"Kau istriku, Laura!"
Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.
"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.
Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.
Update setiap hari kecuali minggu.
Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Aaaaahhh.."
Laura merentangkan kedua tangannya lebar ketika ia berhasil keluar dari mobil mini bus berspanduk universitasnya, bersama beberapa mahasiswa lain yang terlihat satu per satu ikut keluar dari mobil tersebut. Saat ini mereka telah sampai di depan gerbang Forest Camp Lembang.
Mobil sedan hitam berhenti tak jauh dari posisi Laura berdiri, para dosen pendamping keluar dari mobil itu. Mata Laura melihat Sabiel keluar terakhir dari balik kemudinya, dia membuka kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya sejak tadi. Matanya berpencar melihat kesibukan mahasiswa membawa barang bawaannya ke dalam camp. Sabiel tersenyum lembut ketika matanya bertabrakan dengan Laura yang berdiri bersama Rena tak jauh dari mini bus.
"Aku suka suasana Lembang." ucapan Rena mengalihkan perhatian Laura dari Sabiel. Laura tersenyum menengok pada Rena yang sumringah melihat gerbang depan camp tersebut.
"Ya, aku juga." ucap Laura dengan tatapan kembali memperhatikan Sabiel yang berjalan bersama para dosen pendamping untuk menghampiri penjaga tempat itu.
Benak Laura masih mengingat ucapan Gisel yang mengatakan bahwa Sabiel memiliki perasaan khusus pada dirinya. Dia langsung menggelengkan kepala, tak ingin ingatan itu ngacaukan suasana hatinya yang berubah menjadi tak nyaman.
"Kenapa?" tanya Rena yang heran melihat Laura menggelengkan kepala.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya merasa lelah" ucap Laura.
"Aku juga lelah, ayo kita ke dalam." ajak Rena sembari membawa tas ransel besarnya. Laura mengangguk tanda setuju. Mereka berjalan diantara mahasiswa lain yang juga hendak masuk ke dalam area camp.
Laura dan Rena memutuskan untuk mengambil camp kecil yang berhadapan langsung dengan sebuah kolam teratai. Sebenarnya daripada di katakan camp, tempat bermalam itu lebih mirip dengan gubuk kayu sederhana dengan teras berkanopi di bagian depannya. Camp-camp kecil itu berbentuk setengah lingkaran dengan dikelilingi pohon pinus. Sedangkan jarak camp satu dengan yang lain hanya beberapa meter saja.
Tadi sesaat sebelum memilih camp untuk ditempati, semua mahasiswa di instruksikan bahwa satu camp harus diisi oleh empat atau tiga orang. Maka dari itu muncul lah seorang gadis yang terlihat genit dengan rambut bergelombang sebahu menjadi penghuni tambahan di camp Laura dan Rena.
Gadis itu bernama Destri. Umurnya hanya selisih satu tahun dengan Laura. Kulitnya hitam manis perpaduan dari ayahnya yang orang Flores dan ibunya orang Jawa. Karakternya yang selalu ceria dengan sikap genit yang selalu ia perlihatkan pada siapapun, membuat gadis itu selalu dapat menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.
Mereka bertiga saat ini sibuk merapikan perlengkapan yang mereka bawa di dalam camp. Sementara diluar sana, mahasiswa lain banyak yang sedang asik bersantai mengisi waktu beristrirahat dengan menikmati pemandangan alam di depan camp masing-masing.
Laura beranjak dari dalam camp, setelah ia selesai menata perlengkapan dalam tas ranselnya untuk ia letakkan di laci kecil khusus pakaian. Gadis cantik itu memilih duduk santai di teras sambil memperhatikan hiruk pikuk para mahasiswa yang sibuk dengan urusannya sendiri. Ia melipat kakinya menikmati semilir angin yang berembus pelan menyisiri helai rambutnya. Pandangannya tertuju pada kolam teratai di depannya. Ia ingat, di kursi sana ia pernah duduk bersama Sabiel beberapa waktu yang lalu. Mengingat hal itu, matanya berpencar mencari sosok dosen yang dekat dengannya itu.
Itu dia!
Di camp kayu besar paling ujung, dekat dengan area ruang makan terbuka. Para dosen pendamping terlihat sedang berdiskusi disana. Mereka duduk melingkar di sebuah meja bundar dengan kursi-kursi kayu tanpa sandaran. Sabiel tampak fokus melihat lembaran kertas yang ia pegang.
"Apa benar dia memiliki perasaan padaku?" Laura membatin tanpa mengalihkan matanya dari memperhatikan Sabiel di kejauhan. "Sialan kau Gisel, seharusnya kau tak mengatakan itu padaku." dengus Laura kemudian.
"Ah biarlah, jika benar dia menyukaiku, aku tinggal menolaknya saja, beres." Laura mengucapkan kalimat itu dengan sedikit keras. Tanpa menyadari kedua gadis di dalam camp sedang menatapnya penuh tanda tanya.
"Siapa yang menyukaimu?" Rena menghampiri Laura dengan raut wajah penasaran. Diikuti Destri di belakangnya.
Mereka berdua duduk mengapit Laura ditengah. Laura tampak gugup ketika mata Destri dan Rena menatapnya sembari menyeringai jahil.
"Kau sedang dekat dengan seseorang?" tanya Rena menyelidik.
"Siapa yang menyukaimu?" kali ini Destri yang bertanya.
"Ckckck.. Tidak mungkin lelaki disana itu bukan?" tanya Rena sembari menunjuk sekumpulan lelaki yang sedang mengobrol santai di kursi depan kolam teratai.
"Oh No baby! Kau terlalu cantik untuk mereka. Jangan sampai yang kau maksud adalah salah satu dari mereka." ujar Destri berapi-api.
"Iisshh, apa yang kalian bicarakan?!" Laura mencoba menghindar dari pertanyaan.
"Harusnya kami yang bertanya, apa yang kau katakan tadi? Siapa yang kau maksud menyukaimu, huh?!" tanya Rena tak ingin melepaskan Laura dari pertanyaan inti.
"Itu-itu.... " Laura ragu
"Ya ampuuuun, Laura yang cantik.. Kau membuatku gemas." suara bernada genit keluar dari bibir merah delima Destri.
"Ayo ceritakan.." tuntut Rena, menyenggol bahu Laura dengan bahunya.
"Jangan buat kami penasaran." Destri ikut mengadukan bahunya pada bahu Laura.
Laura jadi serba salah, pandangannya menerawang mencari sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari pertanyaan kedua temannya itu. Dia tidak mungkin menceritakan perihal kedekatannya dengan Sabiel, apalagi mengenai tebakan Gisel yang mengatakan bahwa Sabiel menyukai dirinya.
Priiiiitttt...!
Ditengah kegelisahan Laura, suara peluit yang ditiup nyaring memecah konsentrasi Rena dan Destri pada Laura. Mereka bertiga sontak melihat pada arah bunyi peluit itu berasal.
"Semua berkumpul di area makan, kita makan siang bersama." ucap seorang dosen payuh baya yang berbadan tambun kepada semua mahasiswa yang berada di sekitar area camp. Seketika area camp tersebut riuh oleh mahasiswa yang mulai berjalan berbarengan menuju tempat yang disebut.
"Selamaaat.." gumam Laura sembari mengelus dadanya pelan ketika kedua temannya yang tadi menemaninya, fokus menyimak pengumuman dosen tersebut.
"Kita harus kesana." ujar Destri melihat pada kedua teman barunya.
"Ya. Ayo.." ajak Rena seraya berdiri dari duduknya, diikuti oleh Laura juga Destri. Rena dan Destri berjalan beriringan dengan Laura yang berada ditengah mereka, dan melupakan pertanyaan yang mereka lontarkan pada gadis itu.
🍁🍁🍁
Satu jam adalah waktu yang cukup bagi para mahasiswa untuk menikmati berbagai hidangan yang tersaji dalam wadah-wadah besar berbentuk tempayan bambu di meja kayu panjang ruang makan.
Rasa lapar hilang sudah dari diri semua orang yang berkumpul disana, meninggalkan rasa nikmat yang masih tersisa dirongga mulut.
Sabiel duduk di antara para dosen pendamping, menikmati obrolan tumpang tindih yang terlontar dari mulut rekan seprofesinya. Telinga Sabiel mendengarkan isi dari obrolan itu, sedangkan matanya menatap sendu gadis cantik yang tersenyum indah bersama dua orang temannya di salah satu sisi ruang makan. Kelebatan orang berjalan menutupi sosok mungil gadis kesayangannya, namun hal itu tak mampu membuat pandangannya teralihkan dari gadis itu. Laura, menjadi poros dalam cosmic hati Sabiel. Sosok cantiknya akan selalu terlihat meski ia berada dalam jarak beberapa depa di hadapannya.
"Bagaimana dosen Sabiel?" tanya rekan sesama dosen yang berada di sebelah Sabiel.
Sabiel menoleh pada dosen tersebut, kehebatan pendengarannya dipertaruhkan dalam sebuah pertanyaan tiba-tiba ditengah tatapannya yang terus terpaku pada Laura.
Dosen muda itu menggelengkan kepala dengan pelan, dia yakin apa yang harus ia katakan mengenai pertanyaan tadi.
"Tidak mungkin bisa dilakukan, langit mendung hari ini bisa membahayakan para mahasiswa nanti di tempat pendakian." ucapnya sembari menatap para dosen yang menanti mendengarkan pendapatnya.
"Ya. Kau benar. Rencana mendaki bukit tidak akan bisa dilakukan hari ini. Hujan besar bisa saja tiba-tiba turun." dosen wanita di hadapannya menanggapi ucapan Sabiel.
"Aku rasa kita harus mengganti acara mendaki itu dengan acara lain." dosen paruh baya yang tadi memberi pengumuman makan siang ikut mengeluarkan pendapat.
"Kira-kira acara apa yang pas untuk mereka?" ucap Sabiel sembari melihat kearah para mahasiswa yang sedang bersantai, dan berhenti pada Laura yang kini terlihat sedang menatap ponselnya ditengah kedua temannya yang sibuk berbicara. Gadis itu terlihat sedang mengetik sambil tersenyum.
"Dengan siapa kau berbalas pesan, Laura?" Sabiel membatin.
Jiwa posesifnya muncul ketika memperhatikan raut wajah cerah Laura diseberang sana. Tanpa Sabiel sadari, ia mengepalkan tangannya erat. Sekuat tenaga lelaki itu berusaha menahan keinginannya untuk menggebrak meja di hadapannya dan berjalan menghampiri Laura untuk merebut ponsel laknat itu dari tangan gadisnya.
Sabiel didera rasa penasaran ingin melihat dengan siapa Laura berhubungan melalui ponsel itu, hingga senyuman indah tak lepas dari bibir gadis itu ketika matanya terpaku pada layar ponsel.
Sebentar kemudian amarah Sabiel dipaksa mereda, ketika rekan dosen yang bernama Willi berdiri dari duduknya, dan mengambil pengeras suara yang tadi tergeletak di kaki meja. Dosen itu berjalan sedikit maju kearah kumpulan mahasiswa yang masih berada di ruang makan.
"HARI INI RENCANA KITA UNTUK PENDAKIAN BUKIT LEMBANG TIDAK BISA DILAKUKAN, MENGINGAT LANGIT SEDANG MENDUNG KHAWATIR HUJAN LEBAT TURUN KETIKA KITA SEDANG MENDAKI." suara beratnya membahana di ruangan itu. Terdengar nada protes dari beberapa mahasiswa, atas gagalnya pendakian. "SEBAGAI GANTINYA, NANTI MALAM AKAN DIADAKAN MALAM KESENIAN. BAGI SIAPAPUN YANG INGIN MEMBUAT PERTUNJUKAN, HARAP MEMPERSIAPKAN DIRI. TERIMA KASIH" suara Pak Willi lugas memberikan instruksi baru bagi mahasiswanya.
🍁🍁🍁
Gerimis tipis merapat membasahi area camp. Langit Lembang tak pernah berdusta memberikan tanda sedari siang tadi. Hujan turun tepat ketika malam mulai ingin berkuasa. Angin dingin malam itu setia mengiringi rintikan air yang turun dari langit. Memberikan sensani dingin yang lebih menusuk karena mereka berada di dataran tinggi.
Laura khusyu dengan novel yang sedang ia baca di teras berkanopi campnya. Malam itu karena hujan turun, acara malam keakraban yang tadinya akan digelar ditengah-tengah camp mahasiswa dialihkan pada area ruang makan yang dirubah menjadi lapang dengan meja dan kursi tersusun rapi di pojokan. Menyisakan ruangan yang cukup luas untuk berkumpul melihat pertunjukan yang akan dibawakan oleh beberapa mahasiswa.
Laura memilih untuk tidak datang keacara itu. Ia beralasan bahwa kepalanya sedikit pusing hingga mengharuskannya berdiam diri di camp, tanpa Rena dan Destri yang kini berada di ruang makan untuk mengikuti acara tersebut.
Dari kejauhan Laura mendengar suara riuh gelak tawa dari teman-temannya disana. Sementara matanya terpaku pada satu novel romance yang ia baca. Angin dingin ditambah gerimis, tak membuatnya menyerah untuk menikmati kesunyian malam ditemani gemerisik daun pohon pinus yang mengelilingi camp.
"Kau bisa sakit berdiam diri disini." suara lelaki dewasa yang Laura hafal memecah konsentrasinya membaca. Lelaki itu menyelimuti bahu Laura dengan selimbut berbahan wool yang tidak terlalu tebal.
"Bapak?" mata Laura membulat ketika melihat sosok Sabiel berdiri disampingnya. Laura merutuki keseriusannya membaca hingga ia tak menyadari dosen itu menghampirinya di camp.
"Bapak?!" tanya Sabiel tak suka.
"Ops! Aku lupa." Laura cengengesan menatap Sabiel yang kini memilih duduk disebelah gadis itu.
Mata Laura tampak awas melihat sekeliling area camp, dia cemas kalau-kalau ada orang lain yang melihatnya berduaan dengan dosen muda itu. Sabiel yang menyadari kecemasan Laura, tersenyum penuh pemakluman. Tentu saja Laura cemas, seorang mahasiswa dan dosen duduk berdua di tengah kesunyian malam, pasti akan mengundang kecurigaan siapapun yang melihatnya.
"Aku ditugaskan untuk melihat mahasiswa yang tadi ijin 'sakit' ketika acara akan dimulai." ucap Sabiel sedikit menyinggung Laura yang malah terlihat baik-baik saja.
Laura tersipu malu, alasan palsunya terbongkar dengan kehadiran Sabiel di camp-nya.
"Tadi aku sungguh pusing," Laura membela diri.
"Hebat sekali, kepalamu pusing tapi masih kau jejali dengan bacaan." mata Sabiel melirik novel yang Laura tutup.
"Baiklah, aku mengaku. Aku malas ikut acara seperti itu." aku Laura pada akhirnya.
"Aku mengerti." ucap Sabiel tersenyum.
"Laura, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu." ujar Sabiel menatap lekat wajah cantik Laura.
"Apa itu?" Laura mengangkat alisnya penasaran.
"Aku tidak bisa mengatakannya disini, nanti saat pulang dari sini. Kau ikut denganku." Sabiel memperhatikan wajah Laura yang hendak menolak. "Aku akan mencari alasan agar kau bisa ikut denganku."
"Tapi-"
"Tenang saja, tidak akan ada yang curiga meskipun kita pulang bersama." ucapan Sabiel memangkas sanggahan yang ingin Laura katakan.
"Angin malam bisa membuatmu sakit sungguhan Laura. Lebih baik kau kembali ke dalam camp." Sabiel berdiri dari duduknya. "Jangan tidur terlalu malam, pendakian besok akan menguras tenagamu nanti." ucapnya kemudian seraya mengelus lembut rambut Laura dan melangkah pergi meninggalkan Laura yang termangu dengan pertanyaan yang hadir dalam benaknya.
"Tidak mungkin, bukan?!" gumamnya lirih ketika benaknya berhasil memberikan satu kemungkinan yang hendak Sabiel katakan padanya.
Laura menggelengkan kepalanya kuat, seraya beranjak dari kursi teras dan masuk kedalam camp dengan selimut wool pemberian Sabiel menyelimuti bahunya.
🍁🍁🍁