NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 - Istikharah Pertama Muthi'ah

Malam Jumat, habis Isya, asrama putri sudah sepi. Lampu kamar 7 dimatikan, tinggal lampu belajar kecil di pojokan.

Muthi'ah menggelar sajadah kecil tipis yang selalu dia bawa dari rumah.

Dina, Zahra, Salsa sudah tidur, atau pura-pura tidur, biar Muthi'ah tidak sungkan.

Malam ini Muthi'ah mau istikharah. Tapi bukan istikharah yang dipikirkan orang-orang.

Bukan istikharah "Ya Allah, Jay jodoh saya atau bukan?"

Muthi'ah sudah lelah ditanya itu, bahkan di dalam hatinya sendiri. Yang lebih dekat, yang lebih membuat sesak, adalah pertanyaan: "Berani tidak saya bicara ke Ayah dan Ibu, kalau saya mau kuliah dulu?"

Dia wudhu, pelan, lama. Lalu sholat dua rakaat. Rakaat pertama membaca Al-Kafirun, rakaat kedua Al-Ikhlas, seperti yang diajarkan Nyai Maryam.

Habis salam, dia membaca doa istikharah yang ada di mushaf kecil pemberian Nyai Maryam.

"Allahumma inni astakhiruka bi 'ilmika..."

Ya Allah, aku meminta pilihan dengan ilmu-Mu.

Di tengah doa, air matanya menetes lagi. Bukan karena sedih difitnah, tapi karena takut mengecewakan orang tua.

"Ya Allah, kalau kuliah dulu itu baik untuk agamaku, untuk masa depanku, untuk keluargaku, mudahkan. Kalau bicara jujur ke Ayah Ibu itu baik, beri aku berani. Aku tidak tahu, Ya Allah. Kasih aku petunjuk, bukan lewat mimpi, tapi lewat tenangnya hati," bisiknya di atas sajadah.

Habis doa, dia tidak langsung tidur. Dia mengambil buku tulis yang sampulnya sudah agak lusuh.

Judulnya: Untuk Abi dan Umi.

Dia mulai menulis.

Abi, Umi, assalamualaikum.

Muthi'ah minta maaf kalau surat ini membuat Abi Umi sedih.

Muthi'ah tahu, Abi dan Umi sayang sama Muthi'ah. Muthi'ah tahu janji dengan keluarga Gus Jay itu niatnya baik. Muthi'ah hormat dengan janji itu.

Tapi Abi, Umi, Muthi'ah takut. Takut kalau Muthi'ah nikah sekarang, Muthi'ah belum siap jadi istri. Muthi'ah masih ingin belajar. Muthi'ah ingin kuliah Bahasa Arab, ingin jadi guru seperti cita-cita Muthi'ah dari kecil.

Muthi'ah tidak menolak Gus Jay, Abi, Umi. Gus Jay orang baik. Dia juga korban janji ini sama seperti Muthi'ah.

Muthi'ah hanya tidak mau cara kita dipaksa. Dipaksa nikah cepat gara-gara gosip.

Boleh ya, Bi, Mi, Muthi'ah kuliah dulu? Boleh ya, Muthi'ah kenal Gus Jay pelan-pelan, bukan karena disuruh nikah bulan depan?

Maaf ya, Abi, Umi, kalau Muthi'ah lancang menulis surat ini. Muthi'ah hanya ingin jujur, sekali saja.

Sayang, Muthi'ah.

Tiga halaman. Tulisannya ada bekas air mata di beberapa bagian. Tangannya gemetar pas menulis, tapi pas selesai, rasanya... plong.

Aneh. Tadi habis istikharah, dia tidak mendapat mimpi. Tapi habis menulis surat itu, hatinya tenang sekali.

Dia melipat surat itu rapi, memasukkan amplop coklat.

Besok paginya, Zahra yang pertama bangun melihat amplop di meja Muthi'ah.

"Muth, ini apa?" tanya Zahra.

Muthi'ah tersenyum, masih mengantuk, "Surat buat Ayah Ibu. Hasil istikharah semalam."

Dina dan Salsa yang mendengar langsung duduk.

"Lu istikharah? Mimpi apa?" goda Dina.

Muthi'ah tertawa kecil, "Tidak. Tidak mimpi apa-apa."

"Lah, terus jawabannya apa?" tanya Salsa bingung.

Muthi'ah memegang dada, "Jawabannya di sini. Tenang. Tadi malam habis menulis surat ini, rasanya tenang. Seperti diberi berani sama Allah."

Siang itu, dia menitipkan amplop coklat itu ke Ustazah Khadijah, minta tolong dicek bahasanya dan dikirim lewat pos pesantren. Tangannya masih gemetar saat menyerahkan, tapi hatinya sudah tidak gemetar lagi.

Di lapangan putra, Heeseung cerita ke Jay, "Tadi Zahra bilang, Muthi'ah menulis surat buat orang tuanya. Katanya hasil istikharah. Pengen kuliah dulu, pengen kenal lu pelan-pelan, tidak mau dipaksa nikah cepat."

Jay diam, lalu tersenyum tipis. Senyum lega, bangga.

"Bagus. Dia berani," kata Jay pelan.

Dan di dua tempat berbeda di pesantren yang sama, dua orang yang lagi menjaga jarak, sama-sama merasa tenang di hari yang sama. Satu karena sudah berani menulis surat, satu karena mendengar orang yang dia jaga dari jauh akhirnya berani menyuarakan mimpinya.

Istikharah pertama Muthi'ah bukan tentang memilih Jay atau tidak. Tapi tentang memilih dirinya sendiri dulu.

Dan jawaban Allah kadang tidak datang lewat mimpi. Kadang datang lewat tenangnya hati habis menulis tiga halaman jujur untuk Ayah dan Ibu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!