"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
"Sebenarnya aku dan Lea—"
Jimmy menggantung kalimatnya. Lidahnya mendadak kelu, seolah ada beban ribuan ton yang menahan suaranya untuk mengakui apa yang terjadi antara dirinya dan Lea.
Jimmy menatap Diego, mencari celah apakah pria di depannya ini sedang menyiapkan peluru ataukah benar-benar bertanya sebagai seorang sahabat.
Namun, belum sempat satu kata kejujuran keluar dari bibir Jimmy, pintu ruang kerja itu terbuka.
"Papa! Jimmy! Kenapa lama sekali, sih?"
Lea menyelonong masuk tanpa mengetuk. Dengan penuh percaya diri, ia langsung merapat ke sisi Jimmy, melingkarkan kedua tangannya dengan erat di lengan kekar pria itu.
"Kau tidak lihat Papa sedang bicara serius dengan Jimmy, sayang?"
"Serius apa lagi? Aku harus pergi ke kampus siang ini, Pa! Ada kelas dosen galak yang tidak boleh kutinggalkan," rengek Lea sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jimmy. Ia melirik Jimmy sekilas dengan kerlingan nakal yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Lalu?"
"Jimmy adalah satu-satunya orang yang bisa menyetir dengan cepat tapi tetap aman. Kalau pakai supir lain, aku bisa terlambat!"
Diego memperhatikan kedekatan mereka. Ia melihat bagaimana tangan Lea seolah tidak mau lepas dari Jimmy, dan bagaimana Jimmy, sang pembunuh berdarah dingin itu, hanya diam mematung dengan wajah kaku namun tidak menolak sentuhan putrinya.
"Kudengar tadi kalian bicara soal pernikahan?" tanya Lea tiba-tiba, membuat jantung Jimmy nyaris melompat keluar dari dadanya.
Jimmy menegang. Ternyata gadis ini menguping di balik pintu.
Diego tertawa kecil, kecurigaannya yang sempat memuncak tadi pagi di meja makan mendadak mencair melihat sikap manja putrinya yang tampak normal seperti biasa.
"Hanya pembicaraan masa depan, Lea. Papa ingin memastikan pengawalmu ini punya rencana jangka panjang."
"Rencananya adalah mengantarku sekarang, kan, Pa?" Lea menarik-narik lengan Jimmy. "Ayo, Jim! Cepat! Aku tidak mau berdiri di sini sampai papa mulai berceramah soal logistik kargo lagi. Ayo!"
Jimmy melirik Diego, meminta izin secara resmi. Sementara Diego hanya mengibaskan tangannya.
"Pergilah. Jaga dia, Jim. Dan ingat pembicaraan kita tadi," ucap Diego.
"Tentu, Diego," balas Jimmy singkat.
Lea bergegas menarik Jimmy keluar dari ruang kerja, setengah berlari menyusuri koridor mansion, mengabaikan tatapan bingung para pelayan.
Begitu mereka sampai di area parkir dan masuk ke dalam mobil milik Jimmy, Lea segera menutup pintu rapat-rapat.
"Hahahaha! Jim! Kau harus lihat wajahmu tadi!" Lea tertawa sampai matanya berair, ia memukul-mukul dasbor mobil dengan gemas. "Wajahmu pucat sekali! Kau terlihat seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri cokelat di dapur!"
Jimmy mendengus, namun sudut bibirnya tidak bisa menahan senyum tipis. Ia melonggarkan kerah kemejanya yang terasa mencekik sejak tadi.
"Kau gila, Lea. Kau menguping pembicaraan kami?"
"Tentu saja! Aku harus memastikan pria tua-ku ini tidak dihajar habis-habisan oleh Papa," goda Lea. Ia bergeser mendekat, meski terhalang konsol tengah, ia tetap berusaha menyentuh lengan Jimmy.
"Jadi, kau bilang pada Papa kau akan menikahiku segera setelah menemukan ibumu?" tanya gadis itu.
Jimmy menepi sebentar di bahu jalan yang sepi, lalu memutar tubuhnya menghadap Lea. Tatapannya kembali dalam, intens, dan penuh dengan kepemilikan.
"Itu bukan sekadar jawaban untuk menyenangkan ayahmu, Lea. Itu sebuah janji."
Lea berhenti tertawa. Pipinya merona merah mendengar keseriusan dalam suara Jimmy.
"Kau sungguh-sungguh?"
"Malam itu bukan hanya sekadar efek obat, Lea. Bagiku, itu adalah sumpah." Jimmy mengusap pipi Leana dengan ibu jarinya. "Aku akan menjemput ibuku, aku akan menghancurkan Daren, dan setelah itu, aku akan datang pada ayahmu bukan sebagai pengawal, tapi sebagai pria yang meminta haknya untuk memilikimu selamanya."
Lea tersenyum manis, lalu menarik tangan Jimmy dan mengecup telapak tangannya.
"Kalau begitu, cepatlah kembali. Aku tidak mau menunggu sampai aku lulus kuliah untuk menjadi Nyonya Harley."
"Harley?" Jimmy menaikkan alisnya.
"Terdengar lebih keren daripada Nyonya Pengawal, bukan?" Lea menjulurkan lidahnya lucu sebelum kembali duduk tegak. "Nah, sekarang cepat jalan! Aku benar-benar ada kelas pagi ini!"
Jimmy terkekeh. Di dalam hatinya, ia merasa beban dunia tidak lagi terasa berat. Selama ada Leana yang menunggunya dengan tawa manja itu, Jimmy tahu ia sanggup menghadapi neraka manapun yang disiapkan Daren untuknya.
"Aku akan sangat merindukanmu, Lea."
Jimmy tidak lagi menahan diri. Di bawah rimbun pohon pelindung jalanan menuju kampus yang sepi, ia menarik tengkuk Lea dan membungkam bibirnya dalam ciuman hangat.
Bukan lagi ciuman perpisahan yang manis, melainkan luma-tan liar yang menuntut segala bentuk kepemilikan.
Lea mengerang, lidahnya menyambut serangan Jimmy dengan keberanian yang sama, saling melu-mat dan menghisap hingga napas mereka tersengal.
Tak puas dengan posisi yang mereka, Lea merangkak naik ke atas pangkuan Jimmy, mengangkangi paha kokoh pria itu meski terhalang kemudi.
Gaun birunya tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya yang kini bergesekan langsung dengan senjata Jimmy.
"Ahhh... Jim," desah Lea saat tangan besar Jimmy merayap masuk ke balik pakaian dalamnya, meremas bo-kongnya dengan gairah yang tak tertahankan.
Ibu jari Jimmy menekan titik sensitifnya, menciptakan aliran listrik yang membuat tubuh Lea gemetar hebat di atas pangkuan sang pengawal.
Jimmy membenamkan wajahnya di dada Leana, menghirup aroma tubuh wanitanya dengan rakus.
"Kau mau menungguku, Lea? Sampai aku kembali dengan nama Harley?"
"Sampai kapan pun, Jim. Bahkan jika selamanya, aku akan menunggumu," rintih Lea sambil menjambak rambut Jimmy, membiarkan pria itu meninggalkan tanda merah baru di tulang selangkanya.
"Hanya satu minggu," bisik Jimmy serak. "Satu minggu untuk menjemput ibuku, lalu aku akan pulang untuk memintamu pada Diego."
Lea mengangguk lalu mencium rahang tegas Jimmy, merasakan kerasnya otot pria itu yang selalu menjadi pelindungnya.
"Pulanglah tanpa terluka sedikitpun. Karena milikmu di sini sangat merindukanmu."
"Itu pasti!"
Jimmy memberikan satu hentakan terakhir yang membuat Lea memekik kecil sebelum akhirnya mereka terengah dan saling memeluk erat.
"Semoga benih premiumku segera tumbuh di sini," batin Jimmy sembari mengusap perut Lea.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁