NovelToon NovelToon
My Only One

My Only One

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Perpisahan meninggalkan luka yang cukup menganga bagi Galang dan Amara. Terlebih penyebabnya hanyalah masalah perbedaan prinsip.

Tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari hubungan mereka, apalagi setelah Amara memutuskan pergi ke Paris untuk melanjutkan kuliahnya.

Keduanya masih menyimpan perasaan untuk masing-masing, meski dua tahun telah berlalu. Dan tak ada di antara mereka yang mampu saling melupakan.

Namun intensnya pertemuan Galang dengan Clarra, yang merupakan rekan kerjanya membuat hubungan mereka mengalami perubahan. Apalagi ketika jarak semakin tercipta setelah Amara menutup semua akses komunikasi. Menjadikan Galang mengalami kegamangan.

Lantas siapakah yang akan menjadi pelabuhan hati Galang nantinya?
Happy reading.

Follow ig author @tiyanapratama untuk tahu info lebih tentang karya yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Ke Paris

🌺

🌺

"Pulang sekarang?" Piere keluar dari pantry setelah membereskan tempat itu dari kekacauan sebelum nantinya dia berganti shift dengan temanya.

"Ya, saat ini hal yang paling aku rindukan adalah tempat tidur." jawab amara sambil meregangkan tubuhnya yang terasa remuk.

"Sudah pasti kau kelelahan ya?" Pria itu mengenakan jaket tebalnya. Cuaca sangat dingin dan angin berhembus kencang pada petang itu karena wilayah Paris sepertinya sudah mulai memasuki musim gugur.

"Kamu lihat sendiri, pekerjaan kita hari ini banyak sekali."

"Memang." Mereka berjalan keluar setelah memastikan semuanya beres.

"Dan apakah hanya perasaanku saja, kalau beberapa hari ini tamu semakin banyak saja? Perbandingan tamu check in dan check out sepertinya seimbang. Kadang aku hampir tidak sempat untuk membereskan kamar karena tamu berikutnya sudah tiba. Catherine bahkan sempat kena omel manager karena terlambat."

"Yeah, sepertinya begitu. Minggu depan sudah masuk babak kualifikasi di Le Mans kan? Jadi wisatawan mulai berdatangan."

"Ini gila. Balapannya bahkan baru akan dimulai minggu depan. Tapi antusias orang-orang sangat besar." Amara menggelengkan kepala.

"Kau tidak tahu saja. Kita di sini begitu sibuknya. Bayangkan orang-orang di sekitar sirkuit. Mereka yang memiliki usaha penginapan dan restoran di sana pasti lebih sibuk dari pada kita."

"Iya, haaaaahhhh ... segini saja aku merasa kewalahan. Apalagi di Le Mans!" Amara mengangkat kedua tangannya di udara.

"Tapi betapa beruntungnya mereka, bisa melihat balapannya secara langsung. Dan lagi, mungkin bisa melihat para pembalap lewat. Ah, ... asik sekali."

"Memangnya kamu tidak bisa pergi ke sana untuk menonton? Kan dekat, hanya berjarak dua jam saja dari sini?" Mereka berhenti di sebuah persimpangan, di mana keduanya bisa melihat ke sekeliling kota.

Menara Eiffel yang menawan pada hampir malam itu terlihat semakin mempesona setelah semua lampunya dinyalakan. Juga dibawahnya lampu-lampu kota yang membuat malam-malam menjadi semakin semarak. Membuat perjalanan pulang mereka pada malam hari terasa semakin berkesan.

Mereka tinggal di tempat yang tidak terlalu jauh dari hotel, sehingga bisa berjalan kaki setiap kali pergi bekerja ataupun pulang setelahnya.

"Tidak bisa. Hotel akan sangat sibuk sejak satu minggu sebelum dan sesudah balapan. Sudah pasti aku tidak akan bisa ke sirkuit. Ah, ... mengecewakan."

"Kamu suka sekali dengan balapan itu ya?"

"Ya, terutama dengan pembalapnya."

"Rania?"

"Yes."

"Kenapa kamu suka dia?" Mereka melanjutkan perjalanan.

"Karena dia sangat keren. Aku tahu sejarahnya masuk ke superbike. Semua konten yang menjelaskan tentang dia aku hafal."

"Whoa!!"

"Kau tahu, teman senegaramu itu hebat."

"Ya, memang."

"Kau pernah bertemu dengannya? Bukankah dia tinggal di Jakarta?"

"Kamu sampai tahu dia tinggal di mana ya? Mengerikan."

Piere tertawa.

"Aku sering bertemu dengannya. Apa kamu akan percaya kalau aku katakan aku mengenal Rania?"

"What? No way!" Piere tertawa.

"Serius."

"Kamu bohong!"

"Tidak."

"Tidak mungkin!"

"Kalau aku katakan bahwa dia istrinya adik ipar papaku?"

"Tidak mungkin!"

"Aku serius, Piere!"

"Then prove it!" Pria itu tampak tak percaya.

Amara tertegun.

"See? you lie!"

"Aku serius."

Pria itu kembali menggelengkan kepala sambil tertawa.

"Sebentar." Amara mengeluarkam ponsel dari saku jaketnya. Kemudian dia baru teringat sesuatu.

"Now what?"

"Aku mau menelfonnya, tapi aku lupa kalau aku tidak punya nomor ponselnya."

Piere tertawa terbahak-bahak.

"Aku tidak bohong! Aku memang benar-benar mengenal Rania. Kamu harus percaya!"

"Ya ya ya, aku percaya."

"Aku serius, Piere!"

Pria itu masih tertawa.

"Tunggu, aku akan minta nomor ponselnya kepada Mommyku!"

"Yeah, right!"

Amara menempelkan ponsel pada telinganya untuk melakukan panggilan kepada Dygta.

"Angkatlah Mommy!" Dia bergumam.

Namun panggilan tidak tersambung pada nomor yang dituju.

"Apa sih?" Amara menatap layar ponselnya.

Kemudian dian mencoba sekali lagi untuk menghubungi ibu sambungnya.

"Ayolah!"

"Thats enough!" ucap Piere saat mereka tiba di sebuah bangunan tempat Amara tinggal.

Apartemen kecil namun cukup terkenal di wilayah itu karena terletak di tempat yang cukup strategis.

"Aku serius, aku kenal dengan Rania. Aku ingin menelfonnya agar kamu bisa berbicara dengannya secara langsung."

"Ya ya, aku percaya."

"Aku serius Piere." dia mengulang ucapannya untuk meyakinkan teman sekelasnya itu.

"Ya, i know. But it's oke."

"Aku janji nanti kalau ada kesempatan aku pasti akan menghubunginya di depanmu."

"Merci (terima kasih)." Pria itu berujar.

"Aku benar-benar akan melakukannya untukmu. Aku janji."

Piere mengangguk sambil tersenyum.

"Masuklah, sudah malam. Kamu bilang mau istirahat?"

"Hmm ... ya. Tapi berbicara denganmu sangat menyenangkan."

"Besok kita bertemu lagi, dan akan membicarakan banyak hal seperti biasa."

"Ya, kamu benar."

"Baiklah, kalau begitu aku pamit?"

"Baik, sampai jumpa besok."

"Yeah, ... " Kemudian pria itu pun pergi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Sepertinya aku butuh kamu untuk ikut minggu depan ke Paris." Dimitri menandatangani beberapa surat persetujuan pelaksanaan proyek yang sudah dia dan pihak klien sepakati sebelumnya.

"Saya Pak?" Galang membereskan beberapa di antaranya yang sudah selesai.

"Ya, siapa lagi?"

"Kenapa tidak Pak Andra?"

"Sudah waktunya kamu yang ikut. Biarkan para orang tua diam di tempat." Dimitri terkekeh.

"Saya dengan siapa Pak?" lalu Galang bertanya.

"Hanya kamu. Selain dua pengasuh tentunya. Aku tidak bisa hanya pergi dengan mereka. Tahu sendiri si kembar seperti apa?"

"Hanya Anya, Zenya sepertinya bisa ditangani Pak." jawab Galang.

"Hah, kamu tidak tahu saja bagaimana mereka berdua kalau sudah berulah."

Galang kini yang terkekeh.

"Anya yang selalu mempengaruhi Zenya ya Pak?" katanya kemudian.

"Ya, tahu sendirilah."

"Dia memang dominan."

"Apa Rania dulu seperti itu?" Dimitri menutup dokumen terakhir yang dia tanda tangani.

"Seumuran Anya?"

"Ya."

Galang terdiam untuk mengingat.

"Seingat saya ... dia lebih dari Anya."

"Benarkah?"

"Bapak beruntung zaman sekarang di tempat tinggal keluarga tidak ada lapangan tempat anak-anak kampung bermain layangan, kelereng, atau permainan semacam itu."

"Memangnya kenapa?"

"Kalau ada, saya yakin Anya akan menyamai Mommynya."

"Benarkan?"

"Dulu balkon kamar saya jadi tempat Rania main layangan, dan belakang rumah orang tua saya ada lapangan tempat dia main kelereng dan egrang dengan anak-anak lain."

"Balkon kamarmu heh?"

"Ya."

"Apa saja yang dia lakukan di balkon kamarmu?"

"Sudah saya katakan main layangan."

"Hanya itu?"

"Ya."

"Tidak ada yang lain?"

"Maksud Bapak?"

Dimitri terdiam menatap Galang yang kini telah menjadi asisten utamanya itu.

"Tidak ada. Aku hanya memikirkan sesuatu." Pria itu mejawab dengan perasaannya yang mulai kesal setelah mengetahui masa kecil istrinya yang baru dia dengar.

"Hmm ...." Galang kembali membereskan file dari meja atasannya itu.

"Semua sudah selesai?" tanyanya kemudian.

"Yeah, bawalah." Dimitri mengangguk.

"Saya antar ini kepada Clarra?"

"Ya, antar sajalah." Sang atasan menempelkan tubuhnya pada sandaran kursi, sementara Galang melenggang ke arah pintu.

"Hey Galang?" panggil Dimitri kepada asistennya itu.

"Ya Pak?" Galang memutar kepala.

"Apa saja yang dia lakukan di balkon kamarmu?" tanya Dimitri lagi, dan dia semakin penasaran.

"Apa?"

"Yang Rania lakukan di balkon kamarmu?"

"Hah?" Galang kembali memutar tubuhnya.

"Umur berapa kalian waktu itu? Kamu tahu, saat dia main layangan di balkon ...."

"Lima atau enam tahun?" Galang segera menjawab. Dia mengerti dengan maksud pertanyaan atasannya itu.

"Oh, ...."

"Dia hanya main layangan Pak, tidak ada apa-apa." Galang menahan tawanya. Dia juga mengerti dengan raut kesal di wajah pria setengah bule itu.

"Hmmm ...."

"Sudah sore Pak, sebaiknya Bapak pulang. Bukankah ada janji dengan Rania sore ini?" Dia kemudian mengingatkan.

"Oh iya, bisa marah dia kalau aku terlambat." Dimitri segera bangkit lalu membenahi jasnya.

"Makanya ...."

"Cepatlah, kamu yang bawa mobilku." Dia melemparkan kunci mobilnya kepada Galang.

🌺

🌺

🌺

Bersambung ...

Apaan dah Pak Dimi? 😂😂

Asik! Kang Dudul ikut ke Paris. Duh, jadi deg-degan nih. Mereka bakal ketemu nggak ya? 😅😅

like komen sama hadiah juga votenya dong, biar mereka cepet ketemu.

lopa lope sekebon😘😘

1
Ruwi Yah
luar biasa
aroem
Luar biasa
Tiyanapratama
/Frown/
Titha
jjk
Ira
ok
Kanaya Havidza
Luar biasa
Nur Aini
aq lbh ngefans ke satria lope lope ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Nadia
Thor Amara kan sekolah Chef atau kulineri kok kerjanya jd housekeeping
Umi Fauzan
ini sy ngulang baca lg, kangen ama karua mak fit langen ama ara dan galang jg
Kurnia Pesona
laahhh tamat?
kok ngegantung seehhh🙃
Kurnia Pesona
teganya.....
kok digantung sih...
Nona Being
Luar biasa
Chelsea Blue
Lumayan
Chelsea Blue
Biasa
💞salsabila💞
sumpah... ngarep banget ini dilanjutkan sedikiitt.... 😭 td baca disebelah ada angkasa sama azura 😭😭
💞salsabila💞: 😟😟😟😟😟😟
total 2 replies
💞salsabila💞
🥲🥲🥲🥲🥲🥲🥲
💞salsabila💞
mak fiiiitttt.... aku masih setia lhooooo.... nunggu disiniiiiiii
Christina Handayani Panggabean
bagus kerennn
linno
kak Fit @Tiyanapratama please tambahin lah extra part nya..gak enak banget ini terakhirnya marah2..beneran berasa ganjel banget..malah buat gamon..duh nyesek banget disini sdh ditinggalkan gitu aja 😓😓
Telda Nange
Persis Dygta ngidam sampe Bandung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!