Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*31
Sementara itu, wajah Rain terlihat sekali sangat tidak baik-baik saja. Ada perasaan kecewa, terluka, sedih, pilu, dan masih banyak lagi perasaan kecewa lainnya yang sedang tercampur di raut wajah itu.
Buliran bening jatuh lagi dengan sangat jelas. Tawa pahit langsung Rain sungguh kan. Bersama dengan gelengan kepala, dia mencoba untuk menolak apa yang baru saja telinganya dengar.
"Ain. Kamu bohong, bukan? Barusan, apa yang kamu katakan itu tidak benar 'kan, Aina? Itu bohong 'kan? Semuanya tidak nyata, kan Aina?"
Rain bangun dengan tubuh lemah. Terseok-seok karena kaki sudah sangat tidak kuat untuk menopang beratnya tubuh. Rain mendekat, lalu mencengkram erat kedua pundak Aina.
"Katakan, Ain! Kamu bohong padaku, bukan? Kamu tidak sungguh sudah menikah dengannya kan Aina."
Sekarang, tangan Rain langsung mengguncang tubuh Ain secara perlahan. Nada suara Rain pun sedikit meninggi kali ini. "Katakan, Ain! Anak itu adalah anakku! Kamu tidak menikah dengan orang lain, bukan?"
Avin tidak lagi bisa diam saat melihat Rain mengguncang tubuh adiknya. Dia turunkan Rafka dari gendongan, lalu dia layangkan pukulan ke wajah Rain.
"Lepaskan tangan kotor mu dari adikku!"
Buk! Satu pukulan mendarat di bibir Rain. Sudut bibir itu langsung pecah dan terlihat memerah seketika.
"Berani sekali kamu menyentuh adikku dengan tangan kotor mu itu." Kesal Avin bukan kepalang.
Tapi wajah Rain seketika terlihat cerah. Bukan karena pukulan yang Avin jatuhkan tidak memberikan rasa sakit pada wajahnya. Melainkan, karena kata-kata yang baru saja Avin ucapkan membuat hatinya bahagia.
"Adik? Kamu bukan suaminya?"
"Siapa bilang aku suaminya? Adikku adalah hal yang paling berharga dalam keluarga kami. Siapa yang berani mendekatinya, ha?" Karena kemarahan yang sangat tinggi, Avin malah berkata jujur tanpa sadar. Dia malah keluar dari rencana yang Ain harapkan berjalan dengan sangat lancar.
Saat Ain menggelengkan kepala karena ucapan kakaknya, Rain malah tersenyum penuh semangat. Seketika, dia langsung menoleh ke arah Ain.
"Kamu bohong padaku, Ain. Dia kakak mu, bukan suami kamu. Penantian ku selama ini, ternyata tidak sia-sia. Lalu, anak itu pastilah anakku."
"Apa!" Kesal hati Avin semakin meninggi. "Kamu! Kurang ajar!" Avin ingin memukul Rain lagi.
Tuan muda itu kini terlihat pasrah dengan wajah yang sangat bahagia. "Pukul lah aku jika itu yang kamu inginkan. Aku rela kamu memukul aku sebanyak mana yang kamu mau. Selagi kamu bukan suaminya, maka kamu bisa memukul aku sampai kamu puas."
"Kamu!"
"Kak Avin, cukup! Jangan lakukan itu."
"Ain." Avin menatap adiknya dengan tatapan bingung.
Sedangkan Rain, dia semakin besar kepala sekarang. Senyum manis kembali terkembang. "Ain. Kamu masih peduli sama aku, bukan? Kamu-- "
"Cukup. Aku sama sekali tidak merasa perduli padamu sedikitpun. Karena diantara aku dan kamu, sedikitpun tidak ada hubungan apapun lagi."
"Tapi, Ain. Anak-- "
"Dia bukan anakmu. Dia adalah anakku. Anak yang aku besarkan sendiri dengan susah payah."
Mata Rain kembali berkaca-kaca. Dia tahu, kesalahannya sangat besar. Kata maaf saja tidak akan mampu untuk membayar semua kesalahan itu. Dia telah menyakiti Aina sangat dalam. Dia telah membuat wanita itu kehilangan sandaran di saat wanita itu membutuhkan.
"Ain. Aku salah. Tolong, berikan aku satu kali saja kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah aku perbuat. Aku janji, kali ini, aku gak akan buat kamu kecewa lagi. Gak akan pernah."
"Hah! Persetan dengan janjimu yang murahan itu. Kamu munafik! Gak akan pernah bisa dipercaya. Adikku tidak butuh janji apapun dari kamu."
"Ain. Ayo pergi! Jangan pernah melunakkan hatimu untuk bajingan seperti dia. Dia sam*pah yang tidak layak kamu ingat sedikitpun."
Avin meraih tangan adiknya setelah keponakannya berhasil dia gendong. Sekarang, kedua orang yang harus ia lindungi telah pun ada dalam genggaman tangan. Avin membawa keduanya pergi sekarang.
Rain yang melihat hal tersebut berusaha untuk menahan. Tapi tenaganya kalah jauh dari Avin. Mana Ain menolak lagi. Mana bisa dia mempertahankan kepergian itu seorang diri.
"Ain. Tunggu! Jangan pergi!"
Rain terus berusaha menahan kepergian Aina. Tapi sayangnya, wanita pujaan hatinya ini, hatinya masih belum melunak. Ain terus membawa anaknya masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Avin yang telah berhasil membuat jarak untuk Rain dari orang yang ia sayangi, sedang menatap Rain dengan tatapan tajam. "Jauhi adikku! Jangan pernah muncul di depannya lagi. Jika tidak, kamu dan keluargamu akan tahu akibatnya."
Rain yang tahu Avin adalah kakak dari Aina, mana mungkin mau meninggikan suara di depan Avin lagi. "Ku mohon, aku sangat menyayanginya. Aku sudah menunggunya sejak lama. Ku mohon, jangan pisahkan kami lagi. Aku mohon padamu, izinkan aku bicara dengannya lebih lama."
"Pah! Persetan dengan perasaan mu. Kamu bukan siapa-siapa bagi adikku. Jangan coba-coba mendekatinya lagi."
"Kakak. Aku mohon, tolong-- "
"Tutup mulutmu!" Potong Avin dengan cepat. "Aku bukan kakakmu. Jangan sembarangan memanggil aku dengan panggilan yang kamu tidak layak untuk menyebutnya."
Mana mungkin Rain merasa rendah diri akan ucapan-ucapan itu. Karena yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Aina. Baginya, tidak perduli dia merendahkan diri serendah apapun asal Ain bisa kembali ke sisinya. Itu bukanlah masalah jika dia merendahkan diri di depan keluarga Ain.
Tidak cukup merendahkan nada bicara, kali ini, Rain malah berlutut di depan Avin. "Aku mohon, tolong izinkan aku bicara dengannya lagi. Meskipun kamu anggap aku tidak layak, tapi aku tidak akan menyerah."
Orang bilang, kelemahan dari kekerasan adalah kelembutan. Itu terbukti dengan Avin yang tidak lagi punya emosi untuk melawan Rain untuk saat ini. Avin benar-benar kehabisan kata-kata sekarang. Ingin menggunakan kekerasan juga tidak bisa.
Pada akhirnya, Avin hanya bisa mengabaikan Rain. Dia beranjak dengan cepat masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkan Rain di sana tanpa kata. Dia benar-benar mengabaikan pria tersebut karena tidak lagi tahu harus melawannya dengan apa.
"Hah! Benar-benar sial." Gumam Avin sambil menjalankan mobil dengan cepat.