"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
"Satu minggu, Jim. Jika lewat satu detik saja dari waktu yang kau janjikan, aku akan menyusulmu ke Austria dan menyeretmu pulang dengan tanganku sendiri."
Lea berbisik tepat di depan bibir Jimmy, napasnya yang masih memburu terasa panas di kulit pria itu.
Di dalam mobil yang pengap oleh aroma gairah yang baru saja mereda, Lea mencengkeram kerah kemeja Jimmy seolah nyawanya bergantung pada Jimmy.
Jimmy menangkup wajah Lea dengan kedua tangannya yang besar. Ia menatap mata kecokelatan yang kini berkaca-kaca itu dengan intensitas yang mampu meruntuhkan pertahanan siapa pun.
"Aku berjanji, Lea. Aku pergi untuk menjemput sisa masa laluku agar aku bisa memberikan masa depan yang utuh untukmu. Satu minggu. Tidak kurang, tidak lebih."
Jimmy menarik Lea kembali ke dalam satu ciuman terakhir. Ciuman itu terasa berbeda, ada rasa haus yang putus asa, rasa takut akan kehilangan dan janji suci yang tertanam di dalamnya.
Lidah mereka bertautan untuk terakhir kalinya, saling melu-mat seolah ingin menyimpan rasa satu sama lain di dalam ingatan terdalam sebelum raga mereka terpisah jarak ribuan mil.
"Jim..." gumam Lea saat tautan itu terlepas. Ia menyandarkan keningnya di kening Jimmy. "Entah kenapa, aku merasa ini bukan hanya soal satu minggu. Rasanya seolah kau tidak akan kembali. Dadaku sesak, Jim."
Jimmy mengecup kelopak mata Lea yang tertutup. "Jangan dengarkan rasa takutmu. Aku adalah James Harley. Tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa menahanku untuk kembali pada wanitaku. Sekarang, turunlah. Kau sudah terlambat kelas."
Dengan berat hati, Lea merapikan gaunnya yang sedikit berantakan. Ia mengenakan kembali blazer-nya untuk menutupi jejak-jejak merah yang ditinggalkan Jimmy di lehernya.
Sebelum keluar, ia menatap Jimmy sekali lagi, memberikan senyum paling manis sekaligus paling sedih yang pernah Jimmy lihat.
"Aku mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu, Lea."
Pintu mobil tertutup. Lea berdiri di trotoar depan gerbang kampus, menatap SUV hitam itu perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan jalan.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, udara di sekitarnya mendadak terasa dingin dan mencekam. Perasaan sesak di dadanya tidak kunjung hilang, justru semakin merambat naik ke tenggorokannya.
"Kembalilah tanpa luka." Lea memeluk tasnya erat-erat sembari mengatur napas. Ia berbalik dan mulai berjalan masuk menuju koridor kampus yang tampak lebih sepi dari biasanya.
Suara sepatunya yang beradu dengan lantai bergema dengan ritme yang tidak menyenangkan.
Tap...tap...tap...
Lea berhenti mendadak. Ia merasa seolah-olah gema langkah kakinya tidak berhenti tepat saat ia berhenti.
Ada satu ketukan tambahan yang sangat halus, hampir tidak terdengar, namun cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia menoleh ke belakang. Koridor panjang di belakangnya kosong. Hanya ada deretan loker dan bayangan pohon yang bergoyang terkena angin dari jendela besar di ujung lorong.
Namun, insting yang diasah oleh pelatihan rahasia ayahnya dan pengawasan selama bertahun-tahun, berteriak kencang.
"Seseorang mengikutiku?" batin Lea mempercepat langkahnya.
Lea merogoh tasnya, mencari pistol glock kecil yang selalu ia bawa, tapi ia teringat bahwa ia baru saja mengganti tas pagi ini dan senjatanya tertinggal di laci meja riasnya.
"Sial," umpatnya lirih.
Ia berbelok menuju area perpustakaan yang lebih ramai, namun jalan pintas yang ia ambil justru melewati taman belakang kampus yang rimbun dan sepi.
Suasana semakin sunyi. Lea mulai berlari kecil, matanya liar memperhatikan sekeliling.
Srak!
Suara ranting patah dari arah semak-semak di sebelah kanannya membuat Lea tersentak. Ia berhenti, tubuhnya dalam posisi siaga.
"Siapa di sana?! Aaron? Keluar kau, pengecut!" serunya.
Tidak ada jawaban.
Lea terus melangkah mundur, matanya tidak lepas dari semak-semak itu. Saat ia berbalik untuk lari menuju gedung utama, sesosok pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Nona Frederick, anda seharusnya tidak datang ke kampus hari ini," ucap seseorang.
Lea mencoba memberikan tendangan putar ke arah rahang pria itu, namun pria itu dengan cepat menangkap kakinya dan mendorongnya ke dinding di samping mereka.
Dugh!
Punggung Lea menghantam keras, membuatnya kehilangan napas sejenak.
"Lepaskan aku! Ayahku akan membunuhmu!" teriak Lea, ia mencoba merogoh ponselnya, namun pria itu merampasnya dan menghancurkannya dengan satu injakan.
"Tuan Daren ingin anda menjadi tamu istimewa kami sementara putra sulungnya sibuk di Austria," ucap pria itu sambil mengeluarkan sapu tangan yang sudah dibasahi cairan kimia.
Lea berontak liar, ia berhasil mendaratkan satu pukulan di wajah pria itu. Hanya saja, tenaga pria itu terlalu besar. Sapu tangan itu membekap mulut dan hidungnya. Bau menyengat segera memenuhi paru-parunya.
Pandangan Leana mulai kabur, dunianya seolah berputar. Hal terakhir yang ia ingat sebelum kegelapan merenggut kesadarannya adalah wajah Jimmy yang sedang tersenyum di dalam mobil tadi.
"Jimmy benar, seharusnya aku tidak pernah pergi sendirian tanpa pengawasan," batin Lea.
"Bawa dia!" titah pria itu pada anak buahnya.
*
*
Langit Milan siang itu tampak begitu biru, nyaris transparan, dengan gumpalan awan putih yang berarak tenang seperti kapas.
Namun, ketenangan di atas sana berbanding terbalik dengan gemuruh di dada Jimmy. Ia berdiri di landasan pacu pribadi, menatap layar ponselnya yang kini kehilangan sinyal, tepat sebelum ia menginjakkan kaki di tangga pesawat.
"Jim, kita harus segera berangkat. Koordinat di Austria sudah terkunci dan cuaca sedang memburuk di sana. Kita tidak punya banyak waktu lagi," tegur salah satu anak buah kepercayaannya, memecah lamunan Jimmy.
"Perasaanku tidak enak. Pastikan tim di kediaman Frederick tetap siaga dua puluh empat jam. Jangan biarkan satu pun lalat mendekati Lea."
"Semua sudah dalam posisi, Jim. Mari, burung besi ini harus segera lepas landas."
Jimmy akhirnya melangkah masuk ke dalam kabin. Saat pintu pesawat tertutup rapat, ia menempelkan keningnya pada jendela kecil, menatap daratan Milan yang perlahan menjauh dan mengecil.
"Kuharap kau baik-baik saja," gumamnya.
o ya, sy pndtang Bru di karya mu 🙏🙏🙏
🤣🤣🤣smpe mules 🤣