NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Badai di Puncak Alpen

Pesawat jet pribadi The Outsiders mendarat di bandara kecil Samedan, dekat St. Moritz, saat fajar baru saja menyingsing. Suhu di luar mencapai minus sepuluh derajat Celcius. Angin Alpen yang menusuk tulang menyambut Arlan dan Maya begitu pintu pesawat terbuka. Langit tampak kelabu, seolah-olah awan sedang menyimpan badai salju besar yang siap tumpah kapan saja.

Maya merapatkan mantel bulu hitamnya. Di balik kemewahan mantel itu, terselip rompi antipeluru dan berbagai alat pelumpuh syaraf yang diberikan Eleanor. Arlan, meskipun masih menahan nyeri di bahunya, melangkah dengan tegap. Kacamata hitamnya menutupi mata yang lelah, namun rahangnya mengeras menunjukkan tekad yang tak tergoyahkan.

"Ingat, May," bisik Arlan saat mereka berjalan menuju limusin yang telah disiapkan. "Di sini, tidak ada satu pun orang yang bisa dipercaya. Bahkan pelayan hotel sekalipun bisa jadi informan Richard."

Mereka tidak langsung menuju hotel mewah. Yudha, yang sudah mendarat lebih dulu dengan identitas sebagai instruktur ski, memberikan kode lewat pesan terenkripsi: "Serigala sudah berada di sarangnya. Pintu belakang terbuka pukul sebelas malam."

Mereka menginap di sebuah chalet kayu tersembunyi di pinggiran hutan Engadin. Di dalam chalet yang hangat oleh perapian, Arlan segera membongkar koper elektroniknya. Ia menghubungkan laptopnya ke jaringan satelit darurat.

"Kita punya waktu kurang dari dua puluh empat jam sebelum Richard menyadari bahwa kehadiran kita di Zurich hanyalah pengalihan," Arlan menunjuk layar yang menampilkan skema bunker The Vault. "Bunker ini berada tiga ratus meter di bawah permukaan es. Pintu masuk utamanya dijaga oleh pemindai biometrik statis. Tapi ada lubang udara di sektor utara yang bisa kita masuki lewat jalur tebing."

Maya menelan ludah. "Lewat tebing? Di tengah badai salju seperti ini?"

"Itu satu-satunya cara untuk menghindari deteksi sensor gerak di jalur utama," Arlan menatap Maya dengan penuh kekhawatiran. "Aku tahu ini berat bagimu, apalagi dengan kondisi hamilmu. Kalau kamu tidak sanggup, kita bisa—"

"Aku sanggup, Arlan," potong Maya tegas. Ia memegang tangan suaminya. "Bayi ini adalah alasan kenapa kita di sini. Dia akan kuat, seperti ayahnya."

Malam harinya, badai salju benar-benar datang. Jarak pandang tidak lebih dari dua meter. Dengan pakaian taktis serba putih agar menyatu dengan salju, Arlan dan Maya mendaki lereng granit yang licin. Yudha memimpin di depan, memasang tali pengaman pada dinding-dinding es.

Napas Maya tersenggal-senggal. Setiap hirupan udara dingin terasa seperti pisau yang mengiris paru-parunya. Namun, ia terus mendaki. Ia membayangkan wajah Richard Dirgantara dan segala kekejamannya, dan itu menjadi bahan bakar baginya untuk terus bergerak.

Tiba-tiba, suara dengungan halus terdengar dari atas kepala mereka.

"Merunduk!" perintah Arlan.

Sebuah drone pemindai panas terbang lewat, cahayanya menyapu hamparan salju hanya beberapa inci dari tempat mereka tiarap. Maya menahan napas, membiarkan tubuhnya tertutup salju tipis agar tanda panas tubuhnya tidak terdeteksi. Setelah drone itu menjauh, mereka melanjutkan perjalanan hingga mencapai sebuah jeruji besi besar di celah tebing.

Arlan mengeluarkan cairan kimia korosif dan menyemprotkannya ke engsel jeruji. Besi tebal itu melunak seperti mentega, membiarkan mereka menyelinap masuk ke dalam lorong ventilasi yang sempit dan pengap.

Setelah merangkak selama tiga puluh menit, mereka tiba di sebuah balkon pemantau di dalam bunker. Pemandangan di bawah sana membuat Maya terkesiap. Di tengah ruangan raksasa yang dingin dan futuristik, terdapat sebuah pilar kristal cair yang berputar—Master Server Argus.

Dan di depan pilar itu, berdiri seorang pria tua dengan kursi roda elektriknya, dikelilingi oleh para pengawal bersenjata lengkap. Richard Dirgantara.

"Aku tahu kamu akan datang lewat lubang tikus itu, Arlan," suara Richard bergema lewat pengeras suara di seluruh bunker, terdengar sangat jernih dan menyeramkan. "Kamu terlalu mirip dengan ayahmu. Selalu memilih jalan yang sulit hanya untuk menunjukkan harga diri."

Richard menengadah ke arah balkon tempat Arlan dan Maya bersembunyi. "Turunlah. Jangan buat istrimu yang cantik itu kedinginan di atas sana. Bawa koper itu, dan mari kita selesaikan urusan keluarga ini seperti bangsawan."

Arlan berdiri, ia tahu persembunyian mereka sudah terbongkar sejak awal. Ia memegang tangan Maya, memberi isyarat agar ia tetap tenang. Mereka menuruni tangga besi menuju lantai utama, dikepung oleh moncong senjata otomatis.

"Kamu terlihat mengerikan, Richard," Arlan berdiri dua meter di depan kakeknya. "Luka bakar itu cocok dengan kepribadianmu."

Richard terkekeh, meski suaranya terdengar menyakitkan. "Luka ini adalah pengingat bahwa aku masih hidup, sementara orang-orang yang mencoba menghancurkanku sudah menjadi abu. Sekarang, berikan kopernya. Dan Nona Maya... silakan mendekat ke pemindai frekuensi jantung di sebelah sana."

Maya merasakan perutnya bergejolak. Ia melihat sebuah mesin berbentuk tabung kaca dengan sensor elektroda yang sangat banyak.

"Kalau aku melakukannya, apa jaminannya kamu akan melepaskan kami?" tanya Maya, mencoba mengulur waktu sesuai rencana Arlan.

"Jaminannya adalah nyawa suamimu," Richard memberi kode, dan salah satu pengawalnya menekan moncong pistol ke pelipis Arlan. "Pilihannya sederhana, Maya. Menjadi ibu dari seorang anak yang akan menguasai dunia, atau menjadi janda di tengah badai Alpen."

Maya melirik Arlan. Arlan memberikan anggukan kecil—kode bahwa virus sudah mulai diunggah secara nirkabel melalui koper yang ia pegang, namun mereka butuh waktu tiga menit lagi agar prosesnya mencapai seratus persen.

Maya melangkah maju menuju mesin pemindai itu. Ia meletakkan tangannya di atas panel sensor. "Baiklah, Richard. Tapi ingat satu hal... kamu tidak akan pernah bisa mengendalikan apa yang lahir dari cinta."

Lampu mesin pemindai mulai berkedip hijau. Detak jantung janin Maya mulai terbaca oleh sistem Argus. Suara dengungan mesin semakin keras, menandakan sistem sedang melakukan kalibrasi biometrik terakhir untuk membuka akses penuh ke seluruh satelit di dunia.

"Satu menit lagi..." bisik Richard dengan mata yang berbinar penuh nafsu kekuasaan. "Sedikit lagi, dan dunia akan berlutut padaku!"

Namun, tiba-tiba, layar monitor raksasa di dinding bunker berubah warna menjadi merah darah. Kode-kode asing mulai mengalir deras, menghapus semua protokol Richard.

"Apa yang terjadi?! Apa yang kamu lakukan, Arlan?!" teriak Richard panik.

"Aku tidak datang untuk memberimu kuncinya, Richard," Arlan menyeringai, sementara tangan kirinya menekan tombol detonator pada koper. "Aku datang untuk mengganti pemilik rumahnya. Selamat datang di nerakamu sendiri."

Tiba-tiba, seluruh lampu di bunker padam, dan suara alarm peringatan penghancuran otomatis mulai melolong memekakkan telinga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!