setelah berhasil membalas dendam, Tang Yan merasakan kelegaan di hatinya yang membuat kepribadian nya berubah riang dan sedikit konyol.
perjalanan Tang Yan kali ini akan dimulai dari dunia Cyber-kultivasi.
bagaimana ceritanya..? tunggu dan nantikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puji syukur masyarakat kota Neo-Ark
Beberapa lantai di bawah, Elias, seorang pelayan muda, baru saja keluar dari ruang pendingin daging yang kedap udara. Pintu baja berat itu bergeser terbuka setelah tiga putaran kunci, dan ia terpental sedikit karena tekanan udara yang berbeda. Saat ia mengusap embun dari wajahnya, ia langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat salah.
Koridor dapur yang biasanya penuh dengan teriakan Chef Morel dan suara alat-alat masak yang bekerja, kini sepi dalam keheningan yang menusuk. Hanya terdengar bunyi pelan seperti getaran daun atau aliran air yang tidak pernah ada di gedung ini sebelumya. Aroma mawar yang sangat manis mengisi setiap sudut, begitu pekat hingga membuatnya sedikit pusing.
Elias berjalan pelan ke arah dapur utama, hatinya mulai berdebar kencang. Ia menemukan Chef Morel berdiri mematung di depan meja persiapan, tepat di bawah lampu kristal besar yang biasanya menerangi area kerja. Tubuh koki itu yang selalu penuh energi kini terlihat aneh, kulitnya menjadi transparan seperti kaca, dan di dalam dada bisa dilihat sulur-sulur tanaman berwarna zamrud yang melilit jantungnya yang masih berdetak pelan. Setiap denyut jantung mengubah darahnya menjadi cairan hijau yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Morel tidak menunjukkan rasa sakit sama sekali. Wajahnya bahkan terpampang senyum lebar ke arah langit-langit, sementara rambutnya mulai mengering dan berubah menjadi debu hijau yang perlahan-lahan berguguran ke lantai marmer bersih.
"Chef?" bisik Elias, suaranya tersedak oleh ketakutan. Kakinya seperti terpaku di tempat, tidak bisa bergerak meskipun nalurinya menyuruh untuk berlari.
Tanpa satu kata pun keluar dari mulut Morel, tubuhnya tiba-tiba hancur menjadi debu dan berhamburan di udara. Pada saat yang sama, akar-akar putih seperti tulang muncul dari sela-sela ubin lantai, menjalar dengan kecepatan yang mustahil ke segala arah. Mereka melilit pisau daging tajam dan oven baja besar hingga benda-besi itu mulai membengkak dan akhirnya remuk dalam pelukan organik yang kuat.
Hidung Elias tercium aroma mawar yang semakin pekat. Ia melihat ke arah koridor lain seorang pramugari muda yang membawa nampan anggur kini juga mengalami hal yang sama. Tubuhnya menjadi transparan, lalu menyebar menjadi debu berwarna hijau, digantikan oleh tunas-tunas bunga yang tumbuh dari tempat ia berdiri.
Hanya kemudian Elias sadar untuk berlari. Ia berlari menyusuri tangga darurat, setiap langkahnya menginjak lumut hijau tebal yang tumbuh dengan cepat dari beton dingin. Di setiap bordes tangga, ia menemukan pemandangan yang semakin mengerikan: seorang penjaga keamanan yang kini telah menjadi gundukan bunga liar dengan senapan serbu yang dililit akar-akar rimbun, atau seorang sekretaris yang tubuhnya telah menyatu dengan tembok, wajahnya masih tersenyum saat kuncup bunga mulai tumbuh dari lehernya.
Setiap langkah membuatnya semakin terengah-engah. Ia menyadari bahwa semua orang di dalam gedung telah mengalami nasib yang sama dengan Victor Valerius dan para petingginya. Mereka tidak hilang, tapi telah berubah menjadi bagian dari alam yang baru tumbuh di tengah gedung megah itu.
...
Di luar kompleks kediaman Valerius, masyarakat mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Para penjaga di gerbang luar, yang tidak terkena dampak karena arah angin yang berbeda dan sistem ventilasi yang terpisah, hanya bisa menatap dengan mulut terbuka lebar. Mereka melihat melalui kamera pengawas bagaimana rekan-rekan mereka di dalam gedung tertawa, bercahaya, dan menghilang satu per satu sebelum tanaman mulai tumbuh dengan liar.
Kabar menyebar dengan cepat. Helikopter berita mulai berputar-putar di atas gedung. Dari udara, para jurnalis melaporkan pemandangan yang tidak masuk akal: Sebuah gedung pencakar langit yang tiba-tiba "meledak" dengan tanaman hijau dari setiap jendelanya.
"Tidak ada tanda-tanda kekerasan," lapor seorang reporter dengan suara gemetar. "Kami melihat melalui lensa jarak jauh... gedung itu penuh dengan bunga, dan tumbuhan liar. Tapi semua orang di dalamnya sudah tidak ada lagi. Keluarga Valerius... mereka hilang tanpa jejak."
Orang-orang di kota yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang ketakutan keluarga tersebut, keluar ke jalanan. Ada rasa ngeri, namun ada juga rasa lega yang aneh. Mereka menatap ke arah menara hijau itu dengan perasaan campur aduk.
"Lihat! Bahkan baja mereka tidak bisa menahan alam!" teriak seorang orator jalanan di Distrik 9.
Di internet, perdebatan meletus. Para ilmuwan di forum daring berteriak tentang "Anomali Biologis Tak Terduga," sementara kelompok mistis menyebutnya sebagai "Pembersihan Alam." Namun, bagi masyarakat yang berdiri di trotoar, semua teori itu tidak berarti saat aroma mawar mulai mencapai hidung mereka. Mereka melihat partikel hijau mulai turun dari langit seperti salju di tengah musim panas. Sisa-sisa karbon dari tubuh ribuan orang di dalam gedung yang kini telah didaur ulang oleh alam.
Beberapa orang mulai melepas masker mereka, menghirup udara dengan sengaja. Mereka ingin merasakan kedamaian yang terpancar dari menara itu, seolah-olah aroma tersebut mengandung janji akan dunia yang lebih bersih – dunia tanpa Valerius.
Setelah beberapa saat, Menara Valerius tidak lagi menyerupai bangunan manusia. Ia telah menjadi tiang hijau raksasa yang menyentuh awan. Tidak ada lagi jejak Victor Valerius atau para dewan direksinya. Yang tersisa hanyalah ribuan bunga berwarna-warni yang mekar dengan suburnya, mendapatkan nutrisi dari sisa-sisa mereka yang pernah menjadi Tiran kota.
Elias akhirnya berhasil mencapai pintu keluar bawah tanah, terengah-engah dan bersimbah keringat dingin. Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di sana, di tempat yang dulunya adalah lobi megah, kini menjadi taman bunga dan akar-akar liar yang menjalar melilit mobil limosin anti peluru milik Victor seolah-olah itu adalah pot bunga biasa.
Dunia mengenal peristiwa ini sebagai kepunahan massal yang paling indah dalam sejarah. Sebuah peringatan bahwa tidak peduli seberapa tinggi manusia membangun menaranya, alam selalu memiliki cara untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya. Garis keturunan Valerius telah berakhir bukan dengan dentuman meriam yang megah, melainkan dengan mekarnya mawar terakhir yang tumbuh dari tempat di mana sang patriark pernah berdiri.
...
Di laboratorium Lin-Genetics, Tang Yan menatap layar monitor yang menunjukkan status markas Valerius yang kini tercatat sebagai "Hutan Vertikal Alami" di tengah kota.
"Eh? Kok mereka jadi taman bunga ya?" Tang Yan mengucek matanya dengan wajah polos. "Aku cuma mau bikin mereka merasa tidak nyaman aja biar tidak menggangguku lagi. Kenapa hasilnya kayak gini ya?"
Arthur Lin jatuh terduduk di lantai, wajahnya pucat pasi. Dia tidak tau apakah Tang Yan ini benar-benar tidak tau, atau hanya berpura-pura, yang ia tau adalah bahwa ia baru saja menyaksikan bagaimana sebuah keluarga tiran di kota Neo-Ark musnah dalam hitungan menit tanpa satu peluru pun ditembakkan. Luna menatap Tang Yan dengan ekspresi yang mencampurkan rasa kagum dan kekhawatiran yang mendalam.
"Tang Yan... kau baru saja menghilangkan satu klan seluruhnya dengan limbah dari proses pembuatan serum," bisik Luna dengan suara pelan.
"Limbah? Itu kan cuma sampah yang aku mau buang aja," jawab Tang Yan sambil menggaruk kepalanya. "Genosida apa itu sih? Kue baru ya? Aduh, sudahlah. Paman Arthur, sistem ventilasi mu memang perlu diperbaiki nih, bau bunganya sampai kesini lho. Yuk kita pergi cari makan aja, apa ada masakan daging sapi disini? Aku sangat suka daging sapi! Aku sudah capek kerja keras membersihkan 'gangguan' di kota ini. Sudah waktunya untuk mendapatkan imbalan!"
Chu Ziyi, yang berdiri di pojok dengan tangan menyilang, hanya bisa memejamkan mata sambil memegang keningnya.
"Sialan... aku benar-benar terjebak dengan orang gila yang bahkan tidak sadar kalau dia baru saja menghapus satu kekuatan besar dari peta dunia dengan sesuatu yang sepele seperti limbah dapurnya," gumamnya dengan nada menyerah.
Maka, di bawah langit Neo-Ark yang gemerlap dengan cahaya neon, Tang Yan berjalan keluar laboratorium dengan santai, mengayunkan kunci mobil Arthur sambil sibuk melihat-lihat layar hologram di jalanan. Ia sama sekali tidak sadar bahwa besok pagi seluruh dunia akan gempar mencari tahu identitas orang yang mampu mengubah keluarga paling ditakuti di kota menjadi taman bunga yang indah.