Takdir, secara kikuk menari di atas lembaran putih. Ujung pena menggurat kisah perjumpaan dua insan yang tak bisa menolak kebetulan.
Adik perempuannya yang sedang hamil menerima tindak kekerasan kemudian sekarat di ranjang rumah sakit, Raymundo Alvaro oleh kemurkaan brutal bersumpah akan jebloskan semua yang terlibat ke dalam penjara. Tidak terkecuali, seorang wanita muda yang pernah secara terang-terangan berikan peringatan padanya juga mengancam adik perempuannya.
Raymundo yakini Bellova Driely adalah nama teratas dalam daftar hitam yang paling bertanggung jawab atas segala hal buruk yang menimpa keluarganya.
Sedangkan, Bellova Driely tak menyangka ia akan terseret kasus yang kemudian menghilangkan nyawa bayi Hellena Alvaro.
Raymundo kemudian putuskan menghukum Bellova Driely dengan caranya sendiri. Ia bebaskan Bellova dari penjara dengan banyak syarat dan sengaja ciptakan kegelapan untuk Bellova. Bellova tak berdaya membalas ketidak-adilan yang menimpa karena sebuah janji yang harus ditepati. Bellova menyimpan rahasia besar yang bisa akhiri kesalah-pahaman tetapi ia telah dituntut sumpah untuk pengorbanan berdarah.
Apa yang terjadi ketika akhirnya masa lalu terkuak dan masa depan kehilangan ketenangan? Akankah cinta yang hadir mampu kalahkan kebencian?!
***
Ditulis oleh Senja Cewen
Ja'o Mora Ne'e Masa Miu (Aku Mencintaimu)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Starting the Story
Raymundo beritahu Bellova, jelaskan sedikit tentang keluarga yang dimaksud pria itu, Tuan Axel Anthony dan Tuan Enrique Diomanta bersama istri dan anak-anak mereka. Raymundo tunjukan foto Axel Anthony dan Queena juga Enrique Diomanta dan istrinya, Irish Bella. Kelihatan masygul ketika perlihatkan foto gadis kecil berusia 6 tahun bernama Kareniña. Bellova hanya kenali Irishak Bella karena Irish adalah mantan reporter nasional dan kini lebih terkenal sebagai seorang penulis.
Berkendara hampir satu jam menuju Lembah Tena setelah landing di Zaragoza, Raymundo menolak sopir. Ia menyetir sendiri.
"Bertingkahlah natural!"
"Ini makna dari, 'bia-sa-kan melihat hangat padaku' yang Anda ucapkan beberapa waktu lalu?" tanya Bellova. Raymundo Alvaro kepergok gugup akan sesuatu tetapi tersimpan baik. Bellova menghirup udara kuat, menduga ada sangkut pautnya dengan Oskan.
Tak menyahut. Memakai kaca mata.
"Syukurlah ini cuma makan malam," tambah Bellova.
"Ada lahan luas untuk camping di bagian belakang bangunan ini. Keluargaku suka petualang."
Saat bicarakan "keluarganya", Raymundo tampak bergairah dan hidup. Berbeda ketika bicarakan Helena, raut Raymundo kelabu dan kelam.
"Mengapa tak bawa saja wanita, terakhir kali aku lihat bersama Anda?"
Raymundo merengus. Bellova punya banyak stok pertanyaan serta tak bisa katakan pada Bellova bahwa dirinya dan Deenar berada dalam satu tim dalam banyak pekerjaan. Axel Anthony kenal Deenar.
Mobil mereka masuki gerbang.
"Nama kekasihku ..., Bellova Driely Damier," jawab Raymundo datar.
Bellova menghela napas berulang kali, kembungkan mulut dan lepaskan perlahan. Ia ketularan gugup. Jika Tuan Alvaro sekejam ini dikata belum seberapa dibanding Tuan Axel Anthony, maka Bellova benar-benar jadi waspada.
"Gadis itu terlihat menyukaimu." Alihkan isi otak.
"Aku tak cocok jadi kekasih seseorang."
Tanggapan sarkasme Raymundo cukup menohok. Raymundo pegangi lengan Bellova, menggiring Bellova naik anak tangga. Keduanya disambut seorang pria muda, penjaga keamanan Axel Anthony.
"Hai, Dean ...," sapa Raymundo.
"Tuan Raymundo, nice to see you. Mereka menunggu Anda dan Nona Bellova."
"Terima kasih."
Pergi ke halaman belakang, ada asap, aroma daging panggang, rempah dan bau-bau manis. Tiga buah tenda di titik segitiga sama sisi, di hamparan rumput hijau tua. Api unggun di tengah-tengah, menyala hangatkan hati.
"Tuan Raymundo?!"
Pekikan kecil menggema dan berhasil buat semua kepala menengok pada mereka. Bellova menengadah pada pria di sebelahnya karena tubuh sempat menegang pria itu berganti rileks. Bibir lengkungkan senyuman.
"Kareniña ...."
Meskipun surprise pada kedatangan Raymundo Alvaro juga tampilkan ekspresi bahagia sekaligus haru, Kareniña berlaku persis orang dewasa. Menatap penuh terima kasih pada seorang wanita yang Bellova kenali sebagai Queena.
"Oohhh ..., pria kita akhirnya datang juga!" Queena berbagi pandang bersama suaminya, sebelum beri instruksi pada Kareniña untuk menyambut Raymundo dan Bellova.
Kareniña segera turun dari bangku dan berlari-lari kecil pada Raymundo.
"Aku pikir tak akan pernah melihat Anda lagi, Tuan Raymundo. Mood-ku buruk belakangan karena perpisahan kita."
Karenina ulurkan tangan sembari mengeluh, tampak mencintai Raymundo Alvaro. Si gadis sama sekali tak takut pada Raymundo, berakhir dalam gendongan Raymundo.
"Mengapa demikian?" tanya Raymundo dekap erat Niña. Wajah datar sepenuhnya cair.
"Aku tak suka gaya hidup orang dewasa."
"Oh ya?"
"Sungguh. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan sesuka hati. Belakangan aku terus protes pada Daddy. Bukankah Daddy dan Anda punya banyak pegawai? Mengapa Anda harus terus bekerja keras?"
"Apa kamu tak bahagia, Nona?"
"Aku bahagia. Aku tinggal bersama Juan Enriques, Ibel dan Mr. Piglet. Kadang, kami bersama Mommy and Daddy saat Ibel bepergian bersama Mr. Piglet mencari bayi Piglet. Tetapi, aku tak bisa menipu diriku kalau aku juga rindukan Anda." Curahan hati gadis berusia 6 tahun. Piglet adalah nama samaran Tuan Enrique Diomanta. Sedangkan Ibel, panggilan untuk Irishak Bella. Juan Enriques adalah putera mereka.
"Aku tak bisa sering bersamamu, Sayang, karena banyak urusan kantor."
"Ya, Daddy katakan hal sama. Tetapi, berjanjilah agar sering berkunjung."
"Tiap akhir pekan, jika bisa. By the way, di mana Juan Enriques?"
"Di dalam, membantu Ibel bawakan minuman."
"Hebat. Lalu, mengapa kamu tak ikut Nona?"
"Oh, aku terlalu gugup karena akan melihat Anda."
Kareniña Anthony persis seperti ibunya, perayu ulung. Kalimat Niña juga beritahu Bellova bahwa Raymundo Alvaro adalah bagian penting dalam keluarga ini.
Mereka melangkah ke arah tenda. Kareniña terusan melirik pada Bellova, antusias pada Bellova.
"Nah, pergilah ke dapur dan bantu Ibel bawakan sesuatu."
"Ya, tapi aku ingin berkenalan dengan Nona Bellova. Mommy dan Ibel terus menyebut namanya sejak pagi."
"Oh ya?"
"Ya, mereka terus menebak apa makanan kesukaan Nona Bellova. Mereka putuskan beberapa menu. Kurasa Nona Bellova akan sukai makanan yang kami buat."
"Halo, Niña. Aku Bellova. Senang bertemu denganmu dan aku sungguh kehilangan kata." Melambai pada Niña, sungguh tersanjung mendengar penuturan Niña.
"Hai, Nona Bellova. Namaku Karenina Luciano." Lekas katupkan mulut melihat ekspresi aneh Raymundo. "Oops, maafkan aku Tuan Raymundo tetapi aku juga menyukai saudara Ibuku, Tuan Lucky Luciano."
"Baiklah," angguk Raymundo tahu masalah pemberian nama belakang Niña. Gadis kecil ini miliki dua nama klan, Luciano dan Anthony lantaran Lucky Luciano menolak namanya dihapus. Tuan Luciano telah bersih tegang dengan Axel Anthony gara-gara keinginan Axel Anthony membuang nama Luciano. Axel kemudian mengalah.
"Hai Nona Bellova, namaku Karenina Luciano Anthony. "Aku biasa dipanggil Niña dan murid kelas satu sekolah dasar."
Bellova tersenyum lebar. Ingin bicara, didahului Niña.
"Aku ingin kita berbincang. Sayangnya, aku perlu membantu Ibel dan Juan Enriques. Seperti yang Anda lihat, aku satu-satunya gadis di sini." Sedikit kerlingan.
Bellova tanpa sadar tertawa renyah hingga tubuh terguncang. Menarik perhatian Raymundo Alvaro. Diam-diam amati Bellova.
"Gadis luar biasa. Baiklah, selamat bertugas."
Raymundo turunkan Karenina, anak mata lantas ikuti langkah kecil Niña. Segera tersadar ketika tangan Bellova telusuri tangan besarnya sampai di telapak. Jari-jari sehalus beludru tautkan diri. Raymundo menoleh dapati mata kehijauan Bellova tersenyum padanya.
"Apakah para guru juga belajar berakting?" tanya Raymundo sedikit menyindir.
"Bukankah kita perlu mengalir bersama?"
"Kuharap kamu tak mencekikku di tengah arena."
"Aku paham resiko. Jadi, bermain saja bersamaku, Tuan. Kecuali Anda ingin keluarga Anda curiga padaku."
"Ancaman yang bagus."
"Apa tak masalah aku diperbolehkan melihat lebih banyak tentangmu?" Bellova bertanya.
"Jangan terlalu menghayati! Kamu mungkin akan hanyut dan tenggelam padaku."
"Tak akan terjadi, aku tak ...."
Raymundo menarik Bellova kian dekat hentikan kalimat Bellova, pria itu menggenggam tangan Bellova erat, naikan satu sudut bibir.
Sungguh aneh, saat Bellova mendadak gugup. Secara ajaib rasakan emosi berkecamuk di benak dan tak punya penjelasan mengenai desiran nadi ketika tangan Raymundo meremas tangannya. Lalu berpindah lingkari pinggang Bellova hingga Bellova meremang.
Oh, yang benar saja. Apa ia mulai menyukai Tuan Aneh ini?!
Tidak.
Jangan konyol. Kadang kala sebuah situasi mendorongmu rasakan feeling dan groove pada seseorang. Bellova sedikit open mind lantaran sikap Raymundo pada Niña. Para wanita cenderung jatuh hati pada pria penuh kasih sayang terhadap anak-anak. Bellova mungkin begitu. Namun, bukan sesuatu yang terlalu serius libatkan hati.
Semoga Bellova.
"Mari habiskan malam bersama, Bellova Driely Damier. Tenda tak begitu banyak timbulkan kegaduhan. Lagipula, aku bawa setengah lusin pengaman."
"Setengah lusin?" Bellova melongo. Apa maksud pria ini?! Apakah orang perlu setengah lusin pengaman untuk percintaan perdana?
"Ini akan jadi malam bersejarah." Raymundo Alvaro tersenyum kecil, menggiring Bellova datangi api unggun di mana kepala-kepala penasaran menunggu mereka bergabung.
***
Sekalian aja bawa mesin pencetak pengaman, Bang.
Chapter - chapter yang tayang hari ini, aku comot dari Bonus Chapter The Secret Woman. Tambah-tambah sedikit. Dunia nyataku ternyata sangat ribet udah hampir tiga harian.
Maaf kalau muter-muter. Saat aku beri konflik lalu puncak dan pendinginan maka Anda tahu, Novelnya akan tamat.
Tinggalkan pendapat Anda ditiap chapter. I am so sorry.
aku datang lagi