Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Zidan
Sebenarnya Kaivan bisa saja menyuruh salah satu karyawan yang ada di hotel itu, namun ia merasa kurang pantas meminta orang lain untuk membelikan kebutuhan istrinya. Tentu sebagai suami siaga Kaivan dengan senang hati membelikan apa yang Ravela butuhkan.
Kaivan berjalan menuju basement hotel untuk mengambil mobilnya, lalu mengendarai mobil itu menuju minimarket. Tak membutuhkan waktu yang lama, Kaivan berhenti disalah satu minimarket yang tidak jauh dari Hotel itu.
Kaivan berjalan mengelilingi deretan rak yang berisi banyak kebutuhan pokok. Lalu berhenti di salah satu rak yang khusus tersusun berbagai keperluan wanita. Tanpa bertanya ia mengambil beberapa type pembalut dari berbagai merk.
Tidak lupa juga Kaivan membeli kebutuhan Ravela yang lain. Ia tidak merasa risih sama sekali, padahal banyak pasang mata menatapnya. Terutama kaum wanita yang menatap Kaivan dengan tatapan aneh sekaligus memuja.
Setelah dirasa cukup, Kaivan bergegas menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Beruntung tidak terlalu ramai, sehingga ia tidak perlu mengantri lama.
“Lho, Kai! Kamu belanja apaan?” tanya seorang pria yang berdiri tepat di samping Kaivan. Mereka sama-sama berada di kasir, menunggu pembayaran. Pria itu tampak cukup tercengang melihat barang-barang yang ada di tangan Kaivan.
Sementara Kaivan menoleh ke samping mengikuti arah suara itu. Ia sontak terkejut ketika mendapati pria tersebut adalah sahabat lamanya, seseorang yang sudah lama tidak ia temui.
“Lho, Zidan! Apa kabar?” ujar Kaivan sambil menyalami sahabatnya sejak SMA.
“Baik. Kamu sendiri gimana?” balas Zidan.
“Alhamdulillah, aku juga baik,” jawab Kaivan sambil tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
Zidan memperhatikan isi belanjaan Kaivan sejak tadi. “Wah, lama nggak ketemu, kelihatan makin happy aja. Tumben belanja beginian. Buat siapa?” tanyanya, tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
Karena setahu Zidan, Kaivan belum menikah dan juga anak tunggal. Dalam hati, ia makin penasaran. “Buat apa Kaivan beli barang-barang perempuan? Jangan-jangan buat pacarnya?”
"Oh ini? Aku belanja kebutuhan istri!" jawab Kaivan seakan bangga mengatakan hal tersebut.
Zidan terkejut mendengar pengakuan itu. “Serius kamu udah nikah, Kai? Tega banget nggak ngabarin aku!” protesnya sambil memukul bahu Kaivan pelan.
“Selama ini aku juga nggak pernah dengar kabar apa-apa. Nggak mungkin kan pewaris Wiratama Group nikah tanpa resepsi?” tanya Zidan.
Kaivan terkekeh kecil. “Sebenarnya aku udah nikah hampir delapan bulan. Ada alasan yang belum bisa aku jelasin. Resepsinya juga belum. Nanti aja, tunggu undangannya,” ungkapnya jujur.
Zidan menggeleng tak percaya. “Hah... berarti kamu udah lama nikahnya. Akhirnya ya, Kai. Aku nggak nyangka kamu married juga. Aku jadi penasaran, siapa sih yang bisa ngambil hati Kaivan Wiratama?” katanya sambil tersenyum simpul.
Lalu Zidan menambahkan dengan nada menggoda, “Aku kira kamu masih belum move on dari Zora.”
Kaivan hanya tertawa menanggapi ucapan Zidan. Ia malas menanggapi lebih jauh, terlebih saat nama Zora disebut. Nama itu selalu membuatnya muak, jadi Kaivan memilih diam.
Mereka selesai hampir bersamaan dan melangkah keluar dari minimarket berdampingan menuju area parkir.
“Kamu sendiri gimana, Dan? Keluarga kamu apa kabar?” tanya Kaivan.
Zidan melirik Kaivan sekilas. Pertanyaan itu membuatnya menghela napas pelan. Ia ragu harus menjawab apa. Ada banyak hal yang ingin ia sembunyikan, dan ia tak ingin urusan rumah tangganya diketahui orang lain.
“Ya... begini-begini aja, Kai,” jawabnya singkat.
Kaivan menangkap nada datar sahabatnya itu, tapi ia tidak memaksa Zidan untuk bercerita. “Jalanin aja, Dan. Aku juga dulu nikah karena dijodohkan. Tapi ternyata aku bahagia. Bahkan sangat bahagia,” ungkapnya.
Sampai di depan kendaraan mereka, Kaivan kemudian berpamitan pada Zidan.
“Ya udah, Dan. Kita sambung lain kali ya. Aku duluan, istriku udah nunggu. Nanti tunggu undangannya. Paling lima hari lagi,” ujar Kaivan sambil membuka pintu mobil.
“Oke, siap! Aku tunggu undangannya, Kai. Pengen lihat siapa sih yang akhirnya bisa menggeser posisi Zora dari hati pewaris Wiratama Group,” balas Zidan sambil tertawa kecil kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, Kaivan menghela napas pelan sambil menggelengkan kepala. Ucapan Zidan tadi masih terngiang, terutama saat nama Zora disebut.
Zora adalah bagian dari masa lalunya yang jarang Kaivan bicarakan. Mereka menjalin hubungan sejak masa kuliah dan bertahan cukup lama, hingga Kaivan berusia dua puluh lima tahun.
Saat itu, Kaivan memilih hidup sederhana. Ia tidak pernah membawa-bawa latar belakang keluarganya, apalagi membicarakan posisi yang kelak akan ia emban di perusahaan keluarga. Bagi Zora, ia hanya Kaivan, bukan pewaris apa pun.
Namun hubungan itu berakhir dengan cara yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Kaivan mengetahui pernikahan Zora secara tiba-tiba, sebuah kabar yang datang tanpa peringatan. Nama Zora muncul bukan lagi sebagai kekasihnya, melainkan sebagai istri orang lain.
Kaivan sempat menemuinya, menuntut penjelasan. Dengan wajah datar, Zora menjawab tanpa ragu. Jika dirinya memilih pria itu karena lebih mapan daripada Kaivan, lebih menjanjikan masa depannya.
Jawaban itu menutup segalanya. Bukan karena Kaivan tidak mampu, melainkan karena sejak awal ia memang tidak pernah menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Sejak saat itu, Kaivan memilih menjaga jarak. Ia tidak lagi mudah membuka diri atau memberi ruang pada kedekatan dengan siapa pun. Bukan karena ia tak ingin, melainkan karena ia tak mau kembali salah menaruh kepercayaan.
Kaivan kembali melajukan mobilnya menuju hotel. Namun sebelum itu, ia sempat mampir ke salah satu restoran dan butik masih di sekitar area hotel. Setelah selesai, barulah Kaivan kembali menuju hotel.
Sesampainya di sana, Kaivan langsung menuju kamar di lantai lima belas. Ia membuka pintu kamar dan tersenyum simpul saat mendapati istrinya sudah menunggunya, dengan raut wajah panik yang tak bisa disembunyikan.
Setelah sebelumnya memberi kabar kepada orang tuanya bahwa Ravela akan menginap di hotel bersama Kaivan, ia hanya mondar-mandir di dalam kamar, menunggu kedatangan suaminya.
Hingga pintu hotel itu terbuka, barulah Ravela bisa bernapas lega, Ravela menghampiri Kaivan yang menenteng beberapa kresek ditangannya.
“Dapat nggak, Mas?” tanya Ravela.
“Aduh, aku ternyata nggak ngerti. Jadi nggak dapat,” ucap Kaivan berbohong.
Ravela melongo. “Hah? Terus ini kantong kresek apaan?” tanyanya heran.
Kaivan tertawa melihat ekspresi istrinya yang jelas menahan kesal. “Jangan pasang wajah begitu dong, sayang. Bikin aku gemas. Aku lagi harus puasa, jadi kamu jangan mancing-mancing,” ujarnya, membuat Ravela mendelik.
“Ih kamu. Malah bercanda. Aku serius, kamu dapat apa nggak? Kalau nggak, biar aku keluar sendiri,” sahut Ravela.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kaivan menyerahkan kantong kresek itu. Di dalamnya berisi kebutuhan Ravela seperti pembalut, pakaian dalam, dan sebuah dress yang sudah ia siapkan untuk dipakai besok.
“Kamu itu gemas banget sih, Vel. Bikin aku susah nahan,” canda Kaivan.
Ravela hanya mencebikkan bibirnya, mengambil kantong belanjaan itu, lalu berlalu menuju kamar mandi.
Kaivan terkekeh kecil melihat tingkah Ravela yang menurutnya menggemaskan. Dalam hati ia masih bertanya-tanya, apa benar istrinya itu seorang kapten?