Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.
Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.
CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Wajah yang indah, senyuman yang lembut, tapi sayang, dia berhati es. Bahkan merapi pun tidak bisa melelehkan hati kecil yang sudah membeku dalam dirinya.
"Kalau kamu tidak mau, tidak masalah," jawabku tidak acuh dengannya.
"Aku memiliki cara sendiri untuk menghilangkan suntukku," sambung Ahn Yoo dan kemudian menatapku.
"Owh ... itu bagus. Jadi lakukan saja apa yang membuatmu senang," timpalku tidak menghiraukannya.
Dia sejenak terdiam dan menatap dengan dalam mataku. Dia berjalan mendekat selangkah demi selangkah ke depanku. Saat kami sudah berhadapan, bisa dikatakan tidak ada jarak lagi diantara kami. Ahn Yoo mulai membungkuk untuk menyesuaikan tinggi badannya denganku. Dan dengan lembut dia memegang tengkuk leherku dan mencium bibirku yang tertutup rapat.
Mataku sampai terbelalak karena terkejut, tapi tidak bisa melawan karena termenung. Kepalaku menjadi kacau sebentar, dan kemudian kosong seketika.
Ahn Yoo mencium bibirku yang tertutup rapat dengan lembut. Sedangkan aku yang masih tertegun tidak bisa berbicara sepatah kata pun.
Tidak lama kemudian dia berdiri kembali dan tersenyum licik kepadaku. Dengan tubuh yang masih kaku, aku mencoba untuk mengamukinya.
"Kau!! Ahn Yoo sialan!! Beraninya kamu sudah lancang mencium bibirku!"
"Kapan aku lancang? Aku rasa kau yang menyuruhku untuk melakukan apa yang ku suka. Jadi aku menciummu, karena aku suka."
"Dasar gunung es, aku akan membunuhmu. Berhentilah di tempatmu dan jangan bergerak," aku menatapnya dengan sinis dan berniat menamparnya. Namun, saat aku sudah mengayunkan tanganku, aku berhenti seketika dan tidak jadi menamparnya.
"Kenapa kau tidak jadi menamparku?" tanya Ahn Yoo dengan tenang.
"Ke-Kenapa kau tidak menghindar?" tanyaku kembali dengan ragu.
Dia memegang tanganku dan meletakkannya di atas bahunya. Kemudian Ahn Yoo memeluk pinggangku sehingga semakin dekat dengan dia. Dia menekukkan kepalanya dan mencium bibirku dengan liar.
Aku sudah mendorongnya beberapa kali dengan sekuat tenaga, tapi Ahn Yoo malah mengencangkan pelukannya dan semakin keras mengecup bibirku.
Mataku semakin terbelalak dan tidak bisa ku kedipkan lagi karena masih shock dan tidak menyangka dia akan sekasar ini saat menciumku. Dia mulai menggigit dengan pelan bibirku secara bergantian dan menghisap secara lembut.
Semakin dia memelukku dengan kencang, semakin besar pula mataku terbelalak. Ahn Yoo tidak membiarkanku bernapas barang sebentar saja. Dia tidak memberikanku ruang untuk mengambil napas walau hanya sedikit.
Aku memukul dadanya dengan keras dan memberi kode kalau aku tidak bisa bernapas. Ahn Yoo tiba-tiba berhenti menciumku meski tangannya belum lepas untuk memelukku.
Dengan hangat, dia menutup mataku dengan satu tangannya, dan kembali mengecup bibirku. Kali ini dia memulainya dengan lembut, sehingga aku bisa mengikuti irama nafasnya.
Aku memegang tangannya yang berada di pinggangku dan perlahan melepaskan pelukannya. Aku tidak boleh terbawa nafsu karena Ahn Yoo. Aku tidak mau menjadi barang pemuasnya yang setelah bosan bisa di campakkannya kapan pun. Setelah tangannya terlepas, aku mundur dengan cepat ke belakang.
Refleks aku menutup bibirku dan menatap dengan dingin wajahnya. Ahn Yoo tampaknya tidak senang karena aku berontak, tapi aku lebih tidak senang saat dia secara mendadak menciumku.
Untuk beberapa saat aku dan Ahn Yoo sempat saling bertatapan dengan dingin satu sama lain.
"Kenapa kau menunjukkan eskpresi menakutkan seperti itu?" tanya Ahn Yoo.
"Diamlah, aku masih belum bisa menerima perbuatanmu ini. Aku tidak akan terima sama sekali, aku harus membalasmu," kataku yang penuh dengan amarah di dalam diri.
"Bagaimana kau akan membalasnya?" Ahn Yoo tersenyum licik menatapku.
"Kyaaaa!! Bisakah kamu menggunakan otakmu dengan benar. Aku ini hanya wanita polos dan tidak berdaya, tapi kamu dengan lancangnya menciumku tiba-tiba," sambungku mengamukinya.
"Aku rasa kamu sudah cukup dewasa untuk melakukan ciuman denganku," jawab Ahn Yoo dengan usil.
"Wah ... aku sudah dewasa, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya berinisiatif menciumku seperti itu," senggakku kepada Ahn Yoo.
"Sudahlah, jangan mengganggu mood ku yang sedang bagus," tukas Ahn Yoo tidak peduli dengan senggakanku.
Baiklah, karena mungkin aku tidak akan bisa menang adu mulut dengan Ahn Yoo, sebaiknya aku pergi saja. Melampiaskan kemarahanku ini dengan membaringkan badan di atas ranjang.
Aku keluar dari kamar Ahn Yoo dengan hentakan kaki yang keras, sampai terbunyi suara kakiku yang sedang melangkah keluar dari kamarnya.
Setelah sampai di kamarku, aku belum bisa untuk tertidur. Pikiranku masih melayang-layang dan terbayang dengan ciuman Ahn Yoo.
Kenapa Ahn Yoo menciumku? Apa mungkin dia benar-benar menyukaiku? Tapi itu tidak mungkin, dia hanya melampiaskan nafsunya padaku. Aku ini sangat jauh dari kata tipe wanita Ahn Yoo. Wajahku tidak bisa dibilang cantik, asal-usulku juga tidak jelas. Jadi tidak ada kemungkinan dia menyukaiku.
Kepalaku memang perlu diperikasakan karena selalu terbayang dengan Ahn Yoo, yang lebih parah lagi sekarang aku melihatnya berada di depanku. Aku melihatnya sedang berdiri di depanku dengan tangan yang disilangkan di dada, aku berhalusinasi kalau Ahn Yoo ada di kamarku ini.
"Hey!! Bisakah kamu pergi, sekarang kepalaku penuh dengan dirimu. Sekarang aku malah berhalusinasi, jadi aku mohon pergilah," bentakku kepada Ahn Yoo yang sedang menatapku mulai dari tadi. Aku bahkan seperti orang gila saja, bicara dengan halusinasi sendiri.
Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut, kemudian membukanya lagi. Namun bayangan Ahn Yoo masih ada di situ. Cara yang kulakukan belum berhasil. Jadi aku mengamukinya dan menyuruh dia pergi dari pikiranku.
"Yaaaaa!! Kenapa kamu belum pergi juga, aku ingin tidur. Kalau kamu masih di situ kapan aku bisa tenang, aku akan tetap memikirkanmu."
"Apa kau ini jadi bodoh karena tergila-gila padaku?" timpal Ahn Yoo.
"Astaga!!! Ka-Ka-Kamu bisa bicara? Apa bayangan juga bisa bicara?" tanyaku yang tampak bodoh.
Ahn Yoo mendekatiku dan menjetik kepalaku.
"Apa kau sudah sadar?"
Aku masih ragu antara Ahn Yoo ini nyata atau hanya bayanganku saja. Dengan cepat aku bangkit dari ranjangku dan mencubit pipinya.
"Apa kamu benar-benar nyata?" tanyaku yang masih bingung sambil meraba-raba wajahnya.
"Apa kau sudah bisa menyingkirkan tanganmu?" sambung Ahn Yoo dengan nada santai dan datar.
Sekarang aku sudah sadar kalau dia ini nyata, dia bukan bayanganku. Dari cara bicaranya aku yakin dia adalah Ahn Yoo si gunung es.
Aku dengan cepat melepas tanganku dari wajahnya.
"Apa? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku hanya belum puas saja," jawabnya datar.
Aku mundur menjauhinya dan menutupi bibirku dengan tanganku.
"Apa? Ka-Kamu belum puas apa? Jangan mendekatiku!"
"Aku tidak bilang akan menciummu. Sekarang bahkan kau yang tampak masih menginginkan ciuman dariku," decak Ahn Yoo dengan senyum.
"Wah ... kamu pikir aku ini wanita apa, berharap dicium laki-laki yang bahkan tidak ada hubungan denganku."
"Apa harus ada hubungan denganmu baru boleh menciummu? Sekarang kau terlihat sedang mengkode ku untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius denganmu," sambung Ahn Yoo mencoba mempermainkanku.
"Uweee ... si-siapa juga yang mau denganmu," kataku sambil menjulurkan lidahku keluar.
"Kita lihat saja, apa kau berani menolakku nanti," tantang Ahn Yoo padaku.
Aku tertegun mendendengar kata-katanya.
"Apa kamu sudah puas mempermainkanku?" tanyaku dengan wajah cemberut.
"Aku tidak sedang bermain-main, Kim Jane Soo." Ahn Yoo pergi keluar dari kamarku setelah mengatakan kalau dia tidak sedang bermain-main.
Aarrrghhhh!
Aku semakin bingung saja dengannya.
Apa mau-nya? Apa maksudnya? Apa tujuannya? Semua pertanyaan itu muncul di dalam kepalaku. Ahn Yoo sangat senang membuatku tersiksa dengan kata-katanya.
Aku tidak bisa tertidur malam ini, aku masih terbayang-bayang dengan Ahn Yoo. Saat mataku sudah ingin terpejam, tiba-tiba wajah Ahn Yoo muncul di dalam pikiranku.
**Bersambung ...
UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
salam dari TMA
hadir dari imagine& writter