NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberangkatan ke Jakarta

Kirana berdiri di depan tenda, sikapnya sudah seperti penjaga sungguhan. Sejak beberapa menit yang lalu ia tidak beranjak, berjaga agar tidak ada siapa pun yang masuk tanpa izin.

Suara langkah kaki terdengar mendekat. Kirana menoleh, dadanya langsung berdegup cepat saat melihat Dimas dan Bima berjalan ke arahnya.

“Jangan sampai mereka tahu mas Kaivan ada di dalam,” batinnya waspada.

Dimas dan Bima berhenti tepat di depan tenda.

“Letda Kirana. Komandan ada di dalam, kan?” tanya Dimas langsung.

Kirana mengangguk singkat, berusaha tetap tenang. “Ada, Lettu. Tapi sepertinya Komandan sedang menelpon keluarganya. Kalau bisa jangan diganggu dulu,” ujarnya mencari alasan.

Kirana lalu menatap Dimas dan Bima bergantian. “Ada keperluan apa kalian mencari Komandan?” tanyanya.

“Ada laporan dari Komandan Posko, Letda. Terkait jadwal apel terakhir sebelum rombongan kembali ke Jakarta. Beliau minta disampaikan langsung ke Komandan,” jelas Bima.

Kirana mengangguk cepat. “Baik. Nanti saya sampaikan begitu Komandan selesai.”

Dimas saling pandang singkat dengan Bima, lalu mengangguk. “Baik, kami tunggu kabarnya.”

“Siap,” jawab Kirana singkat.

Dimas dan Bima pun berbalik meninggalkan tenda. Ravela baru menghembuskan napas lega setelah langkah mereka. “Syukurlah. Kalau tadi mereka bersikeras buat ketemu Ravela, bisa bahaya.”

“Tapi ngomong-ngomong mereka di dalam ngapain ya? Jangan-jangan...” gumam Kirana pelan. Ia cepat-cepat menggeleng “Eh apaan sih Kirana. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh!" ucapnya merutuki diri.

Di dalam tenda, Ravela dan Kaivan hanya saling diam. Sudah lima menit berlalu, tak satu pun dari mereka membuka percakapan, membuat suasana perlahan terasa canggung.

Ravela mulai merasa tidak enak hati. Ia sadar, sejak tadi ia terlalu lama membiarkan keheningan itu berlangsung, seolah sengaja mendiamkan suaminya. Sesekali ia melirik Kaivan, lalu kembali menunduk.

Kaivan sendiri masih menatap Ravela lekat. Tatapannya tenang, namun menyimpan sesuatu yang sulit Ravela pahami.

“Mas kenapa ke sini?” tanya Ravela akhirnya.

“Panggil sayang!" ralat Kaivan.

Ravela berdecak, “Ada Kirana di luar, aku malu.”

“Hah... Baiklah. Aku kesini karena kangen sama kamu, ” ujar Kaivan, dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Ravela membuat Ravela menjadi gugup.

Ravela segera mengalihkan pandangannya ke samping, tidak mampu menatap balik netra hitam suaminya yang tengah menatapnya lekat.

“Jangan ngeliatin aku terus kayak gitu, Mas!” protes Ravela canggung.

Ravela jadi salah tingkah sendiri. Kaivan justru mengulum senyum. Di matanya, Ravela selalu terlihat menggemaskan saat malu-malu seperti itu. Entah ke mana perginya sosok Kapten yang tegas dan disegani banyak orang.

“Andai kerjaan aku udah selesai, pasti kita kita bisa pulang bareng ke Jakarta,” ujar Kaivan terus menatap Ravela.

“Tidak apa-apa, kan cuma selisih dua hari, aku bakal nungguin Mas kok,” timpal Ravela menenangkan Kaivan.

“Tunggu aku jemput di rumah Ayah, ya,” kata Kaivan dengan nada lebih serius. “Jangan ke mana-mana.”

Ravela mengangguk, agar suaminya lebih tenang, "Iya, emang aku mau kemana juga coba! Udah sana cepat keluar!” ujarnya galak sembari mendorong dada Kaivan.

Namun Kaivan tak bergeming. Sebaliknya, ia menangkap tangan Ravela yang menempel di dadanya, lalu membawanya ke bibirnya dan mengecupnya singkat.

“Jangan usir aku, Vel. Nanti kamu bakal kangen! Kita masih lama ketemunya,” ujar Kaivan seraya tersenyum menggoda. Hati Ravela berdesir mendapat perlakuan seperti itu dari Kaivan.

“Masih lama dari mananya coba? Udah sana keluar, nanti kalau ada prajurit lain yang masuk bisa heboh,” protes Ravela.

“Malah bagus dong. Sekalian aku kasih tahu semua orang kalau kapten Ravela perempuan yang aku maksud waktu nyanyi malam itu,” kata Kaivan dengan santainya.

"Itu tidak lucu sama sekali Mas! Udah sana buruan,” usir Ravela.

"Iya deh iya, aku keluar ya. Awas jangan kangen! Kamu istirahat. Besok kalau udah sampai kamu cepat kabarin aku. Jangan duduk di kursi dengan tentara laki-laki dan tunggu di rumah Ayah Dharma. Setelah semua urusanku beres, aku akan datang jemput kamu, sabar ya sayang,” ujar Kaivan.

Kata sayang yang Kaivan ucapkan di akhir membuat jantung Ravela berdebar tanpa aba-aba. Hangat menjalar di dadanya, bahkan membuat tubuhnya meremang.

Ravela terdiam di tempatnya. Kaivan menutup pertemuan mendebarkan mereka dengan menyesap singkat leher Ravela.

Wanita itu refleks terjingkat kaget. Matanya membelalak, sementara jantungnya berpacu semakin cepat. Suaminya benar-benar nekat dan Ravela hanya bisa pasrah.

Dalam hati ia berdoa agar tak ada prajurit lain yang melihat. Kaivan sendiri seolah menikmati momen itu, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu berhasil menenangkan pikirannya, meski hanya sebentar.

“Astaga, Mas,” desis Ravela kesal. “Nakal banget, sih. Tandanya pasti kelihatan. Kalau ada yang lihat gimana?”

“Tidak apa-apa, sayang,” jawab Kaivan santai. “Sedikit aja. Lagian di tempat tertutup. Tapi aku tahu kamu pasti tidak bakal ngizinin lebih.”

Ravela mendengus pelan. Sesaat suasana kembali hening. Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Udah, buruan keluar,” ujar Ravela akhirnya, nada suaranya tegas.

“Tapi aku pengen tidur di sini,” jawab Kaivan dengan entengnya, membuat Ravela menatap Kaivan tajam.

Ravela langsung menatapnya tajam. “Jangan ngaco kamu, Mas. Udah cepat keluar!”

Melihat ekspresi Ravela yang benar-benar serius, Kaivan akhirnya mengalah. Ia melangkah keluar tenda dengan enggan. Sebenarnya ia ingin berlama-lama, mengingat beberapa hari ke depan mereka tak akan bertemu.

“Selamat tidur, sayang,” ucapnya pelan sebelum menghilang di balik pintu tenda.

Ravela tetap berdiri di tempatnya. Detak jantungnya masih belum kembali normal. Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri, tak tahu harus tersenyum atau justru menggelengkan kepala mengingat tingkah suaminya barusan.

Pagi itu suasana posko terasa berbeda. Setelah apel singkat, barisan prajurit mulai bergerak rapi menuju area parkir. Mesin bus militer sudah menyala, mengeluarkan dengung pelan yang bercampur dengan suara langkah kaki dan percakapan ringan.

Beberapa warga berdiri tak jauh dari bus yang terparkir. Ada yang membawa kantong plastik berisi buah tangan, ada pula yang sekedar ingin berjabat tangan. Wajah-wajah itu tampak berat melepas, meski kebersamaan mereka bahkan tak sampai dua minggu.

“Kapten, jangan kapok ke sini ya,” ujar seorang bapak sambil menyodorkan tangannya ke Ravela.

Ravela membalas jabat tangan Bapak tersebut. “Kalau ada tugas, kami pasti datang lagi, Pak. Jaga kesehatan.”

Seorang ibu menyelipkan sebungkus kue ke tangan Ravela. “Buat di jalan. Biar Kapten tidak lupa sama desa ini.”

Ravela terkekeh kecil. “Terima kasih, Bu. Kami akan ingat terus.”

Kirana berdiri di sisi Ravela, memeriksa kembali jumlah personel. “Komandan, sudah lengkap.”

“Siap,” jawab Ravela singkat.

Saat satu per satu prajurit naik ke bus, Ravela berhenti sejenak di anak tangga. Ia menoleh ke belakang. Di antara kerumunan, Kaivan berdiri tak jauh dari posko, tubuhnya tegap, tatapannya tak lepas dari Ravela.

Ravela tersenyum dan mengangguk kecil ke arah Kaivan. Kaivan membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.

“Komandan?” Kirana mengingatkan.

Ravela mengangguk. “Iya.”

Ravela naik ke dalam bus, duduk di dekat jendela. Bus mulai bergerak perlahan. Dari balik kaca, Ravela kembali melihat warga melambaikan tangan, beberapa tersenyum, beberapa menyeka air mata.

Bus melaju menjauh. Ravela menarik napas pelan, menatap jalanan yang perlahan tertinggal di belakang.

Di balik tugas yang telah selesai dan kesibukan yang menyertainya, ada kenangan singkat yang ikut Ravela bawa. Ia menoleh sekali lagi ke arah luar jendela, tersenyum kecil, lalu menghadap ke depan, bersiap melanjutkan perjalanan.

1
Gina Amara
Jdi teringat drakor DOTS, tpi ini versi tentara cewek 🥰
Raja Tampan
tinggal kaivan yg blm selesai tgsnya
Raja Tampan
bruan dftrkan pernikahan kalian ke pgadilan agama biar sah semua
Raja Tampan
untng sj kirana tdk bocor
Raja Tampan
ngk liat tmpt mas kaivan🤣👍
Raja Tampan
smua cwok d sukai sm tari, trlalu pd
Sunaryati
Makanya cepat- cepat diurus sesuai aturan negara, untuk nikah secara resmi
Sinchan Gabut
lah, apa hub status tentara sama di gombalin suami Vel Vel... melemah d gombalin cwo lain baru salah 🤣🤣
Sinchan Gabut
Bangun Tari bangun... perlu di guyang air seember? 😏🤣
Kreatif Sendiri
terharu
Alessandro
pas mendung..... bab ini 🙈
Mutia Kim🍑: Hussttt😂
total 1 replies
Alessandro
kamu yg stromg aja meleleh, vela. gmn pembaca ini... meleyot lah pasti
Sunaryati
Kirain Kirana akan marah, syukur dia malah senang. Kalian jangan bersentuhan terlalu jauh sebelum sah di mata hukum.
Mutia Kim🍑: Huhuhu iya kak😭
total 1 replies
tami
plot twist nya bakal lucu kalo suaranya ga merdu 🤣
tami
jirr pede banget tuh si tari 😭
Sinchan Gabut
Gimana, gimana? Sudah SAH tp masih mikir di kira jd wanita gampangan? kalau km g hobah yg ada laki mu yg pindah haluan Vel...
Sinchan Gabut
Bagus Pak Kai, biar sekali2 Vella jg tau kalau lakinya jg butuh penjelasan 😏
Gisha Putri🌛
Tari kepedean bgt🥴
Aruna02
sabar buuu jangan ketus ketus loh 🤪
Aruna02
biarin atuh bangun juga 🤣🤣💋
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!