Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Marco memahami maksud tuannya. Ia tetap berdiri diam, menunggu perintah selanjutnya. Sementara itu, Gia memandang pintu ruang tengah dengan perasaan campur aduk. Di balik pintu itu ada ayahnya, ibunya, dan keluarga yang selama ini lebih memilih mempercayai Amerda daripada dirinya. Dia tidak tahu apakah pertemuan ini akan memberinya keadilan. Namun, setidaknya kali ini ia tidak datang sendirian.
Ketika pintu ruang tengah akhirnya mulai terbuka, semua orang di dalam rumah itu akan segera mengetahui bahwa kedatangan Adam Maxnore bukanlah kunjungan biasa.
Sadam Conti sedang duduk di ruang tengah bersama istrinya ketika seorang pelayan datang tergesa-gesa. Napas pelayan itu sedikit memburu, wajahnya tampak tegang seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya.
“Maaf, Tuan. Ada tamu yang datang.”
Sadam mengerutkan kening. “Tamu siapa? Mengapa kau terlihat seperti baru melihat hantu?”
Pelayan itu menelan ludah sebelum menjawab.
“Tuan Adam Lorenzo Maxnore sudah tiba. Beliau sekarang berada di depan ruang tengah, bersama dengan beberapa bawahannya.”
Cangkir teh di tangan Sadam seketika berhenti di udara.
“Apa katamu?”
"Tuan Adam Lorenzo Maxnore, Tuan.”
Maudi yang duduk di samping suaminya langsung menoleh dengan wajah terkejut. Nama itu bukan nama yang bisa dianggap sepele, terlebih setelah anak buah Adam datang ke rumah mereka sehari sebelumnya untuk mencari Amerda.
Sadam segera meletakkan cangkirnya di atas meja. Ada firasat buruk yang mendadak muncul di benaknya.
'Mengapa Tuan Adam datang sendiri ke rumah ini?' batin Sadam tak tenang. 'Apakah pria itu sudah menemukan bukti baru mengenai kecelakaan yang menewaskan Nona Veronika?'
“Suruh dia masuk,” perintah Sadam, berusaha mempertahankan ketenangannya.
"Tidak perlu.” Suara dingin itu terdengar dari ambang pintu sebelum pelayan sempat berbalik.
Sadam dan Maudi serentak menoleh. Adam Lorenzo Maxnore telah berdiri di sana dengan setelan hitam yang rapi. Marco berada di belakangnya, sementara beberapa pengawal berjaga di lorong. Tatapan Adam begitu tajam, membuat suasana ruang tengah yang semula tenang seketika berubah mencekam. Namun, bukan kedatangan Adam yang paling mengejutkan Sadam. Melainkan sosok perempuan yang berdiri beberapa langkah di belakang pria itu, Giana Bianca Conti, Putri kandungnya sendiri.
Perempuan yang selama ini dianggapnya telah melarikan diri dan mempermalukan keluarga.
Maudi pun berdiri dari sofa, “Gia …?” Suaranya bergetar. Tatapannya menyapu wajah putrinya yang pucat, tubuhnya yang tampak lemah, hingga langkahnya yang berhati-hati.
“Ya Tuhan, Gia, apa yang terjadi denganmu?”
Namun, sebelum Maudi sempat mendekat, Sadam sudah bangkit dengan kasar. Ingatan tentang perkataan Amerda kembali terlintas di kepalanya. Putrinya itu mengatakan bahwa Gia telah melarikan diri bersama pria lain, meninggalkan pernikahannya, dan membuat keluarga Conti berada di ambang kehancuran.
Akibat perbuatan Gia, nama baiknya tercoreng. Bisnis yang selama bertahun-tahun dibangunnya terancam terkena dampak skandal tersebut. Tetapi, sekarang, perempuan itu berani kembali ke rumahnya. Apalagi dengan Adam Lorenzo Maxnore berdiri di sampingnya.
“Kau!” bentak Sadam.
Gia tersentak, tubuhnya refleks menegang ketika melihat ayahnya berjalan cepat ke arahnya.
"Jadi, kau masih berani menunjukkan wajahmu di rumah ini?!” lanjut Sadam dengan kasar, kening Adam berkerut.
“Ayah, aku—”
“Diam!” Bentakan Sadam menggema di ruang tengah.
Gia langsung terdiam. Jemarinya meremas sisi pakaiannya, sementara wajahnya semakin pucat. Sadam terus mendekat. Wajahnya merah padam, matanya menyala oleh kemarahan yang seolah sudah lama mencari jalan keluar.
“Anak kurang ajar! Untuk apa kau kembali setelah mempermalukan keluarga ini? Apa kau belum puas menghancurkan nama baikku? Bisnisku hampir hancur gara-gara perbuatanmu!”
Maudi buru-buru melangkah maju, “Mas, tunggu dulu! Gia baru saja—”
“Jangan ikut campur, Maudi!”
Sadam tidak memedulikan istrinya. Tatapannya tetap tertuju kepada Gia, seolah perempuan di hadapannya itu adalah satu-satunya orang yang pantas menerima seluruh kemarahannya.
“Kau meninggalkan pernikahanmu, membuat keluarga Dominic menanggung malu, lalu sekarang kembali dengan membawa masalah baru ke rumah ini!”
Gia menunduk, dadanya terasa sesak mendengar tuduhan yang bahkan belum memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa pun. Lagi-lagi, ayahnya langsung menjatuhkan vonis tanpa mau mendengarkan.
"Ayah, aku tidak pernah bermaksud mempermalukan keluarga—”
“Tidak bermaksud?” Sadam tertawa sinis. “Lalu apa yang kau sebut semua ini? Apa kau pikir aku tidak tau betapa sulitnya menyelamatkan urusan bisnis setelah kau membuat kekacauan?”
Ia semakin dekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah.
“Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjalani kehidupan yang baik. Namun, apa yang kau lakukan? Kau justru menghancurkan semuanya!”
Air mata mulai menggenang di mata Gia. Bukan karena ia tidak mampu membela diri, melainkan karena kata-kata itu kembali mengingatkannya bahwa bahkan setelah semua yang terjadi, ayahnya masih tidak mau bertanya apakah dirinya baik-baik saja.
Sadam menunjuk wajahnya dengan tangan gemetar menahan amarah.
“Seharusnya kau tidak pernah kembali ke sini!”
Gia mengangkat wajah perlahan. Bibirnya bergetar, tetapi ia berusaha menjawab.
“Ayah, ku mohon, dengarkan aku sekali saja. Aku tidak—”
“Cukup!” Sadam kembali membentak, lalu melontarkan kalimat yang membuat seluruh ruangan seolah membeku.
“Aku bahkan sudah memintamu untuk mati saja! Mengapa kau masih hidup dan kembali untuk menghancurkan keluargamu sendiri?!”
Belum sempat Sadam melangkah lebih dekat, sebuah lengan besar tiba-tiba terentang di hadapannya, menghalangi jalannya menuju Gia.
Adam, berdiri tepat di antara Sadam dan perempuan yang sejak tadi berusaha menahan ketakutannya. Wajahnya berubah murka. Tatapan dinginnya kini mengandung ancaman yang membuat udara di ruang tengah terasa jauh lebih berat.
Sadam berhenti mendadak. Adam menatapnya tanpa berkedip, rahangnya mengeras. Ia telah mendengar cukup banyak tuduhan sejak kedatangannya, tetapi ucapan Sadam yang terakhir telah melewati batas kesabarannya.
Di belakang Adam, Gia terpaku. Ia menatap punggung pria itu dengan mata membesar, tidak menyangka Adam akan menghalangi ayahnya. Sementara, Marco langsung menegakkan tubuh, bersiap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Adam perlahan menurunkan lengannya, tetapi ia tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya.
“Coba ulangi ucapanmu tadi, Tuan Sadam.” Suaranya rendah. Terlalu rendah hingga justru terdengar lebih mengerikan.
Sadam menatap Adam dengan wajah tegang, tetapi harga dirinya tidak membiarkannya mundur begitu saja.
“Apa maksudmu?
Adam maju setengah langkah. Tatapannya semakin tajam, sementara kemarahan di wajahnya sama sekali tidak berusaha disembunyikan.
“Aku ingin mendengar sekali lagi apa yang baru saja kau katakan kepada putrimu sendiri.”
Maudi menutup mulutnya, sedangkan Gia berdiri kaku di belakang Adam. Sadam mengepalkan tangan.
"Karena jika kau benar-benar berharap putrimu mati hanya demi menyelamatkan nama baik dan bisnismu—” Adam berhenti sejenak, menatap Sadam seolah sedang memberi pria itu kesempatan terakhir untuk memahami situasi yang sedang dihadapinya. Lalu, dengan suara dingin yang membuat Maudi seketika menahan napas, Adam melanjutkan.
"Sepertinya kau belum memahami siapa yang sebenarnya sedang berdiri di rumahmu pagi ini.” Wajah Adam jelas merah padam, Marco tidak mengerti kenapa Tuannya begitu marah setelah mendengar ucapan Sadam terhadap putrinya.
ap Dy punya rencana sendri???