NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Kembali'kan Gadis itu

***

Rumah Mewah.

Arkan berdiri mematung di tengah ruang tamu yang luas. Ruangan bergaya klasik elegan itu terasa mencekik. Di depannya, Sofia duduk dengan punggung tegak sempurna. Meski usianya sudah menginjak kepala lima, garis wajahnya masih tegas, terawat tanpa celah, memancarkan otoritas yang dingin.

Dengan gerakan yang tampak enggan, Sofia meletakkan Leon, bayi mungil yang sedari tadi meronta pelan di gendongannya ke dalam keranjang bayi portabel di atas lantai. Ia meletakkan begitu saja, tanpa kehangatan, seolah sedang menaruh barang pecah belah yang tidak berharga.

“Waktuku tidak banyak. Katakan, apa mau Mama?” suara Arkan rendah, nyaris seperti geraman yang tertahan.

Sofia tidak segera menjawab. Ia melirik sekilas ke arah Leon yang mulai asyik dengan dunianya sendiri, lalu beralih menatap putranya dengan tatapan tajam yang merendahkan.

“Aku sudah mendengar semuanya,” Sofia memulai, suaranya tenang namun setajam sembilu. “Kau membawa seorang gadis antah-berantah ke rumahmu untuk menjadi ibu susu Leon.”

Ia menyesap tehnya sedikit, lalu meletakkan cangkir porselen itu ke atas meja tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. “Kembalikan gadis itu ke tempat asalnya. Sekarang.”

“Itu bukan permintaan, Arkan. Itu perintah,” lanjut Sofia. “Aku tidak sudi ada darah gadis kelas bawah bercampur dengan garis keturunan Pradipa melalui air susunya. Itu menjijikkan.”

Rahang Arkan mengeras. Kepalan tangannya di sisi tubuh gemetar menahan amarah. “Dia bukan sekadar ‘gadis itu’, Ma. Dia adalah satu-satunya alasan Leon bisa berhenti menangis dan mulai tumbuh sehat. Mama tidak punya hak mencampuri urusanku.”

“Hak?” Sofia tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. “Selama nama Pradipa masih melekat di belakang namamu, hidupmu adalah urusanku. Bayangkan jika kolega kita tahu bahwa pewaris Pradipa disusui oleh gadis yang bahkan tidak jelas asal-usulnya! Kau menghina keluarga besarmu sendiri!”

“Keluarga besar mana yang mama Maksud? Yang mengajari kita untuk membiarkan bayi kelaparan hanya demi ego status?” balas Arkan sengit. “Aku tidak akan memulangkannya.”

“Arkan!” suara Sofia meninggi. “Jangan membantahku demi gadis pengasuh itu!”

Arkan tidak menjawab lagi. Ia merunduk, menggenggam gagang keranjang bayi portabel dengan erat, seolah ingin segera melarikan diri dari Mamanya.

“Kalau pembicaraan tidak berguna ini sudah selesai, aku pamit,” ucap Arkan dingin.

Ia memutar tubuhnya, bersiap melangkah pergi. Baru satu langkah kakinya berayun, sebuah suara berat dan berwibawa menggelegar dari arah tangga, menghentikan gerakannya seketika.

“Letakkan keranjang itu kembali, Arkan. Kita belum selesai.”

Langkah kaki itu berat dan berirama, menggema di atas lantai marmer yang dingin. Arkan tidak bergeming. Alih-alih meletakkan keranjang bayi sesuai perintah, jemarinya justru semakin memutih karena menggenggam gagang keranjang itu dengan kekuatan penuh.

Seorang pria berdiri tepat di hadapannya. Rangga Pradipa. Di usia enam puluh tahun, uban yang menyelinap di antara rambut hitamnya justru memberikan kesan wibawa yang mematikan. Tubuhnya masih segar bugar, tegak, dan sepasang matanya menyimpan ketajaman yang mampu mengintimidasi siapa pun, kecuali putranya sendiri saat ini.

“Arkan, aku tahu kehilangan Lily itu sulit kau terima,” suara Rangga tenang, namun mengandung tekanan yang luar biasa. “Tapi membesarkan Leon dengan memasukkan gadis tidak jelas ke rumahmu? Itu akan menghancurkan martabat keluarga ini.”

Rangga melangkah satu inci lebih dekat. “Dulu, aku merestuimu menikahi Lily karena dia cinta pertamamu, dan latar belakang keluarganya masih bisa kita toleransi. Tapi ini?” Rangga melirik ke bawah, ke arah Leon yang sedang mengisap jarinya dengan polos, tidak menyadari situasi di atas kepalanya. “Apa kau mau Leon ketularan nasib buruk gadis itu?”

“HENTIKAN!” teriak Arkan, memecah kesunyian ruangan. Suaranya menggelegar, membuat Sofia terlonjak dan cangkir tehnya berdenting keras.

“Dia punya nama! Namanya Maya!” Arkan menatap Papanya tanpa gentar. Sorot matanya yang biasanya dingin kini menyala karena amarah yang telah lama dipendam. “Gadis itu tidak seburuk yang Papa dan Mama bayangkan!”

Arkan maju selangkah, menantang dominasi Papanya. “Untuk saat ini, hanya Maya yang bisa memberikan nutrisi terbaik untuk Leon. Sejak Lily meninggal tiga bulan lalu, aku seperti orang gila mencari stok ASI! Apa kalian tahu betapa sulitnya? Tidak semua ASI cocok untuk Leon. Ada yang terkontaminasi, ada yang kualitasnya buruk, dan aku tidak sudi putraku meminum sampah!”

Napas Arkan memburu. Ia melirik Mamanya yang masih tampak angkuh, lalu kembali ke Papanya.

“Sekarang, setelah aku berhasil mendapatkan pendonor yang sempurna, kenapa kalian baru meributkan soal martabat? Kenapa kalian tidak bertanya sebelum aku membawa Maya ke rumah? Kenapa kalian tidak pernah peduli bagaimana aku mendapatkannya, atau apakah ASI itu mengandung penyakit?”

Ruangan itu mendadak senyap. Sofia hendak membalas, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan saat melihat kilat luka di mata putranya.

Arkan menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Ia tidak menunggu jawaban. Ia tahu, di rumah ini, harga diri selalu lebih tinggi daripada nyawa manusia.

“Pa, Ma, aku pamit,” ucap Arkan dengan nada yang kembali dingin dan datar, seolah tembok emosi telah ia bangun kembali dalam sekejap. “Masih ada operasi yang harus aku kerjakan nanti.”

Tanpa menoleh lagi, Arkan melangkah pergi dengan langkah lebar. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai terdengar seperti genderang perang yang berakhir dengan kemenangan pahit.

Di ruangan tamu kini terasa hampa, Sofia melangkah cepat mendekati suaminya. Wajah elegannya kini dipenuhi gurat kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

“Pa, gimana ini?” tanya Sofia dengan suara rendah namun mendesak. “Arkan sudah mulai membangkang secara terang-terangan. Kalau dibiarkan, gadis itu akan semakin kuat posisinya di rumah itu!”

Sofia mencengkeram lengan jas Rangga, matanya berkilat penuh rencana. “Apa kita harus segera menikahkan Anggun dengan Arkan? Anggun adalah pilihan terbaik. Dengan adanya istri sah di rumah itu, kita punya alasan kuat untuk mendepak gadis muda itu menjauh dari Arkan. Aku tidak tenang, Pa!”

Rangga Pradipa tidak segera menjawab. Ia menatap pintu besar tempat Arkan baru saja menghilang, lalu menghembuskan napas panjang yang terdengar berat.

“Mama tenang saja,” sahut Rangga dengan nada yang sangat serius, nyaris dingin. “Papa tidak akan membiarkan martabat Pradipa diinjak-injak oleh seorang pengasuh. Jika Arkan tidak mau melepaskannya dengan cara halus, maka papa akan bertindak.”

****

Di dalam kabin Pajero.

Arkan mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya lurus ke depan, menembus kepadatan jalan kota.

Sesekali, matanya melirik ke arah kursi samping pengemudi. Di sana, Leon terbaring di dalam keranjang bayi, tampak tenang mengisap botol itu, berisi ASI yang telah disiapkan Maya sejak pagi buta.

Melihat botol itu, Arkan teringat pada sosok Maya, gadis yang dianggap sampah oleh orang tuanya, namun merupakan penyelamat bagi dunianya yang hancur.

“Sampai kapan pun, Maya tidak akan aku lepaskan,” batin Arkan dengan tekad yang mengerikan.

Baginya, Maya bukan sekadar ibu susu, gadis itu adalah kepingan terakhir yang menjaga Leon tetap hidup, sekaligus satu-satunya hal yang tidak boleh dikendalikan oleh orang tuanya.

Rasa posesif menyerap dadanya. Ia tidak peduli pada siapa pun, tidak peduli pada martabat Pradipa, dan tidak peduli pada ancaman Papanya.

Mengingat jadwal operasinya sudah dekat, Arkan menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin Pajero itu menderu keras, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi seolah sedang melarikan diri dari kenyataan.

...❌ Bersambung ❌...

1
Dewi Payang
Setuju sama kamu Zavier, tetaplah bahagia walau hati menangis😂😂😂😂
Dewi Payang
Zavierrrr mau bakso nahhhhh😂
Dewi Payang
Ratu apaan😂😂😂
Dewi Payang
Si oria pasti mokondo🤭🤭🤭🤭
Dewi Payang
11 12 lah mereka berdua🤭
Dewi Payang
Ya ampun dodolnya si Sofia, jelas² Anggun ngaku gak bisa ngerawat bayi, masih aja mau di jadikan menantu, hadehhhhhhhh....
Akaaaaaaaaaak Sariiiiiiiiiii, aku eamosis sama dua perempuan ituuuuuuhhhhhh.....
Dewi Payang
Duh ini si emaak, dah tau anaknya kagak syka di jodohin.....
~~N..M~~~
Mam*pus!!!! Bagaimana rasanya. Pasti sakit sekali, kayak gitulah yang dirasakan Maya. Bahkan lebih dari sakit. Sudah perut maya dibelah, anak m3ninggal, dll.
~~N..M~~~
Good job zavier👍👍👍👍👍
~~N..M~~~
Anak orang kaya, punya segalanya, tapi kenapa kelakuannya kayak iblis?
~~N..M~~~
Ternyata kita semua sama. Kalau tak sengaja m3ndengar klip video dengan suara begitu./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Evi Lusiana
boleh gk sih thor si fadly tuh jd guru ny maya biar jd wanita tangguh yg lepas dr traumany dn gk mudah d tindas
Evi Lusiana
dasar mnsia sampah,
Evi Lusiana
arkan umur brp sih thor,dan msa iy d rmh arkan gk puny ART
Dewi Payang
Aku juga ikut terharu🥹🥹
Dewi Payang
Tamparan sayang dari Leon😍
Dewi Payang
Mainannya si Leon sederhana tapi sudah buat dia bahagia😍
Lisa
Good job Zavier 👍👍 akhirnya Dina terkena karmanya..ntar lg dia dikeluarkan dari sekolah..
~~N..M~~~
Hahahaaaaiii....entah kenapa aku jadi puas melihatnya. Dina terkena karmanya sendiri. Tidak tahu apa maksud zavier, kenapa mereka dipersatukan. Yang jelas aku meras puas.
~~N..M~~~
Jangan kasih k3ndor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!