NovelToon NovelToon
Let'S Get Married

Let'S Get Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Tamat
Popularitas:351.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rozalina Apriani

Saras wati versi moderen

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rozalina Apriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Operasi

Hari-hari ujian yang di lalui Agatha dengan penuh kesungguhan meskipun ada rasa tidak enak di hatinya karna telah menyakiti Sahira dan membuatnya berlarian dengan air mata. Meskipun Agatha ingin sekali menghapusnya tapi ia tidak bisa, masa sekarang adalah masa yang berbeda, di mana ia di paksa jarus terlebih dahulu memikirkan dirinya sebelum orang lain jika ingin melihat orang di sekelilingnya bahagia.

Hari-hari yang berbeda ialah perhatian yang berlebihan yang di berikan oleh kedua orang tuanya dan pandangan sinis dari adiknya yang memang masih sangat mendambakan perhatian lebih dari kedua orang tuanya. Obat-obatan yang menumpuk menghiasi hari-harinya juga menjadikan hal yang sangat berbeda dari sebelumnya. Aktivitas yang terbatas dan selalu di awasi oleh ibunya membuatnya merasa ia adalah seorang anak TK yang belum mengerti apa-apa. Dan lagi beraktivitas sedikit saja sudah membuatnya merasa kelelahan entah karna penyakitnya atau pengaruh obat yang terus menerus ia makan.

Sahira yang sudah tak pernah ia lihat lagi semenjak menghilang dari pandangannya saat keluar gerbang sekolah katika hari terakhir sekolah sebelum masuk masa libur karna ada ujian untuk anak kelas XII, semenjak itulah hari-hari Agatha di sekolah terasa begitu sepi meskipun candaan mengiasi kelas ketika masa istirahat tiba. Tapi itu semua tidak menyurutkan semangatnya untuk lebih giat belajar. Semua rentetan kejadian yang tiba-tiba membuat mendung di hatinya menjadi motivasi dalam hidupnya untuk lebih baik kedepannya. Tentang rencana yang ia siapkan untuk Sahira setelah selesai operasi kelak, ia hanya ingin meminta maaf dan menjelaskan semua padanya dan mengajak Sahira berkencan, itu juga menjadi cita-citanya kelak yang harus ia wujudkan meskipun ia belum tahu apakah Sahira akan memaafkannya atau justru memilih meninggalkannya. Dan juga meskipun ia belum tahu apakah operasinya akan berjalan dengan lancar atau tidak, meskipun ia sudah menyiapkan mental tentang segala kemungkinan yang terjadi ia tetaplah manusia biasa yang bisa merasa sedih dan khawatir.

Satu minggu sudah rutinitas ujian selesai, baik ujian sekolah maupun ujian nasional telah mereka lalui, ini saatnya kelas XII yang libur sembari menunggu pengumuman kelulusan tiba dan berganti anak kelas XI dan X yang masuk sekolah. Sahira masih duduk di kelas XI. Pacaran lebih dari setahun membuat mereka merasa sudah seperti kakak beradik yang saling mengerti satu sama lain.

"Aga kamu sudah siap Sayang," Agatha masih di ruangan kamar VIP, Dokter dan Perawat masih menyiapkan segala sesuatu untuk operasi yang secepatnya akan di lakukan.

"Insya Allah Aga siap Ma," jawab Agatha dengan senyuman meyakinkan.

"Kak Aga, Amara selalu do'ain Kak Aga supaya segera sembuh, Amara juga berdo'a supaya operasinya lancar di setiap Amara sholat Kak. Karna Kak Aga sekarang Amara jadi rajin sholat deh," celoteh Amara yang masih kelas satu SMP.

"Ya dek, makasih ya selalu do'ain Kakak. Kakak bersyukur punya adek kayak Amara," Agatha memasang senyum termanisnya.

"Aga Kakak juga selalu do'ain kamu, Kakak selalu berpikir kenapa harus kamu yang sakit, kenapa ngak Kakak saja?" ucap Haru menepuk-nepuk bahu Agatha.

"Kak kok ngomong gitu, semua ini udah takdirnya Kak. Agatha aja bisa terima dengan lapang dada."

"Ya Aga Kakak cuma berpikir kamu terlalu muda untuk mendapati hal ini."

"Udalah Kak yang penting kita do'a aja, Aga ngak mau nyalahin siapa-siapa apalagi Tuhan."

"Ya baiklah, semoga semua berjalan dengan lancar ya Aga."

Pak Iman duduk di sudut ruangan memandang nanar ke luar jendela. Begitu besar rasa khawatirnya hingga sesekali ia mengusap air mata di sudut matanya.

"Pak Aga sudah siap?" seorang perawat muncul.

"Insya Allah Sus," jawab Agatha mantap.

"Baiklah kita akan segera mulai ya operasinya."

Agatha di bawa keruang operasi.

Pak Iman, Bu Amira, Amara dan Haru setia menunggu di depan ruang operasi, sesekali mereka pergi untuk sholat secara bergantian. Biasanya keluarga mereka jarang sekali sholat namun ujian yang berat malah mempererat ikatan mereka dan lebih rajin ibadah.

Lampu di depan ruang operasi akhirnya padam, operasi berlangsung selama tujuh jam lamanya.

Dengan tergesa-gesa Pak Iman menghampiri Dokter yang baru keluar dari ruang operasi.

"Gimana Dok?"

"Dari hasil pengamatan operasi berjalan dengan lancar, namun tetap saja kita harus menunggu pasien siuman terlebih dahulu."

"Tapi untuk sekarang kondisi anak saya gimana Dok?" tanya Bu Amira.

"Anak Ibu kondisinya stabil, selama operasi juga kami tidak mengalami kendala apa-apa."

"Alhamdulillah kalau begitu Dok, apa kami boleh masuk?"

"Ibu dan keluarganya silahkan tunggu di ruangan pasien saja, kami akan membawa pasien kesana."

"Baik Dok."

Agatha dalam pengaruh bius cukup lama, sampai akhirnya ia menggerakkan tangannya.

Bu Amira berteriak histeris melihat itu, ia pikir anaknya akan segera sadar.

Pak Iman segera memanggil Dokter yang menangani Agatha.

Dokter masuk dan memeriksa keadaan Agatha.

"Buk anak Ibuk sudah sadar namun sekarang kembali tertidur, sepertinya efek obat biusnya."

Senyum di wajah Bu Amira memudar, tadinya ia pikir ia bisa melihat senyum anaknya ketika terbangun dan mengetahui operasinya berjalan dengan lancar. Tapi tak apa pikirnya yang penting anaknya sudah sadar dan sepertinya ia baik-baik saja.

Malam semakin larut, mereka berempat juga ikut terpulas di dalam ruangan yang sama namun cukup besar.

Pagipun tiba, Agatha terbangun dari tidurnya dan melihat Ibunya masih tertidur pulas di sampingnya, ia mencoba membelai lembut rambut ibunya yang pasti begitu lelah memikirkannya.

"Agatha kamu sudah bangun sayang?" ucap Bu Amira berbinar.

Agatha mengangguk dengan senyumannya.

Suara Bu Amira barusan membangunkan seisi ruangan.

"Agatha sudah bagun, biar Papa panggil Dokter dulu ya," ayahnya lupa, dikira Dokter jaga 24 jam pagi-pagi buta sudah di rumah sakit.

Amara dan Haru mendekat untuk menanyakan keadaan Agatha.

Tak lama Pak Iman membawa perawat masuk ke ruangan.

Perawat hanya memeriksa sekilas dan mengatakan bahwa Agatha sudah dalam keadaan baik.

"Gimana perasaan kamu sekarang sayang?"

"Ada yang aneh Ma,"

"Aneh gimana Sayang maksudnya?"

"Punggung Aga terasa sangat sakit, tapi kenapa bagian kaki Aga ngak kerasa apa-apa. Apa karna pengaruh suntikan bius ketika operasi?"

"Bisa saja Sayang, perawat tadi juga mengatakan kamu baik-baik saja."

"Ia Aga, kita berpikir pisitif aja. Kita tunggu Dokter kesini dulu ya," ucap Haru mencoba menenangkan karna sudah melihat wajah gusar Agatha.

"Ya Kak."

Selang beberapa waktu Dokter masuk ruangan dan memeriksa keadaan Agatha.

"Dok Kaki saya kenapa ngak ada rasanya, apa pengaruh obat biusnya masih?" tanya Agatha yang tak sabar menunggu Dokter sedari tadi.

Dokter saling lirik dengan seorang perawat.

Tak lama seoarang perawat membawa sebuah alat, Dokter mengetuk-ngetuk pada kaki Agatha.

"Apa terasa sakit?"

Agatha menggelang-geleng dengan wajah polos.

Raut wajah khawatir Pak Iman dan Bu Amira mulai terlihat.

Setelah beberapa kali Dokter melakukan hal yang sama namun Agatha tetap saja menggelengkan kepalanya.

Dokter terdiam, menghembuskan nafas panjang.

"Apa maksud Dokter saya lumpuh begitu?" Agtha mulai berteriak gusar.

Dokter Han hanya diam.

"Katakan Dok?" Agatha kembali berteriak, sementara air mata Bu Amira mulai tumpah dengan wajah bingungnya.

"Ini hanya sementara Agatha, kamu bisa sembuh," ucap Dokter Han.

"Sementara, gimana kalau saya lumpuh selamanya gimana? Apa Dokter bisa tanggung jawab? Sebelum operasi kaki saya baik-baik saja Dok, tapi kenapa sekarang begini. Ngak bisa Dokter harus kembalikan keadaan saya seperti semula!"

"Ngak, ngak, aku ngak mau lumpuh seumur hidup," Agatha mulai histeris, Haru memeluk Agatha mencoba menenangakan.

"Aku ngak mau Kak, Dokter ini sengaja bikin aku lumpuh,"

"Tenang Aga, Kakak yakin kamu bisa sembuh."

Bu Amira sudah terduduk di lantai dengan air mata yang tak bisa ia bendung, Pak Iman terdi syok ia tak menyangka operasi ini bisa berakibat kelumpuhan. Dokter juga tidak pernah mebgatakan hal ini sebelumnya.

1
Lina Katarina
,Yach,,, bos edun
espe89
aneh ini thor..bukannya sahira pindah ke bandung di kantor adiknya agatha?kan bisa dapet nomor hpnya dari adik kandungnya..
Leony Angelia
lanjut
Ita Sinta
lanjut thour semangat💪
𝕄𝕣•𝕡𝕤𝕪𝕔𝕙𝕠𝟘𝟙𝟚
oke ditunggu Sea2 nya, Thor
mongky buruk rupa
Vlnjut kak.... Aga ma shapira blm MP kwkwkwkw
ratu adil
selalu d tunggu kak....edu ma maera ae adekx aga hihihi
Yuni Radja Leba
malas baca, masa sih cinta monyet masa SMP sulit dilupakan..
lebaiiii..
Rozalina Apriani: SMA kak bukan SMP
total 1 replies
AriN
Ya Allah...udh serius2 baca...malah ada kata "mencoba mencret" kn auto ngakak... astaghfirullah...😅😂
Ita Sinta
ko tamat,,,blom MP kirain d bab selanjut nya akan MP🥺
Anonymous
Appaahhh...dah tamattt....tiiddaakkkk....!!
Undri
wlahhhh
Fatih Asy Syauqie
Wah udah tamat
Eko Budi
Di tunggu thoor season 2 nya
mongky buruk rupa
Bner nkah tp blm MP. Sak udh tamat thor... T. Atx stlah pindah rmh dan udh MP bru tman d lanjut seseon 2 sahira hamil bb tu jdi g ganfung
Fatih Asy Syauqie
Akhirnya. Nunggu bucinnya aga
mongky buruk rupa
Akhir nkah jga hihihi... Penasaran ma MPx wkkwkwkwkw
Ita Sinta
orang klw d ajak belanja seneng donk jangan membantah🤭
Eko Budi
Akhirnya married juga...lama nunggunya thoor
Anonymous
senangnya....ga pake bertele2 sekarang udah nikah aja mrk...semoga samawa😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!