NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TARGET PERTAMA

Bau menyengat dari aseton, lem lateks, dan kopi basi langsung menyambut hidung Leo begitu mereka melangkah masuk ke ruang belakang sebuah klinik gigi gadungan di pinggiran distrik timur. Tempat itu tidak terlihat seperti klinik sama sekali, melainkan bengkel kerja yang dipenuhi kepala manekin, wig berbagai warna, dan deretan botol bahan kimia.

"Duduk dan jangan banyak gerak," perintah Bram menunjuk sebuah kursi tukang cukur tua yang kulitnya sudah pecah-pecah.

Bram adalah pria kurus berambut gondrong yang usianya sulit ditebak. Menurut Elena, pria ini adalah seniman pemalsu wajah terbaik yang jasanya sering dipakai oleh buronan kelas kakap atau agen intelijen gelap yang ingin menghilang dari radar kota.

Leo duduk perlahan, masih menahan nyeri di bahu kanannya yang dibalut perban. Ia melirik ke arah Elena yang sedang bersandar santai di kusen pintu sambil mengunyah permen karet.

"Berapa lama prosesnya?" tanya Leo menatap pantulan dirinya di cermin kusam depan kursi.

"Tergantung seberapa sering kau mengeluh," sahut Bram santai sambil mengoleskan cairan dingin yang baunya seperti alkohol ke sekitar rahang dan tulang pipi Leo. "Struktur wajah Valenti terlalu khas. Garis rahangmu terlalu tegas, hidungmu terlalu lurus. Kamera pengawas kasino Golden Palace punya perangkat lunak biometrik yang bisa membaca struktur tulang wajahmu dari jarak dua puluh meter. Kita harus menumpuknya dengan prostetik."

"Lakukan saja cepat," gumam Leo memejamkan mata saat Bram mulai menempelkan lapisan silikon hangat ke pipinya.

Selama hampir dua jam, Leo dipaksa duduk diam sementara Bram bekerja dengan pinset, kuas, dan cairan perekat. Rasa gatal dan panas menjalar di wajahnya, tapi ia menahannya. Ia membiarkan rambut hitamnya dicat menjadi cokelat terang dan ditata rapi ke belakang. Sebuah lensa kontak berwarna abu-abu dimasukkan ke matanya, menutupi warna cokelat gelap aslinya.

"Selesai," kata Bram memutar kursi itu menghadap cermin. "Perkenalkan, Rafael Rossi. Putra tunggal dari bos properti pesisir selatan yang kerjaannya cuma menghamburkan uang bapaknya di meja judi."

Leo membuka mata. Ia tertegun. Pria yang menatapnya dari balik cermin sama sekali bukan Leonardo Valenti. Rahangnya terlihat lebih lebar, hidungnya sedikit lebih bengkok, dan matanya yang abu-abu memberikan kesan arogan dan licik. Luka kecil di pelipis yang ia dapatkan saat jatuh ke sungai pun tertutup sempurna oleh riasan tebal.

"Sempurna," puji Elena berjalan mendekat dan menaruh sebuah amplop cokelat tebal di atas meja kerja Bram. "Ini KTP, paspor, dan kartu kredit atas nama Rafael Rossi. Aku sudah meretas server kependudukan dan bank pusat untuk memasukkan datanya. Kalau keamanan kasino memeriksa latar belakangmu, Rafael Rossi adalah orang yang nyata dan sangat kaya."

"Rasanya aneh," Leo menyentuh pipinya sendiri. Kulit silikon itu terasa menyatu dengan kulit aslinya.

"Jangan terlalu sering disentuh, lemnya butuh waktu untuk benar-benar kering," peringat Bram sambil menghitung tumpukan uang tunai yang diberikan Elena sebagai bayaran. "Dan ingat, otot wajahmu mungkin terasa agak kaku kalau kau tertawa terlalu lebar. Tapi kurasa orang kaya yang sombong jarang tertawa lebar, kan?"

Leo berdiri, mengambil kartu identitas dari tangan Elena dan memasukkannya ke saku jaketnya. "Lalu bagaimana dengan targetnya? Golden Palace bukan tempat yang bisa dimasuki orang sembarangan, apalagi ruang hitungnya."

"Kita bicarakan itu di mobil," ajak Elena membalikkan badan dan berjalan keluar dari klinik kumuh tersebut.

Mereka menggunakan sebuah sedan hitam sewaan yang sudah dimodifikasi pelat nomornya. Hujan rintik kembali turun membasahi jalanan kota yang mulai gelap. Elena duduk di kursi kemudi, sementara Leo duduk di sebelahnya, terus memandangi wajah barunya dari kaca spion.

Elena menyalakan tablet di pangkuannya, memunculkan proyeksi cetak biru tiga dimensi dari bangunan Kasino Golden Palace.

"Kasino ini adalah brankas berjalan milik Marco," jelas Elena sambil mengemudikan mobil membelah kemacetan sore. "Semua uang hasil pemerasan, penjualan senjata gelap, dan setoran dari bisnis kotor dikumpulkan di sini setiap malam sebelum dipindahkan ke rekening luar negeri oleh Vincenzo besok paginya."

"Vincenzo tidak akan ada di sana malam ini, kan?" tanya Leo menatap cetak biru itu.

"Tidak, si akuntan pengecut itu selalu tidur nyenyak di rumahnya. Kasino itu dijaga oleh Silas, salah satu kapten baru yang diangkat Marco," Elena mengetuk layar, memunculkan foto seorang pria botak dengan luka codet di leher. "Silas punya sekitar empat puluh penjaga bersenjata yang menyamar sebagai pihak keamanan kasino dan tamu biasa."

"Empat puluh lawan dua. Peluang yang sangat bagus," sindir Leo mendengus pelan.

"Kita tidak akan melawan mereka semua, bodoh," balas Elena memutar bola matanya. "Target kita adalah ruang hitung yang ada di lantai dasar, tepat di bawah ruang VIP. Ruangan ini dikunci dengan pintu baja setebal lima belas sentimeter. Sensor sidik jari, pemindai retina, dan yang paling merepotkan, dua kunci kombinasi mekanis kuno."

"Kenapa pakai kunci mekanis kalau mereka sudah punya sistem elektronik?"

"Karena ayahmu yang memasangnya sepuluh tahun lalu, ingat?" Elena mengingatkan dengan nada datar. "Ayahmu paranoid dengan peretas, jadi dia membuat brankas yang tidak bisa dibuka hanya dengan meretas komputer. Aku bisa menembus sensor sidik jari dan retinanya dari jauh, tapi aku butuh tangan manusia untuk memutar kombinasi mekanisnya."

"Dan karena aku tahu pola kombinasi yang sering dipakai ayahku, kau membutuhkanku di sana," Leo mengangguk mulai paham.

"Tepat," Elena menggeser layar tabletnya lagi. "Malam ini, kau masuk lewat pintu utama sebagai Rafael Rossi. Aku sudah mendaftarkan namamu di daftar tamu VIP. Tugas pertamamu adalah membuat keributan kecil di meja Baccarat."

"Keributan seperti apa?"

"Menang banyak, bertingkah arogan, atau apalah yang biasa dilakukan orang kaya manja. Buat manajer lantai dan kamera pengawas fokus padamu," jelas Elena dengan mata tetap fokus ke jalanan. "Sementara mereka sibuk melayanimu, aku akan meretas sistem keamanan utama mereka dari mobil ini. Aku butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk mematikan sensor alarm di lorong menuju ruang hitung."

"Tunggu, kau tidak ikut masuk?" Leo menoleh menatap gadis itu.

"Oh, aku ikut masuk," Elena tersenyum miring, sebuah senyum penuh rahasia. "Tapi lewat pintu belakang. Aku harus menyisipkan *flashdrive* secara fisik ke server lokal mereka di ruang staf. Jaringanku butuh jembatan manual supaya tidak terlacak oleh sistem *firewall* utama kasino."

"Jadi kita berpisah di dalam?" Leo mengernyitkan dahi. "Bahuku masih sakit, dan aku tidak bisa membawa senjata ke dalam kasino. Detektor logam mereka sangat sensitif."

"Aku sudah memikirkan itu," Elena menekan tombol di dasbor mobil, membuka laci kecil di depan Leo. Di dalamnya terdapat sebuah pistol polimer kecil berkaliber .22, tanpa sedikit pun komponen logam.

"Pistol komposit? Ini mainan, Elena. Jarak tembak efektifnya tidak sampai sepuluh meter," keluh Leo mengambil pistol ringan itu dengan ekspresi tidak puas.

"Itu lebih baik daripada kau memukul orang pakai tangan kosongmu yang berdarah semalam," potong Elena tajam. "Lagi pula, kau tidak ke sana untuk baku tembak. Kau ke sana untuk menguras uangnya. Kalau kau sampai harus menggunakan pistol itu, berarti rencana kita sudah gagal total."

Mobil mereka berhenti di sebuah parkiran bawah tanah sebuah pusat perbelanjaan elit, dua blok dari lokasi Kasino Golden Palace. Elena mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah bangku belakang yang dipenuhi tas belanjaan.

"Sekarang saatnya bagian yang paling menyebalkan dari misi ini," keluh Elena menghela napas kasar.

"Apa?" Leo mengangkat alisnya bingung.

"Berganti baju," jawab Elena membuka pintu mobil. "Kau ganti bajumu dengan setelan jas abu-abu di tas ransel itu. Aku akan ganti baju di toilet sana. Rafael Rossi tidak mungkin datang ke kasino ditemani gembel berjaket kulit kucel, kan?"

Sepuluh menit kemudian, Leo sudah mengenakan setelan jas sutra abu-abu mahal yang potongannya pas di tubuhnya, meski ia harus meringis menahan sakit saat memasukkan lengan kanannya. Ia memakai jam tangan tiruan berlapis emas dan menyemprotkan parfum menyengat. Karakter Rafael Rossi sudah menempel sempurna di tubuhnya.

Ia bersandar di kap mobil, menunggu Elena. Terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi dari arah lorong.

Leo menoleh, dan untuk beberapa detik, ia lupa cara bernapas.

Elena berjalan ke arahnya mengenakan gaun malam panjang berwarna merah marun yang memperlihatkan belahan kaki kirinya. Rambut sebahunya yang biasanya berantakan kini disanggul elegan ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya. Riasan di wajahnya tipis tapi tajam, menegaskan tulang pipinya dan menonjolkan mata cokelat gelapnya yang dingin. Sebuah kalung berlian imitasi melingkar di leher jenjangnya.

Gadis peretas yang biasanya bau kopi, kabel terbakar, dan debu ruang bawah tanah itu kini lenyap, digantikan oleh sosok *femme fatale* yang bisa membuat pria mana pun di kasino rela memberikan dompet mereka secara cuma-cuma.

"Tutup mulutmu, Valenti. Jangan sampai lalat masuk," tegur Elena ketus, meski ada sedikit rona merah di pipinya. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan pakaian terbuka itu.

"Aku cuma tidak menyangka kau tahu cara memakai sepatu hak tinggi," Leo berdehem, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah pintu keluar parkiran.

"Aku pernah mematahkan hidung orang pakai hak sepatu ini," balas Elena sambil memasang earpiece komunikasi berukuran mikro ke telinganya, lalu menyodorkan satu lagi kepada Leo. "Pasang ini. Kita tetap terhubung lewat saluran aman. Ingat, kau Rafael Rossi, aku kekasih simpananmu yang cerewet. Kita masuk bersama, buat keributan di meja VIP, lalu aku akan mencari alasan ke toilet dan menyusup ke ruang staf."

Leo memasang earpiece tersebut di telinga kirinya. Ia memperbaiki letak jasnya, merasakan pistol polimer kecil yang terselip rapi di balik pinggangnya.

"Kau siap memotong urat nadi Marco malam ini?" Leo menatap Elena, sorot mata arogan Rafael Rossi kini menyatu dengan niat membunuh seorang pangeran mafia.

"Ayo kita buat bajingan itu bangkrut," Elena menggamit lengan kiri Leo dengan gaya manja yang dibuat-buat, lalu mereka berdua melangkah keluar dari tempat parkir, berjalan menuju gemerlap lampu neon Kasino Golden Palace yang membelah kegelapan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!