Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - Kesepakatan di Balik Dinding
Setelah kejadian di perpustakaan itu, Muthi'ah dan Jay jadi seperti orang asing yang tiba-tiba punya rahasia besar bersama.
Kalau bertemu di halaman, sama-sama buang muka. Kalau di masjid pas ngaji bandongan, Muthi'ah nunduknya makin dalam, Jay batuknya makin sering. Padahal santri lain tidak tahu apa-apa, tapi buat mereka berdua, udaranya jadi tidak enak.
Zahra yang jadi saksi di perpustakaan kemarin akhirnya tidak tahan.
"Muth, kamu nggak bisa didiemin gini terus. Harus ada kejelasannya. Kalau enggak, kamu kepikiran terus, dia juga kepikiran terus," kata Zahra malam-malam waktu mereka lagi beresin lemari kitab.
Muthi'ah lagi melipat mukena, mukanya kusut. "Terus aku harus gimana, Zah? Aku sudah bilang kan kemarin, aku belum pernah ditanya mau apa enggak. Masa sekarang aku harus pura-pura biasa saja?"
"Ya makanya dibikin kesepakatan. Biar jelas batasnya. Biar kamu nggak merasa dipaksa, dia juga nggak merasa jadi penjahat," jawab Zahra.
Di asrama putra, Heeseung bicara hal yang sama ke Jay.
"Lu sudah jujur, bagus. Tapi habis jujur terus ngapain? Masa didiemin? Kasihan dia pasti overthinking semalaman," kata Heeseung sambil ngopi di teras.
Jay bersandar di tiang. "Gue juga bingung, Hyung. Gue nggak mau dia merasa gue ngejar-ngejar. Tapi gue juga nggak mau dia merasa gue ngilang."
"Ya sudah, bikin aturan main. Yang jelas. Yang sesuai adab pesantren juga."
Akhirnya, perantara itu kejadian juga. Zahra dan Heeseung yang jadi jembatan.
Siangnya, habis Dzuhur, Zahra menarik Muthi'ah ke belakang perpustakaan. Tempatnya sepi, hanya ada dinding pembatas antara asrama putri dan tempat wudhu putra. Dindingnya tinggi, dari bata yang sudah berlumut. Tidak ada yang lewat situ kalau siang.
"Sebentar ya, Muth. Ada yang mau ngomong, tapi lewat dinding saja. Biar nggak ketemu langsung," bisik Zahra.
Muthi'ah bingung, "Siapa?"
Dari balik dinding, terdengar suara cowok.
"Assalamualaikum."
Muthi'ah langsung tahu itu suara siapa. Jay.
Zahra dan Heeseung sudah janjian. Heeseung ada di seberang dinding, bareng Jay. Jadi mereka mengobrol, tapi terhalang dinding bata. Tidak tatap muka, tidak berduaan. Adabnya masih terjaga.
Muthi'ah kaget, mukanya langsung merah. "Waalaikumsalam," jawabnya pelan.
Hening sebentar.
Jay yang mulai duluan, suaranya agak kaku.
"Muthi'ah, maaf kemarin bikin kamu kaget di perpus. Saya sudah mikir. Kamu benar, harusnya kamu ditanya dulu mau apa enggak. Saya juga merasakan hal yang sama," katanya dari balik dinding.
Muthi'ah meremas ujung jilbabnya. "Iya, Gus. Saya juga minta maaf kalau kemarin ngomongnya agak keras."
"Nggak, nggak keras. Justru bagus kamu berani bicara," jawab Jay cepat.
Heeseung dan Zahra saling lirik, lalu mundur beberapa langkah, memberi ruang, tapi masih dalam jarak dengar.
Jay melanjutkan, "Gini, Muth... boleh saya panggil Muthi'ah saja? Biar nggak kaku."
"Boleh, Gus," jawab Muthi'ah.
"Saya nggak mau perjodohan ini jadi beban buat kamu. Saya benar-benar nggak mau nikah cuma karena disuruh Abi. Makanya... gimana kalau kita bikin kesepakatan?"
Muthi'ah penasaran, "Kesepakatan gimana, Gus?"
"Pertama, di depan santri lain, di depan ustazah, kita anggap saja tidak ada apa-apa. Biasa saja. Seperti kemarin-kemarin. Biar tidak jadi gosip," kata Jay.
Muthi'ah langsung setuju, "Iya, saya setuju. Saya paling nggak enak kalau jadi bahan omongan."
"Kedua, kita nggak usah chat pribadi. Nggak usah DM-DM-an. Kalau ada perlu, lewat Zahra atau Heeseung. Atau lewat kegiatan pesantren saja. Biar jelas batasnya. Pesantren kan nggak boleh berduaan atau chat tidak jelas, saya nggak mau melanggar itu," lanjut Jay.
"Inggih, Gus. Saya juga maunya begitu," jawab Muthi'ah. Suaranya sudah mulai tenang.
"Ketiga..." Jay agak ragu. "Kamu... butuh waktu berapa? Maksud saya, kamu kan bilang pengen kuliah, pengen ngajar. Saya nggak mau menghalangi itu."
Muthi'ah diam sebentar. Ini pertanyaan yang tidak pernah ada yang menanyakan ke dia sebelumnya.
"Saya... saya pengen nyelesain aliyah dulu, Gus. Pengen kuliah. Saya pengen jadi guru bahasa Arab. Saya nggak mau nikah buru-buru cuma karena janji. Saya pengen kenal dulu... kenal Gus sebagai Jay, bukan sebagai putra Kiai. Boleh?"
Dari balik dinding, Jay tersenyum.
"Boleh banget. Justru itu yang saya mau juga. Saya capek dibilang putra Kiai terus. Pengen dikenal sebagai Jay saja. Anak yang kalau ngajar Alfiyah kadang lupa baitnya," katanya, setengah bercanda.
Muthi'ah hampir tertawa. "Masa Gus lupa bait Alfiyah? Katanya hafal 1000 bait?"
"Nah kan, kamu juga dengar gosip itu. Makanya, saya pengen kamu lihat saya apa adanya."
Muthi'ah mengangguk, walaupun Jay tidak melihat.
"Oke, Gus. Jadi kita... temenan dulu? Tapi temenan versi pesantren? Nggak deket-deket amat, tapi saling tahu?"
"Iya. Temenan versi pesantren. Saling kenal pelan-pelan. Lewat roan, lewat rapat, lewat ngajar. Nggak usah dipaksa suka. Kalau nanti memang nggak cocok, kita bicara baik-baik ke orang tua bareng. Gimana?"
Muthi'ah memikirkan. Ini kesepakatan paling masuk akal yang pernah dia dengar seminggu terakhir.
"Inggih, Gus. Saya setuju," kata Muthi'ah akhirnya. Suaranya lebih ringan.
Dari balik dinding, Jay juga merasa lega.
"Oke. Deal ya. Mulai hari ini, kita pura-pura nggak ada janji apa-apa di depan umum. Tapi di belakang... kita jalanin pelan-pelan," kata Jay.
"Deal, Gus."
Heeseung dan Zahra yang dari tadi menahan napas akhirnya bisa bernapas lega.
Heeseung nyeletuk dari seberang, "Alhamdulillah, sidang balik dinding selesai. Kalian berdua ini kalau bikin kesepakatan saja seperti mau rapat PBB."
Zahra tertawa, "Sudah, sudah. Sana bubar sebelum ada yang lewat."
Muthi'ah dan Jay sama-sama tertawa pelan.
Mereka belum jadian. Belum apa-apa. Bahkan belum bisa dibilang dekat. Tapi untuk pertama kalinya, mereka punya satu hal yang sama: kesepakatan yang mereka buat sendiri, bukan dibikinkan orang tua.
Kesepakatan di balik dinding bata yang berlumut itu. Sederhana, tapi buat mereka, itu berarti: aku menghargai maumu, kamu menghargai mauku.