Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXIII
Hatiku kacau
Saat semua terjadi
rasaku beku
Dan kau tidak peduli
Bolehkah aku pergi
Mencari ketenangan yang menghilang
Terbawa arus keegoisan
Karena tanpa hadirnya seseorang
*****
Cuaca kota Jakarta semakin tidak menentu. Sebentar-sebentar hujan, sebentar-sebentar panas. Bahkan panasnya bisa di atas rata-rata. Sehingga banyak orang yang tidak punya imun tubuh yang baik, akan jatuh sakit. Dan ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tapi orang-orang dewasa pun mengalaminya.
Panti asuhan Ayu Kumala juga tidak luput dari situasi yang sama. Ada beberapa anak yang jatuh sakit, dan ini membuat semuanya jadi sedikit sibuk di bandingkan dengan hari biasanya. Ada dua anak yang harus di rawat di klinik terdekat. Sedangkan tiga lainnya masih bisa di rawat di rumah.
Ibu Ayu Kumala yang bertugas menunggu di klinik bergantian dengan Anne dan juga Anna sepulangnya dari sekolah. Sedangkan yang di rumah di rawat ibu Wati bersama anak-anak yang lainnya.
"Ann, nanti sepulang sekolah aku tidak bisa nunggu di klinik. Ada tugas yang harus di kumpulkan pagi-pagi. Tidak apa kan?" Anne berkata pada Anne di waktu istirahat.
"Iya gak papa. Aku bisa kok nunggu sendiri." Anna pun menjawab Anne dengan tersenyum. Dia tahu jika Anne memang butuh konsentrasi yang lebih jika sedang belajar ataupun mengerjakan tugas.
"Wahhh, makasih lho. Nanti aku usahakan cepat selesai, dan segera menyusul jika belum larut!" Anne berkata dengan senang. Tentu saja dia senang, karena Anna selalu mengerti keadaannya.
"Tidak usah Inne. Nanti malam juga anak-anak sudah pulang kok!" kata Anna menjelaskan.
"Jadi aku hanya menunggu dari sepulang sekolah hingga di jemput oleh pak Didik nanti." Anna menjelaskan bahwa anak-anak yang di rawat di klinik sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kondisi mereka sudah kembali membaik.
"Ah syukurlah... jadi gak begitu repot lagi kita. Di rumah kan bisa gantian dengan yang lain. Gak harus keluar rumah juga kayak gini!" Anna berkata dengan senangnya.
"Iya, semoga tidak ada lagi yang sakit. Kasian juga kan mereka. Ibu Mala dan ibu Wati juga jadi lebih repot" kata Anna disertai dengan berdoa.
"Aamiin..." jawab Anne mengamini doa yang diucapkan oleh Anna.
"Ya sudah aku balik kelas dulu!" Anne berpamitan, namun ada Alan yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Hai inne!" Sapa Alan dengan melambaikan tangan pada Anne.
"Hai juga!" Anne pun menjawab sapaan Alan dengan gaya yang sama.
"Tumben bentar doang?" tanya Alan karena melihat Anne yang sudah bersiap untuk kembali ke kelasnya sendiri.
"Iya , kan udah mau masuk juga ini!" jawab Anne sambil menunjukkan jam tangannya pada Alan. Alan pun terkekeh karena dia juga tahu hal itu.
"Iya tahu kok, udah sono balik!" Alan mengusir Anne yang kemudian melotot ke arahnya karena baru sadar jika sedang di kerjain Alan.
"Ahhh... asem Jawa emang. Dasar!" Anne mengumpat pada Alan. Alan kembali terkekeh dan tersenyum miring karena berhasil membuat Anne mengeluarkan jurusnya. Sedangkan Anna hanya tertawa kecil dari tempat duduknya melihat Alan yang masih saja berdebat dengan Anne.
"Woii... jam istirahat sudah selesai!" Dari tempat duduknya, Dinda berteriak mengingatkan Alan dan juga Anne.
"Yoaaa... thank you Dinda yang cantiknya seantero RT!" Balas Anne yang langsung berlari keluar setelah berhasil membuat Dinda melotot kesal.
"Hahaha... apa tadi aku tidak salah dengar?" tanya Alan pada Dinda yang masih menatapnya kesal.
"Apa?" tanya Dinda pada Alan masih dari tempat duduknya.
"Dinda yang cantik seantero RT!" jawab Alan mengulang perkataan Anne yang tadi. Setelahnya Alan tertawa lepas, kemudian berlari kecil ke tempat duduknya sendiri. Dinda tersungut-sungut dengan kesalnya. Anna hanya mengeleng melihat semua yang biasa terjadi di kelasnya ini.
*****
Suasana panti asuhan yang biasa rame terlihat sepi karena hari sudah menjelang malam. Gerimis pun ikut turun sehingga menambah suasana jadi semakin sunyi.
Anna sudah berangkat ke klinik bersama pak Didik untuk menjemput dua anak yang di rawat. Mereka sudah diijinkan untuk pulang malam ini.
Anne sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah di kamar. Anak-anak yang lain sedang berada di kamarnya masing-masing. Sedangkan yang berjaga untuk anak yang sakit bergilir dengan beberapa anak-anak yang ada.
"Kak..." Anne menoleh saat mendengar seseorang yang memanggil dirinya. Dari arah pintu yang tidak tertutup sempurna, tampak Anjani yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Ya Anjani, ada apa?" tanya Anne. Anjani berjalan mendekat ke tempat duduk Anne yang sedang mengerjakan tugasnya.
"Jani menganggu tidak kak?" tanya Anjani dengan wajah yang terlihat takut-takut.
"Tidak sayang, ada apa?" tanya Anne saat Anjani sudah ada di dekatnya. Anne mengubah posisi duduknya dan membawa Anjani duduk di ranjang yang ada di sebelahnya.
"Jani ada PR, biasanya kak Anna yang bantu. Tapi ini kak Anna belum pulang. Jani gak bisa ngerjain sendiri..." Anjani berkata dengan air mata yang hampir menetes. Dia takut tidak bisa mengerjakan PR sekolahnya.
"Oh... Ya sudah, Jani bawa buku PR_nya ke sini ya. Nanti kakak bantu!" kata Anne tersenyum. Dia menghapus air mata Anjani yang sudah menetes satu-satu. Akhirnya Anjani mengangguk dengan senang dan kembali ke kamarnya sendiri mengambil buku PR sekolahnya.
Anne mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya dengan pelan. Dia sendiri belum selesai mengerjakan tugasnya yang dia pikir terlalu banyak sehingga malam ini kemungkinan dia akan tidur larut malam.
"Derita otaku yang hanya pas-pasan" kata Anne dalam hati, dengan menepuk jidatnya sendiri.
Tidak lama Anjani kembali datang dengan membawa buku-buku tugasnya. Akhirnya Anne pun mendampingi dan mengajari Anjani mengerjakan tugas sekolahnya terlebih dahulu.
Setelah hampir setengah jam berlalu, Anjani selesai juga dengan tugasnya. Dia tersenyum senang dan lega karena ada yang bisa membantu meskipun tidak seperti Anna yang dengan mudah dia pahami.
"Terima kasih kak Inne. Maaf ya Jani merepotkan kakak." Anjani berkata dengan tersenyum dan wajah yang terlihat sangat senang.
"Iya sama-sama sayang..." kata Anne dan mengangguk saat Anjani berpamitan untuk kembali ke kamarnya sendiri.
"Jani, ada pada dek?" tanya Anna yang ternyata sudah datang dan baru saja masuk ke dalam kamar.
"Eh kak Anna sudah pulang!" seru Anjani senang dan segera memeluk Anna dengan cepat.
"Jani minta bantuan kak Inne ngerjain tugas kak" kata Anjani bercerita. Anna menanggapi cerita Anjani dengan atensi penuh sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang Jani kembali ke kamar dan istirahat ya. Cepat tidur ya!" kata Anne yang di balas dengan anggukan senang oleh Anjani.
Setelah Anjani keluar dan kembali ke kamar, Anna menatap Anna dan buku-buku tugasnya yang masih terlihat berantakan dan belum selesai.
"Apa?" tanya Anne mengerti jika sedang di pertanyakan dengan tugasnya.
"Tidak apa-apa" jawab Anna pura-pura tidak tahu, kemuadian bergegas keluar dari kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.
lanjut...