Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA DARI MASA LALU
“Adrian… bukakan pintunya.”
Suara perempuan itu terdengar sekali lagi dari balik pintu besi.
Lembut. Pelan. Sedikit serak, seolah pemiliknya telah menghabiskan bertahun-tahun untuk menahan tangis dan menyimpan kata-kata yang tidak pernah sempat diucapkan.
Namun, bagi Adrian Valerius, suara itu bukan sekadar suara seorang perempuan.
Itu adalah suara dari masa lalu yang selama tujuh belas tahun berusaha ia kubur.
Itu adalah suara yang pernah memanggil namanya di tengah kobaran api, di antara jeritan manusia dan suara tembakan yang memecah malam.
Dan sekarang, suara itu kembali.
“Ayah?”
Aren menoleh kepada Adrian. Wajah ayah angkatnya begitu pucat hingga ia hampir tidak mengenalinya. Tangan Adrian yang biasanya mantap kini mengepal erat di sisi tubuhnya.
“Ayah mengenal suara itu?” tanya Aren.
Adrian tidak menjawab.
“Ayah.”
Kali ini suara Aren terdengar lebih tegas.
Adrian menatapnya. Ada begitu banyak hal di dalam tatapannya: keterkejutan, ketakutan, penyesalan, dan sesuatu yang belum pernah Aren lihat sebelumnya.
Kerinduan.
Seolah selama bertahun-tahun Adrian menunggu seseorang kembali, tetapi ketika kesempatan itu benar-benar datang, ia justru takut menghadapi kenyataan.
“Itu suara ibumu,” bisik Adrian.
Aren berhenti bernapas selama sesaat.
“Ibu?”
Lima kakaknya langsung mengalihkan perhatian kepada adik bungsu mereka.
Riven yang sejak tadi berdiri paling dekat dengan Aren segera memegang bahunya. Leon memandang Adrian dengan ekspresi terkejut, sementara Darren terlihat berusaha menyusun kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal.
Raka tidak mengatakan apa-apa. Ia justru mengangkat senjatanya dan memberi isyarat kepada semua orang agar tetap waspada.
Kian bergegas menuju panel pengawas.
“Jangan ada yang membuka pintu dulu.”
Ia memeriksa kamera di lorong, tetapi layar hanya memperlihatkan gangguan statis.
“Gambarnya sengaja diputus,” gumam Kian. “Aku tidak bisa melihat siapa yang berada di luar.”
“Buka pintunya, Adrian,” suara perempuan itu terdengar lagi. “Aku tahu kau ada di sana.”
Adrian melangkah satu langkah ke depan.
Raka langsung menghalanginya.
“Jangan.”
“Raka, minggir.”
“Aku tidak tahu siapa yang berada di balik pintu itu. Kita baru saja dikepung oleh orang-orang Proyek Serigala Hitam. Suara bisa direkam, wajah bisa dipalsukan, dan seseorang mungkin sedang mencoba memancing kita keluar.”
“Dia memanggil namaku.”
“Itu bukan bukti.”
Adrian menatap putra sulungnya dengan mata mengeras.
“Raka, aku tidak membutuhkan pelajaran tentang keamanan dari anakku sendiri.”
“Kalau begitu, jangan bertindak seperti orang yang kehilangan akal sehatnya!”
Kalimat itu membuat suasana semakin tegang.
Darren segera bergerak mendekati mereka.
“Sudah. Kita tidak punya waktu untuk bertengkar.”
Ia menoleh kepada Kian.
“Bisakah kau memastikan apakah suara itu berasal dari rekaman atau seseorang benar-benar berada di balik pintu?”
Kian memasang perangkat kecil pada panel komunikasi, lalu menghubungkannya ke sistem audio rumah tua tersebut.
“Beri aku beberapa detik.”
Sementara Kian bekerja, Aren menatap pintu besi.
Ada sesuatu yang aneh tentang suara itu.
Ia belum pernah bertemu ibu kandungnya. Semua yang ia ketahui tentang Elena Ravencroft berasal dari surat, foto, dan cerita yang disampaikan Adrian serta Viktor. Namun, ketika mendengar suara tersebut, dadanya terasa sesak dengan perasaan yang tidak dapat ia jelaskan.
Seperti seseorang yang sangat ia rindukan sedang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
“Aku ingin melihatnya,” bisik Aren.
Riven segera menoleh.
“Dik, kita belum tahu apakah itu benar-benar ibumu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, kau harus mengerti bahwa ini berbahaya.”
“Aku mengerti, Kak.”
Aren menatap Riven dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi kalau memang itu Ibu, aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihatnya lagi.”
Riven terdiam.
Ia selalu memiliki jawaban untuk menghadapi musuh, ancaman, dan kekerasan. Ia tahu bagaimana memukul seseorang sampai tidak mampu bangkit. Ia tahu bagaimana mengerahkan orang-orangnya untuk mengamankan suatu wilayah.
Namun, ia tidak tahu bagaimana menjawab seorang adik yang hanya ingin bertemu ibu kandungnya.
Riven akhirnya menghela napas.
“Aku akan berdiri di depanmu. Apa pun yang terjadi, kau tidak akan menghadapi ini sendirian.”
Aren mengangguk kecil.
Di sisi lain, Leon mendekati Adrian.
“Ayah, apakah Ibu Elena masih hidup?”
Adrian menatap pintu yang tertutup.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat semua orang terdiam.
Darren mengerutkan kening.
“Bagaimana mungkin Ayah tidak tahu? Selama ini Ayah mengatakan Elena menghilang.”
“Karena memang itulah yang terjadi.”
“Namun, Ayah pernah melihatnya setelah malam serangan itu?”
Adrian menggeleng perlahan.
“Tidak pernah.”
Viktor yang sejak tadi berdiri di dekat Gabriel akhirnya maju.
“Aku juga tidak pernah melihat Elena lagi setelah malam itu.”
Gabriel menatap kakaknya.
“Kau yakin?”
Viktor berbalik tajam.
“Apa maksudmu?”
“Kau tidak pernah benar-benar melihat tubuhnya.”
Wajah Viktor berubah.
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
“Aku melihat rumah Ravencroft terbakar. Aku melihat para penjaga tergeletak di halaman. Aku mencari Elena sampai pagi, tetapi tidak menemukannya.” Suara Viktor bergetar menahan amarah. “Jangan katakan kepadaku bahwa kau tahu sesuatu yang selama ini kau sembunyikan.”
Gabriel tidak menjawab.
Viktor maju dan mencengkeram kerah kakaknya.
“Jawab aku!”
“Viktor!”
Raka segera menarik Viktor menjauh sebelum pertengkaran itu berubah menjadi perkelahian.
“Bukan sekarang,” kata Raka tegas. “Kita harus mengetahui siapa yang berada di balik pintu.”
Kian akhirnya mengangkat kepala dari panel.
“Aku selesai.”
Semua orang menoleh kepadanya.
“Suara itu tidak berasal dari pengeras suara luar. Seseorang benar-benar berbicara melalui sistem komunikasi internal.”
“Bisakah kau memastikan identitasnya?” tanya Darren.
“Belum sepenuhnya. Namun, suara itu tidak menunjukkan pola pengulangan yang biasanya ditemukan pada rekaman sederhana. Kemungkinan besar seseorang berada di lokasi ini.”
Aren segera melangkah maju.
“Kalau begitu, buka pintunya.”
“Belum,” jawab Raka.
Namun, sebelum Raka sempat mengatakan lebih banyak, pintu besi itu mengeluarkan bunyi klik.
Kian membeku.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
Lampu kecil di atas pintu berubah dari merah menjadi hijau.
Sistem penguncian terbuka dengan sendirinya.
Raka mengangkat senjata. Darren dan Riven mengambil posisi di kedua sisi pintu, sedangkan Leon menarik Aren ke belakang tubuhnya.
Adrian berdiri paling depan.
Pintu itu terbuka perlahan.
Udara dingin dari lorong menerobos masuk ke ruang arsip, membawa aroma hujan, debu, dan sesuatu yang menyerupai asap.
Di balik pintu berdiri seorang perempuan.
Tubuhnya kurus, rambut hitamnya panjang hingga melewati bahu, dan sebagian wajahnya tertutup bayangan. Ia mengenakan mantel gelap yang basah oleh hujan. Di tangan kirinya terdapat sebuah tongkat kecil, sementara tangan kanannya menggenggam liontin berbentuk bulan sabit.
Liontin yang sama dengan milik Elena dalam foto yang diberikan Viktor kepada Aren.
Perempuan itu menatap Adrian.
Untuk beberapa detik, keduanya tidak bergerak.
Kemudian, bibir perempuan itu bergetar.
“Kau masih terlihat sama.”
Adrian menurunkan senjatanya perlahan.
“Tidak mungkin…”
Perempuan itu tersenyum sedih.
“Kau selalu mengatakan hal yang sama setiap kali tidak tahu harus berkata apa.”
Adrian menatap wajahnya dengan mata yang mulai memerah.
“Elena?”
Perempuan itu mengangguk.
“Ya, Adrian. Aku masih hidup.”
Aren tidak dapat bergerak.
Ia hanya menatap perempuan itu, mencoba menemukan sesuatu yang bisa menghubungkannya dengan dirinya sendiri. Bentuk mata, garis wajah, warna kulit, bahkan cara perempuan itu memegang liontin bulan sabitnya.
Apakah mereka memiliki kemiripan?
Apakah ia mewarisi sesuatu dari perempuan yang berdiri di hadapannya?
“Ayah…” bisik Aren.
Adrian menoleh kepadanya, lalu kembali menatap Elena.
“Elena, ada sesuatu yang harus kau lihat.”
Ia bergerak ke samping, memberikan ruang agar perempuan itu bisa melihat Aren.
Elena mengikuti arah pandang Adrian.
Begitu matanya bertemu dengan mata Aren, wajahnya kehilangan seluruh ekspresi.
Liontin di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
Bunyi kecil benda itu menghantam permukaan logam terdengar begitu jelas di tengah keheningan.
Perempuan itu menatap Aren seperti sedang melihat seseorang yang selama ini hanya hadir dalam mimpi.
“Tidak…”
Aren menelan ludah.
“Ibu?”
Bibir Elena terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ia mengangkat satu tangan, lalu segera menutup mulutnya sendiri. Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Aren…”
Nama itu keluar dari mulutnya seperti doa yang telah diulang selama bertahun-tahun.
Aren melangkah maju.
Riven sempat hendak menahannya, tetapi Leon memegang lengan kakaknya.
“Biarkan dia.”
Aren berjalan perlahan melewati Adrian.
Setiap langkah terasa berat. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika akhirnya berhadapan dengan ibu kandungnya. Ia pernah membayangkan pertemuan ini berkali-kali, tetapi tidak pernah membayangkan akan terjadi di ruang bawah tanah tua, di tengah ancaman, tuduhan, dan rahasia keluarga.
Ketika Aren berhenti tepat di hadapan Elena, perempuan itu menatapnya dari kepala hingga kaki.
“Kau sudah sebesar ini…”
Elena mengangkat tangannya, tetapi berhenti sebelum menyentuh wajah Aren.
“Bolehkah Ibu menyentuhmu?”
Pertanyaan itu menghancurkan pertahanan Aren.
Ia mengangguk.
Elena menyentuh pipinya dengan jemari gemetar, seolah takut putranya akan menghilang jika ia menyentuhnya terlalu kuat.
Kemudian, perempuan itu memeluk Aren.
Pelukan itu tidak kuat. Tubuh Elena tampak terlalu lemah untuk memeluk seseorang dengan erat. Namun, ia menempelkan wajahnya di bahu Aren dan menangis tanpa suara.
Aren berdiri kaku selama beberapa detik.
Ia tidak tahu bagaimana membalas pelukan itu. Ia tidak memiliki kenangan masa kecil bersama perempuan tersebut. Ia tidak ingat pernah digendong olehnya, tidak ingat suara nyanyiannya, dan tidak ingat bagaimana rasanya tertidur dalam pelukannya.
Tetapi ketika Elena berbisik, “Maafkan Ibu, Nak,” sesuatu di dalam dadanya terasa runtuh.
Aren akhirnya memeluknya kembali.
“Ibu…”
Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Elena menangis semakin keras.
“Maafkan Ibu karena tidak ada ketika kau membutuhkan Ibu. Maafkan Ibu karena membiarkanmu tumbuh tanpa mengetahui siapa dirimu.”
Aren menggeleng dalam pelukannya.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa langsung memahami semuanya.”
Elena mengangguk sambil mengusap rambutnya.
“Ibu tidak memintamu langsung memaafkan Ibu. Ibu hanya ingin kau tahu bahwa Ibu tidak pernah berhenti mencintaimu.”
Riven memalingkan wajah. Ia berpura-pura memeriksa lorong, meskipun matanya tampak memerah.
Leon menunduk, sementara Darren mengembuskan napas panjang.
Raka tetap waspada, tetapi sorot matanya melunak ketika melihat adik bungsunya akhirnya bertemu dengan ibu kandungnya.
Kian, yang biasanya selalu sibuk dengan layar dan kode, berdiri diam tanpa menyentuh komputernya.
Untuk beberapa saat, seluruh rahasia keluarga seolah kehilangan kekuatannya.
Yang tersisa hanya seorang ibu dan anak yang akhirnya bertemu kembali.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Elena.”
Suara Adrian terdengar berat.
Perempuan itu perlahan melepaskan pelukannya dari Aren. Ia mengusap air mata, lalu menatap Adrian.
“Kita harus pergi.”
Adrian mengerutkan kening.
“Pergi ke mana?”
“Keluar dari tempat ini. Sekarang.”
“Kita belum menyelesaikan apa pun.”
“Justru karena itulah kita harus pergi.”
Elena menoleh kepada layar utama yang masih menampilkan berkas Protokol Terakhir.
Ketika melihat nama Alistair, Gabriel, dan Adrian pada dokumen tersebut, wajahnya berubah.
“Kalian sudah membuka arsipnya?”
Kian mengangguk.
“Ya. Kami menemukan perintah asli dari malam serangan terhadap keluarga Ravencroft.”
Elena menatap layar dengan ekspresi ngeri.
“Kalau begitu, mereka sudah tahu.”
“Siapa yang sudah tahu?” tanya Darren.
Elena tidak segera menjawab.
Ia memandang kelima kakak Aren, kemudian berhenti pada Raka.
“Kalian semua harus mendengarkan Ibu. Orang-orang yang mengepung rumah ini bukan sekadar anggota organisasi yang ingin mengambil Aren. Mereka datang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang keluar dari tempat ini dengan membawa kebenaran.”
Raka mengangkat senjatanya sedikit lebih tinggi.
“Berapa banyak orang di luar?”
“Cukup banyak untuk menahan kita sampai bala bantuan mereka tiba.”
“Bala bantuan siapa?”
Elena menatap Gabriel.
“Orang yang selama ini memberikan perintah kepada Proyek Serigala Hitam.”
Gabriel menunduk.
Viktor kembali mencengkeram lengannya.
“Kau tahu siapa orang itu?”
Gabriel menutup mata sebentar.
“Aku tahu.”
“Siapa?”
Gabriel mengangkat wajahnya, tetapi sebelum ia sempat menjawab, suara tembakan terdengar dari lantai atas.
Semua orang tersentak.
Kemudian disusul suara langkah kaki berlarian.
Kian langsung kembali ke terminal.
“Mereka masuk!”
Raka bergerak cepat.
“Darren, cari jalur keluar. Kian, matikan semua sistem yang bisa digunakan untuk melacak lokasi kita. Leon, tetap bersama Aren. Riven, jaga sisi belakang.”
“Bagaimana dengan Ayah?” tanya Aren.
“Ayah ikut bersama kita,” jawab Raka tanpa ragu.
Adrian menatap putra sulungnya sejenak. Ada rasa terkejut sekaligus bangga di wajahnya, seolah ia tidak menyangka Raka masih memilih melindunginya setelah semua tuduhan yang muncul malam itu.
Namun, Elena meraih tangan Aren.
“Tidak. Aren harus pergi bersamaku.”
Semua orang langsung menoleh.
Riven melangkah ke depan.
“Tidak mungkin.”
“Aku ibunya.”
“Dan kami kakak-kakaknya!” balas Riven. “Kau baru muncul beberapa menit lalu, dan sekarang kau ingin membawa adikku pergi?”
Elena menatapnya tanpa marah.
“Aku memahami kecurigaanmu. Tetapi mereka tidak akan berhenti mengejar Aren selama dia berada di sini.”
“Kalau begitu, kami akan melindunginya di sini.”
“Kau tidak memahami siapa yang sedang kalian hadapi.”
Raka mengangkat tangan, menghentikan pertengkaran sebelum berkembang lebih jauh.
“Tidak ada yang membawa Aren ke mana pun tanpa penjelasan. Kita akan keluar bersama-sama.”
Elena menatapnya cukup lama.
Kemudian ia mengangguk.
“Baik. Tetapi ada sesuatu yang harus kalian ketahui sebelum kita pergi.”
Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah kartu logam kecil. Permukaannya dipenuhi goresan, tetapi lambang serigala hitam masih terlihat jelas di tengahnya.
“Ini adalah kunci menuju ruang kendali Proyek Serigala Hitam. Di sana terdapat rekaman asli tentang malam keluarga Ravencroft dihancurkan.”
Kian langsung mengambil kartu itu dengan hati-hati.
“Di mana ruang kendali tersebut?”
Elena memandang Adrian.
“Di bawah mansion Valerius.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Darren mengerutkan kening.
“Di bawah mansion kita?”
“Ya.”
Raka menatap ayahnya.
“Ayah tahu tentang ini?”
Adrian menggeleng perlahan.
“Tidak. Aku tidak pernah mengetahui adanya ruang kendali di bawah mansion.”
Elena menatapnya tajam.
“Karena Alistair tidak pernah memberitahumu seluruh rencananya. Ia hanya memberimu sebagian akses. Ia ingin memastikan bahwa jika sesuatu terjadi, masih ada seseorang dari keluarga Valerius yang bisa menjaga arsip itu.”
“Kalau begitu, mengapa kau tidak pernah kembali?” tanya Adrian.
Elena terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak kemunculannya, ia terlihat kesulitan menjawab.
“Karena seseorang menahanku.”
Aren menoleh cepat.
“Siapa?”
Elena memandang putranya. Kesedihan kembali memenuhi matanya.
“Orang yang mengaku ingin menyelamatkanmu.”
Adrian menggeleng.
“Elena, jangan katakan bahwa—”
“Jangan menyela aku, Adrian.” Suara Elena bergetar. “Aku sudah kehilangan tujuh belas tahun bersama anakku. Aku tidak akan membiarkanmu menghentikanku lagi.”
Adrian terdiam.
Elena menarik napas panjang.
“Malam ketika keluarga Ravencroft diserang, aku berhasil membawa Aren keluar dari rumah. Aku menyerahkannya kepadamu karena aku percaya kau akan menjaganya. Namun, sebelum aku sempat kembali untuk menjemputnya, seseorang menangkapku.”
Aren merasakan tangannya menjadi dingin.
“Siapa yang menangkap Ibu?”
Elena menatap Adrian.
“Ayahmu.”
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Kemudian Riven mengumpat pelan. Darren menatap Adrian dengan keterkejutan yang berubah menjadi kemarahan. Leon segera meraih tangan Aren, memastikan adik bungsunya tidak jatuh ketika mendengar pengakuan itu.
Raka berdiri kaku.
Adrian tidak bergerak.
“Aku tidak pernah menangkapmu,” katanya akhirnya.
Elena menatapnya dengan mata basah.
“Bukan kau, Adrian. Alistair.”
Ia menggeleng perlahan.
“Alistair menahanku karena dia percaya bahwa keberadaanku akan memicu perang yang lebih besar. Dia mengatakan bahwa selama aku tetap hidup dan menghilang dari dunia, Aren akan aman.”
“Dan kau mempercayainya?” tanya Adrian.
“Aku tidak punya pilihan.”
Elena menatap Aren.
“Ibu mencoba melarikan diri berkali-kali. Namun, setiap kali Ibu hampir berhasil, mereka memindahkan Ibu ke tempat lain. Ibu tidak tahu apakah Aren masih hidup, apakah kau benar-benar menjaganya, atau apakah suatu hari mereka akan menggunakanmu untuk menghancurkan keluarga Valerius.”
Aren menggenggam tangan ibunya lebih erat.
“Bagaimana Ibu bisa keluar?”
Elena menoleh kepada Gabriel.
“Karena seseorang akhirnya membantu Ibu.”
Semua mata beralih kepada Gabriel.
Viktor melepaskan cengkeramannya perlahan.
“Kau yang membebaskannya?”
Gabriel mengangguk.
“Aku berhasil menemukan tempat Elena ditahan beberapa bulan lalu. Tetapi membebaskannya bukan hal yang mudah. Orang-orang yang menjaga tempat itu bekerja untuk organisasi yang sama dengan mereka yang mengepung rumah ini.”
“Kenapa kau tidak memberi tahu kami?” bentak Viktor.
“Karena aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.”
Viktor menatap kakaknya dengan kekecewaan mendalam.
“Termasuk aku?”
Gabriel tidak menjawab.
Jawaban itu justru terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.
Tembakan kembali terdengar dari lantai atas, kali ini lebih dekat.
Raka segera memutuskan.
“Kita pergi sekarang. Penjelasan bisa dilanjutkan setelah kita aman.”
Darren menemukan sebuah pintu sempit di belakang rak arsip yang mengarah ke lorong servis lama. Kian membawa kartu logam dan salinan berkas penting, sementara Leon tetap di sisi Aren.
Riven berjalan paling belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal.
Adrian hendak mengikuti mereka, tetapi Elena menahan lengannya.
“Tunggu.”
Adrian menatapnya.
“Apa lagi?”
Elena mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik liontinnya. Sebuah foto tua, ujungnya menghitam karena terbakar.
Ia menyerahkannya kepada Adrian.
Dalam foto itu terlihat tiga orang berdiri di depan mansion Valerius bertahun-tahun lalu.
Alistair Valerius.
Armand Ravencroft.
Dan seorang pria ketiga yang wajahnya sebagian tertutup bayangan.
Namun, Aren mengenali cincin di tangan pria itu.
Cincin berlambang serigala perak yang sama dengan cincin milik penyerang yang pernah ditangkap di mansion mereka.
Adrian menatap foto tersebut dengan wajah pucat.
“Aku mengenali cincin ini.”
Elena mengangguk.
“Karena pria itu pernah duduk di meja makan keluarga Valerius. Dia pernah menggendong Raka ketika masih bayi. Dia pernah menghadiri ulang tahun Darren. Dan dia pernah berjanji kepada Armand bahwa dia akan melindungi kedua keluarga.”
Raka membeku.
“Apa maksud Ibu?”
Elena memandang kelima putranya satu per satu.
“Orang yang menghancurkan keluarga Ravencroft bukanlah orang asing.”
Ia berhenti sejenak.
“Dia adalah orang yang kalian panggil Paman.”
Sebelum siapa pun sempat bertanya lebih lanjut, lampu lorong servis padam.
Dari pengeras suara terdengar suara seorang pria.
“Selamat malam, keluarga Valerius.”
Suara itu tenang dan penuh wibawa.
“Sudah lama sekali kita tidak berkumpul.”
Adrian mengangkat kepalanya dengan mata membelalak.
Ia mengenali suara tersebut.
Suara yang pernah memimpin rapat keluarga.
Suara yang pernah mengajarinya tentang kehormatan, kekuasaan, dan kesetiaan.
Suara yang seharusnya sudah tidak pernah terdengar lagi.
“Tidak…” bisik Adrian.
Raka menatap ayahnya.
“Ayah, siapa itu?”
Adrian menjawab dengan suara nyaris tidak terdengar.
“Alistair Valerius.”
Riven menegang.
“Tapi kakek sudah meninggal.”
Suara dari pengeras itu kembali terdengar, kali ini disertai tawa pelan.
“Benarkah kalian semua percaya aku sudah mati?”
Aren menatap Elena.
Ibu kandungnya memucat.
Kemudian, suara itu menyampaikan kalimat terakhir yang membuat seluruh keluarga membeku.
“Bawa Aren ke ruang kendali. Aku ingin bertemu cucuku.”