Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.
Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.
Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.
Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.
Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.
(REVISI BERTAHAP)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Kerinduan.
"Kita akan menggunakan teknik fluorescence. Itu adalah salah satu teknik bedah tumor otak dengan menggunakan cairan pewarna khusus yang dapat memberi tanda pada tumor dan bertujuan untuk mempermudah proses pengangkatan tumor. Salah satu jenis cairan pewarna yang bisa digunakan adalah asam 5-aminolevulinic (5-ALA). Teknik ini juga menggunakan mikroskop dan cahaya kebiruan." Adryan menjelaskan dengan sabar bagaimana proses pengangkatan tumor pada sepasang suami istri berusia 50 tahunan yang akan menjadi pasiennya.
Sang suami spontan menggenggam erat tangan istrinya begitu mendengar penjelasan Adryan. Mata pria itu tampak basah, berbanding terbalik dengan wajah sang istri yang terlihat lebih tabah meski tetap tersirat sedikit kekhawatiran.
"Tapi istri saya bisa kembali sehat 'kan, Dok?" tanya si suami penuh harap.
Adryan tersenyum tipis, mencoba memberi secercah ketenangan. "Anda tidak perlu terlalu khawatir, Pak. Setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan, minggu depan kita bisa lakukan operasi tersebut."
"Terima kasih banyak, Dok." Pasangan suami istri itu pun pamit keluar dari ruangan dengan langkah berat tapi penuh harap.
Adryan meregangkan otot-ototnya yang kaku. Sejak pagi ia sudah berkutat dengan berbagai kasus, dan seperti biasa, lembur menjadi rutinitas yang tak lagi bisa ia hindari.
"Tadi pasien terakhir?" tanya Adryan pada seorang perawat yang mendampinginya.
"Iya, Dok," jawab perawat tersebut.
Belum sempat ia menghela napas panjang, ponselnya tiba-tiba bergetar. Dari seberang sana, seorang perawat jaga melaporkan pasien yang baru menjalani kemoterapi mengalami nyeri hebat.
"Berikan acetaminophen, aku akan segera ke sana!" seru Adryan cepat, sebelum bergegas meninggalkan ruangan.
...***...
"Kalian benar-benar tidak ingin Mama temani?" tanya Amanda cemas. Tatapannya menelusuri wajah Zenaya yang bersikeras pergi hanya berdua dengan Grace. Bukan karena ia tidak percaya pada sahabat putrinya itu, melainkan hatinya resah dan juga merasa tak enak hati pada Grace yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Sejak Zenaya sakit, sahabat anaknya itu tidak pernah absen menemani Zenaya saat sedang senggang atau libur. Vian, suami Grace, juga sesekali bertandang ke sana. Pria baik hati itu justru sering mengingatkan sang istri untuk lebih memerhatikan Zenaya.
"Tidak apa-apa, Ma." Zenaya tersenyum tipis, berusaha meyakinkan. Setelah ibunya luluh, ia dan Grace pun keluar dengan mobil yang Grace bawa.
...***...
Reagen menepis tangan Bryan yang hendak memapahnya ke dalam mobil.
"Aku bukan orang sakit!" ucapnya dingin.
"Aku tahu!" jawab Bryan sembari menahan nada suaranya. Ia sudah berusaha keras agar Craig mengizinkannya membawa Reagen keluar dari tempat pengasingan itu. Hampir dua bulan penuh Craig membuang anak bungsunya ke apartemen kecil dengan pengamanan ketat dan fasilitas yang sengaja dibuat minim. Tanpa ada uang dan kendaraan. Bahkan untuk sekadar makan pun Reagen harus bergantung pada Noah dan Krystal di bawah kendali orang tuanya.
Bryan menatap Reagen yang duduk di sebelahnya dengan wajah prihatin. Ia yang dulu berwibawa kini tampak menyedihkan dengan bobot tubuh yang merosot serta tatapan yang kosong. Auranya tak lagi sama, belum lagi penampilannya yang sedikit berantakan.
"Aku akan meminta Uncle Craig untuk mengeluarkanmu dari sana. Beliau tidak bisa terus-terusan menyiksamu seperti ini," ujar Bryan kemudian.
"Tidak perlu, ini semua tidak seberapa," jawab pria itu lirih.
Bryan terdiam. Penyesalan menghantam dirinya. Andai saja malam itu ia bersikeras mengantar Reagen pulang, mungkin nasib Zenaya tidak akan menjadi seperti sekarang.
Hening melanda keduanya sampai mereka tiba di sebuah restoran terdekat. Bryan memilih tempat duduk yang langsung menghadap kolam ikan.
"Mau makan apa?" tanya Bryan tanpa memalingkan pandangannya dari buku menu.
"Terserah," jawab Reagen tanpa minat.
Bryan menghela napas sebelum akhirnya sibuk memesan beberapa menu makanan pada waitress yang mulai mencatat.
Setelah selesai, Bryan kembali mengalihkan pandangannya pada Reagen yang ternyata sedang tertegun menatap ke arah kolam ikan.
"Hei, ada apa?" tanya Bryan penasaran. Matanya sontak mengikuti ke mana arah pandang Reagen, dan di sana, tepat pada sisi kolam ikan, ia mendapati sosok Zenaya dan Grace terlihat sedang asyik menikmati makanan mereka.
Bryan kontan menoleh ke arah Reagen. Wajah pria itu tampak sayu, tapi jelas menyimpan kerinduan yang cukup menyakitkan.
"Mau makan di tempat lain saja?" tanya Bryan kemudian.
Reagen menggelengkan kepalanya cepat. "Aku sangat merindukannya," kata pria itu lirih. Hatinya seketika berdebar, saat Zenaya dari ujung sana memperlihatkan tawa manis yang selalu ingin ia lihat. Namun, di balik tawa itu, Reagen menyadari pipi tirus yang menghiasi wajah cantik Zenaya.
"Maafkan aku." Suara Reagen pecah, bergetar menahan segala perasaan yang kembali berkecamuk.
...***...
“Semua panik! Perawat dan dokter jaga berlarian seperti orang kesurupan. Dokter John bahkan sampai salah mengancingkan kemejanya! Kalau kamu ada di sana, Zen, aku yakin kamu sudah pingsan karena kebanyakan tertawa!” Grace lagi-lagi terbahak saat menceritakan insiden konyol di bangsal VVIP rumah sakit, dimana alarm nurse station pada salah satu ruangan pasien berusia 70 tahun, yang memiliki penyakit jantung, berbunyi nyaring.
Namun, setelah mereka sampai ke sana, ternyata nurse call remote yang ada ruangan tersebut tertindih tubuh pasien yang sedang tertidur nyenyak.
Zenaya ikut terbahak, nyaris tersedak. Mendengar cerita Grace membuat hatinya seakan kembali ke tempat yang begitu dirindukannya saat ini.
"Sudah, cukup Grace! Bisa-bisa makanan yang baru aku telan keluar lagi," katanya di sela tawa.
"Eh, jangan dong!" protes Grace, masih terpingkal.
Zenaya tersenyum kecil. "Aku jadi semakin bersemangat," ungkapnya kemudian.
"Untuk apa?" tanya Grace seraya memicing sinis.
"Bekerja." Zenaya memamerkan gigi-gigi putihnya.
Grace mendengkus. "Menyesal aku cerita!" Ia melipat kedua tangannya dan membuang muka ke arah kolam ikan.
Namun, senyumnya lenyap seketika saat pandangan matanya menangkap sosok Reagen dan Bryan yang duduk tak jauh dari mereka. Panik seketika melanda saat ia menyadari bahwa Reagen mengetahui keberadaan mereka dan kini tengah memandangi sosok Zenaya.
"Kenapa Grace?" Zenaya yang menyadari keganjilan pada raut wajah sahabatnya ikut menoleh ke arah seberang, mengikuti Grace.
Bryan dan Reagen serempak memalingkan diri untuk bersembunyi.
Zenaya mengerutkan keningnya. "Kamu lihat apa sampai panik begitu?" tanya wanita itu seraya memerhatikan sederetan orang yang sedang makan di sana.
Grace nyaris kehilangan kata. Ia takut Zenaya benar-benar melihat siapa yang duduk di seberang.
Namun, sebelum ia sempat menjawab, Zenaya sudah berkata, “yuk, pulang. Aku ingin jalan-jalan ke taman.”
Grace menghela napas lega. Ia segera berdiri dan menuntun Zenaya untuk pergi dari sana. Sementara Reagen hanya bisa menatap kepergian itu dengan wajah sendu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
- Cairan asam 5-aminolevulinic (5-ALA) biasanya digunakan dalam operasi pengangkatan tumor otak yang ganas (glioblastoma).
- acetaminophen (obat pereda nyeri).
untuk kk Author Terima kasih untk ceritanya, semoga sukses selalu di karya-karya berikutnya.. aamiin
ttp jaga kesehatan ya kk..
tapi dr semua itu ceritamu memang bagus n bahasa nya, pemulisannya, bahasa nya TOP bgettt...
sukses terus buat auothor n sehat selalu.
🙏🙏
ayo lanjut
kereeeen🙏😍