Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 rumah orangtua alya
Pagi-pagi sekali Alya sudah terlihat sangat sibuk.Sejak subuh Alya sudah melipat baju-bajunya yang sederhana, melipat baju Nisa dan Raffi dan memasukkannya ke dalam tas ransel kecil yang sudah usang. Wajahnya terlihat campur aduk antara bahagia dan haru.
Sudah lama sekali Alya tidak pulang menjenguk ayah dan ibunya di kampung sebelah. Sejak ia diusir oleh Bu Ratna dan tinggal di kebun mangga milik Ustadzah Munah, ia belum pernah sekalipun pulang karena malu dengan statusnya yang masih dalam proses perceraian dan karena dia belum bisa menguatkan hatinya untuk menyampaikan mengenai rumah tangganya yang berantakan dengan Arman pada ayah ibunya.
Kini, setelah masa iddahnya selesai dan hatinya sudah jauh lebih tenang, Alya merasa sudah waktunya untuk pulang dan memberitahukan kepada kedua orang tuanya bahwa ia sudah resmi bercerai dengan Arman.
"Bu,Alya mau pamit ya bu.Alya ingin menjenguk Ayah dan Ibu di kampung. Sudah lama sekali Alya tidak pulang. Alya kangen sama Ayah dan Ibu."ucap Alya kepada Ustadzah Munah di teras rumah besar sambil menggendong tas ranselnya dan menggandeng Nisa dan Raffi.
Ustadzah Munah yang mendengar itu langsung memeluk Alya dengan erat.
"Alhamdulillah nak alya,memang sudah seharusnya kamu pulang. Ayah dan Ibu kamu pasti kangen sekali sama kamu dan cucu-cucunya,. Berapa hari kamu akan tinggal disana nak?"
"Insya Allah tiga hari Bu, Alya ingin memberitahukan bahwa Alya sudah resmi bercerai dengan Arman. Alya ingin minta doa restu dari Ayah dan Ibu untuk hidup baru Alya." jawab Alya dengan suara yang pelan tapi mantap.
Ustadzah Munah mengangguk dan langsung memanggil anak bungsunya yang sedang membantu Mas Fikri memperbaiki motor di halaman.
"Ilham sini nak!"
Ilham datang dengan tergesa-gesa sambil mengelap tangannya yang penuh oli.
"Iya Bu,ada apa?"
"Ilham, tolong antarkan Mbak Alya pulang ke rumah orang tuanya . Kasihan dia bawa dua anak dan bawa tas sendirian naik angkot. Kamu antarkan pakai mobil kamu ya. Jaga dia dan anak-anak dijalan,antar dia dengan selamat sampai dirumah orangtua." pinta Ustadzah Munah dengan nada yang lembut tapi ada makna yang dalam di baliknya.
Ilham langsung mengangguk dengan wajah yang berbinar-binar bahagia. Inilah kesempatan pertama baginya untuk bisa dekat dengan Alya kembali setelah pembicaraan kemarin.
"Siap Bu! Ilham akan antar mba alya dan anak-anak sampai kerumahnya dengan selamat.Mbak Alya mari mba, mobilnya sudah siap tunggu di mobil saja sementara saya bersiap-siap sebentar."
Alya sedikit terkejut dan wajahnya langsung memerah.
"Eh, tidak usah merepotkan mas ilham. Saya bisa ko naik angkot sama anak-anak."
"Tidak merepotkan sama sekali mba, Justru Ilham senang bisa membantu. Lagian jalan ke kampung Mbak Alya itu agak rusak, kasihan Nisa dan Raffi kalau naik angkot berdesakan."jawab Ilham dengan tulus.
Akhirnya Alya pun mengangguk dan menerima tawaran itu. Mereka berangkat dengan mobil Avanza putih milik Ilham. Nisa dan Raffi duduk di belakang dengan ceria, sementara Alya duduk di kursi depan dengan jarak yang terjaga dan sangat sopan. Selama perjalanan, Ilham sangat menjaga pandangannya, ia fokus menyetir, sesekali bertanya tentang keadaan jalan, tidak pernah membahas hal yang berlebihan.
Perjalanan selama satu jam itu terasa sangat tenang dan nyaman bagi Alya. Baru pertama kali ia merasakan diantar oleh seorang laki-laki yang begitu menjaga dan menghormatinya.
Sesampainya di kampung halaman Alya yang sederhana, rumah panggung kayu milik Ayah Harun dan Ibu Lastri terlihat masih sama seperti dulu. Asap dari dapur kayu mengepul pelan.
Saat mobil Ilham berhenti di depan rumah, Ayah Harun dan Ibu Lastri yang sedang duduk di teras langsung terkejut dan berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Alya? Ya Allah, Alya! Anakku pulang! Nisa! Raffi! Cucu-cucuku!" teriak Ibu Lastri sambil berlari memeluk Alya, Nisa, dan Raffi dengan erat. Air matanya jatuh deras karena rindu.
Ayah Harun juga memeluk Alya dengan pelukan yang erat.
"Alya,nak Ayah kangen sekali sama kamu. Kenapa lama sekali tidak pulang,kenapa baru sekarang kamu pulang.Selama ini dimana kamu tinggal nak?"
Alya menangis di dalam pelukan kedua orang tuanya.
"Maafkan Alya ya yah,bu.Alya baru bisa pulang sekarang.
Setelah pelukan rindu itu selesai, barulah Ayah Harun dan Ibu Lastri menyadari ada seorang laki-laki muda yang tampan, bersih, memakai baju koko putih dan peci, berdiri sopan di samping mobil sambil menunduk dan membawa tas ransel Alya.
Ayah Harun mengerutkan kening.
"Alya dia siapa? Mana Arman nak? Kenapa bukan dia yang mengantar kamu?"
"Ayah ibu,kenalin inias Ilham.Mas Ilham ini anak bungsu dari ustadzah Munah ibu pemilik kebun mangga tempat Alya tinggal selama ini.Beliau yang sudah menolong Alya,menjadi tempat pulang Alya setelah Alya diusir dari rumah Bu Ratna.Tadi ustadzah Munah meminta mas Ilham mengantar Alya dan anak-anak."
Ilham langsung maju dengan sopan dan mencium tangan Ayah Harun dan Ibu Lastri dengan penuh hormat.
"Assalamualaikum pak Bu,kenalkan Saya Ilham.Mba Alya benar,saya anak bungsu dari ustadzah Munah beliau meminta saya mengantarkan putri bapak dan cucu kalian dengan selamat sampai rumah.
Mereka mempersilahkan Ilham dan Alya serta cucu-cucunya masuk kedalam rumah.
Bu Lastri menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus yang baru saja matang.
Di dalam rumah kayu yang sederhana itu, Alya akhirnya memberanikan diri untuk memberitahukan kabar yang sudah lama ia simpan.
"Ayah ibu, ada kabar yang ingin Alya sampaikan.Ayah,ibu ucap Alya dengan suara yang bergetar sambil menggenggam tangan ibunya.
Ibu Lastri menatap Alya dengan cemas.
"Kabar apa nak?Kabar baik atau kabar buruk.
Alya menarik napas panjang dan berkata dengan mantap wajah kedua orangtuanya.
"Ayah,ibu Alya sudah resmi bercerai dengan Arman.Tiga bulan yang lalu sidang putusan perceraian susah diketuk dipengadilan agama dan sekarang Alya sudah menjadi janda.Masa Iddah Alya baru saja selesai hari ini.
Mendengar itu, Ayah Harun dan Ibu Lastri terdiam sejenak. Tidak ada tangisan, tidak ada amarah. Justru ada raut kelegaan di wajah mereka.
Ibu Lastri mengusap air matanya.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga Nak. Ibu sudah sejak lama tau tentang semua ini dan ibu menunggu kamu dan anak-anak datang kesini, kerumah bapak ibu rumah kamu.Ibu tau kamu menderita dirumah suamimu.Tapi ibu tidak bisa apa-apa,ibu hanya bisa mendoakan kamu dari jauh,sekarang hati ibu sudah lega dan tenang setidaknya ibu sudah melihat kamu baik-baik saja meskipun dengan setatus kamu yang," Lastri tak kuasa melanjutkan ucapannya.
"Sudah-sudah yang penting sekarang kamu dan cucu-cucu Ayah sehat dan bahagia. Ayah merestui keputusan kamu nak dan Ayah bangga kamu berani mengambil keputusan sebesar itu."
Alya menangis haru mendengar restu dari kedua orang tuanya.
Di sela-sela obrolan itu, orangtua Alya mulai memperhatikan gelagat Ilham yang duduk sopan di samping. Mereka tahu gelagat Ilham yang menaruh hati pada Alya.
Ibu Lastri melihat bagaimana cara Ilham menatap Alya dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman tapi sangat menjaga.
Ayah Harun yang sudah tua dan berpengalaman juga melihat hal yang sama. Ia melihat bagaimana Ilham adalah laki-laki yang sholeh, sopan, dan tulus. Beda jauh dengan Arman yang dulu sering membentak Alya di depan mereka.
Saat Alya pergi ke dapur untuk membantu ibunya memasak, Ayah Harun berbisik kepada Ilham.
"Nak Ilham maaf jika bapak lancang.Em,bapak perhatikan dari tadi sepertinya kamu menaruh hati pada anak bapak,Alya? Betul itu nak?"
Ilham yang ditanya seperti itu langsung terkejut, wajahnya memerah, dan ia menunduk dalam-dalam.
"Maaf pak jika sikap saya terlihat tidak sopan.Saya memang mengagumi mba Alya.Saya berniat ingin menikahi mba Alya dan menjadi ayah untuk Nisa dah raffi itupun jika bapak dan ibu merstui." jawab Ilham dengan jujur dan suara yang bergetar karena gugup.
Ayah Harun tersenyum bijaksana dan menepuk bahu Ilham.
"Tidak apa-apa nak,bapak sangat paham.Bapak justru senang.Bapak lihat kamu laki-laki yang baik dan sholeh, Nak. Beda sekali dengan mantan suami Alya dulu.Jika memang kamu serius dengan niat kamu dan Alya juga sudah mengiyakan bapak hanya bisa memberikan restu."
Ibu Lastri yang datang dari dapur juga tersenyum dan mengangguk.
"Betul nak Ilham,ibu juga merestui kalian.Ibu tau dan ibu paham kamu pasti laki-laki yang baik.
Malam itu, di rumah panggung kayu yang sederhana, Alya tidur dengan nyenyak di samping kedua orang tuanya setelah sekian lama. Di ruang tamu, Ilham tidur dengan hati yang berbunga-bunga karena sudah mendapatkan restu awal dari orangtua Alya.
Ia tahu, perjalanannya untuk mendapatkan hati Alya masih panjang, tapi setidaknya hari ini ia sudah berhasil mengantarkan Alya pulang dan memberitahukan kepada orangtua Alya bahwa Alya sudah resmi bercerai.
Bersambung...