?” bisik Bunga tepat ditelinga sang suami.

“Bemo lewat.”

...****************...

Masih ada bemo rupanya ya Bang Fad 🤣

Btw senin nih, best. Jangan lupa votenya ya ☺️ Like dan komen kalian juga author tunggu, lho 😘😘

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!