kisah seorang anak laki laki yang memiliki keistimewaan dari lahir yaitu mata batin. bukan hanya bisa melihat mahkluk gaib namun bisa menyembuhkan dan mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan hal gaib. perjalanannya bahkan sampai ke alam gaib untuk membantu jin yang sedang kesulitan. bukan hanya manusia saja yang bisa di obati bahkan mahkluk tak kasat mata juga di obati. ikuti terus kisahnya dan petualangannya, semoga kalian terhibur dengan karya kami ini.
terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfrelen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Malam hari terasa mencekam di kampung salur. akibat dari teror pocong tersebut para warga tidak ada yang berani keluar malam.
semua pintu pintu tertutup rapat bahkan jendela pun tertutup rapat. tidak ada suara apa pun di kampung tersebut sunyi dan senyap.
Tok,,,tok,,,tok,,,
terdengar suara ketukan pintu, Ibu Wati dan Rahma sontak kaget. mereka saling bertatapan.
" mbak itu ada yang ketok pintu " ucap Rahma
" iya Rahma mbak juga dengar, biarin aja jangan di buka " kata Wati
mereka jadi merinding dan ketakutan, lalu terdengar lagi suara ketukan dari pintu.
tok,,,tok,,,tok,,,
Ibu Wati dan Rahma jadi tegang, mereka semakin rapat duduknya.
" mbak gimana ini, malah di ketok lagi " ucap Rahma
" udah biarin aja Rahma, jangan di buka pokoknya kita di sini aja " kata Wati tegas
Azam tiba tiba langsung menuju ke pintu untuk membukakan pintu.
melihat azam yang mau membuka pintu Ibu Wati kaget dan ingin memberi tahu agar jangan di buka tapi sudah telat.
ceklek,,,
pintu terbuka, Ibu wati dan Rahma langsung histeris sambil menutup mata.
pintu kini terbuka dan ternyata Pak Fathir yang sudah menunggu lama di luar karena pintu tidak di bukakan.
" kenapa lama sekali buka pintunya, Ayah udah lama nungguin dari tadi " ucap Fathir
" Ibu Yah yang suruh jangan di bukain, Azam juga bingung liat ibu bilang gitu " kata Azam
Ibu Wati mendengar adanya percakapan di luar membuka matanya ternyata sang suami yang dari tadi ketok pintu.
mereka langsung lega, karena mereka pikir adalah pocong. Pak Fathir lalu masuk kedalam rumah sambil memandangi istrinya dan juga Rahma.
" kalian ini kenapa ? udah dari tadi juga ketok pintu malah di biarin aja " ucap Fathir
" maaf Yah kami kira itu pocong, jadi gak di bukain pintunya " kata Wati
" iya mas kami udah deg degan dari tadi mas " timpal Rahma
" Ibu lupa ya kalau Ayah emang sering jam segini pulangnya, mana ada pocong yang ketuk ketuk pintu. tangannya aja gak ada " ucap Fathir
" Ayah gak tau apa di kampung kita ada teror pocong keliling " kata Wati
" iya Ayah juga baru dengar tadi pas pulang, terasa sepi kampung ini " ucap Fathir
Pak Fathir segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dan ikut duduk bersama
" untung aja ada Azam yang bukain, kalau gak ayah bakalan tidur di luar " merengut Fathir
" iya Yah maaf, kami kan cuma was was aja karena ada teror itu " kata Wati
azam hanya mendengarkan orang tuanya berbicara mengenai tentang teror di kampungnya. di rumah kepala desa sudah ada Ki Ambar dan juga beberapa warga yang berkumpul.
mereka sudah bersiap untuk melakukan proses pengusiran pocong tersebut. untuk bahan bahannya sudah di siapkan semenjak sore tadi.
" bagaimana Ki apa sudah bisa kita mulai prosesnya " ucap Pak Kades
" bahannya sudah lengkap jadi kita bisa mulai untuk prosesnya " kata Ki Ambar
" baik Ki, kalau begitu kita ke lapangan saja ki untuk mulai ritualnya " ucap Pak Kades
" tempatnya sudah cocok, sebaiknya kita kesana dan yang lainnya ikut juga " kata Ki Ambar
beberapa warga yang di pilih pak kades sebenarnya takut untuk ikut. tapi demi kampungnya terbebas dari teror, mereka terpaksa ikut.
" kenapa lah pak kades malah pilih saya yang ikut ritualnya. sekian banyak orang malah aku yang di pilih " ucap warga yang berbisik dengan warga lainnya
" iya, malah serem banget lagi suasana malam ini, gak kek biasanya " ucap warga lain
" husshhh,,udah diam aja kita ikutin saja demi kampung kita ini biar aman " ucap warga lain yang menenangkan warga lainnya.
mereka kini tiba di lapangan untuk proses pengusiran. para warga membantu menyiapkan dan menggelar bahan bahan ritual yang di minta Ki Ambar.
Ki Ambar memulai ritualnya dan mulai komat kamit. pak kades dan para warga lainnya ada di belakang Ki Ambar yang tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh.
mereka semua hanya diam saja dan tidak bersuara. tapi yang tidak mereka ketahui ada sosok pocong yang mendekati para warga.
Entah sudah berapa lama mereka menunggu tapi tidak juga muncul. mereka celingukan mencari sosok pocong.
" kenapa gak muncul ya pocongnya " tanya para warga yang berbisik bisik.
" aku juga gak tahu, udah berapa jam ini gak juga muncul " ucap yang lain
" Ki kenapa belum juga muncul ya pocongnya " tanya pak kades
" saya juga gak tau pak, kok tumben tidak muncul sosoknya " heran Ki Ambar
mereka semua kebingungan kenapa malah jadi seperti ini kejadiannya.
yang tidak di ketahui warga ternyata pocong tersebut juga ikut gabung dengan para warga yang juga ikut menonton.
" pak...ini pada cari apa ya kok malah rame di sini " tanya pocong yang di sebelah warga
" ini kami cari pocong, malah gak muncul muncul dari tadi, karena mau di usir " kata warga yang di tanya
Pocong yang mendengar hal itu spontan kaget. karena sejak tadi dia sudah ada di sekitar warga.
warga yang di tanya tadi langsung kaget, kenapa ada warga yang ikut tapi kok malah tanya lagi ngapain.
warga itu pun menoleh dan melihat ada sosok pocong yang tadi tanya sama dirinya.
" po...po..po..." ucap warga yang ketakutan tapi tidak kunjung keluar suara dari mulutnya
warga tersebut kemudian lari terbirit birit, warga yang sebelahnya juga menoleh karena temannya yang berlari.
" se...se...set " saking takutnya dia juga ikut lari. kemudian seperti efek domino seluruh warga berlarian satu persatu dan hanya meninggalkan Pak kades dan Ki Ambar.
" lah kenapa para warga kampung ini ? tadi tanya kenapa aku gak muncul, giliran aku muncul malah lari " gumam pocong heran
gimana tidak lari karena sosoknya yang menyeramkan dengan wajah kulit gosong mata melotot tidak ada kelopaknya, hidung tidak ada alias berlubang dan mulut yang tidak ada bibir hanya giginya saja seperti menyengir.
" Ki kenapa rasanya bulu kuduk saya merinding ya Ki " ucap Pak Kades sambil mengusap belakang lehernya
" biasa itu, nama juga kita lagi proses pengusiran " kata Ki Ambar santai
pak kades punya firasat yang gak enak karena merasa kalau ada sesuatu yang janggal.
Ki Ambar yang lagi fokus dengan komat kamitnya tidak sadar kalau sosok pocong yang kini kebingungan tepat di belakang mereka.
merasa kalau malam ini tidak berhasil Ki Ambar menghentikan ritualnya lalu menoleh dan seketika itu.
" Aaaaaaaaaa !!! " teriak Ki Ambar langsung pingsan.
" Ki bangun Ki ! kenapa pingsan ki !! " ucap Pak Kades panik
pak kades kemudian ikut menoleh dan terkejut ada sosok pocong yang sudah ada di belakangnya. dan juga para warga sudah tidak ada lagi.
" po...poconggggg " teriak pak kades lalu berlari dengan kencang.
saat pak kades berlari sebentar dia teringat Ki Ambar yang pingsan. kemudian balik lagi langsung menggendong Ki Ambar dan berlari dengan sangat kencang.
" aneh banget ini para manusia, malah main lari larian segala, belum juga aku mau ngomong untuk minta tolong " gumam pocong yang bingung di tengah lapangan