NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Rumah Megah — Pagi yang Penuh Waswas

Pagi itu, cahaya matahari perlahan menyusup melalui jendela besar ruang tamu. Sinar hangatnya memantul di lantai marmer, memunculkan pola-pola cahaya dan bayangan yang bergerak lembut. Suara burung dari taman terdengar samar, seolah mengingatkan bahwa hari baru telah dimulai.

Elisabet duduk di sofa panjang, tangan menggenggam secangkir teh hangat. Pandangannya tertuju pada dokumen-dokumen yang berserakan di meja: laporan keuangan, surat-surat lama, dan arsip pribadi ayahnya. Meskipun cahaya pagi membuat semuanya terlihat terang, matanya tetap tajam, mengamati setiap gerakan di sekeliling rumah.

Ia menyadari ada yang aneh. Beberapa pegawai tampak lebih cemas dari biasanya, langkah mereka tergesa-gesa, mata selalu menoleh ke arahnya. Bahkan beberapa staf lama yang biasanya tenang, kini tampak ragu-ragu.

“Ada bisikan… tapi tidak terdengar jelas,” gumam Elisabet, menegakkan tubuhnya. “Dan ini bukan kebetulan.”

Dari ujung koridor, terdengar tawa pelan—hangat, tapi licik. Elisabet menekuk bibirnya tipis, mengenali suara ibu tirinya, Marcelina Hartono, yang tengah berbicara dengan beberapa orang di ruang kerja lantai atas. Elisabet bergerak perlahan, mengintip dari pintu setengah terbuka.

“Semua ini hak kami juga!” suara seorang pria terdengar, tegang dan tak sabar.

Marcelina tersenyum dingin, menenangkan mereka. “Tenang, kita bergerak perlahan. Kalau terlalu cepat, putri itu akan mencurigai kita. Kita butuh strategi, bukan bentakan.”

Elisabet menelan napas pelan, hatinya berdebar. Niat tersembunyi itu jelas, niat untuk merebut semua warisan ayahnya. Ia menatap ke luar jendela, ke taman yang disinari matahari pagi. Suasana yang indah itu seolah bertolak belakang dengan rencana licik yang sedang disusun.

Ia mundur perlahan ke kamarnya, menutup pintu dengan lembut. Duduk di tepi tempat tidur, Elisabet menggenggam foto ayahnya—senyum tenang yang selalu memberinya kekuatan.

“Tidak akan semudah itu,” bisiknya pelan, menatap cahaya pagi yang masuk melalui jendela. “Ayah memberiku ini… dan aku akan menjaga semuanya.”

Suara langkah kaki di koridor terdengar samar. Rumah megah itu indah dan cerah di pagi hari, tapi bagi Elisabet, bayangan masa lalu dan niat jahat yang tersembunyi tetap merayap di antara cahaya itu. Hari baru telah dimulai, namun ancaman juga ikut bangun bersama matahari.

Medan — Rumah yang Sunyi dan Rasa Gelisah

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lewat jendela ruang keluarga, tapi tidak mampu mengusir rasa tegang yang menyelimuti rumah. Safira duduk di sofa, lututnya ditarik ke dada, memandangi layar ponselnya yang masih kosong. Empat hari. Empat hari sejak orang tuanya pergi, dan masih tidak ada kabar.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Mungkin mereka hanya… sibuk,” gumamnya pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri. Tapi hatinya berdebar. Pikirannya melayang ke masa lalu—ketika ayah dan ibunya selalu bisa mengatasi segalanya. Kini, rasanya ada yang hilang.

Clarissa berjalan mondar-mandir di ruang tamu, telapak tangannya sering digosok ke pinggang. Wajahnya tegang, matanya sesekali menatap jam dinding seolah mencari jawaban di sana.

“Kak, kita harus tetap tenang,” kata Safira, mencoba menenangkan kakaknya. “Mereka pasti punya alasan… sesuatu yang penting. Ayah dan Ibu kan pintar, mereka pasti baik-baik saja.”

Clarissa menatap Safira dengan mata yang sulit dibaca. Ada rasa prihatin, tapi juga kekhawatiran yang tidak bisa dibendung. “Safira… aku juga ingin percaya begitu. Tapi… empat hari tanpa kabar itu tidak normal.”

Adrian muncul dari dapur, rambutnya masih berantakan, mata setengah mengantuk tapi tegang. Ia membawa secangkir kopi, duduk di samping Safira. “Aku juga coba tetap berpikir positif,” katanya. “Mungkin mereka ketemu teman lama atau ada urusan mendesak yang… kita tidak tahu.”

Safira menatap kedua saudara nya hanya Adrian di bawahnya, Clarissa berada di depannya. Ia mencoba tersenyum. “Kita kan masih punya satu sama lain. Kita bisa atur semuanya di sini dulu. Aku yakin mereka akan kembali.”

Suara telepon yang tidak pernah berdering membuat hatinya bergetar. Semua pesan yang dikirim tidak dibalas, panggilan tidak tersambung. Safira mengusap wajahnya, menahan rasa panik yang perlahan muncul.

“Safira, coba kau tenang,” kata Clarissa, suara lebih lembut. “Aku sudah suruh beberapa orang mencari jejak mereka. Tapi sampai sekarang… belum ada hasil.”

Safira menelan ludah. Ia tahu kakaknya serius. “Aku akan bantu. Aku bisa kontak beberapa teman Ayah dan Ibu. Siapa tahu ada kabar yang belum sampai ke kita.”

Adrian mengangguk. “Benar. Kita harus mulai mengumpulkan informasi sendiri. Kalau mereka dalam bahaya, kita harus siap.”

Suasana rumah terasa hampa. Tidak ada aroma sarapan yang biasanya hangat, tidak ada suara tawa kecil, hanya detak jam yang berirama monoton dan langkah kaki mereka sendiri. Safira menatap jendela, melihat daun-daun bergoyang di halaman depan, mencoba menangkap rasa normal yang sudah lama hilang.

Ia menghela napas. “Aku tidak mau panik. Aku… harus tetap berpikir positif. Ayah dan Ibu kuat. Mereka pasti bisa melindungi diri mereka sendiri.”

Tetapi hatinya tetap menegang. Ia tahu, di balik ketenangan kakaknya dan sikap santai Adrian, ada rasa takut yang sama. Rasa takut itu tumbuh lebih besar karena mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Clarissa tiba-tiba berbalik, menatap Safira dan Adrian. “Kita harus buat rencana. Kalau Ayah dan Ibu tidak bisa dihubungi… kita harus tahu apa yang harus dilakukan.”

Safira menunduk, memeluk lututnya. “Aku akan bantu. Aku… aku tidak mau hanya menunggu. Aku ingin… siap menghadapi apa pun, untuk mereka.”

Adrian menepuk bahu Safira dengan mantap. “Kamu tidak sendiri. Kita bertiga. Kita akan mencari tahu. Kita akan tetap berpikir positif… tapi juga siap bertindak jika perlu.”

Sejenak, tiga bersaudara itu duduk diam, membiarkan rasa tegang dan cemas bercampur dengan tekad yang perlahan muncul. Di luar, sinar matahari semakin tinggi, tapi rumah Bastian tetap terasa sepi. Tidak ada yang tahu, langkah pertama menuju kebenaran akan dimulai dari sana—dengan Safira yang memegang kunci ketenangan dan tekad di tengah kekacauan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!