NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

acara festival kampus

Keputusan penonaktifan status Devan dijatuhkan begitu cepat dan tanpa ampun. Di depan mata ratusan mahasiswa, Devan berjalan tenang mengekor dua petugas polisi keluar dari gedung pameran.

Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu mobil patroli, Devan sempat menoleh sejenak, menatap Aura dengan pandangan dalam—sebuah tatapan yang meminta gadis itu untuk tetap bertahan dan fokus pada tugasnya.

​Dua minggu berlalu setelah insiden berdarah dingin itu.

​Kehidupan kampus bergerak cepat seolah tak pernah terjadi apa-apa, namun tidak bagi Aura. Tanpa Devan di sekitarnya, hari-hari Aura terasa hampa dan dipenuhi rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.

Setiap kali melewati ruang perpustakaan atau lorong laboratorium, bayangan sosok devan yang tinggi berjaket kulit hitam selalu hadir dalam ingatan Aura.

​Apalagi, hubungan Devan dengan Bimo dan Rian dikabarkan merenggang total akibat rahasia fotografi yang terbongkar. Devan benar-benar terisolasi dari dunianya.

​Hari ini, kampus dipenuhi oleh hiruk-pikuk luar biasa. Hari yang ditunggu-tunggu seluruh mahasiswa akhirnya tiba: Festival Seni dan Pameran Akhir Tahun Kampus.

​Area lapangan utama hingga gedung serbaguna disulap menjadi panggung megah berhiaskan ribuan lampu gantung, deretan stan makanan, dan galeri pameran foto yang megah.

Ribuan pengunjung dari dalam dan luar kampus berdesak-desakan menikmati acara tahunan ini.

​Di balik kemegahan festival tersebut, Aura berdiri di tengah riuhnya area balik panggung (backstage) dengan alat komunikasi walkie-talkie di tangan dan papan jalan di pelukannya. Sebagai ketua panitia utama, beban di bahu Aura terasa luar biasa berat.

​"Kak Aura! HT satu mati, baterai cadangannya ada di mana ya?!" panggil seorang panitia muda dengan wajah panik.

​Aura dengan sigap menunjuk kotak hitam di meja sekretariat. "Di kotak B sebelah kiri meja, Dek! Cepat ganti, sepuluh menit lagi sambutan Rektor mau dimulai!"

​"Kak Aura! Pengisi acara musik akustik belum datang, jalannya macet total di luar!" jerit panitia lainnya yang berlari menghampiri Aura.

​Aura mengusap keringat di dahinya yang tertutup poni tipis. Suara riuh pengunjung, musik keras yang memekakkan telinga, dan mondar-mandirnya panitia membuat kepalanya makin terasa berdenyut nyeri.

​"Nisa!" panggil Aura pada sahabatnya yang baru saja lewat membawa tumpukan pamflet.

"Tolong hubungi tim acara, minta mereka bridging pakai penampilan komedi tunggal dulu kalau band utamanya belum siap!"

​Nisa mengangguk mantap. "Siap, Ra! Tapi kamu sendiri gimana? Kamu dari pagi belum makan sama sekali, muka kamu pucat banget lho!"

​Aura tersenyum tipis, mencoba menguatkan dirinya sendiri.

"Aku nggak apa-apa, Nis. Yang penting festival ini berjalan lancar sampai malam."

​Di saat Aura sedang sibuk mengatur alur acara yang amat padat, Reno melangkah mendekat dengan seragam kemeja panitia yang rapi.

Sebagai ketua Senat Mahasiswa, Reno berulang kali memamerkan senyuman sombongnya di hadapan para tamu undangan dan dosen, seolah-olah seluruh keberhasilan festival ini adalah hasil kerja kerasnya seorang diri.

​"Gimana, Aura?" pancing Reno sambil bersedekap dada di sebelah Aura.

"Lancar, kan? Coba bayangkan kalau si 'biang kerok' Devan masih ada di sini. Acara sebesar ini pasti sudah hancur berantakan gara-gara ulahnya."

​Aura mengepalkan tangannya di balik papan jalan. Ia menatap Reno dengan pandangan dingin yang amat tajam.

"Jangan sebut nama Devan di depan aku, Reno. Kamu tahu betul siapa orang yang sebenarnya merusak acara ini."

​Reno terkekeh pelan, tidak merasa bersalah sedikit pun.

"Terserah kamu mau mikir apa, Ra. Yang penting pameran visual di galeri utama dapat pujian dari Pak Surya dan para kurator luar. Dosen-dosen puas banget sama 'hasil kerja' kelompok kita."

​Aura menahan gejolak amarah di dadanya. Pameran foto yang sedang dipuji-puji oleh Pak Surya di galeri utama itu adalah murni karya dan konsep milik Devan yang diakui secara sepihak oleh Reno.

Sementara sang pemilik karya yang sebenarnya harus mendekam dalam sanksi penonaktifan dan dibenci oleh orang-orang.

​"Aku mau cek area galeri pameran," kata Aura dingin, membalikkan badan dan meninggalkan Reno tanpa memedulikan panggilannya.

​Aura melangkah menyusuri koridor menuju gedung pameran utama. Di sana, deretan foto-foto estetik terpajang rapi di bawah pencahayaan lampu sorot yang lembut— persis seperti konsep tata letak yang dijelaskan Devan di kafe malam itu.

​Aura berdiri di depan salah satu bingkai foto besar yang menampilkan sudut kota Jakarta di kala hujan.

Air mata Aura menetes pelan tanpa bisa ditahan. Ia rindu suara berat Devan. Ia rindu cara Devan memanggil namanya dengan nada lembut 'aku-kamu' yang canggung namun tulus.

​"Kamu di mana sekarang, Devan...?" bisik Aura lirih di tengah keramaian pengunjung galeri.

​Menjelang malam hari, puncak festival kampus mencapai klimaksnya.

Pertunjukan kembang api dan konser musik di panggung utama membuat seluruh perhatian massa tersedot ke lapangan tengah.

Area galeri pameran dan lorong-lorong belakang gedung yang tadinya ramai mendadak sepi melompong.

​Aura berjalan sendirian menuju ruang penyimpanan alat di belakang gedung pameran untuk mengambil sisa spanduk acara yang harus dirapikan.

Tubuhnya terasa amat lelah, kepalanya makin berat akibat kurang tidur dan stres berhari-hari.

​Saat Aura sedang membungkuk merapikan tumpukan spanduk di dalam ruangan yang agak remang-remang itu, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu yang menginjak dedaunan kering dari arah pintu belakang gedung.

​Aura tersentak kaget, berdiri dan membalikkan badannya. "Siapa di sana? Panitia ya?"

​Tidak ada jawaban.

​Aura melangkah pelan mendekati pintu belakang yang terbuka sedikit.

Di luar gedung, lampu jalanan yang remang-remang memantulkan bayangan seorang cowok berbadan tinggi yang berdiri menyendiri di bawah pohon besar.

Cowok itu mengenakan jaket kulit hitam yang sangat familiar, memegang sebuah kamera DSLR di tangannya.

​Jantung Aura serasa mau melompat keluar dari dadanya.

​"Devan?!" panggil Aura dengan suara bergetar penuh rasa tak percaya.

​Sosok tinggi itu perlahan menoleh. Di bawah lampu taman yang remang, wajah Devan terlihat makin tirus, matanya dipenuhi rasa lelah yang teramat dalam, tapi tatapan matanya saat menatap Aura begitu hangat dan penuh rasa rindu.

​"Aura..." panggil Devan pelan, suaranya serak namun terdengar amat lembut di telinga Aura.

​Aura melangkah keluar dari ruangan, air matanya menetes makin deras.

"Kamu... kenapa kamu ada di sini, van? Kamu kan lagi dinonaktifkan... kalau ada yang lihat kamu di lingkungan kampus, kamu bisa makin berbahaya!"

​Devan tersenyum tipis—senyuman tulus yang begitu langka. Ia melangkah satu tindak mendekati Aura, namun tetap menjaga jarak aman.

"Aku cuma mau melihat hasil kerja keras kamu, Ra. Festival ini... kamu berhasil memimpinnya dengan sangat indah."

​"Aku gak peduli sama festival ini, Devan!" tangis Aura pecah, melangkah lebih dekat ke arah Devan. "Aku cuma peduli sama kamu! Kenapa kamu malah sembunyi terus?!"

​Devan menatap Aura lurus-lurus, tangannya di dalam saku jaket mengepal kuat.

"Aku ke sini bukan cuma buat melihat kamu, Ra. Aku ke sini buat mengembalikan ini..."

​Devan mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi dari dalam saku jaketnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu luar dekat pintu.

​"Itu bukti rekaman CCTV asli dari gedung pameran dua minggu lalu yang dihapus sama Reno, beserta foto-foto kamu yang dicuri," kata Devan pelan.

"Aku udah merebutnya kembali tadi ra."

​Aura membelalak kaget. "Kamu... kamu merebutnya dari Reno?!"

​Belum sempat Devan menjawab, tiba-tiba dari balik belokan lorong sepi belakang gedung, tiga buah mobil hitam berhenti mendadak dengan suara decitan ban yang memekakkan telinga.

​Pintu-pintu mobil itu terbanting terbuka. Beberapa pria berbadan tegap berpakaian serba hitam—anak buah Bagas yang bekerja sama dengan Reno—turun membawa balok kayu dan rantai besi, langsung mengepung area pohon besar tempat Devan dan Aura berdiri!

​Reno melangkah keluar dari mobil paling depan dengan wajah merah padam dipenuhi rasa murka yang luar biasa gila.

​" akhirnya, ketemu juga sama lu Devan!" teriak Reno histeris sambil menunjuk Devan. "Lu pikir lu bisa kabur setelah membobol mobil gue dan mencuri kembali foto-foto itu, hah?!"

​Aura menjerit kaget, refleks mundur dan berlindung di belakang tubuh tegap Devan.

​Devan merentangkan tangan kanannya yang masih terbalut kain kasa, pasang badan sepenuhnya di depan Aura.

Tatapan mata Devan mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mematikan, menatap Reno dan belasan preman di depannya.

​"Aura, dengarkan aku," bisik Devan cepat tanpa menoleh, suaranya tetap terdengar sangat menenangkan di tengah kepungan bahaya itu.

"Ambil flashdisk sama amplop di meja itu, lalu lari ke panggung utama sekarang juga. Serahkan itu ke Pak Surya."

​"Nggak, Devan! Aku nggak mau meninggalkan kamu sendirian!" jerit Aura histeris sambil memegang erat kelim jaket Devan.

​"Lari, Aura!" bentak Devan tegas, menoleh sekilas dan menatap mata Aura dengan kepasrahan yang mendalam.

"Aku bakal tahan mereka di sini. Percaya sama aku... ini satu-satunya cara buat membersihkan nama kita berdua!"

​Reno menyeringai gila, melambaikan tangannya pada belasan preman di sekeliling mereka.

"Hajar si Devan sampai mati! Jangan biarkan cewek itu lolos membawa bukti!"

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!