NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EKSEKUSI

“Nada bicaranya… kenapa berbeda?”

Boris diam membeku berdiri di tengah kamar, alisnya berkerut. Ada sesuatu yang terasa janggal. Suara Mirea barusan, bukan suara lembut dan datar seperti yang biasa ia dengar. Kali ini terdengar tajam, dingin, dan penuh tekanan, seolah berasal dari orang yang sama sekali berbeda.

“Hah… memang paling nyaman pakai baju ini.”

Pintu kamar mandi terbuka perlahan.

Mirea melangkah keluar.

Penampilannya berubah drastis. Ia mengenakan setelan warna putih, dengan atasan model strapless (tanpa tali bahu), pas di badan, dengan detail tali dan renda di bagian tengah depan dipadukan dengan dengan celana pendek warna senada, high-waist. Yang terlihat simpel, sederhana tapi jelas mencolok. Di tangan kanannya, mirea memegang sehelai kain putih penutup mata. Rambut putihnya yang panjang menjuntai basah, menempel di bahu dan punggung. Tapi yang paling membuat Boris tercekat bukan pakaiannya melainkan tatapannya.

Tatapan itu kosong, tenang… dan berbahaya.

Senyum tipis terukir di bibir Mirea, bukan senyum manis, melainkan senyum sinis yang membuat bulu kuduk merinding. Tidak ada lagi aura gadis polos. Yang berdiri di depannya sekarang terasa seperti predator yang sedang menilai mangsa.

Tanpa sadar, Boris mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.

Punggungnya menyentuh dinding.

Mirea tidak terburu-buru. Ia melangkah pelan, setiap langkahnya terdengar jelas di lantai kamar yang sunyi. Tangannya meletakkan sehelai kain tadi di atas meja lalu meraih sebuah tongkat besi yang tergeletak di ujung meja, mengangkatnya dengan santai seolah itu benda ringan.

Boris menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Bruk…”

Kakinya melemas. Ia terjatuh terduduk di lantai, tak mampu bergerak, hanya bisa menatap Mirea yang kini berdiri tepat di depannya.

Tangannya gemetar, jarinya menunjuk tanpa sadar.

“Si… siapa kamu sebenarnya…?” suaranya nyaris tak keluar.

Mirea menunduk sedikit, menatapnya dari atas dengan senyum yang semakin tipis.

Bukh!

Tongkat besi di tangan Mirea menghantam pipi Boris dengan keras. Tubuh Boris terlempar ke samping, kepalanya membentur lantai, pandangannya berkunang-kunang. Rasa nyeri langsung menjalar ke seluruh wajahnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.

Belum sempat ia pulih, Mirea sudah melepaskan tongkat itu begitu saja.

Dalam satu gerakan cepat, ia mencengkeram kerah kemeja Boris dan menariknya berdiri setengah paksa, lalu menghujaninya dengan tinju bertubi-tubi. Setiap pukulan terasa berat, terarah, tanpa ragu.

“Hahaha…”

Tawa Mirea terdengar rendah dan bengis, sama sekali tidak selaras dengan wajah cantiknya.

“Gimana?” ujarnya di sela tarikan napas. “Kamu puas atau enggak?”

Ia menghentikan tinjunya sejenak, menatap Boris yang sudah nyaris tak bisa fokus.

“Puas atau enggak?!” bentaknya, suaranya dingin dan tajam.

Cengkeramannya sedikit mengendur. Boris terbatuk, napasnya terputus-putus.

“K-kamu…” suaranya gemetar. “Kamu bukan Mirea… siapa kamu sebenarnya?”

Mirea menatapnya tanpa ekspresi, lalu perlahan mengangkat tangannya lagi, seolah siap melanjutkan.

Namun sebelum memukul, ia kembali mencengkeram kerah Boris, menarik wajah mereka sangat dekat.

Mirea tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.

“Berani-beraninya kamu jual tiket palsu ke kakakku,” ucapnya pelan, suaranya datar namun menusuk.

Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Boris, berbisik dengan nada rendah, hampir seperti rahasia.

“Kamu tahu nggak, di dunia mafia itu tidak ada hukum pasti... Tapi aku tau orang yang menjual tiket palsu nasibnya seperti apa?”

Matanya menyipit, sorotnya tajam dan dingin.

“Tangan dan Kakinya di Pot*ng, lalu di gantung di langit-langit dan di biarkan mati kehabisan darah."

Senyumnya melebar, bengis, seolah benar-benar menikmati ketakutan yang mulai terlihat jelas di wajah Boris.

“Kamu… kamu mafia…” ujar Boris terputus-putus, suaranya gemetar.

Mirea tidak menjawab. Ia hanya meraih tongkat besi di dekatnya, memutarnya pelan di tangannya seolah sedang memainkan mainan.

Refleks, Boris langsung merangkak menuju pintu kamar. Nafasnya memburu, tangannya gemetar saat mencoba menjangkau gagang pintu.

Namun sebelum sempat berdiri, Mirea dengan santai mengaitkan ujung tongkat besinya ke bagian celana Boris, lalu menariknya kembali.

Tubuh Boris terseret ke belakang. Tenaganya sama sekali tidak sebanding.

“Tolooong!” teriaknya panik.

Mirea menatapnya dari atas, ekspresinya tenang terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Loh,” ucapnya ringan, hampir seperti bercanda.

“Bukannya tadi kamu yang mau ‘main’?”

“Tolong…!” Boris kembali memohon, suaranya pecah, nyaris menangis.

Mirea hanya tersenyum kecil. Senyum dingin yang sama sekali tidak mengandung belas kasihan.

"Ish... Ish... Ishh... kenapa? Kok mau nangis gitu?" tanya nya.

“Lihat sekarang?” ucap Mirea pelan, jemarinya memainkan helai rambut putihnya dengan santai.

“Aku temani kamu main.”

Nada suaranya lembut, tapi justru itulah yang membuat Boris semakin bergidik. Seluruh tubuhnya menegang.

“A-ada apa ini…?” tanya Boris lirih. Suaranya sudah hampir habis, penuh ketakutan.

Mirea menatap tongkat besi di tangannya, mengelus permukaan yang sudah ada beberapa bercakan darah.

“Oh?” katanya ringan.

“Kamu belum sadar juga?”

“B-bukannya kamu tadi lembut dan polos…?” Boris tergagap, berusaha mundur meski punggungnya sudah menempel dinding.

Mirea mendekat. Wajahnya kini sangat dekat, terlalu dekat. Senyum tipis terukir di bibirnya

“Ish, itu cuma akting,” bisiknya.

Matanya menyipit tajam.

“Versi simpelnya…” lanjutnya, suaranya berubah rendah.

“Itu trik supaya aku bisa membunuhmu.”

Boris membeku.

Mirea mengangkat dagunya dengan ujung tongkat besi, memaksanya menatap langsung ke matanya.

“Lain kali, buka matamu baik-baik,” ucapnya dingin.

“Lihat siapa yang bisa kamu ganggu… dan siapa yang sama sekali tidak boleh kamu sentuh.”

Senyumnya melebar, senyum bengis tanpa emosi.

......................

Rosse dan Adela berdiri tepat di depan pintu kamar Mirea. Keduanya saling pandang, lalu tanpa malu-malu menempelkan telinga ke daun pintu.

“Kenapa sudah nggak ada suara lagi?” bisik Adela.

“Atau jangan-jangan sudah selesai?” sahut Rosse dengan nada penuh harap.

Adela menyeringai tipis.

“Tenang saja. Tuan Boris itu nggak selemah itu.”

Namun, tepat saat mereka masih sibuk menguping, langkah kaki terdengar di lorong. Kael muncul bersama Farel, jasnya sudah berganti, raut wajahnya kembali tenang seperti biasa.

Farel langsung memperlambat langkah ketika melihat dua wanita itu.

“Tuan… Tuan Kael,” bisiknya hati-hati.

“Mereka mengganggu Nona Mirea lagi?”

Kael berhenti. Tatapannya tertuju lurus ke arah Rosse dan Adela yang belum menyadari kehadirannya.

Farel refleks menarik lengan Kael.

“Tuan, ayo kita—”

Namun Kael justru mengangkat jarinya ke bibir.

“Sttt.”

Ia mendekat sedikit, matanya menyipit tajam.

“Panggil dulu para penjaga Putri Keluarga Rothwell.”

Nada suaranya terdengar santai, di selingi senyum.

Farel langsung menangkap maksud itu. Ia mengangguk cepat tanpa banyak bicara, lalu bergegas pergi menyusuri lorong.

Tak sampai satu menit, tiga Kakak Mirea berjalan terburu-buru menuju kamar mirea dengan raut wajah tegang.

Rosse dan Adela yang masih berdiri di depan pintu kamar Mirea refleks menoleh.

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!