NovelToon NovelToon
CINTA BEDA 12 TAHUN: Kapten Vs Gadis Bunga

CINTA BEDA 12 TAHUN: Kapten Vs Gadis Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Action / Komedi
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.

Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.

Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!

Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akad Di Ruang ICU

Suara melengking dari monitor jantung memekakkan telinga. Garis-garis hijau di layar datar itu melompat-lompat liar sebelum perlahan menurun dramatis. Dokter dan dua perawat bergegas mendekati bangsal, menggeser Fikri dan Seruni yang berdiri kaku.

"Tekanan darah sistolik turun di bawah lima puluh! Saturasi oksigen merosot cepat!" seru dokter jaga dengan nada panik. Tangannya dengan sigap mengambil stimulan, memasukkannya ke dalam selang infus Kakek Rahmat.

Namun, mata Kakek yang samar-samar mulai kehilangan pendar kehidupan itu tidak sedikit pun beralih dari Fikri. Tangan rentanya yang memegang pergelangan tangan Fikri semakin melemah, tetapi cengkeramannya seolah menjadi jangkar terakhir yang menahannya di dunia ini. Mulutnya yang membiru bergerak tanpa suara, membentuk kata yang sama berulang kali: 'Mohon...'

Rasa bersalah yang menghimpit dada Fikri seperti hendak menghancurkan tulang rusuknya. Pria tua ini tak mengenal dirinya. Kakek ini hanyalah seorang warga biasa yang beberapa jam lalu mungkin sedang menikmati harinya dengan tenang, sampai akhirnya tubuh rentanya menerjang peluru demi menyelamatkan nyawa seorang prajurit. Dan kini, permintaan terakhirnya di ujung nyawa adalah sebuah kepastian untuk masa depan cucu tunggalnya.

Fikri menatap Seruni. Gadis itu terisak hebat, bahunya berguncang tanpa henti. Air mata membasahi pipinya yang pucat, menetes hingga ke celemek toko bunga yang masih terikat di pinggangnya. Seruni menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan ketakutan yang teramat sangat.

"Kakek... jangan begini... Kakek janji mau lihat Seruni lulus sekolah..." ratap Seruni dengan suara parau yang menyayat hati. Tangannya yang mungil meremas jemari Kakek yang kian dingin. "Seruni tidak punya siapa-siapa lagi, Kek... Jangan tinggalkan Seruni..."

"Saya terima," ucap Fikri pendek.

Suara Fikri berat, dalam, dan bergetar hebat. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, menghentikan tangis histeris Seruni seketika. Gadis itu mendongak, menatap Fikri dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan.

Fikri menunduk, mengunci tatapan matanya pada Kakek Rahmat. "Saya berjanji, Pak. Atas nama kesatuan saya, atas nama nyawa yang sudah Bapak selamatkan... saya akan menikahi Seruni Shafira. Saya akan menjaga dan melindunginya seumur hidup saya."

Senyum tipis dan sangat rapuh terkembang di bibir pucat sang Kakek. Isyarat kelegaan yang amat sangat terpancar dari matanya yang mulai meredup.

"Kapten! Anda yakin?" bisik Briptu Dimas yang berdiri di dekat pintu dengan wajah tegang.

"Dimas! Hubungi Kantor Agama terdekat sekarang! Panggil penghulu ke UGD detik ini juga! Gunakan wewenang kepolisian, minta prosedur darurat!" perintah Fikri tanpa mengalihkan pandangannya. Suaranya tegas, melarang adanya bantahan.

"Siap, Kapten!" Dimas langsung berlari keluar lorong, merogoh ponselnya dengan tergesa-gesa.

"Paman... Paman gila?!" teriak Seruni seraya memukul dada Fikri yang bernoda darah. "Aku tidak mau! Aku baru tujuh belas tahun! Aku masih mau sekolah, Paman! Kakek cuma panik, Kakek tidak sadar bicara apa!"

Fikri menangkap kedua pergelangan tangan Seruni yang gemetar. Ia menatap lurus ke dalam mata gadis yang dipenuhi kepanikan itu. "Mbak Seruni, lihat kakekmu," bisik Fikri dengan nada sangat lembut namun mengikat. "Ini adalah satu-satunya hal yang menahan kakekmu untuk pergi dengan tenang. Kamu mau kakekmu pergi membawa rasa cemas karena memikirkan nasibmu yang sendirian?"

Seruni menoleh ke arah bangsal. Kakek Rahmat menatapnya dengan sisa-sisa kesadaran yang hampir habis, air mata menetes dari sudut mata tua yang keriput itu. Kakek menggeleng pelan, seolah memohon agar Seruni tidak menolak amanah terakhir ini.

Hati Seruni hancur berkeping-keping. Dunia yang ia kenal runtuh dalam hitungan jam. Di antara rasa kehilangan yang amat sangat dan rasa sayang yang mendalam pada sang kakek, Seruni akhirnya tertunduk. Tangisnya pecah kembali, kali ini berupa kepasrahan yang teramat perih. Ia tidak mampu menolak keinginan terakhir orang yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Dua puluh menit berlalu bagaikan siksaan merayap. Seorang penghulu paruh baya tiba di ruang tindakan UGD dengan napas terengah-engah, didampingi Dimas dan seorang anggota polisi lainnya yang bertindak sebagai saksi. Suasana ruangan yang beraroma antiseptik tajam itu mendadak berubah menjadi panggung paling sakral sekaligus paling memilukan.

Dokter memberi ruang, meski alat monitor jantung terus berbunyi tidak teratur di latar belakang. Kakek Rahmat berbaring kaku, namun matanya tetap terbuka, menyaksikan detik-detik ikrar sakral itu.

Fikri berlutut di samping bangsal Kakek, berhadapan dengan sang penghulu. Di sampingnya, Seruni duduk bersimpuh di lantai ubin yang dingin, menggenggam erat gaun sederhananya. Syal segitiga di kepalanya tampak miring, poninya yang basah oleh keringat dan air mata menempel di dahi.

Penghulu menatap Fikri dan Kakek Rahmat bergantian dengan raut wajah prihatin. "Karena wali nikah dalam kondisi tidak mampu mengucapkan akad secara langsung akibat kondisi medis kritis, dan telah memberikan isyarat serta amanah tegas, saya akan mewakilkan ikrar ini..."

Penghulu mengulurkan tangannya. Fikri menyambut genggaman itu. Tangan Fikri yang biasa memegang senjata berat kini terasa dingin dan gemetar.

"Saudara Fikri Rafisqy bin Faisal Hakim.. saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Seruni Shafira binti Hasan Basir dengan mas maskawin perhiasan emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

Fikri menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seraya menatap wajah Kakek Rahmat yang menatapnya penuh harap.

"Saya terima nikah dan kawinnya Seruni Shafira binti Hasan Basir dengan mas maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Fikri dengan satu tarikan napas, lantang dan tanpa keraguan, menggema di seluruh sudut ruangan UGD.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!" sahut Dimas dan rekan polisinya dengan suara serak menahan haru.

"Alhamdulillah..."

Tepat saat kata 'Alhamdulillah' dan doa pendek selesai diucapkan oleh sang penghulu, sebuah suara panjang dan konstan memotong keheningan ruangan.

Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiippp...

Garis hijau pada layar monitor jantung di atas bangsal berubah lurus sempurna. Tidak ada lagi grafik meliuk. Tidak ada lagi detak yang naik turun.

"Dokter! Grafik datar!" seru perawat.

Dokter segera maju, memeriksa pupil mata Kakek Rahmat dengan senter kecil, lalu meletakkan stetoskop di dada pria tua itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Dokter menundukkan kepala perlahan dan melihat jam di dinding.

"Pasien dinyatakan meninggal dunia pada pukul 15.42 WIB..."

"KAKEEEEK!"

Jeritan histeris Seruni memecah kesunyian rumah sakit. Gadis itu melompat dan menubruk tubuh kakeknya yang sudah tak bernyawa. Ia memeluk erat dada kakeknya yang kini benar-benar tak bergeming.

"Kakek jangan bercanda! Kakek, jangan pergiiii! Seruni sudah ikuti kemauan Kakek! Buka matanya, Kek! Kakek janji tidak akan tinggalkan Seruni!" jerit Seruni seraya mengguncang-guncang bahu Kakek Rahmat. Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi kain sprei rumah sakit.

Namun tidak ada jawaban. Wajah Kakek Rahmat tampak sangat tenang, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang telah mengatup rapat. Pria tua itu pergi dengan damai, menyerahkan seluruh masa depan cucunya ke tangan pria yang baru saja mengikat ikrar suci.

Pandangan Seruni mendadak kabur. Kesedihan yang luar biasa hebat, rasa syok yang bertubi-tubi, serta rasa lelah yang menumpuk membuat dadanya sesak. Kepalanya terasa berputar hebat.

"Kakek..." bisik Seruni untuk terakhir kalinya sebelum tubuh kecilnya terkulai lemas, roboh ke samping.

Sebelum tubuh Seruni menyentuh lantai, tangan tegap Fikri dengan sigap menangkapnya. Fikri merengkuh tubuh lemah gadis bercelemek itu ke dalam dekapannya. Wajah Seruni tampak begitu pucat dan polos di dada Fikri.

Fikri menunduk menatap gadis yang kini secara hukum dan agama telah resmi menjadi istrinya. Seorang gadis remaja yang berjarak usia 12 tahun dengannya, yang baru saja kehilangan seluruh dunianya dalam satu sore.

Fikri mengepalkan tangannya rapat-rapat, berbisik pelan di atas puncak kepala Seruni yang pingsan. "Tidurlah... Mulai hari ini, aku yang akan menjadi pelindungmu."

1
Ariany Sudjana
semangat belajar yah Runi
Pujiastuti
serasa melayang ke awan ya Seruni dicium sama Aa kapten 🤭🤭
Dini Anggraini
Cyndi kan masih ada briptu dimas yang single pokoknya jangan kapten fikri karena dia sudah punya seruni gak boleh kamu gaet lagi. Seruni buktikan bila prestasimu tetap bagus meskipun sudah menikah.
Nur Asiatun
Alhamdulillah...tenang ya seruni,ada mas Fikri yg akan selalu melindungimu
Ariany Sudjana
bagus Fikri, kamu suami yang bijak. harusnya kepala sekolah juga seperti itu, cari dulu kebenarannya seperti apa, jangan mudah terpancing gosip murahan
Nur Asiatun
Alhamdulillah...lanjut Author
Ayu Padi
up yg bnyk Thor...lucu seru sekali
Ariany Sudjana
betul seruni, kamu jangan bodoh, kalian itu suami istri, jadi jangan panggil suami kamu itu paman
Erizani
lanjut habis ceritanya seru banget
Ariany Sudjana
hahaha benar seruni, hantu ganteng namanya Fikri 😂😂🤣🤣
Irni Yusnita
seruni kocak sungguh senang dengan kepolosan dan apa ada tanpa ada yg dibuat"😍
Ariany Sudjana
wah semangat yah seruni 🤣🤣
Nur Asiatun: ceplas ceplos yg bikin sayang
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Fikri, seruni harus belajar kalau Fikri itu suami sah, jadi jangan panggil paman, kan akhirnya Bagas nekat, dasar bodoh seruni
Ariany Sudjana
tapi benar sih kata seruni, bagaimana pun seruni itu perempuan mandiri, jadi lebih nyaman cari uang sendiri, walaupun Fikri memperhatikan semua kebutuhannya
Ariany Sudjana
bagus seruni, kamu tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan pelacur murahan seperti Farida itu 🤣🤣😂😂
tiara
Karya ini bagus dan menghibur,semangat upnya thor sehat selalu
Nur Asiatun
Alhamdulillah...di tunggu updete nya thor
Nur Asiatun
wa'alaikumussalam Author...
𝐈𝐬𝐭𝐲
Alur ceritanya bagus, lucu dan sangat menarik dan selalu ditunggu² up nya ..
Rohmi Yatun
waalaikumsalam thor.. udah dr kemarin 2 kasih bintang kok... cerita nya seru.. semoga lancar sampe end ya.. 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!