NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: DOR

#

Jari Anderson menegang. Setengah inci lagi.

*DOR!*

Bunyinya memecah garasi seperti petir yang jatuh di dalam ruangan. Kenzo merasakan sesuatu yang hangat dan basah memercik ke wajahnya, ke bibir, ke kelopak matanya. Darah. Banyak sekali.

Ia menunggu rasa sakit. Menunggu gelap. Menunggu Ayah di ujung lorong sana.

Tidak ada yang datang.

Perlahan, ia membuka mata.

Anderson berlutut di depannya, tidak bergerak, pistol masih menempel di pelipis Kenzo. Tapi mata lelaki itu terbuka lebar dan kosong, dan di tengah dahinya ada lubang kecil yang rapi. Satu detik ia tetap tegak seperti patung. Lalu tubuhnya miring ke samping dan jatuh ke beton dengan bunyi berat.

Garasi itu sunyi. Sepuluh orang Lingkar Hitam menoleh serempak ke arah belakang.

Di ujung lorong mobil, di bawah satu lampu darurat yang baru saja menyala, berdiri seorang lelaki kurus berhoodie hitam. Kerahnya ditarik sampai dagu. Kedua tangannya memegang pistol, dan moncongnya masih berasap.

"Xel..." bisik Kenzo.

Axel tidak menatapnya. Ia menatap Gandara. Tangannya bergerak tanpa melepas senjata, cepat dan tegas, dan Kenzo membacanya seperti membaca napasnya sendiri.

*Aku masih benci kamu.*

Jari-jarinya gemetar sedikit.

*Tapi kamu saudaraku. Dari kecil. Aku nggak bisa lihat saudaraku mati di lantai.*

Gandara hanya menaikkan alis. "Satu anak kurus. Melawan sepuluh orang."

Lampu garasi menyala semua sekaligus. Terang putih membuat semua orang menyipit. Dari balik pilar, dari atas tangga, dari kegelapan di balik mobil-mobil, muncul bayangan-bayangan lain. Mereka berjalan keluar satu per satu, bersenjata, dan Lingkar Hitam menyadari terlambat bahwa mereka yang sedang dikepung.

"Mereka datang karena aku panggil," ketik Axel, dan suara mesin itu bergema di speaker kecil di tabletnya yang terselip di pinggang. "Sejak jam sembilan. Aku nggak pasang earpiece di telingamu, tapi aku pasang di hampir semua orang yang bisa kutemukan. Mereka anak buah Raden. Dan orang-orang Anderson sendiri."

Gandara menatap sekeliling. Ia seorang yang cerdas. Ia menghitung dua detik, lalu tersenyum tipis.

"Hari ini bukan malam kami," katanya pelan. "Tapi kamu sudah menandai dirimu, Nak. Bos kami akan mengingat."

Ia memberi isyarat. Lingkar Hitam mundur, rapi, tidak terburu-buru, menghilang ke kegelapan tangga seperti datang. Tidak satu peluru pun ditembakkan.

---

Begitu langkah terakhir hilang, Axel melempar pistolnya dan berlari.

Kenzo mengira ia akan dipeluk. Ia sudah setengah membuka tangan.

*BUGH!*

Tinju Axel mendarat di pipinya, lebih keras daripada di bukit. Kenzo terhuyung. Satu lagi, di perut. Satu lagi, di bahu. Axel memukul sambil mengeluarkan bunyi serak dari tenggorokannya, air mata dan ingus bercampur di wajahnya, dan tidak ada teknik apa pun di dalamnya. Hanya sebelas hari yang menumpuk sekaligus.

"A... Xel... sakit..."

*Kamu hampir mati! Kamu nggak pasang earpiece! Kamu nggak bilang apa-apa!* Tangannya bergerak sambil memukul, kacau, hampir tidak terbaca. *Aku duduk berjam-jam! Aku hampir nggak lihat! Aku nggak sanggup lihat!*

Kenzo akhirnya menangkap pergelangan tangan itu dan menariknya ke dalam pelukan. Axel meronta sekali, dua kali, lalu merosot, wajahnya terbenam di bahu Kenzo yang berlumuran darah. Bahunya terguncang. Dari tenggorokannya keluar bunyi parau yang hanya Kenzo yang mengerti artinya.

*Jangan pergi.*

"Nggak," bisik Kenzo, matanya panas. "Maaf. Maaf, Xel. Aku nggak akan."

Mereka duduk di lantai garasi di samping mayat Anderson, dua saudara yang tidak dipilih siapa-siapa. Hanya tersisa.

---

Malam itu juga, Kenzo duduk di singgasana yang tidak ia minta.

Ruang kerja di lantai tujuh kasino itu masih utuh. Meja kristal, sofa kulit, jendela setinggi langit-langit. Sisa anak buah Anderson, sekitar dua puluh orang yang tidak lari, berdiri berbaris di depannya dengan kepala tertunduk. Beberapa memar. Beberapa dibalut seadanya. Semuanya pernah dilumpuhkan olehnya beberapa jam lalu.

Kenzo duduk di balik meja dengan topeng porselen kembali di wajahnya. Axel berdiri di sampingnya, tablet di tangan.

"Majikanmu mati," kata Kenzo. Suaranya rendah dan diperlambat, suara The Shadow. "Kasino ini tanpa kepala. Pelabuhan selatan akan jadi rebutan. Kalian bisa pergi, atau kalian bisa tinggal."

Sunyi. Lalu seorang lelaki berotot di barisan depan, dengan perban di kepala, melangkah maju dan berlutut dengan satu kaki.

"Kamu tidak membunuh kami." Suaranya gemetar. "Padahal kamu bisa. Anderson tidak pernah begitu. Kalau kamu yang memimpin... kami ikut."

Satu per satu, yang lain ikut berlutut.

Pagi berikutnya, kabar menyebar ke seluruh jaringan Marenta: *Anderson tumbang. Kasino jatuh ke tangan Sang Bayangan.* Dua hari kemudian tiga don kecil di kota pelabuhan lain mengirim utusan membawa hadiah dan permohonan aliansi. Seminggu kemudian lebih dari tujuh kelompok bersumpah setia. Jari Algozo bukan satu-satunya organisasi yang berdiri sekarang. Sebuah kekuatan baru lahir, tanpa nama selain satu julukan.

Mereka menyebutnya **Don The Shadow**.

Hanya Axel yang tahu wajah di balik topeng itu. Itu cukup.

---

Para pengikutnya mulai berdatangan, dan masing-masing membawa ceritanya sendiri.

**Jack Lowtake dan Jeku CareDock**, dua saudara kembar bertubuh seperti lemari, mantan petinju bawah tanah yang tidak pernah kalah satu pun pertarungan berpasangan. Mereka bicara berbarengan, memotong kalimat satu sama lain, dan menganggap Kenzo sebagai satu-satunya lelaki yang pernah mengalahkan mereka berdua dalam sparring.

"Kami nggak butuh bayaran, Bos," kata Jack.

"Cukup bos jangan kalah," sambung Jeku.

**Aceng Lodrof**, bocah kurus peretas yang dulu murid Axel di server Raden. Ia gugup, bicaranya cepat, dan berhenti total tiap kali Axel menatapnya. "Kak Axel! Aku... aku udah bobol server polisi Marenta! Lima menit! Aku nggak sengaja!"

Lalu **Dante Laencha**, ahli racun dan penyamaran, perempuan tenang dengan senyum yang selalu terasa seperti pisau. **Vito Rank Tank**, pengemudi dan pembuat jebakan, bertubuh bundar dan selalu mengunyah permen karet. **Rocco Se Black**, penembak jitu yang tidak pernah bicara kecuali lewat kopi hitam. **Tony Combroth**, mantan polisi korup yang bertobat setengah jalan dan ahli melacak orang. Dan **Marco el Ghabel**, pemalsu dokumen dengan tato peta di punggungnya, yang bisa membuat siapa pun jadi siapa saja.

Mereka bukan keluarga. Tapi di ruang kerja kasino yang bau anggur tumpah itu, di antara kopi dan kartu remi dan debat soal siapa yang kebagian cuci piring, Kenzo menemukan sesuatu yang sudah lama ia pikir hilang selamanya: meja makan yang ramai.

---

Target pertama mereka bukan Alexander. Itu terlalu cepat.

Target pertama adalah Raden Wiratama Sanjaya.

Kenzo masuk ke ruang bawah tanah Jari Algozo di pabrik tekstil Marenta dengan topeng di wajah, dua puluh orang di belakangnya, dan Axel di sisinya. Tidak ada tembakan. Penjaga-penjaga Raden menurunkan senjata satu per satu, bukan karena takut, tapi karena sebagian besar dari mereka sudah mendengar apa yang Axel ungkap lewat semua layar di pabrik itu pagi tadi: daftar kontrak eliminasi, dan satu nama yang diberi tanda merah: *Rendra Hadinata*.

Raden duduk di balik meja kayu hitamnya, dengan papan catur di depan dan segelas air putih. Ia tidak mengangkat kepala.

"Aku sudah menunggu."

"Rendra," kata Kenzo.

"Aku yang memerintahkan." Raden meletakkan satu bidak. "Dan aku akan ceritakan semuanya, kalau kamu mau mendengar. Tapi kamu sudah tahu kamu bisa membunuhku sekarang, kan?"

"Aku bisa."

"Lalu?"

Kenzo melepas topengnya. Para pengikutnya terkejut, tapi tidak ada yang berbicara. Wajah di baliknya penuh luka dan sangat lelah.

"Pradana mati karena aku," katanya. "Karena aku membunuh orang yang kupikir targetku. Aku tidak mau ada lagi yang mati hanya karena orang-orang seperti Anda memilih diam."

Raden akhirnya mengangkat wajah. Matanya basah, dan ia tidak menyembunyikannya.

"Rendra hampir membuka kaleng itu," katanya serak. "Tanpa tahu isinya. Dan isinya, Nak, bukan hanya bukti tentang Alexander. Isinya sesuatu yang akan membuat kamu dan Victor dikejar seumur hidup oleh orang yang jauh lebih berbahaya. Aku menyuruh Victor menghentikannya. Aku berbohong kepadanya bahwa itu demi kamu. Dan itu... itu setengah benar. Setengahnya lagi aku tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang bisa menghancurkan Alexander, karena dia belum siap."

"Anda membunuh satu-satunya orang yang mengenal Ayahku."

"Aku tahu." Raden berdiri perlahan, melepas kacamata bundarnya, dan berlutut di depan meja, seorang lelaki enam puluh tahun menunduk di hadapan pemuda yang pernah ia latih. "Aku menyerahkan Jari Algozo padamu. Seluruhnya. Bukan karena takut. Tapi karena kamu satu-satunya yang punya alasan yang cukup kuat untuk menyelesaikan apa yang tidak sanggup kuselesaikan selama tiga puluh tahun."

Sunyi panjang. Papan catur di meja bergeser sendiri sedikit karena Raden menyentuhnya. Kenzo menatap bidak raja putih yang terkepung itu, dan sesuatu di dadanya mengendur, bukan memaafkan, tapi cukup untuk menurunkan tangan.

"Aku tidak akan membunuhmu," katanya. "Tapi Anda bekerja untukku sekarang. Dan setiap perintah yang Anda terima, Axel yang periksa."

Raden mengangguk, dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ia tersenyum seperti orang yang akhirnya diizinkan meletakkan beban.

---

Daftar itu mulai dicoret satu per satu.

Kolonel Surya sudah mati. Hakim Marenta menyusul. Para penjaga dermaga, pengawal manifest, pejabat-pejabat kecil yang menanda tangani peti-peti beras, semuanya jatuh dalam tiga bulan, satu demi satu, tanpa suara, tanpa jejak. Dan di bawah sebuah nama yang berulang di setiap manifest, pensil Axel menggambar lingkaran yang makin lama makin sempit.

*Alexander Gunawan.*

Dan di balik nama itu, sebuah kotak kosong yang belum terisi, untuk *Bapak*.

---

Di tempat yang lain, jauh dari kasino, dari pelabuhan, dari semua kota di peta, ada sebuah rumah di lereng gunung yang tidak pernah dikunjungi tamu.

Ruang kerjanya gelap, hanya ada lampu meja dan jendela besar menghadap lembah berkabut. Di kursi roda berlapis kulit, dengan selimut wol di pangkuan dan tongkat berkepala perak di sandaran, duduk seorang lelaki tua kurus. Kedua kakinya tidak bergerak. Di jari manisnya, cincin batu hijau, longgar karena jarinya sudah terlalu kurus.

Di depannya, di meja, terbentang puluhan foto yang diambil dari jarak jauh dengan lensa panjang. Seorang pria bertopeng putih yang berdiri di atap. Seorang pria kurus berhoodie yang tertawa tanpa suara. Mereka berdua di antara anak buah baru, di meja makan yang ramai, di jalanan Marenta di bawah hujan.

Jari-jarinya yang tipis menyentuh foto itu dengan hati-hati, seolah bisa merusaknya.

"Anakku," bisiknya.

Di belakangnya, seorang lelaki berjas hitam berdiri tegak, kedua tangannya terlipat. "Tuan. Mereka sudah menguasai tiga kota. Mereka akan mencapai Sarvenna."

"Aku tahu." Mata lelaki itu tidak lepas dari foto. "Dua anakku. Yang satu darah dagingku. Yang satu aku besarkan lewat tangan Victor. Dan keduanya sedang berjalan ke arah musuh yang akan menghancurkan mereka."

"Tuan..."

"Aku turun gunung." Tangannya mencengkeram sandaran kursi. "Aku tidak akan membiarkan mereka sendirian lagi. Dua puluh tahun aku bersembunyi, dua puluh tahun aku membiarkan Victor menanggung semuanya, dan dia mati tanpa tahu aku..."

"Tuan." Suara bawahan itu tegas tapi hormat. "Kalau Tuan muncul, Alexander akan tahu bahwa Tuan masih hidup. Bahwa kecelakaan di pegunungan itu tidak benar-benar membunuh Tuan. Rahasia kelahiran Tuan Muda akan terbongkar. Dan jika orang-orang di atas Alexander tahu bahwa Kenzo Adriel bukan anak Adriel Wicaksana..."

Kursi roda itu berhenti bergerak.

"...mereka tidak akan berhenti memburunya sampai ia mati. Tidak lagi sebagai saksi. Tapi sebagai pewaris."

Lelaki tua itu memejamkan mata. Rahangnya mengeras. Sebutir air mata meluncur turun di pipi yang berkerut dan jatuh ke atas foto, tepat di atas wajah pria bertopeng putih itu.

"Aku mengasingkannya dari bayi," bisiknya. "Aku meminta Adriel membesarkannya sebagai anaknya sendiri. Victor menjaga dari jauh. Dan mereka berdua mati karena melindungi sesuatu yang bahkan tidak pernah kubiarkan mereka ucapkan."

"Tuan."

"Kenzo dan Axel." Suaranya hampir tak terdengar. "Dua-duanya. Dari darahku. Satu bisu karena luka yang tidak pernah kubisa sembuhkan, satu kehilangan keluarganya karena aku terlalu lemah untuk berdiri."

Ia menurunkan foto itu ke pangkuan, dan memutar kursi pelan menghadap jendela, ke lembah berkabut yang tidak menjawab apa pun.

"Biarkan mereka berjalan. Jaga mereka dari jauh." Jeda panjang. "Dan jangan biarkan mereka tahu siapa aku, sebelum waktunya."

Di bawah lampu meja, cincin batu hijau itu berkilat, lalu padam.

---

*Bersambung ke Bab 19*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: inget sesuatu yang meleleh... tempat romantis dengan seseorang... 🥰🥰
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!