Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA YANG MENYEJUKKAN HATI.
Malam pertama di apartemen mewah milik Aurel terasa begitu canggung. Apartemen yang terletak di lantai tiga puluh sebuah gedung pencakar langit itu memiliki pemandangan kota yang luar biasa, namun suasananya sedingin es. Aurel memberikan kamar tamu yang paling luas untuk Adam, namun sejak masuk ke sana, mereka hampir tidak bertegur sapa.
Aurel berbaring di tempat tidur king sizenya, menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkecamuk. Bayangan Adam yang menyampirkan selendang putih di kepalanya saat akad nikah tadi terus berputar. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu. Ia bukan sekadar pemuda yang mengejar materi, ada kedalaman karakter yang sulit dipahami Aurel.
Setelah berjam-jam terjaga, Aurel akhirnya terlelap karena kelelahan fisik dan mental. Namun, tidurnya tak nyenyak. Ia bermimpi tentang masa sepuluh tahun lalu, masa di mana keluarganya masih utuh, persahabatan ayahnya masih murni, dan ia masih menjadi gadis remaja yang rajin beribadah sebelum kebencian dan ambisi bisnis ayahnya mengubah segalanya menjadi kaku dan materialistis.
Pukul 04.30 pagi, sebuah ketukan lembut di pintu kamar membangunkan Aurel. Ia mengerang, melirik jam digital di atas nakas.
"Siapa?" tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Ini saya, Adam," suara bariton itu terdengar dari balik pintu. "Maaf mengganggu istirahat Anda, tapi waktu Subuh sudah masuk. Jika Anda berkenan, saya sudah menyiapkan sajadah di ruang tengah. Kita bisa sholat berjamaah."
Aurel tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Sholat berjamaah? Sudah berapa lama ia tidak menyentuh mukena? Sepuluh tahun. Sejak peristiwa pengkhianatan yang dituduhkan pada ayah Adam, yang kala itu ia kenal sebagai Paman Bram keluarga Aurel seolah menjauh dari Tuhan. Ayahnya menjadi pria yang hanya percaya pada uang dan kekuasaan, dan Aurel pun terhanyut dalam arus yang sama.
"Aku... aku tidak punya mukena," jawab Aurel pelan, berharap Adam menyerah.
"Bukankah mas kawin dari saya seperangkat alat sholat? Saya sudah membawanya tadi malam. Saya letakkan di depan pintu ya," sahut Adam tenang, lalu terdengar langkah kakinya menjauh.
Aurel membuka pintu dan menemukan sebuah kotak cantik berisi mukena sutra berwarna putih bersih dengan wangi mawar yang lembut. Air mata hampir menetes dari sudut matanya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil mukena itu dan melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu. Air yang membasuh wajahnya terasa begitu dingin, seolah sedang meluruhkan debu-debu dosa yang telah mengendap bertahun-tahun.
Saat Aurel melangkah ke ruang tengah, ia melihat Adam sudah berdiri di atas sajadah hitamnya. Adam mengenakan sarung tenun dan koko putih sederhana. Ia tampak begitu berwibawa di bawah temaram lampu ruangan.
"Mari," ajak Adam lembut.
Aurel berdiri di belakang Adam. Saat Adam memulai takbiratul ihram, suara lantangnya memenuhi ruangan. Namun, saat Adam mulai membacakan surat Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surat Ar-Rahman, pertahanan hati Aurel runtuh.
Suara Adam tidak hanya merdu, tapi begitu penuh penghayatan. Setiap ayat yang dibacakan seolah ditujukan langsung ke hati Aurel yang selama ini gersang. Terutama saat Adam sampai pada ayat “Fabiayyi ala-i rabbikuma tukazziban”—maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Aurel menangis sesenggukan dalam sujudnya. Ia merasa begitu kecil, begitu angkuh dengan segala kesuksesan dunianya, padahal ia telah meninggalkan Sang Pemilik Hidup selama satu dekade. Adam tidak mempercepat sholatnya; ia memberikan waktu bagi istrinya untuk menumpahkan segala bebannya di hadapan Sang Khalik.
Setelah salam, Adam tidak langsung berdiri. Ia berbalik, menatap Aurel yang masih menunduk dengan mata sembap di balik mukena putihnya.
"Menangislah, Aurel," ucap Adam pelan. "Allah tidak pernah pergi. Kita saja yang seringkali menjauh karena merasa bisa berdiri sendiri."
Tangis Aurel pecah, perkataan Adam seperti pisau yang menghujam ke hulu hatinya. Namun perkataannya benar adanya, selama ini merasa bisa berdiri sendiri. Setelah tangis Aurel mereda, Adam kemudian memimpin doa.
Ia mendoakan agar pernikahan ini menjadi jalan hidayah bagi mereka berdua, mendoakan kelancaran urusan perusahaan, dan yang paling membuat Aurel tersentak adalah saat Adam mendoakan kedamaian bagi orang tua mereka, serta pembersihan nama baik bagi mereka yang terzalimi.
Aurel mengamini doa itu dengan suara parau. Ia merasa seolah-olah beban berat yang ia panggul selama sepuluh tahun terakhir sedikit terangkat. Saat ia menyalami tangan Adam, Adam membalasnya dengan usapan lembut di atas kepala Aurel. Membuat dada Aurel berdesir, ini kedua kalinya Adam menyentuh kepalanya, setelah akad.
Setelah sholat, Adam meminta Aurel untuk beristirahat sejenak atau bersiap-siap untuk ke kantor, sementara ia pergi ke dapur. Aurel yang merasa pikirannya jauh lebih segar memutuskan untuk mandi dan bersiap.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, aroma harum bawang putih dan rempah-rempah tercium hingga ke kamarnya. Aurel berjalan menuju ruang makan dan pemandangan di sana membuatnya terpaku untuk kesekian kalinya.
Meja makan yang biasanya kosong, karena Aurel selalu sarapan di kantor atau hanya minum kopi pahit, kini sudah tertata rapi. Ada sepiring nasi goreng kampung dengan telur mata sapi yang pinggirannya krispi, potongan mentimun yang rapi, dan segelas jus jeruk segar.
Adam sedang melepas celemeknya. "Saya tidak tahu selera sarapan Anda, tapi saya pikir nasi goreng adalah pilihan yang paling aman untuk pagi yang dingin ini."
Aurel duduk dengan ragu, menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Rasanya luar biasa enak. Jauh lebih enak daripada makanan hotel bintang lima yang biasa ia santap. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya rasa yang disebut sebagai 'rumah'.
"Kamu... kamu memasak ini sendiri?" tanya Aurel.
Adam mengangguk sambil duduk di hadapannya. "Ayah saya dulu selalu bilang, bahwa pria yang baik harus bisa melayani istrinya, minimal dalam urusan perut agar suasana hati di rumah selalu terjaga."
Mendengar kata 'Ayah', selera makan Aurel sedikit terhenti. "Adam... kenapa kamu melakukan ini semua? Kamu tahu pernikahan ini hanya karena keterpaksaan dariku."
Adam menatap Aurel dengan tatapan yang sulit dibaca. "Bagi Anda, ini mungkin keterpaksaan. Tapi bagi saya, janji yang saya ucapkan di depan ayah Anda dan di depan Allah adalah nyata. Saya tidak ingin menjadi sekadar beban atau supir. Saya ingin menjadi bagian dari hidup Anda, setidaknya selama kontrak ini berjalan."
Aurel terdiam. Keangkuhan yang biasanya menjadi perisainya kini seolah tak berguna di hadapan Adam. Ia merasa sangat terkesan. Pemuda sepuluh tahun di bawahnya ini jauh lebih dewasa daripada para pengusaha yang mengantre untuk meminangnya.
"Adam," panggil Aurel sebelum ia berangkat. "Terima kasih untuk Subuhnya. Dan terima kasih untuk sarapannya."
Adam tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa sampai ke mata. "Sama-sama, Istriku."
Panggilan itu membuat pipi Aurel merona merah, sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Namun, di balik rasa haru itu, Adam menatap kepergian Aurel dengan tekad yang semakin bulat.
"Aku akan mengembalikan cahaya di mata itu, Aurel. Dan itu dimulai dengan membongkar kebohongan yang telah memisahkan keluarga kita," batin Adam sambil meremas pelan slip transfer lama yang ia simpan di saku celananya.