NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mr. Dominan & Tuan Putri

"Mr. Harrison, perkenalkan. Ini adalah Raka dari Teknik Informatika dan Sari dari Psikologi," Every berucap dengan nada bangga yang tulus. "Data akademik dan riset kolaborasi mereka tentang AI-Mental Health adalah yang terbaik di kampus ini. Jika Anda mencari representasi dari masa depan universitas kami di London, mereka adalah orangnya. Saya merekomendasikan mereka sepenuhnya untuk kesempatan pertukaran pelajar ini."

Panggung utama festival masih menyisakan gema tepuk tangan saat Every berdiri di samping Mr. Harrison.

Di hadapan para delegasi internasional, Every tidak menonjolkan dirinya. Ia justru menarik dua mahasiswa yang berdiri gugup di sisi panggung.

Mr. Harrison tampak terkesan, sementara Raka dan Sari menatap Every dengan mata berkaca-kaca. Mereka tahu, Every baru saja memberikan 'tiket emas' miliknya kepada mereka.

---

Setelah acara formal selesai, panitia mengadakan acara makan malam santai di tepi kolam renang kampus.

Musik mengalun, dan suasana jauh lebih cair. Every datang bukan untuk berpesta; ia masih membawa papan jalan, sibuk memastikan logistik terakhir.

"Recha, porsi martabak dan nasi kebuli untuk tim keamanan sudah sampai semua? Jangan sampai ada yang belum makan, mereka paling capek hari ini," tanya Every sambil menyisir area kolam.

"Udah, Every. Aman! Lo duduk gih, makan dikit," sahut Recha.

"Bentar, gue mau cek katering di ujung lorong sana dulu," Every melangkah menjauh, menuju area lorong sepi yang menghubungkan kolam dengan gedung seni.

Namun, langkah Every terhenti mendadak. Di balik pilar beton yang remang, suara napas yang memburu terdengar jelas.

Every mengernyit, mengira itu mahasiswa yang melanggar norma. Begitu ia menoleh, jantungnya seolah berhenti.

Axel, si pria yang selama ini mengejarnya dengan topeng kesopanan, sedang menghimpit Valencia—Ketua Seni Budaya—ke dinding.

Mereka bercumbu dengan begitu panas hingga tak menyadari kehadiran orang lain. Gaun *backless* Valencia tersingkap, memamerkan tato mawar dan ular yang melilit punggungnya.

"Bagus ya, Axel. Jadi ini alasan lo nggak bantu beresin panggung tadi?" suara Every memotong udara seperti pisau.

Axel melepaskan Valencia dengan wajah pucat pasi. "Every! Ini... ini cuma salah paham."

"Salah paham gimana? Mulut lo nempel di leher dia itu bagian dari riset budaya?" Every mendesis tajam.

Valencia tidak merasa malu. Ia justru merangkul lengan Axel posesif, menatap Every dengan benci. "Nggak usah sok suci, Every. Axel bosen sama lo yang kaku kayak kanebo kering. Lo itu pemimpin yang membosankan!"

"Dan lo?" Every menoleh pada Valencia. "Lo cuma pelampiasan Axel karena dia tahu gue nggak akan pernah bisa dia beli pakai uang bapaknya. Putri menteri, tapi kelakuan lo lebih rendah dari air kolam ini."

"Apa lo bilang?!" Valencia naik pitam. "Lo pikir lo hebat karena kasih beasiswa lo ke orang lain? Itu cuma cara lo pamer kekuasaan, Every! Lo itu sampah!"

"Setidaknya gue sampah yang berguna, bukan ular kayak tato di punggung lo," balas Every sinis.

Perdebatan memanas. Valencia yang gelap mata merangsek maju.

Saat Every mencoba menghindar, Valencia mendorong bahu Every dengan tenaga penuh. Karena lantai kolam yang licin dan Every yang tidak siap, ia kehilangan keseimbangan.

BYURRRRR!

Every jatuh ke area kolam yang paling dalam. Air dingin menghantamnya.

Every panik; ia tidak siap dengan gaun panjangnya yang berat, membuatnya kesulitan untuk muncul ke permukaan.

"Valencia! Lo gila?!" Axel panik, tapi ia hanya berdiri gemetar di pinggir kolam, takut terjun karena tidak bisa berenang dengan baik.

---

Di sisi lain kampus, River baru saja selesai menggulung kabel terakhir dan mengunci gudang alat.

"ayo, Riv! Makan-makan dulu kita di kolam!" seru Bimo yang kini bisa bernapas lega.

"iya sekalian cari ketua BEM lo, berisik nanti kalo sampe kunci-kunci belum lengkap di Recha."

Ia berjalan menuju kolam dengan langkah lebar, berniat mencari Every untuk mengembalikan kunci gudang.

Suara keributan dan bunyi orang tercebur membuatnya berlari.

Begitu sampai di lorong, River melihat Axel dan Valencia berdiri mematung menatap air kolam yang bergejolak.

River melihat papan jalan Every mengapung di permukaan.

"EVERY?!" River berteriak, suaranya menggelegar penuh amarah.

River tidak membuang waktu. Ia tidak bertanya. Ia langsung melompat ke kolam dengan sepatu bot dan pakaian lengkapnya.

Di dalam air yang gelap, ia melihat Every yang mulai kehabisan napas.

River merengkuh pinggang Every, menariknya paksa ke atas.

Begitu kepala mereka muncul ke permukaan, River langsung memeluk Every erat-erat sambil berenang ke tepian.

"Pegang gue, Eve! Napas!" River memerintah dengan nada parau.

River mengangkat tubuh Every ke lantai semen, lalu ia naik dengan otot lengan yang menegang hebat karena pakaian yang basah memberatkannya.

River berjongkok di samping Every yang terbatuk-batuk, lalu ia menatap Axel dan Valencia dengan pandangan yang bisa membunuh.

"Kalau sampai Every kenapa-kenapa..." River berdiri, air menetes dari tato di lengannya yang berkilat di bawah lampu kolam. "...Gue pastiin kalian berdua ancur!"

Axel berusaha mendekati Every, namun River menepisnya kasar. "Pergi lo, pecundang!"

Valencia menarik Axel pergi.

"padahal Axel punya pilihan untuk tetep sama ketua. Tapi dia lebih milih pasrah ditarik jalang itu!" geram Recha,

River kembali berlutut, melepas jaketnya yang basah dan membungkus Every yang menggigil hebat.

"Lo selalu bikin gue jantungan, Tuan Putri," bisik River, tangannya yang gemetar mengusap wajah Every yang pucat. "apa lo nggak bisa jauhin masalah?!"

Every hanya bisa mencengkeram lengan River, merasakan urat-urat tangan pria itu di bawah telapak tangannya. "River... mereka... Axel..."

"Diem. Jangan bahas sampah itu sekarang," River mengangkat Every dalam satu gendongan dominan. "lo keringin badan lo. Nggak ada protes."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!