NovelToon NovelToon
Sephia

Sephia

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

"Gila ... ini sungguh gila, bagaimana bisa jantung ini selalu berdebar kencang hanya karena tatapan matanya, senyumnya bahkan sentuhan yang tanpa sengaja itu."
~Sephia~

"Rasa ini salah, tapi gue suka ... dia selalu membuat jantung ini berdebar-debar ... damn! kenapa datang di waktu yang salah sih."
~Danar~

Pertemuan itu, membuat mereka ada dalam posisi yang sangat sulit. Terlebih lelaki itu sudah mempunyai seorang kekasih. Sementara hatinya memilih gadis lain.

Entah waktu yang salah ... atau takdir yang mempermainkan mereka. Apakah akan berakhir dengan indah atau sama-sama saling melepaskan ... meski CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagaikan dalam mimpi

Sephia masih meringkuk dalam pelukan Danar, menjadikan lengan Danar sebagai bantalannya. Perlahan ia menggeliat, meregangkan otot tubuhnya. Matahari pagi itu bersinar cerah, menyeruak masuk melalui celah tirai jendela, nyanyian burung pun terdengar merdu.

Mata Sephia terbuka, mendapati lelaki yang semalam baru saja berubah status menjadi kekasihnya. Lelaki itu sangat tampan, hati Sephia bergetar jika lama memandang wajahnya. Kulit putih, mata sedikit sipit, bibir yang tidak terlalu tebal, hidung yang mancung serta rahang yang kokoh.

Bagaikan dalam mimpi, Sephia tak pernah menyangka bisa melabuhkan hatinya pada pria pemaksa ini. Melabuhkan hatinya pada atasannya di kantor, mungkin saja atasannya ini digandrungi banyak wanita di luar sana. Sephia mana tahu tentang kehidupan lelaki ini sebelum bertemu dengannya, rasa penasaran itu ada namun tertutup dengan kata tak perduli saat ini. Benar kata Danar, Sephia hanya cukup tahu dia bahagia bersama Danar maka semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja.

Danar mengeratkan pelukannya, dia tahu saat ini Sephia sedang memandanginya. Dia hanya butuh Sephia untuk tidak ragu akan perasaannya. Hanya itu yang Danar butuhkan, perihal apa yang akan terjadi nanti dia akan melindungi Sephia sampai titik darah penghabisan.

"Udah bangun tapi senengnya liatin aku," ujar Danar menciumi leher gadis itu dan mengeratkan pelukannya.

Sephia tersenyum tipis, jari tangannya memilin anak-anak rambut Danar. Melingkarkan tangannya di leher kekasihnya, membiarkan lelaki itu menciumi leher yang semalam habis dia sesap.

"Bangun yuk," ajak Sephia. "Sayang pemandangan di luar kalo gak dinikmati."

"Aku malah menyayangkan pemandangan dihadapan aku kalo di sia siakan," ujar Danar bangun menopang kepalanya dengan siku tangan.

Sephia masih menggunakan pakaian lengkapnya di kantor sore kemarin. Cumbuan mereka semalam tak menyempatkan Sephia beranjak ke kamar mandi hanya untuk membersihkan tubuhnya. Begitupun Danar, hanya kemeja saja yang ia tanggalkan sedang kaos dalam yang ia gunakan masih terpasang ditubuhnya.

"Kamu tambah cantik kalo bangun tidur," kata Danar merapikan rambut Sephia.

"Kamu lebih ganteng kalo lagi tidur."

"Kok bisa?"

"Gak ngegombal soalnya, ini ...," ucap Sephia meraba bibir Danar, "gak ngoceh terus ... lebih anteng kalo lagi tidur." Sephia tertawa saat Danar menggelitiki tubuhnya.

Ciuman sekilas baru saja Danar labuhkan pada bibir Sephia, lalu menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya turun dari tempat tidur. Keluar dari villa itu dengan berjalan kaki turun dari bukit menuju pantai di bawah sana.

"Kenapa kita gak mandi dulu sih?" tanya Sephia berjalan di belakang Danar menggandeng tangan lelaki itu menyusuri jalan setapak yang katanya jalan tercepat sampai ke pantai.

"Gak usah mandi, kamu masih harum kok," jawab Danar menoleh pada Sephia yang berjalan di belakangnya.

"Harum bagian mana kalo dari sore kemarin aku belum sentuh air sama sekali."

"Indah gak?' Danar menghentikan langkahnya dan Sephia berhenti tiba-tiba mengikuti Danar yang berada di depannya.

"Astaga ... Danar ini indah banget," ujar Sephia yang mendahului langkah Danar dengan berlari kecil.

Pasir pantai itu begitu putih, tak ada satupun orang yang Sephia lihat di sana. Seperti private island di film-film yang pernah dia tonton. Pantai yang tertutup semak-semak di balik bukit, deburan ombaknya yang saling berkejaran, batu-batu karang besar menghiasi setiap sudutnya.

"Cantik kan? kayak kamu ...." Danar memeluk tubuh gadis itu dari belakang, menciumi pucuk kepala dan meletakkan dagunya di bahu Sephia.

"Cantik banget," jawab Sephia membelai tangan Danar yang melingkar di pinggangnya.

Sedikit menolehkan wajahnya dan mencium pipi Danar. Ciuman itu di sambut dengan balasan yang bertaut pada bibir Sephia. Gadis itu terhanyut, hingga memutar tubuhnya menghadap lelaki yang membuat hatinya kacau balau. Melingkarkan tangannya pada leher Danar, Sephia membalas ciuman itu sama lembutnya.

Tangan Danar mulai masuk melalui celah kemeja Sephia, ia remas pinggang gadis itu. Membuka satu per satu kancing kemeja dan ketika semua terbuka, Danar menghentikan ciumannya. Dengan kening yang masih menyatu dan nafas yang memburu, Danar memandang ke bawah pada kulit putih milik kekasihnya itu.

Wajah Sephia merona saat mata Danar seolah ikut melucuti bagian depan tubuhnya. Dada itu masih terbungkus dengan helaian berenda berwarna hitam. Danar menyingkirkan kemeja itu dari pundak Sephia, mengecupi perlahan pundak Sephia dan membuat Sephia menegang di waktu yang bersamaan.

"Danar," ujar Sephia lembut.

"Hhmm," tangan Danar masih membelai perut Sephia.

"Nanti ada orang."

"Gak ada orang," jawab lelaki itu menatap mata Sephia. "Gak bakal ada orang ... cuma kita berdua."

"Tapi ...." Danar tahu yang di pikirkan Sephia, dia mulai mengancingkan kembali kancing kemeja itu, lalu tersenyum.

"Makasih," kata Sephia lalu menggenggam kembali telapak tangan Danar dan mengajaknya berjalan di pinggir pantai.

"Minggu depan aku pulang ke Jakarta, kamu mau ikut?" tanya Danar dan Sephia menggeleng.

"Ngapain pulang?" tanya Sephia.

"Ada urusan yang aku ingin selesaikan, mau liat papa juga ... semoga keadaannya lebih baik."

"Tapi sudah mulai baikkan kan?" tanya Sephia karena menurut berita yang ia dapat, ayah dari kekasihnya itu menderita stroke sejak awal tahun lalu, itulah mengapa Danar di minta untuk pulang ke Indonesia selain membantu sang ayah mengendalikan perusahaan juga membantu sang kakak yang sudah mulai kewalahan mengurusi kantor pusat dan beberapa cabang.

"Sudah, tapi kemarin Mas Agung ... kakak aku meminta untuk pulang sebentar."

"Oh ... aku kira kamu anak tunggal," ujar Sephia.

"Dua bersaudara ... aku dan Mas Agung tapi kita lain ibu, ibuku meninggal saat umurku tiga tahun, aku di rawat oleh Mama ... Mama yang menjadikan aku seperti ini sekarang."

"Oh ... hebat Mama kamu, bisa menjadikan kamu seperti ini sekarang."

Danar mengangguk, Ibu Diana memang bukan ibu kandungnya tapi sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri melebihi kasih sayang wanita itu pada Agung. Jika mau di telaah seharusnya wanita itu sakit hati saat suaminya berselingkuh di belakangnya hingga menikah lagi dan mempunyai seorang anak. Tapi apa yang dilakukan Diana saat suaminya datang membawa seorang anak yang menggemaskan, dia bukan marah namun menyambut kedatangan bocah lelaki itu dengan pelukannya.

Pernah suatu kali Danar bertanya pada wanita itu, mengapa dia tidak marah saja mengapa dia tidak membenci Danar layaknya wanita yang tersakiti oleh pengkhianatan. Jawaban wanita itu hanya satu "kamu gak salah apa-apa."

Meski hati Mama Diana sakit mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sekretaris teman bisnisnya, namun apa mau di kata semua sudah terjadi.

Demi membalas kasih sayang yang Mama Diana lakukan pada Danar, dia berbakti pada wanita itu, wanita yang membesarkannya dengan kasih sayang seorang ibu yang tidak Danar dapat sama sekali dari sewaktu kecil.

"Tapi kakak kamu menerima kamu kan?"

"Mama mengajarkan kami kasih sayang yang tulus, entah terbuat dari apa hati Mama ... beliau mencintai anak-anaknya."

Danar menghentikan langkahnya, memegang pundak Sephia. "Kamu tau, saat pertama kali aku liat kamu ... yang terlintas adalah wajah Mama, wajah tulusnya aku lihat ada di kamu ... kalian sangat mirip, aku berharap kamu mencintai aku juga dengan ketulusan hati kamu," ujar Danar membawa Sephia ke dalam dekapannya.

"Danar ...."

"Iya."

"Aku lapar," ujar Sephia mengulas senyum.

"Makan aku?" Danar mulai menciumi bibir itu. "Lebih enak makan aku," ujarnya kembali menautkan bibirnya pada bibir Sephia dan gadis itu membalasnya.

***aku juga lapar Mas Danar

enjoy reading 😘***

1
Enisensi Klara
udah lewat batas teritorial mah tuh Danar wkwkwk 🤣😂
Enisensi Klara
Udah sering aneh 2 danar nya pak
Enisensi Klara
Udah di iya iya terus masa mau pisah
Enisensi Klara
Baca ulang aku 😂😂
Enisensi Klara
Ya kali minta ijin bawa anak gadis orang bawa ke Bali tapi blm di nikahin piye Tah danar 😳😳
Enisensi Klara
Dan Kalla ku bayangjn kyk Maxim 😂
Enisensi Klara
Demi shepia aku baca ulang lagi utk sekian kalinya 😂
Enisensi Klara
Aku baca ulang lagi ini utk sekian kali nya 😇😇kangen sama KK chida 😇
Rianty Permata
Luar biasa
Deistya Nur
keren semangat terus ka 👍💪
Dewa Rana
Thor, baju satu Tali itu di bahu, bukan di lengan
Chida: mungkin melorot talinya jadi sampe ke lengan ...
total 1 replies
Dewa Rana
basement Thor bukan basemant
Chida: makasih koreksinya 🙏
total 1 replies
Dewa Rana
kayaknya danar udah punya pacar atau tunangan
Dewa Rana
visual sephia cakep 👍
Dewa Rana
basement Thor bukan basemant
Dewa Rana
baca ulang Thor
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
piwpie
JANGAAAAAAANNNNNN kasih Phiaaaaaaaaaa
piwpie
gimana sih phia... kesannya kek munafik gak sih. kok gak kayak karakter phia di awal.
piwpie
habis sama istri kakaknya sekarang sama sahabatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!