NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Cermin

Malam pertama di lembah itu terasa aneh. Bukan menakutkan, tapi seperti tidur di tempat yang belum pernah kau kunjungi namun entah bagaimana terasa seperti rumah. Aku terbangun saat cahaya perak di ruangan itu berubah sedikit lebih redup, seolah langit di sini juga punya ritme siang dan malam sendiri.

Orion tidak ada di sisiku.

Aku bangkit perlahan, menyisir rambutku yang berantakan, lalu melangkah keluar kamar. Aku menemukannya di ruang tengah, berdiri di depan cermin tinggi yang terbuat dari bahan gelap, bukan kaca biasa. Permukaannya berkilau samar, memantulkan bayangannya—tapi bukan dirinya yang kukenal. Di cermin itu, sosoknya terlihat lebih tinggi, lebih gagah, matanya memancarkan cahaya keemasan yang jauh lebih terang dari biasanya. Dia menatap pantulannya sendiri dengan tatapan yang sulit kubaca—campuran takjub, takut, dan sesuatu yang lain yang belum bisa kucerna.

"Kau bangun?" suaranya pelan, tanpa menoleh.

Aku berjalan mendekat, berdiri di sampingnya. "Kau tidak tidur?"

"Sulit," jawabnya jujur. "Setiap kali aku memejamkan mata... aku merasakannya. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam diriku, membentang, tumbuh tanpa aku minta."

Dia menunjuk ke cermin itu. "Lihatlah. Ini bukan aku, Aruna. Atau... ini aku yang seharusnya, yang selalu disembunyikan dariku."

Aku menatap pantulannya. "Kau terlihat gagah. Bangga."

"Aku terlihat menakutkan," gumamnya. "Lihat mataku. Bukan warna yang lembut seperti biasanya. Itu api. Kekuatan yang ayahku coba kunci selama ribuan tahun sekarang mulai menemukan jalannya keluar."

"Apakah itu menyakitkan?"

"Tidak menyakitkan secara fisik. Tapi aneh. Rasanya seperti ada orang lain yang berjalan di dalam kepalaku. Kadang aku mendengar suara—bukan bisikan dari luar, tapi suaraku sendiri, yang lebih dalam, lebih tua, berkata hal-hal yang belum pernah kupikirkan sebelumnya."

Dia berbalik menghadapku, tangannya terulur lalu berhenti di udara, seolah takut menyentuhku. "Bagaimana jika aku berubah? Bagaimana jika suatu hari nanti aku tidak bisa lagi mengendalikannya? Bagaimana jika aku menyakitimu tanpa sengaja?"

Aku melangkah maju, meraih tangannya dan meletakkannya di pipiku. Kulitnya masih dingin, masih dia.

"Maka aku akan ada di sini, mengingatkanmu siapa dirimu. Kekuatan itu bagian dari dirimu, tapi itu bukan tuanmu. Kau yang memegang kendalinya, bukan sebaliknya."

"Kau begitu yakin," katanya lembut, jemarinya mengusap pelan pipiku.

"Karena aku melihat hatimu, Orion. Bukan kekuatanmu, bukan statusmu, bukan siapa ayahmu. Hatimu yang lembut itu tidak akan pernah berubah, sekecil apa pun kekuatan yang mengalir di dalam dirimu."

Dia tersenyum tipis, lalu menarikku ke pelukannya. "Kau adalah jangkar yang menahanku agar tidak hanyut. Jangan pernah lepaskan aku."

"Selama kau tidak melepaskanku duluan," bisikku di dadanya.

Tiba-tiba cermin di depan kami bergetar pelan. Pantulan kami berdua berubah—di belakang bayangan kami, muncul sosok lain. Tinggi, berwajah tajam, bermahkota yang terbuat dari bayangan pekat. Valdris. Dia tidak berbicara, tapi matanya menatap lurus ke arah kami, penuh kemarahan yang dingin dan tak terukur.

Orion menegang, tubuhnya kaku. Dia mendorongku perlahan ke belakang, berdiri di depanku.

"Ayah," desisnya pelan, matanya menatap tajam ke pantulan itu.

Sosok di cermin tersenyum—senyum yang tak menyentuh matanya, senyum seorang raja yang terbiasa dituruti. Suara terdengar, bukan dari cermin itu, tapi bergema di seluruh ruangan, di udara, di kepala kami.

"Kau pikir kau bisa lari dari takdirmu, anakku? Kau pikir sepotong cahaya kecil bisa melindungimu dari bayangan yang melahirkanmu?"

"Kau bukan ayahku," jawab Orion tegas, suaranya bergetar namun tidak mundur selangkah pun. "Kau hanya bayangan yang menyamar menjadi keluarga. Dan aku bukan lagi anak kecil yang kau bisa takuti dengan kata-kata."

"Kau sedang membangkitkan kekuatan yang tidak kau pahami. Itu akan menghancurkanmu. Dan gadis kecil itu... dia akan menjadi korban pertamamu."

"Jangan berani-berani menyebut namanya dengan mulutmu," ancam Orion, dan seketika itu cermin itu retak. Garis-garis halus menyebar di permukaannya, dan pantulan Valdris menghilang seketika, digantikan oleh pantulan kami berdua yang terkejut.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya napas kami yang terdengar berat.

Aku memegang lengan Orion. "Kau baik-baik saja?"

Dia menunduk menatap cermin yang retak itu, napasnya masih tidak teratur. "Dia bisa menjangkau kita sejauh ini... itu berarti dia tahu di mana kita. Dia belum datang, tapi dia sedang mencari celah."

"Kita tidak akan pergi ke mana pun," kataku tegas. "Tempat ini aman, kan?"

"Untuk sementara," jawabnya pelan. "Tapi sekarang kita tahu satu hal: dia takut. Dia tidak datang langsung menyerang. Dia mencoba menakuti kita, membuat kita ragu. Itu berarti dia belum yakin bisa mengalahkan kekuatan yang tumbuh di dalam diriku."

Dia memelukku dari samping, menatap cermin yang retak itu seolah bersumpah pada sesuatu yang tak terlihat. "Dia tidak akan menyentuhmu. Selama aku bernapas, dia tidak akan pernah menyentuhmu."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!