Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Sejak semalam wajah Vivian terus mengerut. Ia duduk di meja makan dengan bahu yang tegang, sendok hanya digeser-geser di atas nasi tanpa banyak disuap. Galih yang duduk di sampingnya beberapa kali melirik, begitu pula ayahnya yang biasanya asyik membaca koran. Suasana sarapan yang biasa tenang kini terasa canggung.
Eni, akhirnya tidak tahan. Ia meletakkan cangkir kopinya dan menatap putri sulungnya dengan alis berkerut.
“Ada apa, Vivian? Kenapa dari semalam wajahmu terus cemberut?” tanya Eni, nada suaranya sudah mulai khawatir.
Vivian menaruh sendoknya di piring dengan gerakan lambat. Ia menghela napas panjang, lalu menatap ibunya dengan mata yang sengaja dibuat basah.
“Aku sedih, Ma,” ujarnya pelan, suara sedikit bergetar. “Sejak kemarin Dera menggangguku terus. Dia kirim pesan aneh-aneh… bahkan foto yang membuat aku tidak nyaman.”
Kalimat itu langsung membuat Eni meradang. Wajahnya berubah, rahang mengeras. Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangan.
“Mana ponselmu. Biar Mama bicara dengan dia!” ucap Eni emosi, suaranya naik.
Vivian pura-pura ragu sejenak, lalu menyerahkan ponselnya. Di dalam hati ia tersenyum kecil. Seperti biasa, ibunya langsung berpihak. Tidak perlu penjelasan panjang. Cukup bilang Dera mengganggunya, dan seluruh keluarga akan melihat adiknya sebagai biang masalah.
Galih yang sejak tadi diam kini menoleh. “Sayang memangnya dia kirim apa?”
Vivian menggeleng pelan, seolah enggan menceritakan. “Nanti saja… Aku tidak mau memperbesar masalah. Tapi sejak dia pergi ke Jakarta, dia seperti berubah. Jadi berani mengusik aku.”
Eni sudah membuka ponsel putrinya, wajahnya semakin merah saat melihat foto Dera bersama pria asing. Ia tidak bertanya siapa pria itu. Yang ada di pikirannya hanya satu: Dera kembali membuat ulah.
“Dasar anak tidak tahu diri,” gerutu Eni. “Sudah pergi, masih saja mengganggu kakaknya. Mama telepon sekarang juga.”
Dodi yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya mengangkat kepalanya “Jangan terlalu emosi, ma. Tapi memang Dera itu harus diberi pelajaran. Jangan sampai dia seenaknya.”
Vivian menunduk, menyembunyikan senyum puas di balik ekspresi sedih. Di meja makan yang sama tempat Dera dulu sering duduk diam menahan air mata, kini drama baru dimainkan dengan sempurna. Dan seperti biasa, seluruh keluarga siap membela Vivian, tanpa sekali pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Eni langsung mengambil ponsel Vivian tanpa ragu. Jari-jarinya bergerak cepat mencari kontak Dera. Wajahnya masih merah karena emosi, napasnya pendek-pendek.
“Sudah keterlaluan ini,” gerutunya sambil menekan tombol panggilan. “Anak itu benar-benar tidak tahu diri. Sudah dikasih pergi, masih saja mengusik kakaknya.”
Nada dering terdengar di speaker. Namun tidak di angkat. Eni mengerutkan kening semakin dalam, lalu memutuskan panggilan dan langsung mengetik pesan dengan cepat.
“Dera, Mama tidak suka kelakuanmu. Jangan ganggu kakakmu terus. Kamu sudah pergi, ya sudah di sana saja. Jangan bikin masalah lagi.”
Pesan itu terkirim. Eni melempar ponsel ke atas meja, dengan kesal.
Vivian yang duduk di seberang pura-pura menunduk, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. Ia berhasil. Seperti biasa, ibunya langsung percaya tanpa bertanya lebih jauh. Galih yang sejak tadi diam hanya menghela napas, lalu menyuap nasinya lagi. Ia sudah terbiasa dengan drama seperti ini.
Ayah menutup koran pelan. “Sudah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Dera memang selalu bikin ribut sejak dulu. Biarkan saja dia di Jakarta.”
Eni masih belum tenang. Ia berdiri, mengambil cangkir kopinya yang sudah dingin, lalu berjalan ke dapur sambil bergumam. “Anak itu benar-benar membuat kepala Mama pusing. Untung Vivian lebih mengerti.”
Vivian menatap punggung ibunya, lalu menoleh ke Galih. “Kamu lihat sendiri, kan? Dia yang mulai.”
Galih hanya mengangguk singkat, tidak banyak komentar. Di dalam hati ia agak ragu, tapi tidak berani mempertanyakannya. Di rumah ini, membela Vivian selalu lebih aman.
Sementara itu, di Jakarta, ponsel Dera yang tergeletak di meja kerja bergetar pelan. Notifikasi pesan dari mamanya muncul di layar. Dera yang sedang fokus mengetik laporan sempat melirik, lalu membeku sejenak. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Ia belum membuka pesan itu. Tapi firasatnya sudah tidak enak.
Dera menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya membuka pesan itu. “Dera, Mama tidak suka kelakuanmu. Jangan ganggu kakakmu terus. Kamu sudah pergi, ya sudah di sana saja. Jangan bikin masalah lagi.”
Kalimat itu pendek, tapi terasa seperti tamparan. Dera membaca berulang kali, seolah berharap ada kata yang berbeda. Tidak ada. Hanya tuduhan dan perintah untuk menjauh.
Dadanya langsung sesak. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya, lalu menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes pelan di sela jarinya. Di sekelilingnya, suara keyboard dan obrolan rekan kerjanya terdengar samar, seolah berasal dari dunia yang berbeda.
Ia tidak mengganggu siapa pun. Ia bahkan tidak membalas pesan-pesan kasar Vivian. Tapi sekali lagi, keluarganya memilih percaya pada versi cerita kakaknya. Sekali lagi, ia menjadi pihak yang salah tanpa sempat menjelaskan.
Kenapa selalu aku yang disalahkan? Kenapa Mama tidak pernah bertanya dulu?
Dera menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri seperti yang diajarkan Gio. Tapi kali ini sulit. Rasa sedih itu bercampur dengan kecewa yang sudah terlalu lama menumpuk. Ia merasa seperti anak yang dibuang, lalu tetap dikejar dengan tuduhan meski sudah pergi jauh.
Chika yang kebetulan lewat menghentikan langkah. “Der? Kamu kenapa?”
Dera cepat mengusap air mata, memaksakan senyum tipu. “Tidak apa-apa. Cuma… pesan dari rumah.”
Chika mengernyit, tapi tidak memaksa. “Kalau butuh cerita, bilang saja ya.”
Dera mengangguk pelan. Setelah Chika pergi, ia kembali menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Pesan itu masih ada di sana, menunggu balasan. Namun, Dera tidak membalasnya. Tidak juga menghapusnya. Ia hanya menyimpan rasa sakit itu sendirian, seperti yang sudah-sudah.
Dera menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya pelan lewat mulut. "Kamu harus tetap tenang, Dera. Jangan terpancing" gumamnya pada diri sendiri.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa