NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Baru Pakde

“Orang suruhan apa? Aku bahkan sudah lama tidak kalian inginkan.”

Pakde menghiraukan jawaban Melisa. Ia malah merangkak menuju Bu Inggit dan hendak meraih kakinya. Tentu saja Bu Inggit mundur.

“Melisa meninggalkan hutang besar dari kebiasaan berjudinya, Nyonya. Saya mohon percayalah, bahkan dia menggadaikan surat rumah kami.”

Astaga, tuduhan apalagi ini. Melisa memutar boal mata saking muaknya.

Bu Inggit menggelengkan kepala pada Melisa. “Kamu berutang banyak sekali penjelasan, Mel. sepertinya sejak awal salahku terlalu percaya padamu tanpa menyelidiki apapun. Ternyata hidupmu penuh kebohongan begini.”

Lalu pada Pakde yang masih bersimpuh di lantai Bu Inggit juge mengatakan sesuatu. “Saya tidak tahu Bapak ini siapanya Melisa, tapi Melisa di sini sedang bekerja dan saya memblokir semua akses keuangannya. Silakan pulang dulu, biar orang saya nanti ke rumah bapak untuk membereskan masalah ini.

“Tapi saya butuh uangnya sekarang, Bu. Melisa meninggalkan banyak sekali hutang yang harus kami tanggung.”

“Saya tidak bisa percaya siapapun di sini. Melisa juga masuk ke rumah ini dengan kebohongan. Jadi, sebagai keluarganya, sangat besar kemungkinan kamu juga berbohong. Sudah, silakan pulang baik-baik atau saya lempar dari sini.”

Melisa tidak menyangka kebohongannya akan terus diungkit oleh Bu Inggit, ia pikir ia sudah dimaafkan.

Pakde keluar dari sana dengan wajah penuh dendam dan menahan amarah sebab yang diinginkan tidak ia dapatkan dan malah dipermalukan. Ia menatap Melisa beberapa detik untuk memberi perhitungan.

Melisa hendak mengejar pakdenya untuk bertanya siapa yang memberitahu kalau ia tinggal di tempat ini sekarang, tapi Bu Inggit mencegahnya dan memintanya segera masuk.

Di dalam rumah, Bu Inggit yang tadi sudah tenang soal tuduhan pencurian yang dilakukan Melisa, kali ini kembali berwajah masam.

“Kali ini apa pembelaanmu, Mel? Apa kamu memang bermasalah dan suka berbohong karena besar di keluarga yang seperti itu?”

Hati Melisa tersinggung. Meskipun sebenarnya ia tidak menyangkal fakta itu, tetap saja kenyataan ini begitu menyakitkan begitu didengar langsung oleh telinganya sendiri.

“Saya tinggal bersama pakde hanya kurang lebih satu tahun, itu sepeninggal almarhum ibu kandung saya. Mereka memperlakukan saya kurang baik, saya kabur dari rumah saat akan dijodohkan dengan juragan tua di sana. Sejak itu, kami tidak berhubungan.”

“Lalu bagaimana dia tahu kamu tinggal di sini?”

“Itu juga yang ingin saya tanyakan tadi, Bu. Siapa yang memeberi tahu pakde tentang keberadaan saya.” Melisa mengatakannya sambil matanya menerawang jauh entah ke mana. Ia mengumpulkan segala kemungkinan dalam benaknya.

“Jangan beri tahu, Dharma. Usahanya sedang dalam masalah akhir-akhir ini.”

Bu Inggit lalu pulang dengan membawa banyak masalah Melisa yang perlu diuraikan benang kusutnya satu per satu. Sudah lama ia hidup damai, tidak ia sangka ternyata tujuannya mencarikan istri untuk Dharma agar anak itu tidak terus merecokinya justru malah membawanya pada kerumitan lain seperti ini.

...

Siang itu Melisa tidak bisa tidur. Ia memikirkan bagaimana membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dalam insiden pencurian yang menumbalkan namanya tadi pagi. Soal pakde, ia pikirkan nanti dulu.

Melisa beranjak dari sofanya untuk mencari Rosa. Entah bagaimana caranya nanti, ia harus menemukan jawaban. Ia yakin sekali bahwa Rosa adalah kunci dari semua hal buruk yang menimpanya.

Di dapur tidak ada siapa-siapa. Kolam renang juga sepi. Perpustakaan, ruang kerja, gudang bahan, semuanya sepi siang itu.

“Mencari apa sampai keliling rumah begitu, Nyonya?” Itu pembantu paling tua yang baru tadi pagi Melisa tahu namanya Bu Nani.

“Rosa. Apa anda tahu di mana dia?”

“Sedang tidur siang. Aku bisa sampaikan nanti kalau ada pesan penting yang ingin nyonya bicarakan.”

Berbeda dengan Rosa yang selalu berbicara lantang padanya, Bu Nani justru yang terlihat banyak berubah setelah pernikahannya dengan Dharma dilangsungkan. Ia menjadi lebih halus saat berbicara, meskipun Melisa tahu masih ada raut kebencian di wajah itu padanya.

“Tidak perlu. Nanti kalau dia sudah bangun aku akan menemuinya lagi.”

Melisa pergi dari sana.

Sekarang ia kaan coba pergi ke kamar Dayu saja untuk mengalihkan kerumitan dalam kepalanya. Sedang apa anak itu sekarang? Biasanya anak muda seperti Dayu selalu punya hal menarik untuk dikerjakan.

...

“Kebetulan sekali. Aku baru saja mau ke kamar kamu untuk menyampaikan pesan Papa.”

Melisa terheran. Tumben ada pesan untuknya, biasanya Dharma hanya diam dan sesekali berbicara saat ia bertanya terlalu banyak atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan Dharma.

“Apa katanya?”

“Nanti malam jangan ditunggu, di kantor sedang ada acara gathering santai bersama para karyawan.”

“Oh, oke.” Ia pikir apa, tidak biasanya begini.

“Tadi aku cerita ke papa soal kamu digosipin orang-orang, biar segera diselesaikan urusan itu kalau memang kamu tidak bersalah. Ternyata mungkin tidak bisa langsung selesai karena papa lagi ada acara.”

Setelah kalimat Dayu itu tadi baru Melisa paham kenapa ada pesan untuknya juga. Rupanya mereka berdua berusaha mencarikan solusi untuknya.

“Nanti aku juga kan yang malu kalau kabar kamu mencuri barang ART sampai terdengar di sekolahku, makanya harus segera diluruskan.”

Noted, Melisa sudah menjadi keluarga di sini. Maka apapun yang ia lakukan harus berdampak baik dan tidak mencoreng reputasi keluarga yang sudah sejak lama dijaga baik. “Maaf ya, aku datang ke sini bukannya bagus malah jadi bawa masalah buat kalian.”

“Iya, mana pakaianmu murahan semua. Nanti aku coba bilang ke papa juga biar kamu di rawat dan dibelikan baju-baju bagus.”

Hah? Bukannya bersimpati, anak ini malah semakin menyebutkan poin-poin buruk Melisa.

“Nanti aku coba belajar fashion biar tidak malu-maluin keluarga kalian deh.” Melisa merendah saja agar tidak semakin dikorek lagi kerendahannya.

Astaga, ternyata bertemu Dayu bukannya terhibur ia malah dapat tambahan koreksi yang memberatkan beban pikirannya.

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Anonim: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!