Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Sita yang sejak awal tidak suka pada Athalia, menambah bumbu penyedap pada ucapan sarkasme Marci. "Asyik, dong Mba. Masa, asyik ding. Punya backingan gitu, loh. Suka bangettt..." Ucap Sita. Mereka duduk berhadapan dan saling berbalas sindiran tanpa menghiraukan perasaan orang lain yang mendengar.
Namun bagi Athalia, sindiran mereka bagaikan kentut tak berbau. Rasa panik dan bingung belum menemukan alasan yang tepat atas keterlambatannya, membuat dia tidak mendengar, apa lagi mau menanggapi.
Dia berjalan sambil memikirkan alasan yang masuk akal dan bisa diterima oleh supervisor dan tidak mempengaruhi penilaian untuk masa trainingnya.
~•
Bagi rekan kerja lain yang sudah biasa mendengar ucapan tidak bermutu mereka, hanya bisa geleng kepala. Ada yang pasang earphone, agar bisa konsentrasi bekerja. Ada yang menerima nasib harus mendengar lagu sumbang, bernada cempreng tanpa irama.
Sedangkan Tony yang biasanya tidak suka mendengar sindiran Marci dan Sita, tidak berkomentar. Sebab dia tidak tahu, mengapa Athalia bisa terlambat masuk kantor. Tadinya dia berpikir, Athalia tidak masuk kerja karena sesuatu dan lain hal.
Tapi saat melihat Athalia masuk terlambat, dia tidak mau menanggapi sindiran Marci dan Sita dengan komentar yang membela Athalia. Dia tidak mau berspekulasi, sebab wajah Athalia terlihat bingung. Oleh sebab itu dia memilih diam.
Begitu juga dengan Alea, hanya bisa melihat Athalia berjalan cepat menunju ruang kerja supervisor sambil bertanya-tanya dalam hati, mengapa Athalia bisa terlambat masuk kerja. Padahal selama mereka di resepsionis, Athalia selalu datang lebih awal.
~•
Athalia memutuskan untuk minta maaf, karena tidak menemukan alasan dan tidak mau menceritakan yang terjadi. Tanpa menyapa dan melihat rekan kerja, dia langsung menuju ruang kerja supervisor dan mengetok.
Setelah dipersilahkan masuk, Athalia menyapa supervisor dengan perasaan bersalah. "Selamat pagi, Pak. Saya minta maaf, ...." Ucapan Athalia terhenti melihat supervisor mengangkat tangan, sebagai isyarat tidak usah diteruskan.
"Pagi, silahkan bekerja. Lain kali jangan terlambat lagi." Supervisor berkata pelan, tanpa emosi. Athalia tertegun mendengar nada suara supervisor yang pelan, dengan intonasi datar seperti biasa.
Sehingga sejenak dia menatap supervisor dengan perasaan tidak menentu. "Terima kasih, Pak." Hanya itu yang bisa dikatakan, lalu menunduk hormat.
Supervisor menggangguk dan menggerakan tangan, menyuruhnya keluar. Athalia makin bingung melihat sikap supervisor. Dia keluar dari ruangan sambil memegang dadanya yang berdegup kuat.
"Syukur, dikasih sarapan lezat toping semprotan panas." Sindir Sita yang melihat Athalia keluar dari ruangan sambil memegang dada, tegang dan bingung. Jadi dia mengira, Athalia habis dimarahi oleh supervisor.
Tony jadi melempar kertas yang sudah diremas seperti bola ke arahnya. "Ini yang dibilang, senang lihat orang susah. Kerjaaa...." Ucap Tony sambil pelototi Sita.
Sedangkan Alea bersikap tenang, fokus pada pekerjaan. Agar tidak memancing celetukan baru terhadapnya dan Athalia. Oleh sebab itu, dia tidak bertanya, mengapa Athalia bisa begitu terlambat. Supaya tidak jadi bahan nyinyiran Marci dan Sita. Apa lagi sedang diperhatikan oleh rekan kerja lain yang penasaran dan ingin tahu.
Athalia tidak menanggapi, karena pikirannya penuh. 'Huuuuuuu....' Dia duduk perlahan dan meniup untuk menenangkan hati tanpa melihat tatapan penasaran rekan-rekan kerjanya.
'Mengapa Pak Super tidak marah padaku? Apa karena pria tadi?' Athalia heran dan bertanya dalam hati. Dia sudah siap menerima dimarahi, karena kesalahan yang dilakukan. Tapi yang terjadi, supervisor tidak tanya penyebab atau minta penjelasan.
Dia kembali menghembuskan nafas kuat dan bersyukur. 'Terima kasih, Tuhan. Terima kasih. Tolong tenangkan hati dan pikiranku, supaya bisa bekerja hari ini.' Athalia membatin sambil mengurut dada.
Dia butuh pertolongan super kuat, agar bisa mengalihkan pikirannya dari pria yang pernah ditolong.
Setelah menarik nafas panjang, Athalia menyalakan komputer dan berusaha fokus pada pekerjaan yang belum selesai.
~••~
Di sisi lain ; Setelah melihat lift Athalia telah turun, Ethan segera masuk ke ruang kerja Rion. "Pak, ada apa? Mengapa Nona Talia naik ke sini?" Rion berdiri mendekati bossnya dan tanya beruntun. Kemudian dia berhenti bertanya dan jadi sigap melihat wajah tegang bossnya.
Tadinya Rion sangat was-was melihat Athalia naik ke lantai 3 dan bicara serius dengan bossnya. Dia menunggu dan tidak fokus bekerja. Ponselnya dalam genggaman, sebab khawatir diperlukan bossnya untuk mengamankan Athalia dari pertanyaan para staff atau pejabat yang akan menemui dia.
"Nanti saja. Ada yang harus kau lakukan. Urgent." Ucap Ethan sambil menerobos masuk ke ruang kerjanya. Rion ikut bergerak cepat mengikuti. Dia sudah tahu, kalau bossnya mengatakan urgent. Semua pekerjaan atau yang lain, antri di belakang.
"Sekarang telpon supervisor di administrasi. Katakan apa saja padanya, supaya tidak memarahi Talia yang terlambat masuk...." Ethan menjelaskan.
Ethan yakin, Athalia tidak sadar masuk ke lift karena melihat dia. Rasa penasaran dan ingin memastikan, membuat dia lupa kalau sudah hampir terlambat masuk kantor.
"Baik, Pak." Tanpa keluar dari ruangan, Rion segera telpon karena melihat wajah bossnya sangat serius.
Sambil menunggu Rion telpon, Ethan memikirkan pertemuannya dengan Athalia yang tidak terpikirkan sebelumnya. 'Apa tadi dia melihatku dari belakang?' Ethan bertanya dalam hati, karena dia tidak melihat Athalia saat masuk. Dia langsung menuju lift yang baru terbuka.
'Tapi penampilanku sangat berbeda.' Ethan berpikir sendiri. 'Tapi apa gunanya dia kenal atau tidak? Kenapa aku sangat khawatir dia dimarahi? Mengapa...' Berbagai tanya di hati Ethan. Interaksi mereka yang terjadi begitu saja sangat mendebarkan dan tidak mau pergi dari pikirannya.
"Bagaimana?"
"Sudah, Pak." Ucap Rion sambil berjalan mendekat.
"Ok. Talia sudah tahu saya bukan penyandang...." Ethan menjelaskan yang terjadi di dalam dan luar lift.
"Oh. Jadi Nona Talia sudah tahu siapa Pak Ethan?" Rion tidak berani menyebut nama Athalia begitu saja sebagaimana karyawan lain, karena dia tahu, bossnya menaru perhatian khusus padanya.
"Belum. Dia hanya tahu penyamaran saya. Jadi hati-hati bicara dengannya."
"Iya, Pak. Begitu lebih baik, supaya bisa bertahap. Jadi nanti tidak terlalu kaget kalau tahu siapa Pak Niel sebenarnya." Rion jadi tersenyum dalam hati melihat bossnya tidak tenang dan langsung menutup laptop.
"Sudah, kau kerja di ruanganmu. Saya mau sendiri." Ethan menggerakan tangan agar Rion keluar. Dia perlu berpikir sebelum menentukan langkah berikutnya.
Entah datang dari mana perasaan tidak tenang. 'Perasaan apa ini?' Ethan bertanya sendiri ketika perasaannya bergolak dan apa yang baru terjadi di antara dia dan Athalia tidak bisa pergi dari pikirannya.
Dia tidak memikirkan atau analisa, mengapa Athalia begitu ngotot mau meyakinkan siapa dia. Tidak ada praduga atau prasangka. Hatinya bersih dan hanya memikirkan percakapan mereka yang mengalir begitu saja.
Athalia tidak berpikir siapa dia, hingga berani mengangkat tangan mau memukulnya. Ketika ingat wajah Athalia yang saat mau lakukan itu, Ethan tersenyum.
Namun ketika ingat yang dikatakan Rion tentang Athalia akan tahu siapa dia sebenarnya, Ethan jadi panik dan ingin waktu cepat berlalu.
...~•••~...
...~•○♡○•~...