Hi! Namaku Sarah Gibran, aku akan menceritakan kepada kalian tentang kehidupanku dan...kehidupan intimku, aku bisa mengatakan bahwa diriku adalah kriteria yang diinginkan oleh semua mahluk yang bernama laki-laki yang hidup di dunia ini, dikarenakan bentuk tubuhku yang proposional dan wajah yang manis dan menarik, tetapi...
Apakah dengan kelebihan yang aku miliki ini aku dikatakan sebagai seorang wanita penggoda?
Apakah salah juga jika aku memanfaatkannya ?
Atau sebenarnya kelebihanku ini merupakan kekuranganku?
Semua tergantung dari penilaian kalian, aku hanya bisa mengatakan...
“Don’t judge book by its cover”
TERUNGKAP
Kenyataan itu mungkin saja membuat dirimu sakit untuk waktu yang cukup sebentar, tetapi sebuah kebohongan itu akan membuat dirimu sakit untuk selamanya.
Enam bulan sudah aku menjalani sebuah status dengan laki-laki yang selalu membuatku tertawa di setiap hari-hariku. Malam ini saat hari kasih sayang yang biasa dirayakan oleh semua pasangan muda-mudi di seluruh dunia yang bertepatan pada tanggal empat belas februari yang juga merupakan tanggal kelahiranku, dia mengajakku ke sebuah Villa di daerah puncak.
Villa itu sudah dibuat sedemikian rupa cantiknya untuk dua insan yang sedang memadu kasih di pinggir kolam renang yang bertaburan dengan bunga mawar dan lilin-lilin kecil yang tersusun rapi dengan bentuk hati. “Akh Dave.” Laki-laki itu terus memainkan bibirnya di sekitaran leherku yang jenjang dan putih itu saat aku duduk di pangkuannya, dia juga tidak lupa memberikan tanda kemerahan seakan mengartikan bahwa aku adalah miliknya seutuhnya.
“Kamu suka?” Ucap Dave. Dave menghentikan aktifitasnya di bagian leherku dan melihat kearah wajahku yang membuatku tersipu malu. “Kita makan dulu yuk, aku laper.” Ucapku. Aku turun dari pangkuannya, merapikan dress hitamku yang sedikit berantakan karena ulah tangan jahil Dave saat aku duduk di pangkuannya, sementara dia hanya tersenyum melihat tingkahku itu dan menarikku kembali ke pangkuannya.
“Makan dari sini saja.” Ucapnya yang membuatku menggeleng-gelengkan kepalaku karena gemas dengan tingkahnya. “Ini siapa yang masak Dave?” Lanjutku saat melihat makanan yang cukup banyak diatas meja makan kami. “Bi Iyem.” Jawabnya singkat. “Ha? Bi Iyem? Emang Bi Iyem ada disini?” Aku melihat ke sekeliling mencari sosok Bi Iyem yang sering membuatku tertawa dengan leluconnya saat bertemu dengannya.
“Gak ada, disini hanya ada kita berdua, Bi Iyem udah pulang tadi sore, besok dia balik lagi untuk ngebersihin semuanya.”Ucapnya. “Kita gak nginep disini kan?” Tanyaku melihat Dave lekat. “Kamu mau nginep disini?" Dia mengelus tanganku lembut sampai ke bagian leherku dengan senyum jahilnya.
“Besok kita sekolah Dave.” Ucapku. “Gak pa-pa kita izin gak masuk.” Ucapnya lagi masih dengan tangannya yang sekarang berpindah ke pipiku. “Besok kita ada ujian matematika.” Dia mengambil tanganku dan mengecup punggung tanganku. “Iya-iya.” Setelah itu kami makan makanan yang cukup banyak yang dimasak oleh Bi Iyem, setelah Dave akhirnya menurunkanku dari pangkuannya.
Dia membuang dress hitamku ke lantai kamar besar Villa itu, setelah itu dia berdiri membuka jas dan kemeja yang digunakannya sehingga hanya menyisakan celana hitam panjang slim fit pada tubuhnya. “Dave.” Tanda kemerahan yang tadi dibuatnya sewaktu kami masih berada di bawah di pinggiran kolam renang tadi, dibuatnya makin merah. “Dave.” Aku menggenggam tangannya yang sudah siap untuk membuka senjata terakhir yang menutupi tubuhku.
“Aku belum siap Dave, maaf.” Dave melepaskannya dan tersenyum kearahku, setelah itu dia merebahkan tubuhnya disampingku dengan mata terpejam dan tangan yang terlipat di atas kepalanya. “Kamu marah?” Aku mendekatkan diriku dan menidurkan kepalaku di dadanya, dia hanya menggelengkan kepalanya, tetapi aku tahu dalam hati kecilnya dia menginginkan sesuatu. Apa aku harus melakukan ini.
Aku memberanikan tanganku menyusuri dada bidangnya melewati perutnya sampai ke bagian celana hitamnya. Malam itu pun hanya kami lewati dengan aksi handjob olehku yang ternyata disukai oleh Dave sampai dia mendapatkan happy ending.
“Terima kasih ya.” Dave mencium punggung tanganku berkali-kali saat kami sudah berada di mobil untuk balik lagi ke Jakarta. “Maaf aku hanya bisa melakukan itu Dave.” Dia hanya tersenyum melihatku dan masih mencium punggung tanganku. “Apakah kamu masih belum percaya denganku Sayang?” Tanyanya yang membuatku tertunduk.
“Bukan itu Dave, aku hanya ingin memberikannya kepada orang yang berjanji akan mencintaiku sepenuh hatinya dalam janji pernikahan.” Dia tersenyum mendengar perkataanku itu. “Aku tahu dan itu membuatku semakin mencinatimu Sarah.” Perjalanan pulang kami ke Jakarta akhirnya kembali lagi dengan suasana hati penuh kasih sayang seperti sebelum-sebelumnya. Terima kasih Dave.
“Dave kemana ya?” Ucapku yang keheranan dengan keterlambatan Dave menjemputku ke Sekolah. Aku sedari tadi melihat jam ditanganku yang sekarang sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit pagi hari di esok harinya. Biasanya dia gak pernah terlambat, telponnya juga gak nyambung daritadi.
Sejak semalam, setelah Dave mengantarkanku pulang sampai ke depan jalan rumahku pada jam satu pagi, aku belum mendengar kabar apapun dari Dave apakah dia sudah sampai di rumah atau apapun. “Dave aku berangkat duluan ke Sekolah ya, kamu kabarin aku kalo udah baca pesan ini.” Aku mengirimkan pesan ke handphone Dave dengan sangat berharap dia akan membaca dan membalas pesanku tersebut. Mengapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini.
“Sarah!” Panggil seseorang memanggil namaku. “Kak Indra? Kok di depan Sekolah? Nungguin siapa Kak?” Aku yang baru sampai di depan Gerbang Sekolahku melihat Indra dengan wajahnya cemas dan khawatir melihat kearahku. “Ehmm kita pergi aja yuk hari ini.” Dia menggenggam tanganku dan sedikit menarikku paksa.
“Kenapa Kak? Aku ada ujian hari ini, jadi gak bisa bolos, Kak Indra juga tumben-tumbennya mau bolos.” Aku melepaskan tanganku dari genggamannya. “Gak pa-pa, ayo kamu ikut aja pokoknya.” Ucapnya sedikit memaksa. “Gak mau Kak, aku gak bisa lain kali aja ya.” Aku langsung berjalan cepat masuk ke dalam Sekolah dengan sedikit kesal meninggalkan Indra berdiri mematung di depan Gerbang Sekolah. Kenapa dia.
Saat aku berjalan di koridor Sekolah, aku merasa semua mata seluruh siswa tertuju kepadaku, mereka berbisik-bisik dengan teman mereka, melihat kearahku dengan kesan jelek, lebih tepatnya menjijikan. Kenapa dengan mereka, apa ada yang aneh dengan penampilanku.
Aku segera masuk ke dalam toilet wanita yang aku lewati, saat di dalam toilet tersebut aku menatap diriku di depan cermin dimana semua tampak biasa saja, dengan seragam sekolahku dan rambut yang kukuncir satu ke belakang. Apa yang salah.
Saat aku sedang memperhatikan diriku di depan cermin, ada beberapa siswi yang masuk ke dalam toilet. “Eh tahu gak lo di Sekolah kita ternyata ada anak haram loh. Oh iya, anak haram gimana maksudnya. Iya, katanya dia anak yang lahir dari wanita yang ngerebut suami orang. Serius? Gimana ceritanya? Iya, mereka itu sebelumnya miskin, terus Ibunya itu ngerayu suami orang kaya, jadi ya gitu. Ihh kok bisa ya Sekolah kita terima anak kayak gitu. Gak tahu juga, mungkin Guru-Guru juga ada yang digoda sama dia kali, atau mungkin Kepala Sekolah yang di rayu sama dia hahaha.” Perasaanku bercampur aduk antara bingung, takut dan sedih mendengar perkataan dua siswi yang bahkan nama mereka saja aku tidak tahu. Apa yang mereka bicarakan. Aku segera keluar dari toilet tersebut dan dengan cepat melangkahkan kakiku menuju ke Kelasku, menghiraukan tatapan-tatapan jijik ke arahku di sepanjang lorong Sekolah itu. Dave kamu dimana.
Aku memasuki kelasku, tatapan yang sama aku dapatkan dari teman-temanku dengan tatapan satu sekolah tadi. Ada apa ini. Aku mencoba menghiraukan pandangan mereka dengan terus berjalan ke tempat dudukku, kursi sebelahku masih kosong, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa laki-laki yang aku butuhkan sekarang sudah tiba di Sekolah. Kemana kamu Dave.
“Sar.” Panggil Rizka. “Iya Riz.” Aku melihat wajah Rizka, teman sekelasku yang duduk di depanku terlihat ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu kepadaku. “Kenapa Riz?” Tanyaku lagi. “Ehmm kamu udah lihat berita yang beredar di satu sekolah?” Tanya Rizka. “Berita apa Riz?” Rizka memberikan handphonenya dengan ragu-ragu.
“Sarah Gibran adalah anak yatim piatu dari seorang wanita penggoda suami orang, jadi hati-hati kalian kalau tidak mau keluarga kalian hancur karena biasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. – Anonymous.”
BERSAMBUNG.
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
knp gak di lanjutin bang ceritanya?
ku kira up ternyata bukan 🤧🤧🤧
baru tau kalo novel ini lanjut