Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Keyvandi, lelaki itu sekarang masih berada di dalam ruangan kepala rumah sakit, ia mendudukkan dirinya di sofa sambil termenung. Secangkir kopi menjadi teman santainya malam ini.
Ceklek
Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan seorang lelaki dengan kemeja berwarna putih dan celana kain yang memasuki ruangan tempat Keyvandi duduk, jangan lupakan dasi yang terlikit di lehernya sudah sangat berantakan.
Keyvandi memicingkan matanya curiga, "Apa yang terjadi padamu?"
Lelaki itu mendudukkan dirinya di samping Keyvandi, kemudian ia mengusap wajahnya frustasi. "Huh, wanita benar-benar merepotkan, tapi jika tidak ada mereka dunia ini akan sangat monoton."
Keyvandi menatap lelaki di sampingnya itu dengan kerutan di dahinya, "Kau terlihat sangat frustasi Bro, ceritakan padaku, apa yang membuatmu sefrustasi ini."
Lelaki tadi membuang napasya kasar, "Kau tau, Aruna benar-benar, hari ini semua yang kulakukan selalu salah di matanya, aku sampai tidak tau lagi harus bagaimana, oh Tuhan."
Keyvandi terkekeh mendengar keluhan dari mulut sang sahabat, Erlando, lelaki itu adalah lelaki yang dulunya sangat playboy jaman Keyvandi masih sekolah dulu, tapi Aruna, gadis itu berhasil menaklukkannya, namun Erlando seringkali mengeluh tentang Aruna karena jika Aruna sedang dalam mood yang buruk maka Erlando yang akan terkena imbasnya.
"Hei tenanglah, kau seharusnya senang di saat Aruna masih selalu marah atau ngambek padamu, itu tandanya gadis itu masih membutuhkanmu, ia masih menyayangimu, yang sulit adalah ketika ia tidak lagi marah padamu dan sudah berkata iya dengan apapun yang kau lakukan."
Erlando menggelengkan kepalanya, "Huh, entahlah. Untung saja aku sangat mencintainya, jika tidak, aku sudah membuangnya ke laut," kesal Erlando.
Keyvandi hanya tersenyum menanggapi itu.
"Oh ya Van, apa kau tidak ingin melihat Despina?"
Keyvandi yang tadinya diam itu langsung menoleh ke arah sang sahabat. "Tentu saja aku mau, tapi di luar masih ada Reza dan juga sahabatnya itu bukan?"
Erlando tersenyum, "Itu masalah gampang, sebentar."
Erlando beranjak dari sofa, lelaki itu langsung masuk ke dalam ruangan sang ibu untuk mengambil sesuatu. Tidak lama kemudian Erlando pun kembali.
"Nah, gunakan ini, jangan lupa maskernya."
"Untuk apa?" Heran Keyvandi dengan apa yang di berikan Erlando.
"Sudah, gunakan saja, kau ingin melihat Despina bukan?"
Akhirnya Keyvandi menuruti apa yang dikatakan oleh Erlando, lelaki itu langsung menggunakan baju yang Erlando berikan.
"Bagaimana?"
Erlando menganga lebar, lelaki itu sangat takjub dengan apa yang digunakan oleh sahabatnya itu.
"Wah, kau sangat keren bro, aku takjub melihatnya. Aku yakin, tidak ada yang bisa menandingi wajahmu itu, tidak akan ada yang sama."
Keyvandi memutar bola matanya malas, "Kau ini bodoh atau bagaimana?"
"Kenapa kau mengataiku."
"Ck, jangan lupakan aku kembar 3, tentu saja saudara kembarku memiliki wajah yang sama denganku."
Erlando menepuk keningnya pelan, "Astaga lupa jika kau kembar 3, tentu saja Keyvando lebih tampan darimu bro, dan Keyvara yang paling cantik."
Sudah Keyvandi duga, pasti sahabatnya itu akan kembali menistakannya.
"Ah sudahlah lupakan, sekarang gunakan maskermu ini."
Erlando menyerahkan masker kepada Keyvandi, dan diterima lelaki itu dengan senang hati. "Bagaimana?"
"Lebih baik."
Keyvandi menganggukkan kepalanya, "Hmm baiklah, oh ya, bagaimana dengan rambutku."
Erlando melihat penampilan Keyvandi dari atas sampai bawah, lalu pandangan mata Erlando terfokus pada warna rambut Keyvandi. "Benar juga, huh, aku lupa jika kau seorang selebritis, rambutmu itu terlalu mencolok. Tapi, oh aku, atua, sebentar."
Erlando masuk lagi ke kamar kecil yang ada di ruangan sang ibu, lalu ia membawa sesuatu untuk menutupi rambut Keyvandi.
"Nah sudah, sekarang kau bawa stetoskop ini," ujar Erlando sambil menyerahkan stetoskop pada Keyvandi.
"Baiklah, lalu apalagi? Huh, jika bukan karena Despina aku tidak akan berdandan seperti ini."
"Hei, jangan mengeluh, ini demi cinta."
Ya Tuhan, selamatkan Keyvandi dari temannya yang alay itu, kadangkala Keyvandi ingin sekali mengeluh memiliki sahabat absurd seperti Erlando, tapi di sisi lain, hanya Erlandolah yang sangat mengerti dirinya dari dulu.
Keyavndi menghela napasnya, "Sudahkan?"
"Ya sudah, sekarang sana, kau keluar dari ruangan ini lalu menuju ke ruangan tempat Despina di rawat."
Keyvandi kemudian langsung ke luar dati ruangan itu. Ia berjalan menyusuri lorong rumh sakit yang terlihat masih ramai dan lampu yang terang itu menuju ruangan tempat Despina di rawat.
Sesampainya di depan ruangan Despina, Keyvandi di kejutkan dengan dua orang lelaki yang mungkin seumuran dengannya, mereka mendekat ke arah Keyvandi.
"Dokter, saya mohon, izinkan kami bertemu dengan Despina."
Keyvandi jadi gugup sendiri, tapi kemudian.lelaki itu berusaha tenang, ia sudah terbiasa bermain film dan juga drama, jadi mungkin ini akan menjadi hal yang mudah.
Keyvandi membalikkan badannya, lalu menghadap kearah dua lelaki yang tak lain adalah Reza dan juga Leo.
Keyvandi tampak sedikit terkejut, "Bukankah dia Leo Pradana? Ada hubungan apa dia dengan Despina?" Batin Keyvandi ketika melihat salah satu dari lelaki itu.
"Mohon maaf, untuk saat ini pasien benar-benar belum bisa di jenguk, mungkin nanti jika sudah sadar baru bisa, kalian tidak perlu cemas, karena pasien dibawah pengawasan rumah sakit ini secara langsung, jangan meragukan keahlian para dokter yang ada di sini, kami semua bekerja secara profesional dan memuaskan para pasien."
"Tapi dok..."
Keyvandi menggelengkan kepalanya menanggapi, "Tolong jangan membuat kami menjadi serba salah, anda cukup ikuti peraturan saja."
"Dok, saya ini kakaknya, daya juga mengkhawatirkan aduk saya, apa salah jika seorang kakak ingin melihat kondisi adiknya?"
"Ternyata dia adalah kakak dari kekasihku, salahku selama ini tidak pernah mencari tau tentang Despina, aku jadi tidak tau jika Despina adalah adik dari Leo Pradana," Batin Keyvandi lagi.
Keyvandi menggelengkan kepalanya, kemudian lelaki itu masuk ke dalam tanpa memperdulikan panggilan dari Reza dan Leo.
"Huh, akhirnya aku dapat melewati kedua orang itu," gumam Keyvandi, lelaki itu melepas masker yang ia gunakan untuk menutup mulut dan juga hidungnya, kemudian ia langsung berjalan ke arah Despina yang masih terbaring di atas Brankar ruang rawat itu.
Pandangan mata Keyvandi berubah menjadi sendu, ia mendudukkan dirinya di kursi samping brankar, kemudian menatap Despina yang tidak membuka matanya itu.
Keyvandi mengusap rambut ikal Despina pelan, "Sayang, aku merindukanmu," ujar Keyvandi, lelaki itu mengecup kening Despina lama, kemudian mengambil tangan kanan Despina dan mengelusnya.
"Segeralah bangun sayang, jika kau bangun, aku berjanji akan menjagamu, aku berjanji akan melindungimu,.aku tidak akan membiarkanmu seperti ini lagi, aku berjanji padamu."
Tes
Setetes airmata jatuh di pipi Keyvandi, lelaki itu memang merasa sangat sedih karena sang kekasih yang tak kunjung sadarkan diri, "Andai saja aku tidak meninggalkanmu ke Singapura saat itu, mungkin hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Aku menyesal sayang "
Lelaki itu merasa penyesalan menyelimuti hatinya, ia berpikir jika hal ini adalah salahnya, sehingga Despina seperti sekarang. Keyvandi termenung, tangan lelaki itu masih menggenggam tangan Despina yang terbebas dari infus itu. Namun tiba-tiba lelaki itu terkejut saat mendapati respon berupa gerakan kecil dari jari mungil gadisnya itu.
"Sayang! Dokter, ke ruangan VVIP kelas A sekarang, pasien merespon."
.
.
.
TBC