Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pelukan Hangat dan Tatapan Dingin
Kayu-kayu bakar yang berserakan di atas tanah berbatu pelataran kastil memecah keheningan sore itu. Hans, pengurus perkebunan sekaligus pelayan tua yang telah mengabdi pada keluarga Denwick sejak mereka pertama kali tiba di wilayah ini, berdiri mematung. Mulutnya sedikit terbuka, matanya yang mulai rabun terbelalak lebar menatap sosok di ambang gerbang.
Arya Denwick, pemuda yang biasanya menghabiskan separuh harinya terbaring di ranjang karena demam, kini berdiri di sana dengan pakaian compang-camping. Pakaiannya basah kuyup oleh air kotor dan lumpur rawa. Darah segar telah mengering dan mengerak di sisi wajahnya, menodai kain robek yang diikatkan asal-asalan di pelipis.
Namun, ada hal lain yang membuat Hans tanpa sadar menahan napas. Biasanya, jika tuan mudanya terjatuh atau terluka sedikit saja, pemuda itu akan memanggil-manggil ibunya dengan panik atau menunduk menahan tangis. Tapi kali ini, Arya hanya berdiri diam. Matanya tidak mencari belas kasihan. Ia hanya menatap sekeliling pelataran dengan tenang, seolah sedang menilai keadaan tempat ini. Perubahan sikap yang tiba-tiba itu terasa ganjil bagi Hans.
"T-Tuan Muda Arya...?" suara Hans akhirnya keluar, bergetar memecah keheningan pelataran. Pria tua itu melangkah maju dengan tergesa-gesa, kakinya nyaris tersandung sisa-sisa kayu bakar. "Astaga! Apa yang terjadi padamu? Kau berdarah!"
Sebelum Arya sempat menjawab, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah pintu utama kastil.
Seorang wanita berlari menuruni undakan batu. Gaun katun sederhananya yang sudah memudar warnanya terseret di atas tanah yang kotor. Itu adalah Lisa Denwick. Jantung Arya berdesir saat melihat wajah wanita itu, sebuah reaksi refleks dari sisa-sisa ingatan tubuh aslinya.
"Arya!" jerit Lisa, suaranya pecah oleh kepanikan.
Tanpa mempedulikan kotoran atau bau anyir darah, wanita itu langsung menerjang dan merengkuh tubuh Arya ke dalam pelukannya. Dekapannya begitu erat. Tangan Lisa yang gemetar membelai punggung dan rambut putranya, sementara air matanya mulai mengalir membasahi bahu pemuda itu.
"Astaga, anakku... kenapa kau bisa berada di luar? Kenapa kau terluka seperti ini?" rentetan pertanyaan itu meluncur dari bibir Lisa di sela-sela isak tangisnya. Ia menarik diri sedikit untuk memeriksa wajah putranya, jari-jarinya menyentuh kain pembalut luka di pelipis Arya dengan sangat hati-hati.
Bagi seseorang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di barak militer tanpa keluarga, pelukan panik dan tangisan ini terasa sangat canggung. Ia tidak tahu harus membalas seperti apa. Akhirnya, ia hanya membiarkan wanita itu memeluknya, mencoba menenangkan suasana.
"Aku tidak apa-apa, Ibu," jawab Arya pelan. Suaranya terdengar biasa saja, tidak ada rengekan atau nada kesakitan. "Hanya luka kecil."
"Luka kecil katamu?! Hans! Cepat panggil tabib desa! Siapkan air mendidih dan perban bersih di kamarnya!" Lisa segera menoleh dan memberikan perintah. Hans mengangguk cepat dan setengah berlari menuju bagian belakang kastil.
Saat Lisa kembali merangkul bahunya untuk memapahnya masuk, perhatian Arya teralihkan ke arah lantai dua kastil.
Di sana, di balik bayang-bayang balkon batu, berdirilah Baron Aran Denwick.
Pria paruh baya itu berdiri tegak menatap lurus ke bawah. Ekspresinya sangat datar, nyaris sedingin batu. Tidak ada otot wajah yang berkedut, tidak ada kepanikan melihat anak tunggalnya pulang bersimbah darah. Bagi Arya yang dulu, tatapan acuh tak acuh itu mungkin akan membuatnya menunduk malu dan merasa tidak berguna.
Tetapi kini, ia mengamati pria itu dari sudut pandang yang berbeda. Arya memperhatikan bagaimana rahang Aran terkatup begitu rapat. Ia juga melihat tangan sang Baron yang berpegangan pada langkan batu balkon; buku-buku jarinya memutih pucat karena mencengkeram batu itu terlalu kuat.
Lebih dari itu, Arya merasakan sesuatu yang aneh menekan udara di sekitarnya. Ada semacam hawa panas yang berat dan pekat menguar samar dari arah balkon tersebut. Itu bukan sekadar emosi, melainkan sesuatu yang terasa fisik. Aura. Energi itu ditahan sekuat tenaga agar tidak bocor keluar. Seseorang dengan tekanan energi sepekat ini jelas bukan sekadar baron buangan yang lemah. Aran menyembunyikan kekuatannya, dan ia juga menyembunyikan kekhawatirannya di balik wajah datarnya.
Aran menatap putranya beberapa detik lebih lama, sebelum akhirnya membalikkan badan dengan gerakan kaku dan menghilang ke dalam lorong lantai dua tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Jangan pedulikan ayahmu," bisik Lisa dengan nada sedih, menyadari arah pandangan putranya. Ia mempererat rangkulannya. "Dia hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya. Mari kita masuk, udara perbukitan ini semakin dingin."
Arya membiarkan dirinya dipapah menaiki undakan batu. Bau apek, debu, dan kayu lapuk menyambutnya begitu ia melewati ambang pintu utama kastil. Permadani yang membentang di lorong sudah kehilangan warnanya, dan pencahayaan dari obor dinding tampak remang-remang, tanda bahwa mereka sangat menghemat persediaan minyak.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Arya? Hans bilang kau tidak ada di kamarmu sejak pagi," tanya Lisa sambil terus menuntunnya menaiki tangga kayu menuju sayap barat kastil.
Arya sudah memikirkan alasan ini sejak ia masih berada di rawa tadi. Ia belum tahu siapa yang mendorongnya, jadi ia harus bermain aman untuk sementara waktu.
"Aku pergi ke pinggiran rawa, Ibu," jawab Arya, mengatur napasnya yang mulai pendek karena menaiki anak tangga. "Aku melihat jejak hewan. Aku ingin mencoba berburu... tapi tanah di dekat tebing bukit itu licin. Aku tergelincir dan jatuh ke bawah."
Lisa menghentikan langkahnya sejenak. Matanya berkaca-kaca menatap putranya. "Oh, Arya... kau tidak perlu memaksakan diri seperti itu. Kau tidak perlu membuktikan apa-apa. Tetap berada di rumah dengan aman sudah cukup bagi kami."
Arya hanya mengangguk pelan, memilih untuk tidak mendebatnya.
Begitu sampai di kamarnya, Hans sudah sibuk menuangkan air panas ke dalam baskom kayu. Ruangan itu tidak besar dan perabotannya sudah usang, namun terlihat sangat dirawat dan bersih. Kasur jeraminya dilapisi kain linen tebal, dan ada sebuah meja tulis kecil di sudut ruangan.
Selama satu jam berikutnya, Arya duduk diam sementara ibunya dan Hans membersihkan luka-lukanya. Ramuan herbal yang dioleskan ke pelipisnya terasa sangat perih, menyengat hingga ke tulang, tetapi Arya hanya menggigit bibir bawahnya dan menatap langit-langit kamar tanpa mengeluarkan suara keluhan. Setelah balutan perban bersih terpasang rapi di kepalanya dan pergelangan kakinya dibebat erat, Lisa membantunya mengganti pakaian dengan kemeja yang kering.
"Istirahatlah," kata Lisa, merapikan selimut putranya. "Dapur sedang membuatkan bubur hangat untukmu. Jangan ke mana-mana dan jangan banyak bergerak dulu."
"Terima kasih, Ibu. Aku akan tidur sebentar," jawab Arya.
Lisa tersenyum lega, lalu melangkah keluar kamar bersama Hans, menutup pintu kayu itu dengan hati-hati.
Begitu langkah kaki mereka menjauh, Arya membuang napas panjang. Ia menyingkap selimutnya perlahan, lalu mulai meraba tulang rusuknya yang memar dan memutar pelan pergelangan kakinya. Ia mencoba menakar seberapa parah kerusakan tubuh ini. Hasilnya mengecewakan. Tulangnya kecil, ototnya nyaris tidak ada, dan napasnya sangat mudah terengah-engah. Bergerak sedikit saja sudah menguras tenaga.
Ia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Tubuh ini memang hancur, tetapi keluhan tidak akan mengubah keadaan. Yang ia butuhkan saat ini adalah informasi. Ia tahu cara melatih fisik, ia tahu cara bertarung, tetapi ia buta sama sekali tentang cara kerja dunia ini. Ingatan Arya yang asli terlalu sempit; pemuda itu nyaris tidak pernah keluar dari desa, dan pengetahuannya tentang kerajaan-kerajaan lain, ras di luar manusia, atau cara kerja sihir dan aura sangatlah buram.
Besok, jika tubuhnya sudah sedikit membaik, ia harus mulai bergerak. Langkah pertamanya sederhana: ia akan memanggil Hans dan meminta semua buku bacaan atau catatan sejarah yang ada di kastil ini. Sebelum ia membangun fisik dan wilayahnya, ia harus memetakan dunia tempat ia berpijak sekarang.
👍