Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Saat Harga Diri Dihidangkan
Kaisyaf menghela napas pelan. "Aku belum memikirkan pernikahan, Yah, Bun. Aku akan fokus pada kesehatan dan perusahaan dulu. Banyak orang perlu dibenahi di perusahaan. Selama aku koma, perusahaan kita mengalami banyak kemunduran."
Fatima tersenyum lembut. "Bunda dan ayah mengerti. Tapi jangan tenggelam dengan bisnismu seperti dulu hingga tak memikirkan pernikahan. Kau adalah putra kami satu-satunya. Penerus keluarga."
Husain mengangguk. "Bundamu benar. Jangan terlalu lama lagi menunda pernikahan. Bagi pria mapan, nikah itu hukumnya sunnah muakkad (anjuran kuat)."
Fatima menambahkan, "Nikah itu lebih menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan, Nak."
Kaisyaf tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai mata. "Insyaallah aku akan menjaga diri sebelum aku menemukan seseorang yang aku anggap pantas mendampingiku, Yah, Bun."
"Jadi," ucap Fatima, nadanya hati-hati. "Kau benar-benar tidak ingin mempertimbangkan Syakila?"
Kaisyaf menggeleng pelan. "Aku gak punya perasaan apapun sama dia, Bun."
"Sayang sekali," gumam Fatima, tapi masih bisa didengar Kaisyaf.
Usai makan malam, Kaisyaf kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, mengambil berkas dari laci dan membukanya.
Kaisyaf menutup berkas itu, lalu membukanya lagi.
Jarinya berhenti di satu nama.
Ayza.
Ia mengembuskan napas, pelan, seolah nama itu menyedot udara di dadanya.
Kaisyaf memejamkan matanya. Kilasan wanita bercadar itu kembali muncul.
Ia teringat satu hal yang seharusnya sudah lama menguap dari ingatannya.
Aroma lembut, bukan wangi tajam, bukan pula manis berlebihan.
Sesuatu yang seharusnya lewat, tapi malah tinggal.
Ia membuka matanya, mengusap wajahnya kasar.
“Apa yang sebenarnya sedang aku pikirkan?”
Ia menatap langit-langit kamar, seolah jawaban bisa jatuh dari sana.
***
Gelap mulai merayap, Azan magrib berkumandang. Ayza buru-buru berwujud dan menunaikan shalat magrib.
Ayza baru saja selesai merapikan sajadah ketika layar ponselnya menyala.
Reza.
“Halo. Assalamualaikum,” jawabnya pelan.
“Wa'alaikumsalam. Aku pulang agak malam,” suara Reza terdengar datar, seolah ini sekadar pengumuman. “Masak yang agak spesial. Ada tamu.”
Ayza terdiam sepersekian detik. “Baik. Ada yang harus disiapkan khusus?”
“Makanan Barat aja. Steak atau apa kek. Kamu bisa, 'kan?”
“Iya,” jawab Ayza. Singkat.
Telepon ditutup tanpa tambahan apa pun. Ayza menatap layar yang sudah gelap, lalu bangkit menuju dapur.
"Siapa tamunya?" gumamnya pelan.
Pukul tujuh malam, meja makan ditata rapi. Ayza mengenakan gamis warna krem lembut, sederhana, bersih. Kerudungnya menjuntai rapi menutup dada hingga pinggul. Tak berlebihan, tak mencolok, seperti biasanya.
Ting tong.
Suara itu membuat Ayza melangkah ke depan, membuka pintu.
Reza berdiri di sana. Jas gelap, kemeja putih, dasi longgar. Di sampingnya, seorang perempuan tinggi dengan rambut tergerai rapi, gaun makan malam yang pas di tubuhnya. Tidak vulgar, tapi jelas mahal.
Tatapan Ayza dan Zahra bertemu.
Zahra menilai cepat. Dari ujung kerudung Ayza, ke wajah yang tertutup cadar, ke gamis yang jatuh longgar. Alisnya terangkat sedikit. Tipis. Nyaris tak terlihat.
Ayza menunduk sopan. “Silakan masuk.”
Reza melangkah lebih dulu. “Oh iya,” katanya sambil menoleh singkat. “Ini Zahra. Model papan atas.”
Zahra tersenyum. Senyum profesional. “Hai.”
“Hai,” jawab Ayza lembut.
Reza tak menyebut nama Ayza, tak mengungkap status. Tak ada penjelasan apa pun.
Ayza melangkah ke samping, memberi ruang. Memberi isyarat tangan.
Makan malam dimulai. Reza duduk di sebelah Zahra. Ayza duduk berhadapan dengan Reza.
Zahra memandang piringnya, lalu menoleh ke Reza. “Reza, aku biasa steak medium rare. Ini kayaknya terlalu matang deh.”
Reza menoleh ke Ayza. “Bisa diganti?” tanyanya singkat.
Ayza mengangguk. “Sebentar.”
Ia membawa piring itu ke dapur tanpa komentar.
Saat kembali, Zahra menyentuh sendoknya, lalu berhenti lagi. “Minumnya nggak ada wine?”
Reza menghela napas kecil, seolah ini hal sepele. “Ayza?”
“Maaf, kita nggak menyediakan itu,” jawab Ayza pelan.
Zahra tersenyum tipis. “Oh… ya sudah. Air mineral aja.”
Reza mengangguk. “Ambilin, Za.”
Ayza berdiri lagi. Reza tak bicara kasar atau meninggikan suara, tapi setiap perintahnya jatuh tanpa perlu alasan.
Zahra menyandarkan punggungnya ke kursi. “Rumahmu jadi lebih besar, Rez. Minimalis, tapi kelihatan mahal. Dari direnovasi?”
Reza tersenyum bangga. “Iya. Kemarin visualnya terlalu jadul, jadi aku renovasi.”
Zahra menoleh ke Ayza yang baru duduk kembali. “Kamu yang masak semuanya?”
“Iya.”
“Hebat. Aku nggak bisa masak. Tangan ini cuma buat runway,” katanya sambil tertawa kecil.
Reza ikut tersenyum. “Makanya aku bilang kamu pasti cocok di dunia itu.”
Ayza menunduk, menyuapkan makanannya perlahan. Tak bersuara dan tetap tenang seperti biasa.
Saat makan hampir selesai, Zahra berdiri. “Permisi ke kamar kecil.”
Reza mengangguk. “Arah sana.”
Begitu Zahra pergi, meja makan mendadak sunyi.
Ayza meraih gelasnya. “Masih ada yang kurang?” tanyanya dengan nada biasa.
Reza menatap piringnya. “Nggak.”
Ayza mengangguk. “Syukurlah,” ujarnya santai.
Tak ada percakapan lain. Reza tetap tak menjelaskan siapa Zahra, apalagi mengakui Ayza sebagai istrinya.
Tak ada yang bicara. Reza tetap menatap piringnya. Ayza menyelesaikan makanannya lebih dulu. Kursi di samping Reza dibiarkan kosong terlalu lama.
Mereka baru saja selesai makan malam saat adzan Isya berkumandang, mengalun lembut dari masjid yang tak jauh dari rumah.
Ayza mengangkat wajahnya dari meja makan, lau berdiri, merapikan kerudungnya. “Aku mau shalat Isya dulu.”
Reza hanya mengangguk singkat, lalu meraih ponselnya di meja.
Ayza menatapnya sejenak. “Kita shalat berjamaah?”
Reza melirik Zahra sekilas, lalu kembali ke ponselnya. “Aku shalat nanti aja.”
Ayza tak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk. “Baik.” Lalu melangkah menuju kamar.
Begitu pintu kamar Ayza tertutup, mereka pindah ke rumah tengah. Zahra menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Rumah kamu tenang ya,” katanya. “Terlalu tenang malah.”
Reza tersenyum kecil. “Ayah dan bunda suka.”
Zahra terkekeh. “Kalau aku, kayaknya bakal bosan.”
Mereka tertawa ringan. Reza duduk di sebelah Zahra. Obrolan mengalir, tentang proyek, dunia hiburan, rencana Zahra sepulang dari luar negeri.
Tak ada nama Ayza disebut dalam obrolan.
Beberapa menit kemudian, Ayza keluar dari kamarnya. Ia berjalan melewati ruang tamu, hendak ke dapur.
Zahra meliriknya. “Oh, sudah selesai ya?”
“Iya,” jawab Ayza sopan.
Zahra menyilangkan kaki. “Kamu rajin sekali. Aku jarang lihat perempuan seumur kita se… teratur itu.”
Nada suaranya terdengar manis. Terlalu manis.
Ayza tersenyum tipis. “Itu soal kebiasaan.”
Zahra mencondongkan tubuh. “Reza nggak suka shalat bareng kamu?”
Ayza menoleh ke Reza sekilas, lalu kembali ke Zahra. "Belum pernah,” jawabannya tanpa menutupi apapun.
“Oh.” Zahra mengangguk pelan. “Berarti kamu biasa shalat sendiri?”
Ayza mengangguk. “Sendiri atau berjamaah, nilainya tetap sama kalau niatnya lurus.”
Reza melirik ke arah mereka.
Zahra tersenyum kaku. “Maksudku… kamu nggak keberatan?”
Ayza memiringkan kepala sedikit. “Kenapa harus keberatan?” tanyanya tentang, lalu melanjutkan, “Kalau seorang suami paham agama,” ucap Ayza tenang, “ia akan memilih shalat berjamaah dengan istrinya… daripada shalat sendiri. Apalagi kalau sampai tidak shalat.”
Reza memalingkan wajahnya. Gelas di tangannya beradu pelan dengan meja. Rahangnya mengeras. Ia tak berkata apa pun.
Zahra terdiam sepersekian detik.
Ayza melangkah ke dapur, mengambil air minum. Saat kembali, Zahra kembali membuka suara.
“Jujur ya,” katanya sambil tertawa kecil, “aku kagum sama perempuan yang bisa bertahan di hidup yang… sesederhana ini.”
Ayza berhenti, menatap Zahra dengan tenang. “Sederhana itu bukan soal tempat,” katanya pelan. “Tapi soal hati.”
Zahra mengernyit. “Maksudnya?”
Ayza tersenyum. Bukan senyum menantang, tapi menenangkan. “Kalau hati penuh, hidup sesederhana apa pun tetap terasa cukup.”
Ruangan mendadak sunyi.
Reza meneguk minumnya. Tak ikut bicara.
Zahra tertawa kecil. Terlalu cepat.
Tangannya merapikan gaun, lalu meremas ujung kainnya tanpa sadar. “Kamu pintar merangkai kata.”
Ayza menggeleng pelan. “Aku hanya menjawab seperlunya.”
Zahra berdiri, merapikan gaunnya. “Aku ke toilet sebentar.”
Setelah Zahra pergi, Ayza menoleh ke Reza. “Zahra datang ke rumah ini,” ucap Ayza pelan, “sebagai tamu makan malam… atau ada peran lain yang perlu aku pahami?”
Reza menatapnya singkat. “Apa maksudmu?”
---
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua luka tercipta dari kata-kata. Kadang, ia lahir dari siapa yang diperkenalkan… dan siapa yang disenyapkan.”...
...“Ia tidak menang dengan suara keras. Ia menang karena tidak perlu merendahkan siapa pun.”...
...“Ayza tidak bersaing. Dan justru itu yang membuatnya tak terkalahkan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍