Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: PAPA, TOLONG JANGAN BELI SEKOLAH GUE!
Pukul 12.15 WIB.
Rendra Adijaya sedang mengalami krisis keluarga.
Bukan karena perusahaan ayahnya bangkrut. Bukan karena nilai ulangannya turun. Bukan juga karena dia kehilangan akun game dengan peringkat tertinggi.
Masalahnya jauh lebih mengerikan.
Ayahnya ingin membeli gedung sekolahnya.
Dan semua itu gara-gara satu foto.
“Gue mau pindah planet,” gumam Rendra sambil menatap ponsel.
Aldi yang duduk di sampingnya mengunyah bakso.
“Kalau pindah planet, gue ikut.”
“Siapa yang ngajak lo?”
“Persahabatan.”
“Persahabatan kita berakhir kalau lo masih ngomong.”
Aldi mengangguk bijaksana. “Baik. Gue akan menghormati masa berkabung hubungan kita.”
Rendra mengabaikannya dan kembali membuka WhatsApp.
Papa: Papa cuma ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk kalian.
Rendra: PAPA, KAMI BUKAN PASANGAN!
Papa: Belum, maksudmu?
Rendra langsung melempar ponselnya ke meja.
“ANJIRRRRR!”
Beberapa siswa menoleh.
Aldi mengangkat kedua tangan. “Saya tidak mengenal orang ini.”
“GUE DENGAR!”
“Sayangnya, telinga saya tidak bisa memilih majikan.”
Rendra menutup wajah dengan kedua tangan.
Dia harus menyelesaikan masalah ini sebelum ayahnya benar-benar mengirim alat berat ke sekolah.
Pukul 12.25 WIB.
Naya sedang duduk di perpustakaan ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Nomor Tak Dikenal: Selamat siang, Neng Kanaya. Saya sekretaris keluarga Adijaya. Apakah Neng berkenan menghadiri makan siang bersama keluarga kami akhir pekan ini?
Naya membaca pesan itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu dia mengirim tangkapan layar kepada Rendra.
Naya: RENDRA.
Rendra membalas dalam waktu dua detik.
Rendra: GUE BISA JELASIN.
Naya: GUE BELUM NANYA APA-APA.
Rendra: GUE SUDAH MERASAKAN AURA PENGADILAN.
Naya mengetik dengan cepat.
Naya: KENAPA SEKRETARIS KELUARGA LO NGUNDANG GUE MAKAN SIANG?!
Rendra menatap pesan itu sambil merasa ingin mengundurkan diri dari status sebagai anak.
Rendra: Gue akan menyelesaikannya.
Naya: Kalau lo beli restoran, gue blokir lo.
Rendra: GUE BAHKAN BELUM MEMBELI RESTORAN!
Naya: Berarti lo sudah memikirkannya.
Rendra terdiam.
Sial.
Bagaimana dia bisa tahu?
Sementara itu, Naya mematikan layar ponselnya dan menyandarkan kepala ke kursi.
Dia tidak membenci keluarga Rendra. Dia bahkan belum pernah bertemu mereka.
Namun, membayangkan harus duduk di meja makan mewah sambil ditanyai soal hubungan dengan cowok yang baru beberapa hari lalu mengancam membeli jalur angkot demi dirinya membuat kepala Naya berdenyut.
“Gue cuma mau hidup normal,” gumamnya.
Sayangnya, semesta tampaknya punya kontrak eksklusif dengan kekacauan.
Pukul 13.10 WIB.
Di rumah keluarga Adijaya, Rendra berdiri di depan ruang kerja ayahnya.
Pak Adijaya sedang membaca dokumen bisnis dengan santai.
“Papa.”
“Hm?”
“Kenapa Papa mengundang Naya makan siang?”
Ayahnya mengangkat wajah.
“Karena Papa ingin mengenal temanmu.”
“Teman kelompok.”
“Baik. Teman kelompok.”
“Bukan pacar.”
“Papa belum mengatakan dia pacarmu.”
Rendra menyipitkan mata.
“Papa bertanya apakah Papa perlu membeli restoran untuk kami.”
“Restoran bisa menjadi investasi.”
“PAPA!”
Pak Adijaya menurunkan dokumennya, kemudian tersenyum tipis.
“Rendra, Papa hanya ingin membantu. Kamu jarang sekali membawa teman ke rumah. Ketika Papa mendengar kamu dekat dengan seseorang, Papa senang.”
Rendra terdiam.
Jawaban itu tidak terdengar seperti ejekan.
Ayahnya memang sering menuruti permintaan absurd Rendra, tetapi dia juga tahu putranya kesulitan bergaul dengan orang lain.
“Papa nggak perlu membeli apa-apa supaya gue punya teman,” katanya pelan.
Pak Adijaya memperhatikan putranya.
“Papa tahu.”
“Dan jangan menghubungi Naya tanpa bilang ke gue dulu.”
“Baik.”
“Serius?”
“Serius.”
Rendra menghela napas lega.
Akhirnya.
Satu masalah selesai tanpa transaksi properti.
Dia berbalik menuju pintu.
“Oh, Rendra.”
Rendra berhenti.
“Apa lagi?”
“Papa sudah membatalkan pembelian restoran.”
“Terima kasih, Pa.”
“Papa menggantinya dengan reservasi restoran yang sudah ada.”
Rendra membeku.
“...APA?”
Pak Adijaya kembali membaca dokumennya.
“Reservasinya masih bisa dibatalkan.”
Rendra menatap langit-langit.
Tuhan, kalau memang ada ujian kehidupan, kenapa soalnya selalu berupa ayah sendiri?
Pukul 19.45 WIB.
Rendra sudah berada di depan komputer.
Biasanya, jam segini dia akan masuk ke server Discord NIGHTMARE, bermain game bersama anggota lain, lalu mengobrol dengan Naya.
Namun, malam ini dia sibuk menatap pesan undangan makan siang.
Dia tidak ingin Naya merasa terpaksa.
Dia juga tidak ingin membuatnya mengira bahwa keluarga Adijaya akan ikut campur dalam kehidupan pribadinya.
Akhirnya, Rendra membuka Discord dan mengirim pesan pribadi.
King_Ren: Soal undangan makan siang tadi, lo nggak perlu datang kalau nggak nyaman. Gue sudah minta Papa buat nggak menghubungi lo lagi tanpa izin.
Dia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Rendra mulai menggigit ujung lengan bajunya.
Kemudian balasan masuk.
Kanaya Putri: Bagus. Gue hargai itu.
Rendra mengembuskan napas.
King_Ren: Kalau suatu hari lo mau ketemu keluarga gue, gue bakal tanya dulu. Nggak ada paksaan.
Kanaya Putri: Tumben otak lo berfungsi.
King_Ren: Otak gue selalu berfungsi.
Kanaya Putri: Kemarin lo hampir mengumumkan kontrak rahasia kita ke satu kelas.
King_Ren: Itu gangguan sistem.
Kanaya Putri: Iya, iya. Sistem operasi Windows 98.
Rendra tertawa kecil di depan layar.
Tidak ada permintaan untuk datang.
Tidak ada usaha membujuk.
Tidak ada janji berlebihan.
Dia hanya memberi Naya pilihan.
Dan anehnya, itu terasa jauh lebih melegakan daripada semua rencana besar yang pernah dibuatnya.
Beberapa saat kemudian, pesan baru muncul.
Kanaya Putri: Btw, kalau undangannya masih berlaku dan keluarga lo nggak aneh-aneh, mungkin gue mau datang lain kali. Tapi bukan sekarang.
Rendra membeku.
Matanya melebar.
Jantungnya seperti baru saja melakukan parkour di dalam dada.
King_Ren: Oke. Gue bakal bilang ke Papa.
Dia berhenti mengetik.
Menarik napas.
Kemudian menambahkan:
King_Ren: Makasih sudah mempertimbangkan.
Naya membalas dengan stiker kucing mengacungkan jempol.
Rendra menatap stiker itu selama hampir satu menit.
Lalu membuka grup keluarga.
Rendra: Papa, Naya mungkin mau bertemu keluarga kita suatu hari nanti. Tapi belum sekarang. Jangan membuat rencana apa pun dulu.
Balasan ayahnya datang cepat.
Papa: Baik. Papa mengerti.
Rendra tersenyum lega.
Lalu pesan berikutnya masuk.
Papa: Kalau begitu, Papa batalkan reservasi restorannya.
Rendra: TERIMA KASIH, PA.
Papa: Tapi apakah Papa boleh menyiapkan kue?
Rendra langsung menutup laptop.
“GUE MENYERAH.”
Dari luar kamar, ayahnya berteriak, “Kuenya cokelat atau stroberi?”
“PAPA, JANGAN BELI APA-APA!”
“Baik! Papa buat sendiri!”
Rendra menatap pintu kamarnya dengan wajah kosong.
Ternyata, ancaman terbesar dalam hidupnya bukanlah rumor sekolah, bukan Dimas, dan bukan pula rasa gugup ketika berbicara dengan manusia.
Ancaman terbesarnya adalah seorang ayah kaya yang memiliki terlalu banyak uang, terlalu banyak ide, dan kemampuan luar biasa untuk tidak memahami instruksi sederhana.
Sementara itu, di kamar kosnya, Naya tertawa membaca pesan terakhir Rendra.
Dia menggeleng pelan.
“Dasar keluarga aneh.”
Kemudian dia membuka Discord, masuk ke ruang obrolan, dan menyapa anggota server seperti biasa.
Tanpa disadari Naya, Rendra sudah bergabung lebih dulu.
Kali ini, dia tidak mengirim pesan bertubi-tubi.
Tidak menuntut perhatian.
Dia hanya menyapa singkat.
King_Ren: Malam, semuanya.
Naya membalas di kanal umum.
Kanaya Putri: Malam. Jangan bikin masalah.
King_Ren: Siap, bos.
Rendra tersenyum.
Untuk malam ini, dia tidak perlu membeli restoran, sekolah, atau satu kota penuh angkot.
Cukup tetap berada di sana, mendengarkan suara teman-temannya, dan belajar bahwa kedekatan tidak harus dibeli.
Meski begitu, ketika ayahnya kembali mengirim pesan tentang resep kue stroberi, Rendra langsung mematikan notifikasi grup keluarga.
Ada batas untuk setiap manusia.
Termasuk dirinya.