Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Kaya
Kaffa masuk kedalam kamarnya, Tak lupa, Remaja lima belas tahun itu mengunci pintu kamarnya. Kaffa menggenggam benda pipihnya sebelum remaja itu kembali mengecek, Apakah video yang tadi ia rekam benar-benar telah terhapus ataukah masih ada.
"Huuuffft... Ibu, Ayah, Mbak.. Maaf, Kaffa ngelakuin semua ini bukan karena tega, Tapi apa yang kalian lakukan itu tidak patut untuk dibenarkan.." Kata Kaffa pada diri sendiri.
Jujur sebenarnya ia kurang setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh keluarganya. Menipu orang hanya demi keuntungan semata.
Kaffa sebenarnya ingin bersuara setelah tahu, Tapi dia tidak berani. Dia takut saja keluarganya marah besar padanya. Maklum, Lah.. Seorang anak selalu ingin disayang serta punya rasa takut keluarganya. Namun bukan seperti ini juga caranya.
Dulu mereka memang hidup dengan sederhana, Tapi uang yang didapatkan oleh keluarganya halal. Ayahnya bekerja dengan baik dan jujur, Tapi sekarang. Demi hidup bak orang kaya, Ayahnya rela pura-pura sakit.
Memanfaatkan seseorang demi keuntungan mereka. Mereka minta ini dan itu, Minta pakaian mewah. Barang branded, Tv, Kulkas, Motor, Lalu setelah ini rencana minta mobil.
Apa yang dipikirkan mereka? Mendapatkan barang-barang bak sosialita diluaran sana? Supaya apa? Supaya bisa disanjung oleh para tetangga.
Tapi Kaffa tidak menginginkan itu semua. Bukannya tidak mau, Lagipula siapa yang tidak ingin menjadi orang kaya.
Semua manusia dimuka bumi ini tidak ada yang ingin lahir dalam keadaan miskin. Tapi kalau memang sudah takdirnya mau diapakan..
Tuhan tidak akan membiarkan hambanya terus berada dibawah. Ada kalanya Tuhan akan mengangkat derajat hambanya itu sendiri apabila sudah waktunya.
Syaratnya tidak susah, Cukup kita ingat pada Tuhan, Melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, itu sudah. Tuhan ingin kita meminta padanya, Tuhan ingin kita yang butuh. Namun terkadang manusia masih kurang syukurnya.
Seperti keluarga Kaffa saat ini. Fadli memang bersalah karena telah menabrak ayahnya hingga masuk rumah sakit waktu itu. Pria itu juga telah bertanggung jawab atas ketidaksengajaan yang ia lakukan.
Fadli juga berjanji akan membiayai pengobatan ayahnya hingga pria patuh baya itu benar-benar sembuh total..
Dan sekarang, Ayahnya sembuh. Sayangnya Pak Beni masih butuh Fadli dengan memanfaatkan pria itu, Sehingga pria itu masih betah duduk dikursi roda. Pura-pura lumpuh agar Fadli tidak menstop pengobatannya.
Dalam keluarga ini, Hanya Kaffa yang tidak tahu tentang ayahnya yang pura-pura. Ia pikir, Selama ini ayahnya benar-benar lumpuh total. Tapi ternyata, Semuanya bohong.. Ayahnya sudah sembuh sejak lama dan saat ini pria paruh baya itu masih pura-pura.
Dan yang membuat Kaffa tak habis pikir, Sekarang Ibu dan Kakaknya tengah punya rencana. Rencana memiliki harta yang memang bukan yang seharusnya.
Dengan semua itu, Yang Kaffa takutkan hanya satu. Yaitu, Takut Tuhan marah dan mengabulkan keinginan ayahnya untuk menjadi pria lumpuh. Selain itu, Kaffa juga takut kalau sewaktu-waktu rahasia ini terbongkar.
Apa tidak akan menjadi boomerang untuk keluarganya sendiri. Tidak! Kaffa tidak bisa bayangkan bagaimana nanti hari itu tiba.
Ting..
Sebuah notifikasi masuk, Kaffa segera meraih benda pipihnya dan melihat pesan yang baru masuk itu.
"Terimakasih... Kau memang selalu bisa diandalkan.." Kata orang yang mengirim pesan tersebut.
"Om, Saya akan terus cari informasi ini.. Saya akan kasih banyak bukti. Tapi..
"Tapi, Apa?
"Ucapan Om yang katanya mau membiayai saya sampai pendidikan tinggi itu benar?" Kaffa meremas jari-jarinya. Kenapa Om kaya itu tidak membalasnya..
Ting..
Kaffa segera membuka pesannya. Sebuah notifikasi yang membuat senyum Kaffa langsung merekah.
"Saya tidak pernah ingkar janji.. Apapun yang kamu mau, Akan saya turuti.. Setelah ini, Kau mau apa?
"Om, Aku tidak mau apapun.. Aku hanya ingin berhenti sekolah dan melanjutkan sekolahku dipesantren.." Tulis Kaffa pada pria yang remaja itu panggil Om. Dia yakin kalau Om ini akan menepati janjinya.
Dia ingin melanjutkan sekolahnya dipesantren saja. Kaffa juga ingin melanjutkan Pendidikan nya disana, Selain itu Kaffa juga ingin banyak belajar ilmu agama.
Kaffa tidak mau tinggal dengan keluarganya lagi. Dia lelah, Dia capek, Gara-gara video kakaknya yang viral kemarin Kaffa ikut kena hujat oleh para temannya. Kadang dia juga sering dihina dan diolok-olok oleh pada tetangganya.
Kalau dia sudah tinggal dipesantren, Kaffa tidak perlu ikut campur tentang masalah keluarganya lagi. Tak apa dia tidak diingat, Yang penting ia bisa belajar dengan tenang dan tidak kelaparan saja sudah cukup.
"Kita ketemu besok...
"Iya...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari sebelumnya..
"Bu..."
Malam itu, Usai makan malam. Kaffa mendekati ibu dan Kakaknya serta ayahnya yang tengah duduk diruang tengah. Remaja lima belas tahun. tersebut membawa sebuah amplop putih yang isinya surat dari sekolahnya.
"Apa?
"Ini ada surat dari sekolah Bu.. Tadi siang Kaffa dipanggil. Katanya Kaffa harus melunasi uang SPP.. Karena selama ini Kaffa belum bayar sama sekali.. Dan besok harus dilunasi Bu.. Kalau enggak, Kaffa gak boleh ikut ujian.. " Sekolah tempat Kaffa mencari ilmu adalah sekolah swasta, Jadi setiap ada kegiatan selalu mengeluarkan uang.
"Terus? Ini mau diapakan?
"Kok mau diapakan, Bu? Kaffa minta uang buat bayar SPP besok.. Karena dari awal Kaffa belum bayar sama sekali..
"Hallah.. Udah lah, Bilang aja ke gurunya besok. Kapan-kapan bayarnya...
"Kok kapan-kapan Bu? Mbak kan ada uang, Bisa lah bayarin dulu.." Lidya menatap malas adiknya itu .
"Gak ada.. Uangnya udah buat perawatan kesalon..Tunggu gajian aja.. Makanya, Kamu itu harus hemat..
"Mbak.. Aku aja dikasih uang saku pas-pasan.. Kadang aja kurang, Hemat gimana?.." Protes Kaffa.
"Gak ada!.. Kamu masuk kamar aja sana...
Esok harinya, Kaffa kembali dipanggil oleh kepala sekolah. Remaja itu dilarang ikut ujian kalau uang SPP nya tidak dilunasi sekarang..
Padahal Kaffa sudah minta untuk diberikan satu kesempatan lagi. Namun pihak sekolah tak mau alasan apapun.
"Pak, Saya mohon.. Kasih sayang satu kesempatan lagi.. Besok saya bayar deh..
"Tapi..
"Biar saya yang lunasi.." Kaffa langsung menoleh kebelakang, Seorang pria tampan berdiri diambang pintu.
Pria berjas rapi itu melangkah maju dan langsung menghadap kepala sekolah.
"Berapa jumlah uang SPP anak ini yang belum dibayar?" Kepala sekolah pun langsung menyebutkan totalnya. Belum lagi dengan buku serta iuran-iuran yang belum lunas..
Pria itu memberikan kode, Seorang pria berjas satunya masuk dan membayar lunas semuanya.
"Catat dengan baik.. Bahwa anak ini sudah lunas.."
"Baik..Baik..
Setelah membantu Kaffa. Pria itu pergi bersama sang Asisten. Kaffa mengejarnya karena memang belum mengucapkan terimakasih..
"Om, Tunggu!!
Kaffa menghentikan langkah pria itu..
"Ada apa? Kau menghalangi jalanku.." Ucapnya datar dan dingin.
"Saya mau ngucapin terimakasih karena Om udah bantu saya.." Pria itu memasukan kedua tangannya kesaku celana.
"Terimakasih?" Kaffa mengangguk..
"Hanya itu??" Kaffa tak menjawab. Pria itu membungkukan tubuhnya lalu berbisik..
"Kau tahu anak kecil, Didunia ini tidak ada yang gratis.. Aku sudah membantu membayar SPP mu.. Dan aku mau kau membantuku. ." Kaffa menelan salivanya, Sepertinya remaja itu takut. Pria itu tersenyum. .
"Tapi temang saja, Asal kau mau membatuku..Aku akan memberikan apapun yang kau mau.. Aku juga bisa menyekolahkanmu sampai pendidikan tinggi..." Mata Kaffa membola mendengar itu. Lalu pria tersebut memberikan sebuah kartu nama pada Kaffa..
"Hubungi aku kalau kau bersedia membantuku. ." Setelah mengatakan itu. Pria itupun pergi..
Seperginya Pria tadi, Kaffa melihat kartu nama itu kemudian membacanya..
"Sagara Mahendra Andriano. ..
•
•
•
TBC
dan sekarang si pelacur murahan itu buat drama kalau Amara mendorong dia dari tangga? dan kamu percaya Fadli? kenapa kamu ga cek cctv dulu ? dasar bodoh kamu Fadli
ya di terimalah rezeki ga boleh di tolak
kenapa kamu harus sewot Fadli? owh karena kamu ga berguna yah selaku suami? ga bisa beli barang-barang mahal itu? sudah belikan saja buat pelacur murahan kesayangan kamu itu, nanti nangis lagi hadir di acara lelang, tapi ga dibelikan apa-apa