"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran. Ternyata bukan musuhnya yang membuat anak ku mati, tapi dia sendiri!"
Sagara pulang dengan kecewa, diketahui sang istri adalah seorang paranormal dengan bayaran selangit, kekuatannya tak di ragukan lagi. Ternyata....
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara, putus asa.
"Tahu Tuan, kebetulan kekasihku di kampung merupakan tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari."
Sagara tertarik, menatap Alang penuh arti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi Hamil
Seumur-umur tak pernah ada hantu, bagaimana bisa seorang kepala desa kini pingsan karena setan.
"Bapak berhalusinasi, kaget, bahagia, dan capek." kata Rasni pagi itu.
Kepala desa seperti dirinya tentu tak kosong di dalam dirinya. Herman menatap Gendis yang duduk gelisah di samping Saga. Ia merasa ada yang berbeda dari adik iparnya.
Sudah bertahun-tahun tak bertemu, membuatnya penasaran mengapa sampai berubah demikian. Dekat dirinya membuat merinding.
"Dewi, apa sebaiknya kamu tinggal di sini saja." Pak Herman menahan tangan Dewi.
Seketika Dewi jadi bingung, kalau langsung pulang bagaimana kata orang. Ucapan Pak Herman itu membuatnya khawatir.
Dewi memutuskan untuk tetap kembali ke kota, dengan alasan harus membicarakan dulu dengan Alang.
"Niken." Saga membukakan pintu mobil, memintanya duduk bersama. Tapi malah Gendis yang masuk.
"Niken, sini sama Mbak saja." ajak Dewi, ia melihat Gendis melirik tak suka kepada Niken, tentu dia tak membiarkan begitu saja.
"Tidak! Niken ikut saya!" Saga membuka pintu belakang.
"Paman, Niken itu adik iparku sekarang. Biarkan bersama ku." pinta Dewi.
Kesal! Baru di nikahi, belum di sentuh, mana mungkin dibiarkan duduk bersama Alang.
"Aku ikut Mbak Dewi_"
Ucapan Niken terhenti ketika melihat mata Saga menyorot tajam kepadanya. Niken menurut, masuk ke dalam mobil tanpa kata.
Bisa di bayangkan, Gendis duduk berdua dengan Saga, sementara Niken seorang diri menyandar di belakang. Berpura-pura tak melihat, ia hanya sibuk mengamati jalanan hingga kepala terasa pusing tujuh keliling.
Sesekali terdengar tingkah Gendis yang ingin menarik perhatian Saga, sesekali pula sahutan Saga yang kesal.
Sangat bersyukur ketika rasa mengantuk itu datang, Niken memilih tidur sepanjang jalan.
"Niken, malam ini aku ada pekerjaan." Sepenggal pesan di ponsel Niken.
"Iya."
Niken membalasnya, sejak pulang Saga langsung pergi bekerja, dan malam ini ia tak pulang.
Nasib istri kedua, kalau bukan di tinggal kerja, ya tinggal karena istrinya. Niken merasa sedang terjebak dalam kebodohan lagi.
"Ken! Niken!" pintu kamar Niken di ketuk dari luar.
"Mbak Ani." Niken membuka pintu.
"Ken, aku tidur di kamarmu ya!" pinta Ani, langsung masuk dengan nafas ngos-ngosan.
"Mbak Ani kenapa? Sudah larut begini, Mbak Ani darimana?" tanya Niken, menutup pintunya.
Ani duduk diatas ranjang Niken, langsung meraih selimut dan memeluknya. "Kamu tahu tidak? Tadi itu aku diminta tolong sama Mas Alang, Mbak Dewi sakit perut. Terus Nyonya Gendis masuk melihat keadaannya. Aneh kan?" tanya Ani.
Niken masih menyimak, aneh apa maksudnya.
"Nyonya Gendis itu tidak pernah perhatian sama siapapun kecuali sama suaminya! Dan tadi ketika aku masuk, nganterin air hangat?"
Ani langsung gemetar, menelan ludahnya sendiri dengan paksa. "Nyonya gendis sedang menjilati darah menstruasi yang keluar dari itu-nya Mbak Dewi!"
"Hah!" Niken ikut terkejut.
Ani mengangguk-angguk, "Ken, apa Nyonya Gendis udah berubah jadi setan?"
Brak! Brak! Brak!
Pintu kamar Niken di gedor kasar sehingga keduanya terkejut bukan main.
"Ken!" Ani semakin beringsut kepada Niken.
"Siapa?" tanya Niken dengan suara Keras.
Diam
Ani membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara, tapi air matanya kini mengalir deras sekali.
Sekelebat bayangan samar di luar tirai yang tipis, membuat mereka semakin ketakutan.
"Mbak, apa tadi Nyonya melihat Mbak Ani?" tanya Niken dengan suara pelan.
Ani menatap Niken tegang, kemudian mengangguk. Keduanya saling diam, menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Sejauh ini, tidak ada bahaya yang mengancam nyawa. Semuanya masih terkendali meskipun terkadang melihat hal aneh, dan itu cukup membuat jantungan.
Tapi sekarang ini, rasanya lebih seram. Apalagi semakin banyak orang yang tahu tentang Gendis. Bukan orang-orang yang mencari tahu, tapi gendis sendiri yang semakin tak terkendali sehingga mudah mengetahui rahasianya.
Layar ponsel Niken menyala, tertera nama Dewi di sana.
"Mbak." jawab Dewi.
"Ken, Mbak sakit perut." suara Dewi terdengar lirih.
Niken mematikan ponselnya, lalu turun dari ranjang.
"Ken! Kamu mau kemana?" tanya Ani.
"Aku harus melihat Mbak Dewi, sepertinya dia benar-benar kesakitan."
"Aku ikut!" Ani langsung beranjak, tinggal sendiri di kamar Niken lebih menakutkan baginya.
Tak lupa membangunkan Mak Puah, mereka menuju kamar Dewi bersama-sama.
Tampaklah Dewi yang memegangi perutnya dengan wajah pucat, sedangkan Alang sendiri menenangkannya dengan wajah khawatir.
"Mas, kita bawa ke dokter saja." saran Niken.
"Sudah, kami baru saja kembali." jawab Alang.
"Niken." panggil Dewi. Mengulurkan tangannya yang gemetar.
"Iya Mbak." Niken mendekati Dewi, menggenggam tangannya erat.
Tak lama kemudian Mak Puah membawakan teh hangat untuk Dewi. "Habiskan." titahnya.
Rasa sakit dan nyeri hingga melilit di pinggangnya itu berangsur berkurang setelah minum teh hangat dari Mak Puah.
Tak ada Gendis di sana, pintu kamar sang nyonya pun tertutup rapat terlihat dari kamar Dewi.
Niken menyelimuti kaki Dewi. Sedangkan Alang mengusap keringat di kening istrinya. "Kok bisa begini Mbak, mbak sedang datang bulan?" tanya Niken.
Dewi menggeleng, sedangkan Alang membuang muka. Enggan menjelaskan apapun kepada Niken.
"Mbak hamil." jawab Dewi.
*
*
*
Pagi menyambut setelah malam yang panjang. Sulit tidur padahal lelah bukan kepalang. Hari ini Niken kembali bekerja, Niken naik ojek sehingga tak perlu lagi bingung berangkat bekerja.
"Niken?" Rumi menatap Niken heran, mereka tiba hampir bersamaan.
"Mbak Rumi, Niken naik ojek tadi." jawab Niken, tersenyum kaku.
"Ya sudah, Mbak kira kamu belum kerja hari ini." kata Rumi.
"Tentu saja bekerja Mbak, kalau tidak bekerja mau makan apa?" jawab Niken.
"Emang di rumah Bos nggak di kasih makan Ken?" canda Rumi.
"Di kasih Mbak, tapi kan nggak selamanya numpang makan, malu." jawab Niken.
Keduanya terkekeh, Rumi sendiri ikut duduk di belakang meja bersama Niken, katanya hari ini ada dua orang pegawai baru menggantikan Dewi.
"Jadi, mbak Dewi nggak akan bekerja di sini lagi Mbak?" tanya Niken.
"Enggak Ken, mungkin akan bekerja di tempat lain. Pak Sagara itu banyak usahanya, bahkan punya PT, kalau tidak salah bergerak di bidang Snack premium. Ekspor juga keluar negeri." kata Rumi.
"Oh." Niken mengangguk, urusan begitu dia tak paham. Yang terpenting tetap bekerja dan menjalani semuanya seperti biasa.
"Kamu bisa bantu saya Ken?" Rumi mengotak-atik laptopnya.
"Bisa Mbak, masukin data dan jumlah uangnya aja kan?" tanya Niken, duduk menggantikan Rumi.
"Iya. Saya mau ke dapur sebentar." kata Rumi.
Niken mulai mengerjakan pekerjaan Rumi, matanya fokus kepada layar yang menyala. Tangannya pun bergerak mengikuti ejaan huruf.
Sampai tiba-tiba sebuah tangan mengusap bahunya. "Siapa yang mengizinkan kamu bekerja?"
"Hah!"
Niken berdiri cepat, ia terkejut sampai kursinya bergeser kasar. Ternyata Saga yang datang.
Saga tersenyum tipis, melihat wajah terkejut Niken yang menggemaskan, membuat lelahnya hilang seketika.
"Tuan Saga?"
"Ya." jawabnya, memandangi Niken sambil menyandar di meja. Satu tangannya memegangi jas yang kusut, dia benar-benar lelah.
"Mengapa tidak pulang ke rumah saja?" tanya Niken.
"Tadinya mau pulang, tapi mereka bilang istriku ada di sini." jawab Saga. Senyumnya tak juga surut, mendekati Niken dan meraih tangannya.
"Jangan! Nanti di lihat orang." Niken menarik tangannya kembali, tapi Saga malah menariknya semakin dekat.
"Aku lelah." ucap Saga.
"Mau istirahat?" mengeratkan jarinya, mengerti Saga sedang ingin ditemani.
"Rumi, kau urus sendiri pekerjaan mu." ucap Saga.
Rumi baru saja kembali, menatap keduanya dengan bingung. Saga menarik tangan Niken, tapi tidak terlihat sedang marah.
Selama bekerja di sana, Saga tak pernah menyeret seorang perempuan dengan cara seperti itu. Bahkan istrinya sendiri sering di sambut dengan wajah kesal.
"Apa, mereka....?" Rumi jadi penasaran sendiri.
jangan jangan Sagara mau sama Niken karena dia wanita tulang wangi
tinggal Alang nih ....
apakah dia mau menyerahkan Niken ke Sagara 🤔
emang kalau paranormal ga bisa punya anak ??
Niken sendirian di rumah kayu itu
ditinggalkan tanpa ikatan yang jelas
hanya memegang janji manusia
bukan suami istri
tapi ......
apa yg sebenarnya terjadi hayoo
smg di di sini kya yusuf bisa menyadari nya krn 2 anak di besarkan bukan dr tngan sndri melainkan di titipkan
nahh kek mana oraan ne
setelah tau anak2 nya menemukan jalan masing2
selamat menjalankan ibadah puasa thor
niken ngidam nya hiiii aq bayangin aja udh ngerasa gigi ngilu
dulu aq ngidam buah tp semua buah harus manis
klo g manis aq ogah
🙈🙈🙈🙈
kyo lagune kae lho lho
tresno iku esek3
okeh isine lancar traksine
trsno iku esek3
kosong isi ne ora ono regone
urip butuh duit
tresno iku g keno di kresit
akan menikah secara resmi
di pesantren ,bareng Arimbi & imam
semoga lancar sampai hari kemenangan
aamiin
merencanakan kejahatan mereka
jgn2 kebakaran rumah haji Ibrahim juga perbuatan mereka